Preman Campus

Preman Campus
PERMINTAAN


__ADS_3

"Sayang kamu lagi mikir apa? Kok melihat senyum kamu membuat aku merasa aneh dan deg-deg an gini ya? Seperti ada bisikan untuk segera tutup video call dari kamu". Bianca tampak hati-hati melihat gua curiga.


"Aneh apa sih Bie? mungkin perasaan kamu aja itu". Gua menjawab pelan dan hati-hati dengan ekspresi datar agar Bianca tidak bisa menebak dengan apa yang ada dipikiran gua saat ini.


"Lagian kamu itu dimana sih sayang? Kok gelap banget gitu di sekitar kamu?. Bianca tampak fokus memandang di layar hpnya melihat ke belakang gua.


"Oh ini aku lagi dibelakang rumah si Jono Bie, emang gelap sih disini dan sepi pula pas suasananya buat kangen-kangenan sama kamu". Tahap awal gua berucap semanis madu dulu untuk membuat cewe gua bersemu dan tidak mencurigai apa yang akan gua minta darinya.


"Hehe.. hati-hati lho sayang di tempat gelap kan biasanya ada..


"Udah deh Bie jangan kamu rubah genre yang romantis ini menjadi horor". Gua langsung cemberut, potong kalimat sebelum Bianca melanjutkan bicara, udah tau cowo nya takut setan malah becanda kek gitu.


"Hehe, maaf sayang lupa aku kalau kamu enggak suka genre horor". Bianca tampak tersenyum menahan tawa dengan wajahnya yang tampak sangat manis.


"Nah itu kamu ingat, aku kan sukanya genre itu, Kamu ingat gak Bie..


"Enggak aku enggak ingat!". Jawab Bianca cepat dengan wajahnya yang sedikit berpaling dan sekarang dia yang motong ucapan gua.


"Neng Bianca abang Bimo kan belum kelar bicara kok main jawab aja sih kamu? emang kamu tau Abang mau bicara apa?". Tahap pertengahan gua pancing Bianca pelan-pelan dengan kata-kata halus tentu saja.


"Tau lah kamu mau bahas soal yang kemarin itu kan?". Bianca menjawab dengan sedikit terbata dengan wajah yang masih tidak mau melihat ke layar hp, sepertinya dia sudah bisa menebak dengan arah bicara gua mau kemana.


"Yang kemarin apa Bie? Kok malah aku enggak ingat ya? Tolong dong ingatkan Abang". Gua masih pura-pura bego dengan ekspresi wajah polos yang gua tunjukkan.


"Enggak aku gak mau jawab, aku tau kamu lagi pasang jebakan sayang". Bianca udah mulai sadar


"Ya elah sayang ketahuan ya? Pura-pura enggak tau dong, biasanya aja saat kamu yang pasang jebakan aku pura-pura bego.. ini gak adil bagi aku cinta". Gua langsung pura-pura ngambek dengan muka konyol.


"Tuan muda Abimana belum ada 2 hari kita tidak bertemu tapi kemampuan acting kamu sudah berkembang sangat pesat sekali, bentar lagi pasti ada tawaran main film buat kamu". Bianca menyindir gua halus.


"Oh ya jelas dong acting Abang ma kagak perlu diragukan lagi.. Abang Bimo juga bisa dan mahir nulis, ini sudah ada naskah film yang sudah selesai Abang tulis tinggal cari lokasi dan langsung bisa syuting". Gua berucap dengan kesombongan dan ini adalah rencana tahap akhir setelah berlalunya tahap pancingan.


"Oya?". Bianca tapak pura-pura terkejut dengan wajahnya yang sangat menggoda itu, "Kalau boleh tau judul naskah filmnya apa? Kalau bagus dan seru nanti aku ikut casting untuk jadi pemeran wanita utamanya". Bianca mulai tertarik dengan candaan gua


Bingo! Gua langsung bersorak dalam hati dengan datangnya pertanyaan dari calon korban


"Oh jelas bagus dan seru dong dan juga pemainnya cuma 2, cowo dan cewe jadi kamu enggak usah casting langsung menemani Abang sebagai bintangnya.. pasti romantis banget entar". Dengan semangat 45 gua menjawab cepat


"Romantis? Jadi genrenya romance? Pas kalau gitu kalau kita berdua yang memerankannya". Bianca tampak tidak curiga dengan candaan gua yang akan mengarah kemana.


"Iya genrenya romantis kisah cinta sepasang anak muda yang di mabuk cinta dan sangat menggebu-gebu, lokasi syutingnya entar di kamar kamu dengan aku sebagai bintang pria yang merangkap cameraman dan kamu yang yang membaca naskahnya, enggak sulit kok cukup menjerit-jerit pelan aja kamu sambil merem melek.


"Sayang!!". Bianca memanggil gua dengan suara gemas malu-malunya, layar langsung gelap karena Hp di lempar entah kemana.


