Preman Campus

Preman Campus
RASA SAKIT YANG GUA TUTUPI


__ADS_3

Gua dihampiri oleh beberapa orang dari dalam dealer yang sudah bisa gua prediksi sebelumnya dan memang gua sudah siap untuk itu.


Lisa dan 4 orang pemuda berpakaian bengkel berdiri tidak jauh dari gua dan memandang mengamati situasi yang ada di depan mereka dan tentu saja menatap gua dengan penuh selidik.


"Bagus! Kalian mau maju sama-sama atau satu per satu? Sini mumpung gua belum puas dan masih bersemangat!." dengan jumawa gua tantang mereka semua tanpa rasa gentar, yang penting berani dulu dengan nyali untuk masalah menang kalah urusan belakang.


4 pemuda itu saling memandang tanpa mengucapkan kata-kata, mereka melihat Samsul yang bersimbah darah di lantai dengan muka datar yang membuat gua merasa aneh saat ini dengan mereka yang tampak tenang sekali dan gua punya firasat buruk.


Samsul kan manager dealer sebagai pegawai harusnya kan mereka datang menolong seperti 2 satpam tadi yang satu gua buat pingsan dan yang satu kabur.


"Kenapa kalian diam saja? Cepat bantu pak Samsul." Lisa memecah keheningan walau sudah di tampar juga sama Samsul, dia masih bersikeras mencari orang untuk menolong.


"Sebelum kalian bantu itu orang hadapi gua dulu! itu juga kalau kalian punya nyali besar dan siap untuk merasakan rasa sakit nyata yang belum pernah kalian dapatkan!". Gua maju dua langkah ke depan mengintimidasi kek singa jantan yang mencoba mempertahankan wilayahnya dari musuh.


"Sabar bang kami tidak berniat ikut campur." Salah satu pemuda yang berdiri paling depan membuka mulut berbicara dan mendapat anggukan kepala dari 3 pemuda lainnya secara bersamaan.


"Anto! kenapa kamu malah bilang seperti itu?." Lisa tampak tidak habis pikir dan mulai panik.


"Lis kamu tau sendiri apa yang telah dia perbuat kepada kami." Pria itu menunjuk Samsul di lantai dengan sorot mata datar tanpa perasaan iba ataupun kasihan.


"Segala cacian dan hinaan selalu kami terima padahal kita berempat sudah berkerja dengan baik, dia dengan semena-mena memotong gaji kami tanpa alasan yang jelas." pemuda lainnya ikut bicara dengan memandang Lisa, mengeluarkan uneg-uneg di hati.


"Mungkin ini karma yang dia terima dan kami tidak mau ikut campur, ayo kawan-kawan kita kembali ke belakang!."


"Bang silahkan lanjutkan apa yang ingin abang lakukan, kami akan pura-pura buta dan tuli, permisi."


Ke empat pemuda itu langsung pergi gitu aja kembali masuk ke dalam dealer dan gua langsung berubah bego seketika mendengar itu semua, firasat buruk yang dari tadi gua rasakan memang benar.. Kagak jadi gelut lagi ini.


Ternyata gua kena PHP sama itu orang-orang, gua kira mereka berdarah panas dan siap adu nyawa sama gua ternyata masih pada normal itu otak mereka.


Gua emang bajingan tapi kagak mungkin juga akan gelut sama orang yang kagak mau cari masalah jadi gua diam saja dan biarkan mereka pergi.


"Kalian tunggu!." Lisa berteriak melirik gua dengan raut wajahnya yang ketakutan dan langsung berlari mengikuti 4 pemuda.


"Jon loe udah patahkan..


Gua terdiam dan tidak melanjutkan bicara saat melihat apa yang dilakukan Jono.


"Jontor! kenapa malah diam aja loe dari tadi? cuma jadi penonton aja loe selama ini? kagak dengar apa yang telah gua ucapkan tadi?." auto murka gua saat melihat Jono yang malah bantu Samsul mengangkat motor yang menindih punggungnya, kagak abis pikir gua sama jalan pikiran tukang tatto itu.


