Preman Campus

Preman Campus
RAMA PUTRA PRAMONO


__ADS_3

Seorang pria dengan tinggi 180 cm dengan setelan jas warna biru berdiri tegak dengan tatapan dingin di belakang 2 pengawalnya.


Sebenarnya yang gw tau dia benci dengan warna biru, karena menurut dia warna itu terlalu kalem dan dia lebih suka warna hitam yang misterius.


Tapi apa daya pria itu sangat bucin dengan istrinya yang suka dengan warna biru,jadilah dia seperti itu demi menyenangkan sang pujaan hati.


Dia bisa menjadi srigala yang sangat menakutkan saat berhadapan dengan musuh-musuh bisnisnya dan orang-orang yang menggangu keluarganya,tapi dia akan jadi kelinci yang sangat penurut saat di depan wanita yang bernama Shinta Wiratama.


Bisa dibilang dia adalah salah satu orang terkaya di negri ini dengan segala gurita bisnis yang dia jalani. Tidak hanya perusahan batubara saja di dalam maupun luar negri. Dia juga mempunyai hotel dan resort bintang 5 di Bali. Belum lagi dengan semua aset-aset dia yang berada di luar negri yang gw kagak tau detailnya.


Dia juga pria yang sangat mengilai yang namanya motor classic,di rumah tidak terhitung berapa motor koleksi dia, yang ditempatkan di sebuah garasi khusus.


Saat dia berada di rumah, tidak kurang dari 10 orang akan datang silih berganti untuk meminta bertemu, dan orang-orang itu bukan orang sembarangan melainkan orang-orang penting negri ini yang bisa melakukan sulap hanya dengan sebuah ucapan.


Wajar dengan semua kekayaan dan power yang dia miliki semua orang-orang yang haus akan uang dan kekuasan akan suka rela menjilat sepatu dia untuk meminta bantuan.


Dia adalah orang yang gw idolakan secara diam-diam, pria yang sangat sempurna dari segala sisi,pria yang sangat mencintai istri dan keluarganya.


Dan nama pria itu adalan Rama Putra Pramono pria berumur 40 tahun yang sangat berwibawa dan begitu berkarisma, tidak ada kerutan sama sekali di wajah dia yang tampan, seakan dia adalah vampire yang bisa hidup ratusan tahun lamanya. Dan pria itu juga yang kasih gw uang saku 100M saat gw kuliah di Jogja ini. Pria itu adalah bokap gw.


###


Mampuss!! Gw mengumpat dalam hati dan langsung berbalik dan bersembunyi di belakang punggung Reza dan Udin. Gw berharap bisa kabur saat ini,apa gw terobos jendela kaca itu saja ya? paling lecet-lecet doang daripada bertemu sama bokap, gw berfikir dengan cara yang ekstrim.


"Cak dirimu ngapain sembunyi? bukannya dirimu paling suka dan bersemangat saat gelut dengan orang besar dan kekar?". Reza bicara dan mencoba menarik gw untuk ke depan.


"Iya Bim,kagak biasanya loe gini,jangan bilang loe takut?" Udin juga mencoba menarik gw untuk ke depan.


Gw masih bertahan di belakang punggung mereka. "Nyet ini bukan masalah soal suka gelut atau takut, sebenanya kalian tadi berdoa apa anjing!".


Reza dan Udin saling berpandangan aneh saat tau gw panik dan ketakutan.


Dua pengawal bokap itu maju 3 langkah dan langsung membuka jalan untuk pria di belakang mereka.


Dan pria itu pun melangkah maju berbarengan dengan keringat dingin yang mengucur deras dari kening gw.


Pandangan dia langsung tertuju ke gw yang bersembunyi di belakang 2 anak cebong.


"Tuan Rama!!". Ilham ayah Bagas terlihat terkejut saat mengenali bokap gw.


Dia maju ke depan dan langsung ditahan oleh pengawal bokap.


Ibu Fikri dari tadi cuma diam memandangi bokap gw tanpa berkedip. Sialan ini tante girang belum pernah diculek apa itu mata.Dia fikir bokap gw sudi ngelirik dia.


"Kak Din kenapa pria tampan itu lihatin kita? diriku takut". Reza berbisik di telinga Udin.


"Gw juga kagak tau dek Za,dari tampilannya dia kelihatan orang yang sangat kaya dan menakutkan". Udin juga tampak kawatir.


"Iya cak diriku takut tapi juga kagum liatnya,apa jangan-jangan dia Ayah dari senior lainnya yang di hantam sama orang dibelakang kita ini?".


