
Dulu saat gw masih berseragam putih abu-abu dengan logo STM, disaat gw masih menjabat sebagai leadar sekaligus belalang tempur basis 69, balap liar dan adu kecepatan di lintasan adalah kegiatan gw disetiap malam minggu, unjuk kelihaian di jalanan ibu kota melalui kecepatan kuda besi yang gw naiki.
Walaupun skill ngebut gw kagak sehebat Melky tapi gw masih terbilang pembalap papan atas di antara semua basis di Jakarta, setiap Melky absen karena teler atau patah hati gw selalu menggantikan dia di sirkuit... Duduk di atas kuda besi dengan nyali tinggi memacu motor sampai gas mentok sampai kagak bisa diputer lagi, lintasan berkelok ataupun drag gw babat dengan kecepatan penuh.
Sensasi mengendarai motor dengan kecepatan di atas 100 km per jam sangat gw rindukan dan rasanya gw ingin kembali ke masa-masa itu, walaupun terkadang gw kalah saat balapan tapi keseruan itu kagak bisa gw lupakan.
Tapi benar kata pepatah ngawur yang selalu gw dengar beda posisi bercinta beda juga sensasinya, begitu juga dengan naik motor beda posisi beda juga sensasinya, dan saat ini posisi gw bukan di depan menarik gas melainkan di belakang sebagai penumpang alias bonceng.
Belum pernah gw sekalipun di bonceng montor sama betina dengan kecepatan diluar nalar dan bercampur gerakan freestyle, ini adalah pengalaman baru bagi gw dan ini sangat mengerikan apalagi yang narik gas adalah betina yang sangat membenci gw, betina yang sudah bersumpah bahwa gw akan menjadi musuh abadinya.
Yogjakarta, dini hari menjelang adzan subuh jalanan sepi dan sunyi.. Sebuah motor sport Ducati modifikasi warna merah melaju dengan kecepatan gila-gila an bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, melesat melebihi kecepatan cahaya.
Itu adalah motor yang dikendarai Wanita dan seorang pria yang membonceng di belakang, tapi ada yang aneh dengan itu pria sepanjang perjalanan dia terus saja teriak-teriak minta ampun, teriak-teriak minta tolong sama bundanya.. berteriak histeris ketakutan, jika kalian tanya siapa pria itu dan ingin kenalan, Jawabannya sudah pasti itu adalah Gw Abimana Pramomo.
"Aaaaaaaa...!". Gw berteriak dengan panik dan seluruh bulu yang ada di tubuh gw pada berdiri karena ketakutan.
"Luzzz.. Ampun luzzzzz.. Sorrry gw sallaaaahh.. Ampuuuunn..!". Gw yang memeluk Luzy erat dari belakang memejamkan mata sambil minta pengampunan dari Luzy.
"Brummmmm.. Ngiiieeennngg..!". Suara mendesing motor membelah jalanan kota, Luzy malah menambah kecepatannya disaat gw udah minta ampun.
"Aaahhhhh... Bundaaaaaa..! Selamatkan Bimooo..!". Gw kembali berteriak dan memeluk Luzy semakin erat.
Saat ini walau tubuh gw nempel erat di punggungya dan tangan gw melingkar ke depan, kagak ada nafsu sama sekali yang gw rasakan karena saat ini gw sibuk memikirkan nasib gw yang sudah berada di ujung tanduk, jika ini motor oleng dikit aja dengan kecepatan seperti ini, sudah bisa sangat dipastikan gw akan mampus dalam keadaan perjaka.
"Luzzzz.. Gw mau pingsan ini luzzz! tolong berhenti..". Gw memohon terus menerus, teriak-teriak tanpa henti ditengah terpaaan angin kencang dari depan yang mirip suara tawon gw dengernya.
"Brummm..Bruummm..! Jglekk!". Luzy dengan otaknya yang gila, dengan kecepatan gini malah melakukan freestyle lagi yang buat gw semakin keder dan megap-pegang.
"Sraaakkkkkkkk..!". Motor dibawa dia standing sampai bagian belakang nempel aspal.
"Yaa allah ampuniiii dosa hammmbaaaa ya allah....!". Minta ampun sama luzy kagak digubris, gw langsung minta ampun sama sang pencipta.