Dengan muka yang masih berdarah Samsul duduk dan langsung memegangi ke dua kaki Jono dengan cepat dan wajah yang penuh darah mengiba.


"Jono ampun Jon, tolong Jon.. Tolong aku Jon." Samsul menangis kek bocah sambil peluk kaki Jono erat.


"Bim udah Bim, kita sudah beri pelajaran dia dan ini saatnya untuk berhenti." Jono tidak bergerak membiarkan kakinya di peluk Samsul di bawah, dia bicara memandang gua yang berjalan mendekat tanpa ekspresi.


"Kita? yang dari tadi gerak itu gua Jon! sementara loe cuma jadi patung doang". Gua langsung menjawab cepat dan serius.

__ADS_1


"Gua enggak bantu karena tidak mau membuat masalah semakin runyam Bim, sekarang kita musti gimana ini?". Jono bertanya memandang gua dengan muka bego nya.


"Ya gimana lagi selesaikan masalah yang belum kelar lah." Gua bicara dan tarik tali rafia yang mengikat celana gua, bodo amat celana gua melorot.


"Bim mau ngapain loe?!." Jono auto panik saat liat gua mengencangkan tali dan berjalan ke bekalang Samsul.


"Jangan! Jangan! Jono.. ! Jono..! Tolong aku Jono.. Akkkkk!".


Samsul berteriak kesakitan karena lehernya gua jerat dengan tali rafia dari belakang.


Dia gelagapan di lantai dengan kedua matanya yang terbuka lebar kek mau keluar.


"Bim! Gila loe! bisa mampus dia, cepat lepas!." Jono mencoba menghentikan gua dengan kata-kata.


"Bacot loe Jon! cepat minggat loe, jika loe cemen dan kagak mau terlibat?." gua udah kagak bisa mikir dengan jernih lagi.


"Bimo berhenti!." Suara wanita terdengar tidak jauh dari posisi gua yang lagi jerat leher Samsul tapi gua bodo amat dengan suara itu karena gua udah semakin kalap saat ini.


Dan suara langkah kaki juga gua dengar berlari menghampiri.


"Ci cepat sini Ci? cepat bantu aku sadarkan Bimo!." Jono berteriak dan ternyata suara wanita itu adalah suara Suci.


Tau itu betina datang darah gua semakin panas, karena gara-gara bangsat ini.. Suci jadi berubah tadi dan kagak mau ngomong jujur sama gua.


Gua emang egois suka berbohong tapi kagak suka dibohongi.


"BIMO BERHENTI!".


Tubuh gua goyah dan oleng bukan karena mabok ciu atau anggur tapi secara tiba-tiba menerima dorongan yang sangat kuat dari 2 tangan.


Dengan celana yang sudah melorot gua kehilangan keseimbangan dan terbawa arus dorongan Suci hingga jatuh nyungsep 4 meter jauhnya dan baru bisa berhenti saat tubuh gua nabrak motor yang di pajang.


Gua tengkurap di atas motor dengan menahan rasa sakit karena di siku dan dada gua membentur besi body motor beserta Junior dibawah sana cium mesin motor, untung aja kagak dalam posisi berdiri karena bisa patah pasti itu.


"Jono cepat panggil ambulance Jon, Ayah Diah kamu harus bertahan." Suci tampak panik dan bersimpuh di lantai menaruh kepala Samsul di atas pahanya.


Hati gua saat ini terasa seperti di iris-iris melihat adegan di depan mata gua sekarang ini.


"Tenang Ci tenang." Jono ikut berjongkok dan memeriksa Samsul, sesaat Setelah nya Jono tampak bernafas lega.


"Dia cuma pingsan dan masih bernafas." Jono berucap pelan sambil menatap Suci yang masih tampak panik.


Tidak lama gua mendengar suara sirene dan beberapa mobil masuk ke dalam arena dealer dan itu adalah ambulance dan mobil polisi, mungkin Lisa yang memanggil tadi atau mungkin satpam pengecut yang lari tadi.