"Bakalan abis ini kita dek Za,Bemo aja langsung sembunyi liatnya. Kita pasrah aja sama nasib". Udin tampak putus asa


Gw kagak peduli dengan bisikkan dua anak cebong ini, gw sekarang dalam posisi takut sekaligus rindu dengan bokap gw itu.


"Maaf anda siapa ya? dan punya kepentingan apa datang kesini?" Pak Seno rektor gw bertanya. Tapi bokap tidak menjawab sama sekali masih dengan pandangan nya ke arah gw.


"Pak Seno anda yang sopan ya! ini adalah tuan Rama Putra Pramono Tamu VVIP hotel tempat saya bekerja!.Dia adalah Pengusaha terkaya di negri ini dan anda pasti tau karena beritanya sudah tersebar, beliau ini adalah orang yang mengakuisi seluruh perusahan batubara di Asia tenggara".


"Apaaa!!!"


Pak Seno dan wanita yang bernama Gita ibu Fikri itu terkejut dan berteriak bersaaman.


2 anak cebong juga tampak mengigil setelah mendengar dari ucapan Ayah Bagas betapa hebatnya pria yang sedang menatap mereka.


"Cak gimana ini cak? benar-benar bakalan selesai kita cak, bukan orang sembarangan dia ternyata".


Udin hanya diam saja saat Reza berbisik di telinga dia. tapi gw yang di belakang pegangi tubuh Udin dengan erat, menahan karena dari tadi ini bocah udah mau jatuh aja kebelakang.


"Maaf tuan,atas ketidaktahuan saya. Saya sering mendengar nama tuan dan segala bisnis yang anda jalankan. Saya tidak tau mimpi apa semalam sehingga orang penting seperti anda akan datang ke kantor saya yang sangat sederhana dan tidak layak ini". Pak Seno bicara antara takut,kagum dan was-was.


Bokap melihat pak Seno dan menganguk pelan itu hanya terjadi selama 2 detik saja dan bokap dengan mata dinginnya kembali menatap ke arah trio koplak Campus Gajah ini.


Pak Seno langsung terlihat lega saat mendapat respon positif dari bokap.


"Maaf tuan nama saya Gita dan saya adalah janda muda, Apa tuan Rama yang tampan dan terhormat datang karena mau memberi pelajaran ke pada mereka?". Tante girang Ibu fikri menunjuk ke arah kami.


Emang pecun,betina ini, katanya aja dari keluarga terhormat,kagak tau umur apa berani-beraninya goda suami Shinta Wirathama. Ngaku janda muda lagi,palingan juga amis dan bau ikan asin itu dibalik kebayanya.


Bokap tampak terlihat marah dengan ucapan pecun berkebaya itu tapi dia masih diam saja.


"Apa anak tuan Rama berkuliah disini juga? dan disakiti sama anak-anak kurang ajar ini!".

__ADS_1


"Bakalan selesai kalian bocah! tidak tau kalian berurusan dengan siapa" Ayah Bagas tersenyum sengit ke arah kami.


"Yang sembunyi di belakang itu tuan,anak yang tidak tau diri dan tidak pernah didik sama orang tuanya". Ayah Bagas mencoba mengompori bokap gw.


Pak Seno yang liat wajah bokap yang marah takut-takut dia berbicara.


"Tuan Rama, saya mohon tuan bersabar. ini bisa dibicaran baik-baik tuan. saya mohon". Pak Seno memohon.


"Baik-baik apa pak Seno mereka adalah anak-anak dari keluarga berandal dan tidak tau diri.."


"Plaaaakkkk!!!!!"


Sebelum Ayah Bagas melanjutkan bicaranya sebuah tamparan mendarat mulus di pipi dia.


Belum juga dia mencerna apa yang sedang terjadi sebuah pukuluan keras mendarat tepat di perut dia. sehingga dia jatuh terduduk memegangi perut.


"Tuan Ram..a apa yang anda lakukan?" Dia bicara menahan sakit. karena tamparan dan pukulan itu datang dari bokap gw.


"Sekali lagi kamu bicara, saya bisa pastikan kamu keluar dari ruangan ini hanya tinggal nama dan jasad". Bokap akhirnya bicara yang membuat Ayah Bagas terlihat sangat ketakutan.


Suasana hening semua orang tidak mengira apa yang sedang terjadi,pak Seno dan Gita seakan berubah jadi patung.


Udin yang dari tadi mau pingsan segera berdiri tegak lagi di depan gw,dan Reza dari tadi masih saja bergertar badan ini bocah.


