Preman Campus

Preman Campus
PEMAKAN SEGALANYA


__ADS_3

Gw duduk di atas sofa berdampingan dengan nying-nying dengan keadaan di dalam celana yang sudah sangat kagak nyaman.


Gw kagak tau dengan benda di dalam celana sana yang seharusnya abis muncrat kan dia lemas dan bobo lagi tapi ini malah masih berdiri tegak dan terpaksa gw tutupi dari luar celana dengan kedua telapak tangan.


Sementara tersangka yang menimbulkan damage ke gw masih di toliet dan beralih tempat berganti baju disana.


Nying-nying kek ngambek dia, duduk di samping gw tapi menengok ke samping dan gw dihadapkan dengan punggung dia.


Gw bingung mau mulai pembicaraan darimana pasti yang gw ucapkan bakalan salah juga dimata nying-nying dan akhirnya gw memilih diam saja dulu.


Gw alihkan fikiran gw yang masih terbayang tubuh mulus mbak Rina dengan mengamati semua semua benda yang ada di ruangan ini.


Ruangan yang pernah gw masuki saat di sidang bunda dulu, lebih besar dari ruangan kerja nying-nying tentunya.


"Nyong apa tadi kamu lihat semuanya?". Akhirnya nying-nying bersuara juga berbicara tapi masih dalam posisi membelakangi gw.


Pertanyaan tepi jurang banget ini harus hati-hati gw menjawabnya salah dikit benda tumpul pasti akan melayang menghantam gw.


"Aku melihat apa yang kamu lihat nying karena aku berada tepat disamping kamu". Jawab gw pelan.


"Senang kamu ya liat pemandangan indah gratis?". Tanya nying-nying lagi dengan acuh tak acuh.


Senang! Senang buuuangett malahan!. Hati gw menjawab dalam diam.


"Apa ada cowo yang senang melihat hal semacam itu disamping cewenya? Itu tadi cuma hal kebetulan yang tidak disengaja akibat salah paham dan kelalaian manusia". Gw pendam isi hati gw dan gw jawab semenyakinkan mungkin.


Nying-nying terdiam untuk sesaat. "Kamu dan aku sama-sama enggak tau kalau mbak Rina sedang ganti baju di dalam sini, begitu juga mbak Rina dia tidak tau yang masuk kesini kamu dan aku juga".


"Coba kamu fikir jika dia tau aku juga akan masuk apa dia akan bicara seperti tadi? Mbak Rina kan taunya kamu yang ada di luar pintu". Gw mengurai kronologi kejadian agar semakin menyakinkan nying-nying.


"Tapi kamu harus lupakan kejadian tadi dan jangan kamu ingat-ingat!". Nying-nying berbalik badan dan memperlihatkan wajah baby facenya yang nampak kesel tapi terlihat menggemaskan.


Melupakan? Ngaco ini bocah, mana bisa ingatan kek gitu gw lupakan. Yang ada ma bakalan jadi bahan c*li. Sekarang otak gw yang berbicara berfikir dalam diam.


"Nying! Kamu denger ya aku akan melupakan sesuatu yang tidak penting dan cuma akan mengingat sesuatu yang berharga".


"Berharga disini maksud aku adalah kebersamaan aku sama kamu dan Ayah bunda aku, mana mungkin aku akan mengingat hal semacam itu yang akan buat kamu sedih, liat satu tetes air mata kamu aja hati aku sakit banget". Gw tampilkan wajah serius dan tegas dihadapan nying-nying.


Acting yang sempurna dan bahasa yang menyakinkan gw lakukan dan ucapkan.


"Aku enggak akan tau kamu berbohong apa enggak nyong tapi tadi itu memang salah paham saja dan aku ikut salah juga karena tidak kasih tau mbak Rina kalau aku sama kamu".


"Yang penting buat aku itu kamu tidak tergoda dan mengalihkan perhatian kamu dari aku ke mbak Rina".


