
Gua sekarang merasa seperti kang ojol yang ada di situs dewasa xnx*.com dan *video.com, kang ojol yang sedang di prank sama Siskaeee yang E nya 3 dan para wanita pembuat konten exibisi*** lainya.
Moment dan keadaan berserta situasi gua saat ini memang persis dengan yang dialami para kang ojol itu, terkejut dan cenat-cenut campur jadi satu dengan segala godaan dari tersangka.
"Oya dek Bimo mau beli pulsa ya?". Setelah berjabat tangan dan menggoda gua secara terang-terangan, wanita yang tubuhnya hanya dililit handuk ini berucap pelan tapi masih dengan gaya genitnya yang sangat menggoda.
"Oh iya mbak pulsa". Jawab gua cepat agar biar cepat kelar dan segera pergi dari tempat penuh akan godaan ini.
"Berapa nomornya dan isi berapa?". wanita bernama Rini ini melanjutkan pertanyaan khas dari penjual pulsa pada umumnya tapi gerakan tubuhnya buat gua cenat-cenut lagi.
Bagaimana kagak cenat-cenut dia ambil pulpen di atas etalase dan mulai menunduk di depan gua dan siap untuk mencatat.
Dengan gamblang gua bisa melihat separuh dari payu dara dia, pemandangan gila yang kagak gua duga akan hadir kembali.. ternyata ini betina belum puas goda gua, mana iman gua kagak seberapa tebel lagi.. Bisa kacau ini pasti entar.
"Dek Bimo kok diam? Lho itu kenapa ada air liur yang keluar, sariawan ya dek?". Masih menunduk di atas etalase di mendongak memandang gua di depannya.
"Oh maaf mbak, saya memang kelebihan cairan orangnya, Maaf". Gua segera hapus air liur gua yang kagak sengaja keluar sendiri akibat pemandangan wonderful Indonesia.
"Ya ampun! kelebihan cairan ya? Bukannya bahaya itu dek jika tidak sering-sering di keluarkan, biasanya di keluarkan dimana kalau mbak boleh tau?". Dia bertanya dengan mata genit dengan gerakan menyapu bibir dengan lidah yang sangat cepat.
Anjing! Pertanyaan macam apaan itu? Kenapa setiap alasan dan perkataan gua bisa betina ini counter dengan pertanyaan mesum kek gitu.
Benar-benar ngajak perang gua ini betina, gua udah sabar dan mencoba menghindar malah dia Uber terus.. Ok lah kalau itu mau loe, motto hidup gua yang telah lama terkubur akhirnya hari ini gua ucapkan lagi, Loe Jual gua beli! Gua berteriak dalam hati.
"Biasanya sih keluar sendiri saat tidur mbak sambil mimpi kalau gak ya aku keluarkan dengan tangan". Gua langsung menjawab kagak kalah provokatif nya.
Anak kucing yang loe uber tadi telah berubah jadi anak macan, loe bakalan dalam bahaya jika macan ini mulai lapar. Gua tersenyum kecil memandang ekspresi wanita depan gua yang berubah terkejut, mungkin dia kagak mengira gua akan berubah dari malu-malu menjadi mau dan melawan godaan dia.
"Mbak Rini kok malah sekarang yang diam dan kenapa itu wajahnya merah? Demam ya?".
"Ehh.. Enggak kok, memang seperti ini wajah aku jika kepanasan".
Kepanasan apaan? Ini kan di dalam rumah dan juga dia cuma pakai handuk, bilang aja lagi sang*.
"Oh aku kira demam, kan bahaya mbak harus cepat diperiksa dan di suntik biar cepat sembuh". Gantian gua yang menggoda dengan menyentuh bibir gua sendiri dengan jari telunjuk dan memandangnya lekat.
Tekad gua udah bulat sebulat ***** pera wan, kalau betina ini mancing terus akan gua ladeni, walaupun terjadi kecelakaan sampai adu mekanik.. kagak akan gentar gua, udah kagak perjaka ini. Itung-itung tambah pengalaman kalau sampai itu benar-benar terjadi.
"Benar memang kalau sakit harus disuntik, tapi aku enggak sakit kok, lagian enggak ada dokter disini.. Kalau saya sakit ya biasanya yang suntik suami saya". jawab dia pelan semakin mengarahkan ke titik kemesuman yang lebih tinggi.
