Preman Campus

Preman Campus
MENU SPESIAL


__ADS_3

Ide gw untuk langsung pulang balik ke kost langsung ditolak mentah-mentah oleh Amora.


Apa dari awal dia udah mau ngerjain gw dan bilang di kagak pakai CD di dalam ono, emang pinter ini anak buat gw panas dingin kagak karuan.


Pak Rohmat tiba-tiba melajukan mobilnya pelan dan berhenti di pinggir warung tenda pinggir jalan.


"Neng Amora gimana kalau makan disini?" Pak Rohmat berbicara memberi saran melihat ke kami yang duduk di jok belakang.


"Iya pak disini saja, enggak rame jadi pesenan aku bisa cepat datangnya, gimana Bim makan disini aja kita ya?". Amora meminta pendapat gw.


"Aku nurut aja sama kamu. kalau gw ma yang penting kenyang aja". Jawab gw simpel


"Pak Rohmat juga ikut makan yuk?" Amora menunjukkan sifat pedulinya.


"Maaf neng, bapak sudah makan malam dirumah tadi. Neng sama nak Bimo saja". Pak Rohmat menolak halus.


"Baiklah jika seperti itu". Amora tersenyum kecil.


"Saya tunggu di parkiran Indomart depan itu ya nak Bimo?" Pak Rohmat menunjuk sebuah indomaret di sebrang jalan


"Siap pak". Jawab gw singkat.


Gw dan Amora pun turun dan melihat pak Rohmat yang melajukan mobilnya ke arah parkiran Indomart, mungkin dia mau ngitung duit yang gw kasih disana sambil rokokan.


"Bim, kita duduk disana yuk!". Amora menunjuk tikar kecil di emperan toko belakang warung tenda.


Tanpa menunggu jawaban dari gw, Amora langsung saja menggandeng dan seret ke tempat yang dia mau.


Gw perhatikan cuma ada beberapa orang saja yang makan disini, di kursi panjang dalam tenda tadi gw liat ada 3 orang paruh baya yang sedang makan.


Dan lesehan di belakang ini hanya ada 2 pasangan muda mudi yang duduk di sudut kiri dan kanan gw dengan tikar yang berbeda, mereka tampak sedang kasmaran terlihat saat mereka saling bersendau gurau.


Mereka hanya melihat sekilas penampilan gw yang memakai sarung dan tidak menatap aneh atau menghina. Terlihat mereka cuek saja dan gw suka itu. Karena gw dan Amora bisa makan dengan tenang tanpa masalah dan memaksa gw untuk gelut lagi.


Gw dan Amora duduk berdampingan dan di depan kami ada meja kesil yang berisi toples kerupuk berwarna putih, kotak tempat sendok garpu dan sumpit, tidak ketinggalan 1 box tissue kecil duduk manis disana.


"Amora, ini tempat bukan warung remang-remang kan?" Gw berbicara saat pantat gw udah duduk ditikar.


"Husss! kamu ngomong apa sih Bim, bisa tersinggung nanti kalau pemiliknya dengar". Amora bicara pelan sambil mengambil ponselnya dan ditaruh di meja.


"Bukan gitu, gw penasaran aja tissue sekecil dan setipis ginian buat apa ada disini". Gw bicara dan mengangkat tissue di depan gw.


"Ya buat membersihkan bibir kita setelah makan lah Bimo, emang buat bersihin apa?". Amora menatap aneh.

__ADS_1


Gw kagak jawab, cuma tersenyum kecil doang mendengar penjelasan Amora. Beda banget ini tissue sama di meja rumah makan gw. ini lebih mirip tissue yang ada di nakas sebelah ranjang cinta. Gw berfikir dan bicara dalam hati.


Tak berselang lama terlihat seorang wanita dengan datang menghampiri kami dengan membawa buku catatan kecil. Gw taksir dia ini berumur sekitar 32 tahunan dan tampak sangat ramah karena sejak berjalan kemari dia terus saja tersenyum.


"Selamat malam mas, mbak! sudah ada yang mau dipesan?". Dia berbicara lembut


"Saya pesan nasi goreng super pedas". Jawab Amora cepat, yang ditanggapai dengan senyum dari wanita di depan kami.


"Baik 1 nasi goreng super pedas, kalau masnya mau pesan apa?". Di melihat gw.


"Saya nunggu sisa makanan majikan saya aja mbak nanti". Gw bicara melihat Amora di samping gw.


Mbak penjual itu tampak terkejut dengan omongan gw dan juga ikut melihat Amora.


"Plaakk!"


Pukulan kecil dari tangan mungil Amora mendarat di punggung gw.


"Maaf mbak teman saya memang suka bercanda". Amora dengan senyum canggung menjelaskan.


