
"Bimo ayo cepet bilang, kamu minta apa? jangan buat aku penasaran!".
Kami berjalan keluar bioskop dan Amora berjalan dibelakang gw, dia terus saja bertanya dengan kedua boneka kelinci dan kuda poni yang dia peluk erat.
"ihh, Bimo cepet bilang". dia berjalan cepat dan menghadang jalan gw.
"Amora, kenapa gw iri sama 2 boneka itu ya!".
"Iri kenapa emang?".
"Mereka enak banget keknya kamu peluk erat gitu, ati-ati ya!".
"Sama boneka aja kamu iri, hati-hati kenapa emang?".
"Siapa tau aja mereka kelinci dan kuda poni jantan, kalau mereka haus kan kagak lucu kalau sedot itu". Gw mengarahkan pandangan gw ke kedua aset pribadi Amora yang tampak bulat memikat.
"Bimooooo!!!". Dia teriak saat gw langsung kabur berjalan melewati dia yang berdiri di depan gw.
Merdu banget gw dengar suara teriakan gemes Amora.
Gw terus berjalan keluar bioskop menuju ke mobil pak Rohmat, supir grab baik hati dan ramah yang bilang mau antar kemana aja gw malam ini.
Gw berhenti sejenak saat liat di depan sana pak Rahmat terlihat berdebat sama 2 orang pria dan wanita, kek kenal itu gw sama 2 orang.
"Bimo udah capek kamu dan enggak lari lagi?". Suara Amora terdengar dari arah belakang tapi kagak gw jawab.
Gw lagi fokus mengingat 2 orang yang debat sama pak Rahmat di depan sana.
"Bimo liatin apa sih kamu?" Amora berdiri di samping gw.
"Bukannya itu supir grab yang antar kita kemari tadi ya Bim?".
"Iya dia namanya pak Rahmat Amora,dan dia nunggu kita?".
"Maksudnya nunggu kita?".
"Dia mau nganter kemanapun kita pergi malam ini, karena dia bersyukur dapat rezeki malam ini".
"Rezeki apa?".
"Mana gw tau, gak berani tanya gw! yang pasti pak Rohmat udah nawarin dan gw kagak enak kalau nolak,lagian gratis juga kan?".
"Kasian tau Bim, bukannya dikasih ongkos lebih,malah kamu manfaatkan gitu kebaikannya".
Gw cuma tersenyum kecil mendengar itu, andai loe tau Amora gw kasih pak Rohmat 20 juta tadi karena dia baik dan ramah sama kita. gw bicara dalam hati
"Soal kasian nanti aja kita fikirkan, itu liat dia sedang debat sama 2 orang, kamu kenal kagak sama mereka berdua?".
"Bukannya cowo dan cewe disana itu yang katain kita pasangan kampungan ya? yang kaki cowonya kamu injek di dalam bioskop tadi".
Gw amati dan benar saja pantas gw seperti kenal, ternyata anjing yang tadi gonggong saat gw injek kakinya.
"Yuk kita kesana Bim, dan liat apa yang terjadi". Amora mau berjalan tapi langsung gw hentikan dengan meraih lengan kanan dia.
__ADS_1
"Tunggu Amora, kita bicara dulu sebentar disini".
"Bicara apa lagi sih Bim, kamu udah tau apa yang akan kamu minta dari aku?".
"Bukan itu,kita bicara situasi sekarang ini. Biar kamu nanti kagak terkejut".
"Situasi apa sih Bim dan kenapa aku harus terkejut?".
"Kamu liat itu, 2 orang itu terlihat berdebat dan marah-marah sama pak Rohmat".
"Gw nyakin pak Rohmat kagak salah dan mereka aja yang cari gara-gara".
"Sepertinya benar yang kamu bilang Bim, enggak sopan banget mereka bentak-bentak orang tua gitu".
"Tapi apa hubungannya sama kita Bim? dan situasi yang kamu bicarakan?".
"Kamu tau kagak apa yang paling gw benci Amora?"
Amora menggelengkan kepalanya pelan.
"Pertama gw paling benci liat pria aniaya wanita kedua gw benci orang yang melupakan keluarganya dan yang ke tiga adalah gw benci sama Orang yang kagak punya otak yang hanya menindas orang lain yang lebih lemah".
"Bimo, kamu enggak akan ngelakuin apa yang aku fikirkan kan?". Amora terlihat takut dan kawatir.
"Pintar sekali kamu bisa langsung menebaknya". Gw mengusap pundak Amora pelan.
"Apa harus ya Bim, kamu melakukan itu? kita disini aja nunggu mereka menyelesaikan masalahnya, aku takut Bimo?".
Gw langsung tarik Amora ke pelukan gw! dan gw belai rambutnya pelan.
"Apa yang harus kamu takutin selama ada aku disebelah kamu?".