"Oh iya dari tadi aku enggak liat suami mbak yang kekar dan berotot itu, kemana dia mbak?".
"Suami saya kalau pagi seperti ini ya sudah berangkat kerja, dia satpoll PP di kecamatan".
"Oh pantes sepi ya mbak, enggak ada orang di rumah kelihatannya?".
"Memang sepi cuma mbak sendirian, terkadang kesepian juga Jika suami enggak ada di rumah". Jawab dia penuh arti dan menekan kata kesepian yang dia katakan.
"Kalau kesepian cari pacar lah mbak, biar ada yang Nemani". gua semakin berani.
"Hehe, pacar apa? aku kan udah punya suami". wanita yang masih menunduk dan memegang pulpen di atas buku tampak tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja gua ucapkan.
"Lho emang kalau udah punya suami enggak boleh punya pacar ya mbak?". Lanjut gua dengan senyum polos.
Dia tampak terdiam memandang gua, se akan-akan sedang membaca apa yang ada di dalam pikiran gua saat ini. "Aku juga enggak tau dek, memang boleh ya? Wanita bersuami punya pacar?". Dengan senyum penuh arti dia balik bertanya.
"Menurut aku sih boleh-boleh aja mbak, kan enggak ada aturan menyangkut itu.. Lagian kan suami sama pacar tugas dan kewajibannya berbeda".
__ADS_1
"Memang apa yang membedakan mereka dek? mbak kok gak tau ya?".
"Kalau suami kan tugasnya menafkahi mbak, entah itu lahir maupun batin sedangkan pacar tugasnya sangat sederhana yaitu membahagiakan dan memberi apa yang tidak di dapat istri dari suaminya, kebanyakan sih urusan nafkah batin dan menemani saat kesepian seperti yang mbak Rini katakan tadi".
"Hehe, masih muda tapi kamu sangat pintar berbicara ya?".
"Aku juga pintar dalam hal lain mbak, contohnya mungkin membahagiakan istri orang". Gua ceploskan sekalian, jangan panggil gua Abimana Pramono jika menghadapi kek ginian aja takut.. Lebih menakutkan di kejar massa satu STM ini ma.
"Kamu godain mbak ya dek? awas lho ya kalau mbak seriusin bisa menangis kamu nanti, hehehe".
"Asal tebak aja ini mbak Rini siapa tau malah sebaliknya, aku yang bakalan buat mbak menangis minta tambah".
"Senang ya kamu godain istri orang". mbak Rini tampak tersipu, "Jadi beli pulsa gak ini kamu, pegal tau pegang pulpen dari tadi".
"Nanti juga bakalan pegang yang lain mbak yang mirip sama pulpen, silahkan catat no saya.. 085".
"Kok malah bengong lagi mbak? Enggak mau catat no saya ini?".
"Oh iya, berapa tadi?". Dengan sedikit enggak konsen mbak Rini bertanya.
"085".
"Iya 085, terus?".
"713 972".
"3 yang belakang?".
"713 lagi mbak". jawab gua santai.
"100 ribu aja mbak, enggak usah banyak-banyak.. Takutnya entar enggak muat".
"Serius ini 100 ribu?". Mbak Rini tampak terkejut.
"Iya mbak, ada yang salah ya? Apa enggak ada pulsa 100 ribu?".
"Ada kok tapi baru ini ada yang isi pulsa 100 ribu, biasanya warga kampung isi 5000 atau yang paling banyak cuma 10 ribu".
"Aku kan bukan warga kampung sini mbak, beda dong".
"Oh iya kamu kan orang luar ya? ngomong- ngomong kemarin kamu mau tanya alamat siapa sebelum Suci datang?".
"Jono mbak, aku temannya Jono".
"Oh jadi kamu yang di omongin para warga itu ya? Teman Jono yang katanya kaya?".
"Aku kan baru semalam disini mbak, kenapa udah ada gosip aja sih". tanya gua heran.
"Gimana enggak pada bicarakan kamu, baru datang aja sudah bagi-bagi uang.. Kemarin mbak dengar sempat ricuh di lapangan saat Sastro membagikan uang dari kamu, Masih muda tapi sudah mapan kamu ini.. pasti banyak wanita yang suka". Mbak Rini memandang gua dengan lebih berbeda sekarang, gua melihat ambisi di dalam sorot matanya.