Video call masih tersambung tapi gua kagak bisa liat apa-apa, "Bie kamu dimana? Kalau udah gak kangen lagi? aku akhirnya aja ya?". Gua bicara mengancam.


"Coba kalau berani!". Suara Bianca terdengar dan sesaat kemudian dia angkat lagi hp dengan tangannya dan tampaklah wajahnya yang bersemu merah.


Tampaknya tadi Bianca melempar hp nya ke ranjang karena sekarang gua bisa melihat jika dia sedang duduk di sana.


"Sayang mesum!". Bianca tampak cemberut dengan bibir sensualnya yang dia majukan.


"Mesum kan cuma sama kamu Bie, lagian kenapa masih malu sih kamu sayang? Kan kita udah ngelakuinnya dan sama-sama menikmati dan saling memiliki jadi sekarang aku punya satu permintaan sama kamu, kabulin ya?". gua memasang tampang melas.


"Sayang jangan aneh-aneh deh". Bianca bergumam pelan tidak menolak ataupun mengabulkan, dia tampak sudah mengerti.

__ADS_1


"Ayolah Bie sebentar saja buka itu handuknya aku kangen sama keindahan cewe aku, ayolah Bie.. Apa udah gak sayang lagi kamu sama aku". Masih dengan melas gua memohon.


"Jangan ragukan cinta aku ke kamu Bimo, kan sudah aku buktikan dengan memberikan hal yang paling aku jaga buat kamu". Jawab Bianca serius.


"Iya sayang maaf aku salah bicara, itu juga pertama kalinya buat aku melakukannya.. ya udah deh kalau kamu enggak mau, aku juga enggak ingin terlalu memaksa kamu". Gua menghela nafas panjang dan pasrah.


"Sayang kamu marah ya?". Bianca melihat ekspresi wajah gua dan menebak.


"Enggak lah mana mungkin aku bisa marah sama kamu". Jawab gua acuh tak acuh


"Apa mungkin kamu kecewa?".


"Kamu itu kebanggaan aku Bie, enggak pernah sekalipun aku kecewa.. Udah lupakan saja jangan di bahas lagi soal yang tadi dan anggap saja aku enggak pernah bicara seperti itu".


"Bagaimana aku bisa lupa sayang kan aku udah dengar?".


Anjir maunya cewe gua ini apaan sih? Dia kagak mau ngasih dan kagak mau lupain. Gua kesel sendiri saat ini dan bicara dalam hati.


"Ya udah kamu tidur aja nanti juga lupa sendiri dengan permintaan aku itu, aku tutup ya?".


"Jangan!". Bianca langsung berteriak melarang.


Gua tersentak dan sedikit terkejut, sedetik kemudian gua melihat Bianca tampak seperti orang bimbang dan sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa Bie? Jadi aneh gitu ekspresi wajah kamu, kenapa sekarang jadi aku yang merasa enggak enak dan dapat bisikan untuk segera menutup Video call ini?".


"Emang ekspresi aku gimana sayang? Biasa aja kok, ok deh aku mau". Jawab Bianca cepat dengan wajah yang memerah.


"Mau apa? Mau tidur? ya udah tidur gi". Gua menjawab santai tanpa curiga.


"APA?! KAMU MAU KABULKAN PERMINTAAN AKU?". Gua auto teriak dan berdiri dari ancak bambu terkejut campur tidak percaya tapi dalam hati udah ada kembang api yang meletus karena bahagia.


"Sayang jangan berteriak seperti itu, enggak malu nanti kalau Jono dan keluarganya dengar?". Bianca mengingatkan


"Tenang aja, enggak kedengaran kok kan aku di belakang rumah tapi kamu serius kan Bie? Enggak lagi becandain aku kan?". Sambil duduk lagi gua bertanya memastikan.


"Aku serius sayang daripada kamu enggak bisa tidur nanti malam, hehehe". Bianca tersenyum lembut dan tampak memandang gua dengan sorot mata penuh cinta walau lewat layar Hp, gua masih bisa melihat dan menyadarinya.


"Makasih Bie makasih banget, sayang aku ke kamu nambah jadi 200 persen saat ini dan gak mungkin akan berkurang karena setiap detik akan terus bertambah, walau sudah penuh dan tumpah-tumpah akan aku pungut lagi pokoknya". saking senangnya gua kagak tau harus mengekpresikan nya seperti apa jadi bicara ngelantur.


"Sayang kamu jangan bahagia dulu, aku kabulin permintaan kamu itu tidak gratis tauk". Mata Bianca yang semula penuh cinta sekarang berubah seperti mata rubah ekor sembilan yang penuh kelicikan memandang gua.


"Tidak gratis?". Senyum di wajah gua menghilang.


"Iya tidak gratis". Senyum di wajah Bianca mekar.


Gua auto terdiam dan berpikir sejenak apa maksud tidak gratis dari kata-kata Bianca.