"Lagian apa kamu enggak kasian sama pak Rohmat, kalau enggak salah kamu pernah ada di posisi dia kan?".
"Maksud kamu?" Amora bicara pelan di dekapan gw.
"Apa kamu lupa saat gw tolong kamu tempo hari saat kamu berantem sama pria yang pernah isi hati kamu?"
"Mana mungkin aku lupa, kalau saat itu enggak ada kamu mungkin aku sudah". Amora terdiam dan tidak melanjutkan bicaranya.
Gw dorong dia pelan keluar dari pelukan gw. "Maka dari itu, aku ingin kesana dan menolong, apa kamu enggak kasian sama pak Rohmat?".
"Tapi kamu hati-hati ya?".
"Tenang saja, kalau hadapi orang kek gitu ma sambil merem bisa gw".
"Aku serius Bimo, aku takut kamu kenapa-kenapa!". Amora bicara dengan raut wajah kawatir.
Amora emang terlihat kalem dan lembut gw ingat betapa takutnya dia saat gw gelut dengan mantannya,Mungkin dia takut melihat kekerasan.
"Bimo? kok kamu melamun?".
"Oh iya sorry, kamu tenang gw akan hati-hati nanti". Gw tersenyum kecil supaya Amora percaya dan tidak terlalu takut.
__ADS_1
Hati- hati biar kagak sampai ngebunuh itu anjing. Gw meneruskan bicara dalam diam.
"Terus apa rencana kamu?".
"Kesana, tarik kerah bajunya dan hantam hidungnya, patahkan kaki dan tangannya dan rontokan semua giginya". Jawab gw mantap tanpa sadar.
"Kamu sedang bercanda kan Bim?" Amora tampak terkejut.
"Hehe, iya bercanda aja gw". Jawab gw cepat dan berbohong, terlalu bersemangat gw kalau mau gelut gini
"Nanti kamu langsung masuk mobil aja ya jangan keluar sebelum gw kelar bantu pak Rohmat".
"Iya aku nurut apa kata kamu aja Bimo".
"Gitu kan tambah manis kamu kalau nurut". Gw usap pelan rambut Amora yang langsung buat dia salting.
Gw liat di depan sana, pak Rohmat tampak diam saja saat pasangan itu bentak-bentak dia dan mendorong pelan tubuhnya hingga mepet mobil.
Gw langsung kencangkan lilitan sarung gw, hingga bagaian bawahnya naik hingga lulut biar memudahkan saat gw gelut nanti.
Tidak lupa gw lipat lengan panjang kemeja putih yang gw pakai,agar lebih leluasa gerakin tangan.
Amora yang liat gw berbenah tampak tersenyum.
Mungkin di otak nya dia berfikir dan bertanya, orang gila dari mana sih ini orang.
"Yuk kita kesana Amora". Gw bicara saat udah nyakin sarung gw kagak melorot saat gw gelut nanti.
Dan Amora hanya menggangukkan kepala untuk menjawab ajakan gw.
Gw sama Amora berjalan pelan ke arah pak Rohmat yang tampak sangat tertekan.
"Pk Rohmat, lama ya nunggu kita? Maaf mojok bentar tadi saya". Gw bicara keras untuk mengalihkan perhatian 2 orang itu.
"Nak Bimo?" Pak Rohmat langsung berjalan memhampiri gw cepat.
"Heii, supir goblok kita belum selesai ngomong!". Pria yang dari tadi nyolot ke pak Rohmat berteriak keras.
"Nak Bimo?" Pak Rohmat bicara pelan dan tampak masih kawatir.
"Amora cepet kamu jalan dan masuk ke mobil". Gw bicara saat melihat pria dan wanita di depan sana berjalan menghampiri gw.
"Iya Bim, kamu hati-hati". Amora langsung berjalan ke depan berpapan sama dua orang itu tapi mereka diam saja dan fokus ke gw.
"Pak Rohmat saya tidak tau, apa masalahnya. Tapi saya nyakin mereka yang cari masalah sama bapak kan?".
"Iya nak, mereka tau kalau saya adalah supir grab dan minta saya antar. Saya udah bilang sedang nunggu orang tapi mereka langsung marah-marah dan maksa bapak".
"Bapak tenang aja dan biarkan gw yang bicara sama mereka, dan bila suasana sudah tindak kondusif bapak menghindar saja".
"Memang apa yang mau nak Bimo lakukan?".
Sebelum gw jawab, 2 orang itu sudah sampai di depan kami.
__ADS_1
"Oh, jadi elu si goblok bersarung yang injek kaki gw. Orang yang ditunggu supir sialan ini?!". Hinaan langsung keluar dari mulut sang pria.
"Hello again bro, gimana kaki lu? sorry sengaja gw injek tadi didalam, gw kira itu bukan kaki tapi t*i!!".