"Cepat pesan Bim, kamu mau makan apa? Mbaknya sibuk ini, jangan kamu ajak bercanda". Amora beralih melihat dan berbicara sama gw.


"Enggak apa-apa kok mbak, temenya humoris dan lucu". Si embak membela gw.


"Kami punya banyak menu mas, dari nasi goreng, ayam bakar, ayam penyet, bebek goreng, bermacam-macam olahan mie dan ada satu makanan spesial yang di tempat lain tidak ada". Mbaknya bicara menjelaskan.


"Menu spesial apa mbak!". Gw bertanya cepat karena terlihat itu menu sangat istimewa karena dia bilang di tempat lain jarang ada.


Amora juga tampak dan terlihat penasaran dengan menu itu. Dan si embaknya malah tersenyum misterius buat gw tambah penasaran.


"Kami menyediakan makanan penambah vitalitas pria yaitu sate kuda". Dia bicara pelan


"Uhukk-uhukk! Amora tampak terkejut dan langsung terbatuk-batuk mendengar menu spesial itu.


Kalau gw langsung tersenyum lebar mendengarnya, khasiat dari makanan itu buat jiwa pejantan gw bergejolak. Walau gw kagak pernah makan sate kuda tetap saja buat gw bersemangat karena khasiatnya itu.


"Saya pesan sate kuda 40 tusuk kalau gitu mbak". Gw memesan tanpa ragu yang buat di embak penjual itu terkejut.


"Uhuk-uhuk!!" Amora batuk lagi mendengar pesanan gw.


"Bimo, kamu jangan aneh-aneh. Kamu mau buat aku enggak tidur?". Amora bicara ngelantur dan dia langsung menutup mulutnya karena malu.


Gw dan embak penjual tersenyum melihat Amora yang salah tingkah.

__ADS_1


"Kamu bicara apa sih? kata mbaknya kan penambah vitalitas pria berarti itu sama dengan stamina kan?".


"Kamu tau kan stamina gw berkurang saat gelut di depan bioskop tadi, jadi bagus kalau ada makanan penambah stamina". Gw menjelaskan se rapi mungkin dan tentu saja itu cuma alasan yang gw buat-buat.


"Terserah kamu aja deh, kamu ini yang makan". Jawab Amora cepat dengan arah pandangan melihat ke arah lain.


"Jadi gimana mas jadi pesan sate kudanya?" Mbak penjual bertanya lagi.


"Jadi dong mbak! 40 tusuk seperti yang saya pesan tadi".


"Maaf mas sebelumnya bukan maksud saya meremehkan atau apa. Maaf tapi karena langkanya bahan sate ini, harganya sedikit lebih mahal. Karena kami harus keluar kota untuk membeli bahan dagingnya". Dia menjelaskan panjang lebar takut gw tersinggung mungkin.


"Memang berapa harganya mbak?" Gw tersenyum dan bertanya.


"Untuk setiap 1 tusuknya 15 ribu mas" Dia menjawab ragu-ragu. Mengira gw akan kaget mungkin mendengar itu.


Jangankan 1 tusuk 15 ribu, 1 tusuk 100 ribu juga bakalan gw beli. Makanan dengan khasiat seperti itu ma wajar kalau mahal. Gw bicara dalam hati.


"Gimana mas, apa masih mau memesan 40 tusuk". Dia berbicara saat melihat gw yang bengong.


"Iya mbak gak apa-apa, saya pesan 40 tusuk". Jawab gw pasti.


"Bimo kamu enggak takut sakit perut nanti".


Amora tampak kawatir.


"Tenang aja gw tau kapasitas perut gw, kalau pun kagak abis bakalan aku bungkus untuk sarapan besok atau kamu kan bisa bantu habisin".


"Enggak" Jawab dia cepat dan tampak malu-malu lagi.


"Kalau minumnya mbak sama mas nya mau pesan apa?".


"Saya es jeruk saja mbak". Amora menjawab.


"Kalau masnya, kami juga punya minuman spesial lho mas". Dia mancing-mancing rasa penasaran gw lagi.


"Es jeruk 2 mbak, untuk saya dan temen saya ini, cepat ya!". Amora bicara duluan sebelum gw tanya minuman spesial apaan itu.


Mbaknya seakan mengerti saat melihat tatapan Amora yang tajam ke arah dia dan buru-buru bicara.


"Baik jadi mbaknya pesan nasi goreng super pedas satu dan mas nya sate kuda 40 tusuk dan 2 gelas es jeruk".


"Tunggu sebentar kami akan menyiapkan pesanan mbak sama mas nya". Dia tersenyum kecil dan melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2