
"Uwiu-uwiuu, sirene Ambulance terus saja berbunyi.. Semua kendaraan yang ada di depan auto pada minggir dan memberi jalan untuk Ambulance lewat.
Ambulance putih yang sisinya bertuliskan Rumah Sakit Bethesda itu bisa dilihat dengan jelas oleh para pengguna jalan.
Di dalam Ambulance duduk 2 petugas medis yang terus memeriksa denyut nadi 3 orang yang tergeletak bersimbah darah dan pingsan.
"Orang kejam mana yang tega melakukan hal seperti ini". Perawat no 1 berguman pelan tidak percaya.
"Untung kita datang tepat waktu setelah ada panggilan Anonim, kalau tidak mungkin 3 orang anak muda ini akan cacat se umur hidup". Perawat no 2 menjawab, wajah tampak kasian dengan 3 orang pasien di depannya.
"Yang saya heran kenapa ini terjadi di dalam Campus, apa sekarang campus adalah arena gladiator? Dari luka-lukanya pasti 3 pemuda ini dikeroyok banyak orang". Perawat no 1 tampak miris.
"Yang aneh juga tidak ada pihak campus yang melerai atau memanggil polisi, bukannya ini sangat janggal sekali?". Perawat no 2 berspekulasi.
"Mungkin 3 orang ini menyinggung nama besar, jadi tidak ada orang yang mau ikut campur. Penelpon tadi juga anonim kan dan enggak menyebutkan nama, pasti dia juga takut".
"Benar juga sepertinya memang bernasib sial 3 pemuda ini". Perawat no 2 menghela nafas panjang.
"Kamu udah cek identitas mereka bertiga kan? Agar mudah saat menerima perawatan di Rumah Sakit kita nanti". Perawat no 1 bertanya.
"Sudah, untungnya di dalam dompet mereka ada KTP dan alamat tapi sepertinya akan susah saat menghubungi wali dari mereka". Perawat no 2 menjawab.
"Kenapa bisa begitu? Mereka bertiga bukan orang Yogja ya?". Perawat no 1 sedikit terkejut.
"Yang bernama Reza itu yang ada di depan kamu, dia mahasiswa rantau dari Madura.. saya enggak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang tuanya jika tau keadaan anaknya memprihatinkan seperti ini. Diantara 2 temannya keadaan dia yang paling parah dengan kaki patah, hidung retak dan juga memar di punggungnya itu sepertinya di injak-injak dengan brutal". Perawat no 2 melihat Reza dengan mata penuh rasa Iba.
"Yang penting dia masih selamat, kalau kaki patah satu dua bulan juga bisa sembuh tergantung perawatannya, terus bagaimana identitas 2 lainnya?".
"Yang kurus di tengah itu namanya Udin dan dia berasal dari Gunung Kidul, itu adalah alamat yang tertera di dalam KTP nya, walau Reza itu yang paling parah lukanya tapi Udin ini sepertinya yang paling banyak mendapatkan siksaan". Perawat no 2 enggak kalah kasian memandang Udin.
"Benar juga, jika dia sadar pasti beban mentalnya akan sedikit terganggu.. bibirnya dan pelipisnya yang sobek, berserta 2 jari tangannya yang patah belum lagi rambutnya yang dibotakin dan yang paling miris adalah put*ing kanan dia yang hilang, itu pasti sangat sakit sekali".
__ADS_1
"Iya dari bekas lukanya itu pasti di potong paksa dengan gunting, sungguh tidak punya perasaan pelakunya.. Pasti jika Udin ini sadar bisa gila dan depresi saat tau put*ng nya tinggal satu". Perawat no 2 menambahi.
"Kalau yang terakhir itu bagaimana? Siapa namanya?". Perawat no 1 menujuk 1 orang yang tidak berbusana dan tubuhnya hanya tertutup koran.
"Yang ini namanya Rio, dia asli Jogja".
"Bagus dong, dimana alamatnya biar bisa cepat kasih kabar keluarganya?". Perawat no 1 menyela.
"Dia memang asli Jogja tapi alamat yang tertera di KTP cuma alamat kost-kost an dan dia yatim piatu dan sebatang kara". Perawat no 2 lebih kasian saat memandang Rio.
"Walau luka dia tidak terlalu parah tapi dia juga dibotaki dan ditelanjangi, wajahnya juga babak belur, saat dia kita temukan alat vitalnya juga dibungkus sama plastik dan di tali karet, sungguh iblis manusia yang melakukan ini.. Sadis banget jadi orang". Perawat no 1 tidak habis fikir.