"Jegleekkk!". Gw bergoyang di belakang saat ban depan yang dari tadi naik kembali turun di aspal.
Gw sedikit lega, walau Luzy kembali geber Ducatinya kenjang.. Setidaknya gw kagak senam jantung lagi karena begitu dekat dengan aspal saat banteng betina melakukan freestyle tadi.
"Luzzzz gw masih perjakaaa luzzz.. Kasihani gw please..!". Wajah gw senderan di punggung Luzy sambil merengek.
Gw rasakan helm Luzy bergerak-gerak pelan, seakan-akan dia sedang tertawa bahagia.
Gw yang membayangkan Luzy tertawa terbahak-bahak langsung emosi.
"PUSSSYY SIALLAN! KALAU TAU GINI SEBELUM BONCENG GW ENTTOOOT LU TADIII, ANJINNGGG..!". Gw berteriak marah sampil menekan semakin kencang pelukan tangan gw di perus Luzy.
"Bruummm..Bruumm.. Ngieeeenggg!". Seakan menjawab omongan gw, Luzy kembali menambah kecepatan.
"Ngiieeeng..!". Luzy berkelok ke kiri.
"Aaaaaaaa!". Gw yang terkejut auto jerit kek bencong.
"Ngieengg..!". Motor oleng dan sekarang berkelok ke kanan.
"Aaaaaaa..!". Gw berteriak lagi dan sekarang bercampur dengan ingus yang sudah keluar.
__ADS_1
Seakan-akan sedang uji nyali dan kerjain gw Luzy terus saja melajukan motornya dengan full speed dan serong kanan serong kiri, meliuk-liuk di jalanan yang sepi kek uler.
Entah sudah berapa lama gw jerit-jerit dan teriak-teriak, Luzy masih saja mengendari motor dengan gaya bebas yang dia selingi dengan main sirkus, kesadaran gw mulai memudar sedikit demi sedikit dengan mata terpejam dan peluk Luzy erat akhirnya gw tertidur atau lebih tepatnya setengah pingsan karena udah kagak kuat menerima cobaan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Heeii! Cowo mesum bangun..! sampai kapan kamu mau nempel di pungungku terus!".
"Bangun cowo bauu! Kamu tidur apa pingsan si sebenarnya..!".
Samar gw mendengar suara Luzy, dia menggoyangkan badannya disaat gw masih di alam mimpi dengan nyenyak dan hangat peluk tubuhnya dari belakang.
"Heeiii..! Bangguuunn..!".
Aaaaaa tolooonggg!". Mata gw terbuka lebar dah reflek teriak.
"Apa sih kamu? Udah sampai kita ngapain masih teriak..? Segitu takutnya cemen amat!". Luzy yang sudah membuka helmnya mencibir gw.
"Udah sampai kita ya?". Gw bertanya dan melihat sekitar dan benar saja, sekarang gw berada tepat di depan gerbang kost.
"Allamdulliah..". Gw langsung beryukur karena sampai dengan selamat.
"Emang gila ya lu naik motor kagak pakai otak, segala macam gaya lu pakai.. Kalau mau balas dendam jangan gini caranya". Gw yang merasa udah aman langsung marah.
"Siapa yang balas dendam? Cuma perasaan kamu aja kali itu kan kamu minta aku anterin sendiri, kenapa protes?". Jawab Luzy acuh tak acuh.
"Iya gw minta anterin, tapi anterin ke kost bukan ke rumah sakit.. Ugal-ugalan banget lu nyetirnya.. Aspal itu keras dan gw belum siap buat ciuman sama dia".
"Oh karena itu tadi kamu teriak-teriak ketakuan sampai minta tolong sama bunda kamu, hehehhe.. Gimana seru kan aku boncengin? Apa mau jalan lagi ini dan satu putaran lagi?".
"Kalau enggak mau cepat turun bodoh! Kita lagi adu mulut ini kenapa posisi kita enggak mencerminkan situasi kita yang berantem?".
"Posisi apa coba? Lu mikir apa sih?".
"Kamu sengaja apa pura-pura bodoh sih sebenarnya? Mana ada orang yang enggak akur dan musuh bebunyutan, adu mulut sambil berpelukan gini?". Luzy mengoyangkan badannya.