Bokap berjalan maju melewati Ilham dan


"Plaaaaaaakkk!!!"


Satu tamparan mendarat di pipi Gita ibu dari Fikri yang membuat pipi itu langsung merah dan keluar sedikit darah dari sudut bibirnya.


"Tuan apa yang anda lakukan?" Gita berkaca-kaca dan memengangi pipinya.


"Sampah!!! berani sekali sampah seperti kalian menghina keluarga Pramono!!"


"Tuan apa yang anda maksud kami ti..".


Ayah Bagas terdiam saat salah satu pengawal bokap datang dan mencengkram lehernya dan di lempar ke dinding sehinga jatuh tertunduk.


"Ampun tuan,ampun saya tidak mengerti maksud tuan Rama" .Gita tampak sekali ketakutan.


"Tu..tu..an Rama,ini apa yang se sedang terjadi?" Pak Seno berucap dengan terbata-bata.


"Saya hanya memberi pelajaran sampah yang sudah berani menghina keluarga dan anak saya". Bokap berpaling dan melihat ke arah gw lagi yang masih bersembunyi di belakang Reza dan Udin.


Begitu juga ayah Bagas yang terduduk di lantai dekat dinding yang terlihat syok mendengar ucapan tamu VVIP hotelnya.


Ibu Fikri yang dari tadi berdiri mundur ketakukan ke arah dinding.


"Cak Din bukannya nama belakang tuan ini sama seperti nama belakang orang yang kita kenal?" Takut-takut Reza berbisik di telinga Udin.


"Iya Za,Pramono? Seperti nama belakang orang yang lagi ngumpet di belakang kita ini?".


"Abimana Pramono!!" Bokap bicara tegas dan dingin memanggil gw.


Sontak 2 anak cebong langsung tekejut dan menyingkir ke kanan dan ke kiri sambil melihat gw dengan pandangan seperti melihat sebuah keajaiban dunia.


"Iya ayah!" Gw berdiri tegak menjawab dengan menunduk tidak berani menatap bokap.


Suasana hening dan semua orang terdiam saat mendengar gw memanggil orang hebat di depan gw ini ayah.


Gw berjalan pelan menuju ke depan, suasana hati gw udah campur aduk kagak karuan.


Gw masih menunduk saat sampai di depan bokap.


"Ayah kapan pulang dan kenapa bisa disini?" Gw bertanya pelan masih dengan menunduk tidak berani menatap mata orang yang mirip dengan mata gw ini.


Tidak ada suara dan jawaban tapi yang terdengar adalah suara tamparan kecil.


"Plaaak!!"


Bokap tampar gw pelan hingga wajah gw bergerak sedikit kesamping.


Sekali lagi semua orang terkejut dengan apa yang terjadi termasuk kedua pengawal bokap.


Jujur tamparan dari ayah tidak sakit sama sekali tapi entah kenapa mata gw langsung basah dengan air mata.


Gw kagak tau apa yang terjadi yang pasti dada gw sesak banget rasanya seperti ingin berteriak.


Bibir gw melengkung ke bawah dengan air mata yang terus menetes dan gw akhirnya menangis sesenggukan.


Masih dengan tangisan seperti anak kecil yang abis jatoh naik sepeda gw sedot ingus gw yang keluar untuk masuk ke dalam lagi dan melihat Bokap di depan gw.

__ADS_1


Dia tersenyum lembut dan merentangkan ke dua tangannya ke arah gw.


"Hii hii hii! huhu..huu.. huaa a a a.". Gw berjalan pelan masih dengan tangis masuk ke dalam pelukan orang yang gw rindukan.


Dan ayah pun memeluk gw erat dan mengusap-usap rambut gw.


"Masak jagoan ayah ditampar kecil gitu aja nangis,sakit ya?". Bokap bicara pelan masih dengan mengusap-usap punggung dan rambut gw.


Gw enggak ngejawab bibir gw masih sibuk mengeluarkan suara tangis yang kagak bisa gw hentikan ini.


"Maafin Ayah ya jagoan, kamu sih enggak mau dengar kata-kata ayah untuk kuliah di Harvard atau Oxford malah milih di Campus bobrok seperti ini".


"Kamu udah tau kan sekarang banyak sampah di negeri kita ini?"


Pak Seno yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa cuma bisa menunduk saat Ayah ngehina Campus yang dia pimpin.


"Hu hu hu hu.. Bi..Bimo kan bodoh,mana bi bisa kuliah di sa sana. Hu ..hu..hu..". Gw bicara kagak karuan di pelukan bokap.