"Kita hanya bisa mengutuk dan mengasihani saja, yang penting alat vital korban tidak patah atau cidera, kalau itu terjadi pasti masa depan pemuda yang bernama Rio ini pasti sangat suram". Perawat no 2 tampak berfikir positif.
"Ayo kita siap-siap sepertinya sebentar lagi sudah sampai ini di Unit gawat darurat Rumah Sakit kita, semoga bisa ditangani dengan baik mereka bertiga, kamu hubungi dulu penjaga UGD biar cepat memanggil dokter". Perawat no 1 berucap.
Perawat no 2 mengangguk pelan dan langsung mengeluarkan Hp dari sakunya.
Di lain tempat di dalam sebuah ruangan yang terang dan luas, duduk dibelakang meja seorang wanita yang tampak anggun dan dewasa. Paras cantik khas wanita jawa terlihat sangat mempesona dan dapat memikat hati pria manapun yang memandangnya.
Bisa dikatakan wanita itu adalah salah satu kecantikan yang ada di kota ini, dari status sosial dan perawakan dia berada di atas rata-rata. Namanya sangat dikenal di kalangan perkerja medis di kota ini.
Wanita itu memakai rok hitam selutut, kemeja abu-abu yang dia balut dengan jas putih, jas putih yang menyiratkan profesi yang dia jalani.
Wajah cantik dan kalem itu terlihat galau dan bimbang saat ini memandang sebuah nama di dalam kontak HP yang dia pegang.
Fikirannya berkecamuk dan berada dalam dilema, disatu sisi dia ingin menelfon nama itu dan di satu sisi dia tampak ragu-ragu.
"Bimo kamu sedang apa?". Wanita itu berguman pelan sambil memegang bibirnya.
Dia teringat ciuman hangat yang diberikan pria itu beberapa waktu yang lalu, ciuman tiba-tiba yang tidak bisa dia lupakan sampai sekarang. Pria yang dengan gagahnya berkelahi walau perutnya masih basah jahitan karena baru operasi, pria yang membuat dia tidak bisa fokus kerja akhir-akhir ini.
__ADS_1
Wajah wanita itu tampak serius kali ini dan terlihat keberanian nampak di wajahnya dan dia bermaksud untuk menelfon pria itu sekarang juga, karena rasa ingin taunya lebih besar dari rasa bimbangnya.
"Tok.. Tok.. Tok..! Dokter Putri?". Suara ketukan dan panggilan terdengar dari luar.
Fokus wanita cantik itu teralihkan dan memandang pintu. Dia tampak kesal dan menaruh HP di saku jas putihnya, hampir saja dia berani melakukan panggilan ke pria itu.. Gagal karena sebuah ketukan pintu dan panggilan dari luar.
"Tok.. Tok.. Tok..! Dokter Putri? Apa dokter di dalam?". Suara panggilan terdengar lagi dari luar.
"Iya masuk". Jawa wanita itu setelah merubah ekpresi wajahnya.
Muncul dari balik pintu perawat wanita berpakaian hijau.
"Ada apa?". Tanya pelan wanita yang dipanggil dokter Putri itu.
"Ada 3 pasien gawat darurat dokter dan sekarang sedang diturunkan dari Ambulance Rumah sakit kita di luar". Jawab perawat itu cepat.
"3 pasien secara bersamaan?!". Dokter itu terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.
"Iya dok ada 3 orang pemuda, tadi perawat yang berada di Ambulance menghubungi Unit gawar darurat untuk bersiap segera menangani karena lumayan serius 3 pasien itu".
"Korban kecelakan atau gimana?". Sambil mengambil stetoskop di laci dokter itu bertanya.
"Kata perawat kita yang berada di Ambulace korban pengeroyokan dok". Suster itu menjawab lancar.
"Pengeroyokan?".
"Iya dok dan 3 pasien itu semuanya adalah mahasiswa dari UGM".
"Apa?! Dari UGM?". Dokter wanita itu tambah terkejut dan langsung berlari keluar panik dan tergesa-gesa, sepatu putih hak tingginya dia lempar gitu saja dan berlari dengan bertelan jang kaki.
"Dokter Putri? Tunggu dok!". Perawat itu mengejar dari belakang, di dalam benaknya dia juga terkejut ada apa dengan dokter Putri kenapa bisa panik seperti itu. Dokter yang biasanya sangat pendiam dan cuek anak pemilik Rumah Sakit dengan paniknya berlari setelah mendengar pasien dari UGM.
__ADS_1
Tanpa rasa malu dilihat banyak pasang mata, dokter wanita itu terus berlari menuju Unit Gawat Darurat. Di dalam hatinya dia berharap semoga apa yang dia fikirkan salah dan tidak benar.