Preman Campus

Preman Campus
MAPAN DAN NYAMAN


__ADS_3

"Jika nak Bimo menginginkan seperti itu, dengan senang hati akan saya rubah semua bahannya.. beri saya 10 menit". Om Yanto dengan serius dan percaya diri berkata, mengambil buku di meja dan langsung tampak fokus menulis ulang.


"Ehem". Pak Sasmito berdehem pelan dan tersenyum menatap gua, auto ini perasaan mulai kagak enak.


Dan benar saja, pertanyaan demi pertanyaan tentang bokap segera dia tanyakan ke gua dengan begitu sangat antusias.


Dengan terpaksa gua jawab satu persatu rasa penasaran pak Sasmito, toh yang dia tanyakan tidak terlalu hal pribadi cuma masalah pekerjaan dan bisnis.. Walau gua juga tidak terlalu tau bisnis bokap apa saja.


Suci dan Jono bukannya bantu gua, mereka berdua malah asik dan seksama mendengarkan gua bicara dan sesekali mereka tampak berekpresi kagum.


Gua udah kek orang tua saat ini yang mendongeng untuk para bocil sampai 10 menit berlalu dan om Yanto selesai merevisi hal yang gua minta, jika lebih dari 10 menit keknya mulut gua bakalan berbusa karena ngoceh mulu dari tadi.


"Ini nak Bimo, semuanya sudah saya perbaiki dan saya tulis ulang silahkan nak Bimo lihat". Untuk yang kesekian kalinya buku kecil itu di dorong ke depan gua.


"Ini sudah dengan semua bahan terbaik om?". Gua melihat buku sambil bertanya.


"Iya itu adalah bahan yang paling mahal dan terbaik yang saya tau". Jawab om Yanto mantap dengan suaranya yang nge bass.


"Jadi total semuanya dari bahan dan para pekerja adalah 350 juta, apa ini sudah termasuk dengan biasa jasa om Yanto?".


"Iya itu sudah termasuk gaji saya sebagai pemborong proyek renovasi ini".


Gua mengangguk mengerti dan langsung mengalihkan pandangan ke Jono.


"Jon ambil ambil uangnya dan bawa kemari". Gua memberi perintah.


"Iya". Jono menjawab singkat dan langsung beranjak, tumben sekali itu bocah nurut.


"Nak Bimo mau memberikan uangnya sekarang?".


"Iya Om karena besok saya musti kembali ke Jogja, saya akan pasrahkan semua ke pada om Yanto.. Bisa kan?".


"Bisa tentu saja bisa". Dengan sedikit terkejut om Yanto menjawab

__ADS_1


"Lho om kira kamu akan disini lama". Pak Sasmito tampak kecewa


"Ayah, Bimo itu masih kuliah.. Kalau disini lama-lama bagaimana dengan kuliahnya". Akhirnya Suci berbicara membantu gua.


"Iya om, saya takut Ayah marah jika saya terlalu lama bolos kuliah". Gua tambahi dengan ngibul, bokap ma kagak peduli juga mau gua kuliah apa kagak.


"Memang pendidikan itu sangat penting, om setuju dengan Ayah kamu". Pak Sasmito kembali tersenyum, secara kagak langsung nama bokap gua bisa langsung memecahkan masalah.


Suci tampak lega karena bokapnya mengerti dan kagak sulitkan gua lagi dengan pertanyaannya itu.


"Tante kenapa Tante diam dari tadi? Tante tidak suka ya dengan apa yang saya lakukan?". Gua beralih melihat Nyokap Jono yang tampak diam dari tadi dan ada raut kebingungan dari ekspresi wajahnya.


"Tante sangat bersyukur nak bisa bertemu dengan nak Bimo yang sangat baik dengan keluarga kecil saya ini dan Tante sangat bahagia tapi..


"Tapi kenapa Tante? Tante bicara saja jika ada masalah". Dengan lembut gua memberi dorongan keberanian.


"Itu nak saat rumah ini di renovasi nanti saya dan anak-anak tinggal dimana untuk sementara?". Dengan suara pelan nyokap Jono menjawab.


"Benar juga ya, disini kan jauh dari hotel". Gua bergumam sendiri dan berfikir.


