Preman Campus

Preman Campus
HALUSINASI DI DALAM KETAKUTAN


__ADS_3

"Waalaikum salam Bimo". Jawaban dari ujung telfon tidak kalah lembut dan halus, berasa dengar jawaban dari dalam kraton Jogja gw.


"Putri ada apa? Maaf ya aku enggak sempat kasih kabar ke kamu saat udah balik dari Singapura". Gw segera meminta maaf, mungkin Putri calling mau tanya soal itu.


"Tidak apa-apa Bimo aku ngerti kok pasti kamu masih dalam tahap pemulihan dan aku enggak mau ganggu dulu". Jawab Putri lembut dan menenangkan buat gw semakin ngantuk, keknya cocok ini suara Putri untuk jadi pengantar setiap tidur gw agar lebih nyenyak.


"Aku udah sembuh kok Put dan udah balik kuliah, tugas numpuk banget ini". Gw berasalan, "Rencananya aku mau ajak kamu jalan kalau udah kelar sama urusan Campus tapi belum sempat karena besok malah akan ke Blora ini".


"Blora? ngapain Bimo? kota itu kan jauh, perbatasan sama jawa timur". Dari suaranya Putri tampak sedikit terkejut dan kawatir.


"Ada salah satu teman aku di jakarta dulu Put, pulang kampung dan dapat masalah minta tolong ke aku. Itu orang udah aku anggap saudara sendiri jadi aku harus ke sana dan bantu". Jawab gw jujur.


"Oh seperti itu, kamu hati-hati ya disana nanti jangan terlalu banyak makan yang berminyak dulu.. Itu tidak baik karena kamu baru saja operasi". Putri dengan perhatiannya mengingatkan.


"Kalau aku enggak mau gimana Put, hehehe". Gw sedikit bercanda.


"Ya nanti kamu sakit lagi Bimo". Jawab Putri cepat.


"Kan tambah enak kalau aku sakit".


"Kok enak? kamu lupa bagaimana kesakitannya kamu dulu itu saat telfon aku tengah malam? Aku sampai panik sendiri dengarnya".


"Iya enak kalau sakit, kan aku ada alasan untuk bertemu dengan dokter Putri". Gw ngulum senyum karena merinding dengan gombalan gw sendiri.


Untuk sesaat hening dan tidak ada jawaban dari Putri, gw liat Hp panggilan masih tersambung.


"Halo Put, kamu masih disana kan? Kalau mau muntah langsung ke kamat kecil saja Put".


"Hehe, apasih Bimo.. Siapa yang mau muntah? Lagi tersenyum ini aku".


"Oh aku kira mau muntah setelah dengar kata-kata aku barusan".


"Ngawur kamu mana mungkin gitu, aku malah seneng dengarnya". Suara Putri terdengar malu-malu.


"Gitu ya? bisa tenang aku kalau gitu". Gw berucap santai.


"Oya Bimo kamu bisa temuin aku kapanpun kamu mau kok jangan menunggu sakit dulu, seperti sama orang lain saja kamu ini, kita kan.."


Suara Putri terhenti sepertinya dia kecplosan dan langsung tersadar.

__ADS_1


"Kita kan apa Put? Ayo dilanjutin aku pengen dengar".


"Halo Put kok hilang lagi kamu? Lagi pipis ya? Liat dong".


"Bimooo seneng ya kamu godain aku". Suara Putri terdengar menggemaskan.


"Senanglah Kita kan itu".


"Itu apa?".


"Ya itu seperti yang mau katakan tadi".


"Emang yang mau aku katakan apa?".


"Mana aku tau kan itunya kamu belum kamu bicarakan".


"Ihhhh Bimoo pintar banget kamu bicaranya belajar dimana sih?".


"Dari pengalaman hidup Put, jika kamu ingin belajar juga boleh kok masuk aja kamu ke dalam kehidupan aku". Ajibbb lidah gw kalau ngegombal kagak tanggung-tanggung cok, pasti langsung terbang itu Putri dengarnya.


"Takkkk!".


Gw mendengar suara aneh, bukannya suara Putri.


"Jatuh apa sengaja kamu banting Put setelah dengar kalimat aku tadi?".