"Hehe, biasa aja itu mbak.. Cuma aku anggap sebagai salam perkenalan dari aku kepada warga kampung". Jawab gua dengan sedikit sombong.
"Kalau salam perkenalan kamu buat mbak Rini mana?". Tanya dia pelan sambil kembali berdiri setelah mencatat no gua.
Dia tampak curi-curi pandang ke gua sambil mengetik di hpnya untuk isi pulsa, mungkin dia sedang menanti jawaban dari gua.
"Mbak Rini mau uang?". tanya gua to the point.
__ADS_1
"Yang lain selain uang ada gak?". Sekarang dia semakin berani dengan bicara sambil mengedipkan satu matanya.
"Ada dong mbak, kalau buat mbak Rini yang cantik ma ada banyak yang bisa aku tawarkan.. Ngomong- ngomong berapa mbak aku harus bayar untuk pulsanya, hp aku getar ini sepertinya udah masuk".
"110 ribu". Dia menyebutkan harga.
Segera gua ambil duit 200 ribu dari dompet, memang kagak ada uang kecil.
"Ini mbak". Gua menjulurkan uang ke depan dan langsung di terima oleh mbak Rini.
"Tunggu sebentar ya, mbak ambilkan kembaliannya dulu.. Dompet mbak ada di kamar, kamu mau tunggu disini apa mau ikut masuk dan tunggu di dalam?". Suara mbak Rini pelan sambil melihat ke sekitar yang sepi, mungkin dia takut ada orang lewat yang mendengar perkataannya yang secara kagak langsung mancing gua.
"Sepertinya aku tunggu di dalam deh mbak, penasaran dengan dekorasi rumah mbak Rini". Umpan langsung gua makan.
"Hehehe, ayo masuk nanti aku tunjukkan sesuatu yang bagus dan mbak ajari sesuatu". Dengan genit mbak Suci berbicara dan berbalik badan.
Dia melangkah kek model, bedanya dia hanya pakai handuk doang.
"Jalan kamu seperti ayam betina yang lagi kebelet bertelur mbak". Semakin gila aja perkataan gua.
"Kawin aja belum masak udah mau bertelur, ayo masuk kenapa masih berdiri di luar kamu". Mbak Rini yang sudah ada di dalam rumah berbalik badan dan melambai ke gua dengan sangat menggoda.
Pelan-pelan dia melepas handuknya yang langsung jatuh ke tanah dan seketika gua bisa melihat semuanya polosan tanpa penghalang apapun, hutan lebat itu masih sama seperti yang gua liat tadi sore dan yang buat gua semakin tegang adalah danau di bawah hutan itu, tampak seperti kue apem 3 yang digabung jadi satu.
"Adek Bimo mau ini". Dia menunjuk dan mengelus bagian bawah yang gua tatap tanpa kedip.
Tanpa menjawab dan seperti orang kesurupan gua hanya bisa mengangguk dengan cepat.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bemo! Ngapain loe disono?!". Suara familiar gua dengar dari arah belakang dan tepatnya di pinggir jalan.
Gua yang udah tidak fokus dan sang* melihat itu kue apem segera tersadar dan dengan cepat berbalik badan.
"Eh Jon! Itu loe". Gua grogi plus tergagap melihat Jono, untungnya dia kagak liat mbak Rini yang polosan di dalam rumah yang segera mengambil handuk di lantai dan memakainya lagi.
"Ya gua lah emang siapa lagi yang loe kenal disini? Ngapain loe disono Bemo!? Bukanya loe tadi bareng Suci?". Jono di depan sana memandang gua dengan mata yang menyipit curiga.
"Oh iya Jon tadi aku minta turunin disini, nunggu kamu sambil beli pulsa, udah kelar kok". Jawab gua cepat.
"Mbak saya pergi dulu, terima kasih untuk pulsa dan itunya". Gua melirik Mbak Rini yang tampak kesal di dalam rumah dan langsung ngibrit pergi menghampiri Jono.
"Yok Jon berangkat kita, lama amat sih loe! Sampai jamuran gua nunggu loe disini". Gua pura-pura ngedumel sambil berjalan terlebih dahulu meninggalkan Jono di belakang.
__ADS_1