"Mana ada jagoan ayah bodoh,siapa yang bilang biar ayah beri pelajaran. Kalau kamu mau kuliah disana biar ayah beli itu Campus buat kamu, gimana Kamu mau?".


"Bimo gak mau,Bimo gak mau jauh dari bunda" Gw merengek dan tangis gw berhenti tapi jas Ayah sudah basah kuyup dengan air mata gw.


"Bimo disini juga sudah punya teman 2 cebong yang setia".


"Jagoan ayah kok pelihara cebong sih?" Ayah tersenyum melepas pelukannya dan mengusap wajah gw yang sudah belepotan kagak karuan karena nangis.


"Cebong Bimo lucu-lucu yah,itu mereka" Gw menunjuk Reza dan Udin yang tampak tersenyum canggung,seperti mau mengumpat mereka ke gw tapi di tahan.


"Saya cebong no 1 om,Dan saya sangat setia sama Bimo. Udin bicara pelan mengaku dan memuji dirinya sendiri.


"Diriku cebong no 2 om, Saya mengikuti Bimo dengan tulus dan senang hati tanpa paksaan dari pihak manapun" Reza dengan senyum canggung ya.


Ayah tersenyum melihat mereka yang membuat Reza dan Udin sedikit tenang.


"Kalian santai saja,saya sudah tau kalian adalah sahabat dari jagoan nakal saya ini".


"Ayah tau dari mana? jangan-jangan ayah!"


"Bimo apa kamu fikir ayah tega lepas kamu sendirian disini? kamu adalah jagoan ayah satu-satunya". Bokap tersenyum misterius


"Jangan bilang Ayah suruh orang untuk mata-matai Bimo?" Gw udah curiga dari awal kenapa ayah bisa disini dan tolong gw.


Sejak Ayah Bagas dan ibu Fikri gagal dalam menelfon orang-orang penting untuk datang. Gw udah sedikit curiga ada intervensi dari seseorang yang kuat untuk mencegah mereka kesini, dan kagak gw sangka itu adalah bokap.


Mampusss! berarti ayah tau dong tindak tanduk gw di Jogja selama ini.


"Ayah tau apa saja yang kamu lakukan di sini jagoan! Ayah bangga dan marah juga saat mendengarnya karena kamu sangat-sangat mirip dengan ayah saat muda dulu". Ayah tersenyum lembut masih dengan mengusap pipi gw.


"Sekarang jagoan ayah keluar dulu ya? biar ayah yang selesain urusan kamu disini sama sampah-sampah ini".


2 orang di belakang Ayah tampak menggigil ketakukan dan pak Seno terlihat mulai menggunakan jurus tak kasat matanya.


"Bimo tunggu di luar dulu ya?" Ayah bicara lembut sekali lagi.


Dan gw pun mengangguk pelan merasa aman dan nyaman dilindungi oleh seorang Ayah yang sangat gw rindukan dan sanyangi.


Gw berjalan ke arah pintu keluar dan gw berbalik lagi.


"Ada apa jagoan tunggu ayah diluar saja". Ayah melihat gw yang berbalik.


"Itu yah 2 cebong Bimo masih diem aja". Gw nunjuk Reza dan Udin yang masih bengong melihat gw.


"Nyet ngapain lu berdua disitu! keluar bareng gw sini!".


"Iya tuan muda Abimana!" Jawab mereka serempak dan berjalan ke arah gw.


Udah gw duga pasti udah gila ini dua anak cebong tau identitas asli gw.


Gw berjalan diikuti Udin dan Reza untuk keluar dari ruangan rektorat.


"Bimo?" Gw dengar ayah panggil gw lagi dan gw menengok ke belakang.


Dengan wajah takut dan memelas ayah berucap.


"Jagoan gak akan laporin ayah ke bunda baginda ratu kan kalau suduh pukul kecil pipi kamu?"


Gw tersenyum tipis. "Ayah tenang aja kamar tamu rumah kita sudah Bimo kasih tissue untuk jaga-jaga kalau bunda marah dan usir ayah dari kamar utama". Gw langsung berjalan cepat keluar pintu.


"Bimooooo!!!!" Teriakan ketakutan seorang Rama Putra Pramono terdengar indah di telinga gw.


Dan itulah bokap gw Rama Putra Pramono pria yang di takuti semua orang dengan semua kekuasan yang ada di tangan dia.

__ADS_1


Dan seorang pria yang begitu penakut dengan wanita yang dia cintai.


__ADS_2