"Boleh kan yah?". Tidak lupa Suci bertanya ke ayahnya


"Tentu saja boleh, kita kan sudah seperti keluarga jadi jangan terlalu sungkan dan tinggal saja di rumah saya saat rumah ini di renovasi". Pak Sasmito dengan ramah bicara melihat nyokap Jono, setuju dengan usul anak perempuannya.


"Tu tante masalah sudah teratasi, Tante jangan merasa sendiri dan terus khawatir.. Banyak kok orang baik di dunia ini". Dengan senyum ceria gua terus memberi dukungan, walau cuma dengan kata-kata sederhana.


Nyokap Jono tampak lega dan langsung mengucapkan terima kasih ke Suci dan Ayahnya, tidak lama Jono pun keluar dari kamar dan membawa uang yang masih ada di dalam kantong plastik hitam.


Pelan plastik uang Jono taruh di atas meja dan Jono kembali duduk di samping gua.


"Ini semua isinya uang nak? kenapa cuma di taruh di dalam plastik?". pak Sasmito tampak tidak percaya begitu juga dengan Om Yanto


"Iya om ini baru saja kami ambil tadi pagi saat di blora, kalau di taruh di plastik seperti ini lebih aman menurut saya karena tidak ada orang yang mengira jika isinya uang.. paling mereka cuma mengira isinya gorengan".

__ADS_1


"Bener juga ya? Ide yang bagus itu". Pak Sasmito mengangguk mengerti dan tampak kagum dengan ide gua.


Cuma Suci dan Jono yang tersenyum karena mereka pasti tau jika gua lagi ngibul, alasan sebenarnya sih kagak bawa koper atau tas dan plastik adalah alternatifnya.


"Jon bantu gua hitung 350 juta". Untuk mempersingkat waktu, gua mulai menghitung uang yang akan gua berikan ke om Yanto sebagai biaya renovasi.


"Aku juga mau bantu Bim?". Suci menawarkan diri dan gua dengan senang hati mengangguk.


Detik berganti menit dan menit kagak perlu berganti jam karena cuma butuh sekitar 12 menit kami bertiga sudah kelar menghitung dan memisahkan uang sebesar 350 juta, mengikat setiap 1 juta dan di saksikan oleh tiga saksi yaitu pak Sasmito, om Yanto dan tentu saja nyokap nya Jono.


"Ini om pas tiga ratus lima puluh juta, silahkan om cek kembali". uang gua taruh dan tumpuk di depan om Yanto


"Baik saya terima dan tidak perlu di cek karena saya sudah melihat kalian menghitungnya, besok saya akan mulai membeli bahan-bahannya.. mungkin 3 hari dari sekarang renovasi akan bisa dimulai". Om Yanto bicara dan memasukkan uang ke dalam tas yang dia bawa.


"Jon keknya loe musti di sini dulu dan soal ke Jogja nanti saat kelar renovasi baru loe nyusul, disini temani nyokap dan adik loe dulu".


"Tapi Bim?".


"Udah kagak usah pakai tapi-tapi an segala, lagian gua juga belum cari tempat di Jogja untuk usaha kita jadi santai aja loe".


"Baik kalau seperti itu, nanti gua akan segera nyusul jika semuanya sudah selesai". Jono tampak tidak protes lagi dan mungkin sudah mengerti maksud gua.


"Ngomong-ngomong, sisa berapa itu uang di plastik?". Gua kagak mau setengah-setengah, sekalian aja habisin untuk hal yang berguna.. Males gua bawa uang cash banyak-banyak ke Jogja, berat.


"Tadi itu 700 kan? Dikurangi 350 berarti masih 350 juga, besok kamu bawa ke Jogja gi".


"Buat apa gua bawa lagi? 350 ini buat loe beli prabotan rumah dan motor untuk Mila dan kalau masih ada sisa buat kan usaha yang cocok buat Tante". Gua mengingatkan Jono dan gua kagak akan lupa akan janji awal yang telah gua buat.


Gua mau Jono ikut gua, keluarganya di sini sudah mapan dan nyaman untuk urusan tempat tinggal dan ekonomi.


***


*Efek cuaca inspirasi author udah mulai meleleh dan mencair.

__ADS_1


*Efek sifat perfeksionis author pula alurnya semakin lambat, sorry.


__ADS_2