"Ci itu ambulance, ayo kita papah Samsul kesana." Jono memberi saran dan Suci dengan cepat mengangguk.


Dan mereka berdua dengan perhatian dan hati-hati membawa Samsul keluar, meninggalkan gua seperti sampah tidak berguna dan tidak ada artinya.

__ADS_1


Gua segera bangkit dengan hati yang masih sangat sakit, setelah mendorong gua dengan kencang tanpa belas kasih dia langsung melupakan gua gitu aja.


Celana yang melorot segera gua tarik lagi ke atas, gua lepas baju dan gua ikatkan di pinggang untuk menahan celana.


Gua berjalan gontai ke depan melihat Samsul yang sudah masuk di bawa pergi oleh ambulance.


Tinggal Suci yang masih kwartir dan Jono berdiri di sana bersama 2 orang polisi yang sedang mengintrogasi.


"Jangan repot-repot bertanya sama mereka lagi pak, mereka cuma saksi dan semuanya saya sendiri yang lakukan dan di dalam masih ada 1 korban itu satpam yang pingsan".


"Bim?." Jono berbalik badan melihat gua dengan ekspresi bersalah di wajahnya.


Sementara Suci hanya menunduk mendengar suara gua tanpa berani berbalik, mungkin dia sadar sudah sakiti hati gua.


"Ayo cepat kita OTW ke kantor polisi, udah lama gua kagak tamasya ke sel tahanan, hahaha." Gua ketawa kek orang gila menutupi nyeri di hati dan buka pintu mobil belakang polisi dan langsung masuk.


"Apa benar semua dia yang melakukan?". Salah satu polisi bertanya serius melihat Jono dan Suci.


"Jon jujur aja loe, tenang gua kagak apa-apa paling cuma beberapa jam doang gua di sel.. jangan lupa gua itu siapa?" Gua membuka pintu kaca mobil dan bicara.


Jono mengangguk, " Iya semua teman saya yang lakukan tapi ini ada sangkut pautnya dengan masalah saya juga dan teman saya hanya membela diri dan membela saya".


"Baik ayo kalian berdua ikut masuk mobil dan jelaskan semua di kantor, Sersan Amir kamu disini dan panggil bantuan untuk memeriksa CCTV" Polisi itu bicara sama Jono dan Suci berserta rekannya.


Jono dan Suci pun masuk ke dalam mobil dengan Jono yang duduk di belakang bareng gua dan Suci yang memilih duduk di depan di samping polisi yang menyetir.


"Ini kamu, pakai ini dulu" Polisi di belakang kemudi memperlihatkan borgol putih ke gua di belakang.


Suci dan Jono yang melihat itu langsung terkejut.


"Pak teman saya kan tidak lari, kenapa harus pakai borgol?"


"Ini sudah prosedur bagi para terduga pelaku, cepat mana dua tangan kamu?" polisi di depan menatap gua tajam.


Dengan santai gua mengulurkan tangan ke depan dan dengan cepat serta profesional polisi itu memborgol tangan gua.


"Akhirnya gua pakai gelang perak ini lagi Jon, kangen gua.. terakhir pakai kan saat basis 69 di gerebek aparat dulu."


Gua tersenyum lebar sambil mengangkat tangan gua yang di borgol di ke depan muka Jono.


"Saraf!." Jono memandang gua sendu dan matanya merah menahan tangis, mungkin dia juga merasa bersalah sama gua kek betina yang lagi terisak di depan itu.


"Biasa aja kali muka loe Jon, itu duit ambil dulu yang ketinggalan. buat bayar utang loe itu." Gua mengingatkan.


"Oh iya!. Pak bentar pak jangan jalan dulu, uang saya ketinggalan." Jono langsung membuka pintu dan keluar dengan berlari masuk lagi ke dalam dealer.


Gua langsung senderan santai mengiringi isak tangis penyesalan Suci dengan bersiul ria dari mulut gua.

__ADS_1


__ADS_2