"Gadis bodoh". Gw belai pipi nying-nying lembut.


"Masak cuma liat gituan aja aku berpindah hati, aku nyakin kamu lebih memukau dan lebih indah".


"Nying-nying tenang aja nyong-nyong akan selalu jadi milik kamu seorang". Gw tarik tubuh nying-nying dan gw peluk erat.

__ADS_1


Gw belai rambutnya mesra dan gw bisikan I love U di telinga dia.


"I love u to nyong". Nying-nying menjawab dan akhirnya percaya juga sama gw.


Scene menegangkan bisa gw lalui dengan selamat dengan skill acting dan ngibul tingkat tinggi.


Siapa gw? gw Abimana Pramono bajingan yang paling beruntung di Jogja ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


5 menit berlalu pelukan gw dan nying-nying pun telah terlepas dari tadi, mbak Rina pun sudah kelar dengan ganti bajunya duduk di depan gw dan nying-nying.


Suasana sedikit canggung awal-awal tadi karena kagak ada yang berbicara terlebih dahulu.


Mbak Rina masih tampak malu dengan wajah ayu nya itu dan nying-nying terlihat bingung mau bicara mulai dari mana.


"Mbak Maaf yang tadi itu hanya salah paham, mbak Rina jangan marah ya". Gw memberanikan diri bersuara.


"Iya salah saya juga karena tidak tau kamu juga ikut kesini". Mbak Rina dewasa banget, malu cuma sesaat saja dia dan kini tampak normal kembali.


"Saya juga minta maaf mbak, tidak kasih tau mbak Rina jika kesini sama Bimo". Nying-nying merasa bersalah dan ikut meminta maaf.


"Gak apa-apa kok Sa ini murni salah paham diantara kita, oya ada apa kamu ikut kesini Bim? ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan sama aku?". Mbak Rina dengan santai mengalihkan topik pembicaraan kami.


Mbak Rina oh mbak Rina baru ini gw mengamati kamu dengan seksama, kalau dilihat-lihat wajah dan postur tubuhnya mirip banget sama Wulan guritno tentu saja dengan usia yang berbeda, mbak Rina masih tampak kencang banget khas perawan pada umumnya.


Otak bangsat emang ini, kenapa berfikir sampai sejauh sana? Mana gw tau mbak Rina masih perawan apa kagak.


"Sabar atu neng Vanesha orang lapar itu berfikirnya lama". Gw yang terkejut menjawab senormal mungkin.


"Abis kuaci 1 kaleng kok masih lapar aja kamu itu". Nying-nying mencibir.


"Kek nya masih kagak rela kamu nying aku makan kuaci kamu".


"Hehehe, kalian ini ya berantem terus nanti jadian lho". Mbak Rina menyela dan tertawa kecil.


"Emang kita sudah jadian mbak". Jawab gw santai tanpa menutupi dari mbak Rina.


Nying-nying tampak menunduk malu dan mbak Rina auto terkejut.


"Serius kalian sudah jadian? Selamat ya Bimo dan Vanesha semoga langgeng". Mbak Rina mengatasi keterkejutannya dan memberi selamat dengan senyumnya.


"Mbak tolong ya rahasian hubungan saya dan Bimo dari para pegawai butik". Nying-nying malu-malu berucap.


"Tenang saja Sa, rahasia kamu aman sama saya karena kamu sudah aku anggap adik sendiri".


"Terima kasih mbak". Nying-nying tersenyum mendengar ucapan menenangkan mbak Rina.


"Jadi kalian kesini mau kasih tau aku ini?". Mbak Rina bertanya memandang gw dan Nying-nying bergantian.

__ADS_1


"Sebenarnya saya ada maksud lain sih mbak dan mau minta tolong ke mbak Rina".


"Tolong apa Bim? Bilang aja pasti aku tolongin karena bantu kamu adalah tugas aku juga dari Bunda kamu".