Apa dia lagi lupa ingatan? Dia kan cewe gua.. Kenapa malah seperti itu yang lagi nego harga sebelum anu gini, mending gua tanya aja dulu siapa tau ada maksud lain di kata tidak gratis itu.


"Sayang kok diam".


"Tidak gratis gimana maksud kamu Bie? Enggak ngerti aku? kamu mau beli sesuatu ya? Bilang aja nanti aku transfers".


"Beli apa? Ini soal lain sayang dan bukan soal uang".

__ADS_1


"Maaf kalau gitu, ya udah cepat bilang kamu mau apa.. Kalau kagak yang aneh-aneh dan mustahil pasti akan aku berikan ke kamu". Jawab gua mantap.


"Sebelum itu aku mau tanya sesuatu dulu ke kamu sayang, bulan depan kan sudah masuk Desember.. Kamu liburan tahun baru kemana?".


"Liburan tahun baru ya? Sepertinya aku bakalan pulang ke rumah Bie di jakarta.. tradisi keluarga aku selalu berkumpul di malam tahun Baru". Jawab gua jujur.


"Memang kenapa dan apa hubungannya dengan tidak gratis tadi? Kamu mau aku enggak pulang dan tetap di Jogja ngerayain tahun baru sama kamu?". Gua menebak.


"Bukan sayang aku malah setuju jika kamu mudik ke Jakarta dan bertemu keluarga kamu dan permintaan aku adalah ajak aku juga".


Alis gua langsung mengkerut mendengar permintaan Bianca.


"Kenapa sayang kamu nolak ya?". Bianca tampak murung.


"Enggak nolak sih Bie? Aku sih ok-ok saja jika kamu mau ikut dan mengenal Ayah dan bunda aku tapi yang aku khawatirkan adalah bagaimana reaksi si Joko Jika dia tau kamu ikut aku".


"Joko? Kakak aku maksud kamu sayang? Itu sih tenang saja nanti aku bisa cari alasan yang tepat, yang penting kamu setuju dulu".


"Jika memang seperti itu sih hayuk aja ikut aku ke Jakarta.. tanggal 28 Desember kita berangkat".


"Makasih sayang, hehehe.. aku enggak sabar pengen cepat-cepat ketemu bunda kamu, ya udah deh kamu istirahat gi.. Udah malam juga kamu pasti capek.. Mimpikan aku ya sayang". Bianca tersenyum ceria setelah gua mengabulkan permintaanya.


"Lho.. Lho.. Lho.. jangan selenco dan pura-pura lupa ya kamu nona Bianca! Kamu kan sudah minta bayaran dan aku kasih.. tapi mana kamu belum kabulkan permintaan aku".


"Hehehe, masih ingat saja sih kamu sayang.. Aku kira udah lupa". Bianca tersenyum genit dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Mana mungkin aku lup...


omongan gua terhenti di tenggorokan dengan kedua mata yang terpana melihat kamera Hp Bianca yang dia alihkan ke lantai dan di sana gua melihat handuk putih yang tergeletak.


"Bie kamu sudah? Sekarang rebahan itu sambil?". Gua megap-megap seperti ikan yang nyasar di daratan.


"Sudah apa sayang?". Sekarang layar hp gua penuh dengan gambar wajah Bianca.


"Bie please Bie? arahkan kamera ke bawah.. Aku udah enggak tahan ini sayang, please jangan siksa cowo kamu ini". Gua memelas dengan wajah penuh harap


Wajah Bianca juga tampak sudah memerah saat ini dan lembut dia bergumam, " Bimo aku cinta dan sayang banget sama kamu".


Sesaat kemudian pelan-pelan fokus kamera mulai berubah dan pelan-pelan mulai Bianca turunkan.


Gua yang melihat itu juga langsung berganti tangan kiri yang memegang hp dan tangan kanan langsung kebawah dengan cepat, tanpa CD pusaka keramat pedang excalibur gua langsung keluar dan tegak berdiri bak tugu Monas menantang langit malam.


Di layar hp gua sudah terlihat leher mulus Bianca yang sangat menggoda jika dekat pasti akan gua buat tanda merah di sana.


Hp di tangan Bianca bergerak pelan-pelan dan sampainya di gunung Rinjani sebelah kiri yang ujungnya berwana pink, gunung yang ukurannya di atas normal.. salah satu tempat favorit gua.


"Bie?". Suara parau lirih gua keluarkan.


Seakan mengerti dengan kemauan gua, tangan kanan Bianca berkerja.


"Sayang?". Suara parau Bianca pun mulai terdengar, suara yang membuat gua semakin panas saat mendengarnya.


"Bie, ada gempa di bawah gunung". suara gua bergetar memberi arahan.


Tanpa menjawab dan seakan sudah mengerti, gunung Semeru bergetar dan bergoyang karena colekan dari lentik jari Bianca.

__ADS_1


Suara parau dari Bianca bisa gua dengar dengan jelas seiring dengan suasana dan malam yang semakin panas dan menggelora.


__ADS_2