"Iya-iya bener juga apa kata lu, gimana kalau kita fikirkan ini dulu bersama-sama..".
"Enggakkk! jangan cari-cari kesempatan ya kamu.. Turun atau aku nyalain lagi ini motor". Luzy mengeluarkan ancamannya.
"Wussss..!". Gw langsung meloncat turun dan mendarat di tanah dengan kedua kaki.
"Lu juga seneng kan gw peluk dari belakang! Pakai munak segala lu!".
"Najis! Siapa yang seneng, balik ini nanti aku harus mandi pakai kembang 7 rupa untuk hilangkan bau kamu".
"Hahaha, mulut sama wajah lu berbeda itu neng.. Mulut nolak tapi wajah lu merona seakan-akan seneng gw peluk".
"Wajah aku kalau kena angin malam itu memang gini, jangan GR ya kamu". Luzy beralasan.
"Kebalik itu neng, harusnya gw yang bilang kek gitu.. Lu jangan GR abis gw peluk nanti lu ketagihan lagi dan minta dipeluk mulu tiap hari".
"Hahahaha.. Dalam mimpimu itu, daripada peluk situ aku lebih milih peluk beruang".
__ADS_1
"Hehehe.. Ok kalau gitu berarti masih musuhan kan kita?".
"Ya iyalah..! Kamu adalah musuh terbesar aku". Jawab Luzy cepat.
"Terus ngapain lu masih disini? Di depan gerbang kost musuh lu? Bukannya cepat minggat, apa jangan-jangan lu berharap gw undang masuk dan mau lanjutin berantem di atas ranjang ya?".
"Bener-bener cowo gak tau di untung! Mana terima kasih kamu setelah gw anterin balik hah..!".
"Kagak usah nyolot ngapa! Udah malam ini.. Iya gw terima kasih udah lu anter.. Puas kan lu sekarang, udah sono cepet minggat gw mau masuk".
"Enggak kamu suruh pun aku akan pergi!".
"Ya udah sono pergi!".
Luzy menatap gw tajam sekilas dan langsung memakai lagi helmnya.
Gw berbalik badan jalan 4 langkah untuk membuka gerbang.
"Cekk.. Cekk.. Ceekk.!". Luzy starter motornya.
" Brummmm.!". Suara knalpot itu terdengar lagi.
pekk.. Pekk.. pekkk..!". Suara asing mlepek terdengar dan raungan knalpot itu menghilang, gw auto balik badan dan ngeliat Luzy yang masih nangkring di motornya dan belum minggat.
"Cekk.. Cekk.. Cekk..!".
"Brrummm.. Brummmm..!".
"Pekkk.. Pekkk... Pekkk..!". Itu knalpot mlepek lagi dan mesin motor kembali mati.
Luzy mengulangi lagi stater motor untuk ketiga kalinya dan masih sama saja, setelah knalpot itu meraung-raung 2 kali.. Langsung mlepek dan mesin kembali mati.
"Tangg! Tang! Tang!".
Gw terkejut saat Luzy memukul-mukul tangki motorny dengan tangan mungilnya itu, kek orang yang lagi emosi.
Dia membuka helm dan "Taaakkk!". Dia lempar itu helm ke tanah bawah kakinya.
Wajahnya tampak masam dan marah, sekali lagi starter motornya.
"Cekk.. Cekk.. Cekk..!".
"Brummm.. Brummm.. Bruummmmmm!". Bibir dia tampak tersenyum kecil kagak ada bunyi mlepek lagi.
Dengan tangan kanan yang masih pegang gas, tangan kirinya mengambil helm di tanah.
"Pekkk.. Pekkkk.. Pekkk...!".
"Hahahahahaha..!". Gw langsung ngakak liat adegan di depan gw, belum itu dia ngangkat helm dari tanah udah mleplek lagi itu motor.
"Wiiinnggg.!". helm terbang menuju muka gw.
Gw yang masih ketawa langsung nunduk.
__ADS_1
"Traaaaaaaang!'. Helm mengenai gerbang kost.
"Udah sengklek ya otak lu! Motor lu yang salah kenapa muka gw yang lu lempar pakai helm!". Gw langsung berdiri dan meraung marah, ampir aja bonyok muka gw.