"Ini soal Sasa mbak, kan dia masih tinggal di apartement mbak Rina sama Adiknya. Aku mau minta tolong sama mbak Rina untuk carikan Sasa apartemen kalau ada yang satu gedung dengan mbak Rina, soal biaya dan surat kepemilikan atas nama saya".


"Iya mbak saya akan menyewa dari Bimo dan membayar tiap bulannya". Nying-nying ikut berbicara mungkin dia kawatir mbak Rina berfikir dia manfaatkan gw.


"Kamu bertanggung jawab sekali Bimo dan Sa kamu hebat masih mau menyewa dari pacar sendiri, sebenarnya sih tidak apa-apa kamu dan Nina tinggal sama saya tapi berhubung sang pemilik gedung bicara seperti itu kamu sama Nina pindah saja ke apartement sebelah aku".


"Kosong kok dan belum ada yang beli dan menempati". Mbak Rina berbicara panjang yang membuat gw sedikit bingung.


"Bentar-bentar mbak siapa pemilik gedung itu kok mbak sebutin segala? Nying kenal ya sama pemilik gedung itu? Cowo apa cewe? Naksir sama kamu dia ya?". Gw langsung curiga.


Nying-nying malah kek orang bego dengan wajah imutnya melihat gw dan mbak Rina bergantian.


"Bicara apa sih kamu nyong mana ada aku kenal pria lain selain kamu". Nying-nying membela diri.


"Bimo kamu bicara apa sih? Gedung beserta apartement yang aku tempati itu kan dibawah kepemilikan Pramono Grup, kan itu gedung milik kamu sendiri kenapa kamu malah mau beli gedung kamu sendiri?".


Gw dan nying-nying auto bengong mendengar ucapan mbak Rina.


"Hehehe, jangan-jangan kamu enggak tau ya Bim kalau itu gedung apartement milik kamu?".


"Kalau saya tau ekpresi wajah saya tidak akan terkejut seperti ini mbak".


"Pantas saja dulu bunda suruh aku tinggal di apartement saja, aku kira cuma belikan aku 1 unit doang ternyata 1 gedung dibeli".


"Iya Nyonya Shinta pernah cerita sama saya dulu sebelum kamu kuliah disini, kalau dia mau beli gedung apartement untuk kamu tinggal selama kuliah disini".


"Aku tinggal disana juga gratis yang awalnya punya tugas untuk awasi kamu jika kamu tinggal disana juga". Mbak Rina menjelaskan panjang lebar.


"Bagus dong kalau seperti itu, kamu tinggal pindah aja nying". Gw melihat nying-nying yang dari tadi bengong.


Sontak nying-nying berdiri "Bagus apa nyong? Aku enggak tau bunda kamu semengerikan ini, anaknya cuma kuliah aja dibelikan gedung tinggi berisi lebih dari 50 kamar apartement".


Kelihatannya aku fikir-fikir lagi deh, mbak Rina aku pamit dulu". Nying-nying nyelonong keluar ruangaan begitu saja.


"Nying mau kabur kemana loe!". Gw berteriak dan berdiri tapi belum melangkah.


"Mungkin Sasa terkejut Bim, cepat kamu kejar dia". Mbak Rina ikut berdiri dan berbicara.


"Iya mbak saya keluar dulu". Gw menjulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan mbak Rina berhubung nying-nying pergi dan gak liat.


Mbak Rina nampak terkejut tapi langsung diraih cepat tangan gw.


"Terima kasih mbak atas pemandangannya yang tadi, akan aku simpan rapat-rapat di dalam kepala ini. Kapan-kapan kalau butuh teman minum hubungi aku saja". Gw mengoyangkan jabat tangan kami pelan.


"Bimo kamu bicara apa?". Antara terkejut dan malu mbak Rina menjawab dan menarik tangannya.

__ADS_1


Gw tersenyum kecil mengangguk dan berjalan pergi mengejar nying-nying meningalkan mbak Rina dengan fikirannya tentang gw.


__ADS_2