"Beneran jatuh Bimo, aku melamun dan tersenyum sendiri barusan dan gak sengaja jatuhin Hp". Putri terdengar serius. "Kamu gak marah kan Bim?".


"Ngapain aku marah dokter Putri yang cantik, alasan aku buat marah apa coba? Dengar suara kamu aja bikin sore aku tambah sejuk dan adem ini.. Oya kamu tadi belum bilang ada apa telfon aku, apa cuma mau nanyain kabar dan rindu saja ya?"


"Oh iya Bimo, ya ampun kenapa aku bisa sampai lupa hal penting itu. Kamu sih buat aku hilang konsentrasi saja".


"Lah! Dia yang lupa aku yang disalahkan, hal penting apa sih yang mau kamu bicarakan?".


"Ini soal 2 teman kamu itu Bimo".


"2 teman aku, siapa Put?".


"Itu yang menemani kamu saat kamu sakit di Rumah Sakit aku".

__ADS_1


"Oh 2 anak uler Reza dan Udin, iya memangnya kenapa sama mereka? Kamu bertemu sama duo lawak itu di jalan ya? Ludahin aja gak apa-apa kok".


"Bukan Bimo, mereka dan 1 orang lagi datang kesini ke Rumah Sakit aku".


"Hah! Datang ke situ?". Gw auto terkejut minta di tabok apa itu anak-akan kardus, pasti satu orang lagi itu si teh Rio.


"Emang gila mereka Put, cepat panggil satpol pp biar mereka di angkut.. Salah mangkal keknya itu mereka".


"Aku belum selesai ngomong Bimo, dengerin dulu dong kamu dan jangan dipotong.. Aku serius ini dan aku rasa kamu harus tau".


"Sorry Put aku cuma terkejut saja dan enggak nyangka teman-teman gemblung aku main kesitu".


"Mereka kesini bukan untuk bermain atau berkunjung Bim, mereka kesini sebagai pasien gawat darurat yang harus cepat ditangangi.. Teman-teman kamu itu terluka parah semua".


Detik jam seakan berhenti berdetak, untuk sesaat gw lupa cara untuk bernafas setelah gw dengar pemberitahuan dari Putri.


Darah gw langsung mendidih panas dan sumbu emosi gw mulai terbakar dengan sendirinya.


Entah kenapa saat ini gw ingin menyalahkan diri gw sendiri atas musibah yang di alami Reza dan Udin berserta Rio.


Awalnya jika mereka kalahpun, gw kira akan cuma cidera ringan dan bonyok doang.. Tapi mendengar seorang dokter bicara kata parah, itu bagaikan suara hantaman yang mengguncang jiwa gw.


Mata gw tiba-tiba basah dengan sendirinya, pasti mereka bertiga merasakan sakit yang teramat sangat.


Mata gw nanar dan gw berhalusinasi saat ini, melihat Reza dan Udin ada di depan gw.. mereka saling bercanda dan tertawa bersama.


Canda tawa mereka berhenti dan sama-sama berpaling mereka melihat gw, ada yang berbeda dari wajah mereka.


"Bim akhirnya kita bisa ketemu loe Bim, kita mau pamitan sama loe ini. Bukan begitu dek Za?".


"Tul betul tak yeee, kita mau pergi cak.. Dirimu hati-hati ya dan jangan rindu sama ta kita".


Bayangan Reza dan Udin di depan gw mengilang dan memudar gitu saja.


"NYETTTT! LU BERDUA MAU PERGI KEMANA NYET, TUNGGU GW BANGSATTT!!". Gw langsung histeris.


"HALO Bimo! Halo Bimo! Kamu kenapa Bim?". Suara panik Putri menyadarkan gw.


"Put tolong Put, please Put selametin temen-temen gw Put. Aku mohon Put". Gw merintih dalam keputus asaan dan tenggelam dalam kubangan rasa bersalah.

__ADS_1


"Bimo tenang dulu Bimo, tolong tenang dulu.. Aku sedih takut saat dengar kamu seperti ini, tenang dulu ya".


"Put aku kesana sekarang Put, tunggu gw!". Hp gw matikan dan langsung berdiri, memakai sepatu menyambar tas dan langsung berlari keluar.


__ADS_2