
"Senior sekarang di depan kamu ada 200 juta, sesuai kesepakan kita dan jika tidak percaya dengan isinya silahlan hitung kembali".
"Jika senior mengambilnya nanti jam 7 malam aku tunggu di hotel jambuwuluk, silahkan buat keputusan".
Luzy termenung melihat gw dengan nanar. "Apa kamu percaya sama aku? Jika aku bawa uang ini dan tidak datang ke hotel yang kamu sebutkan bagaimana?".
"Mana mungkin aku percaya sama wanita yang baru aku kenal, dan jika pun kamu bawa itu uang dan tidak datang aku sih biasa saja cuma 200 juta ini". Jawab gw santai.
"Senior di saldo man teman diriku ini masih ada sekitar 99 M lebih, apa artinya 200 juta". Reza dengan bangga berucap dan menepuk punggung gw.
Luzy langsung meleberkan matanya tidak percaya mendengar mulut ember anak kang sate.
"Nyet murah banget sih mulut lu! Pakai umbar uang saku gw segala".
"Sorry cak keceplosan diriku, tadi diriku waktu ambil dana sempat liat saldo kamu dan diriku screnshot untuk PP WA". Tanpa rasa malu Reza mengungkapkan apa yang dia lakukan.
"Aku tidak tau akan bertemu orang yang unik dan misterius seperti kamu yang membuang 200 juta seperti meludah". Luzy nampak serius.
"To the poin aja senior, biar jelas semuanya. Aku kaya tapi terkadang otak aku bodoh tidak bisa mengartikan arti tersembunyi dari sebuah kalimat".
"Aku akan ambil uang ini dan aku tidak akan pernah mengingkari janji dan akan datang ke hotel yang kamu sebutkan tapi bisakah tidak jam 7 malam?".
"Ok terserah kamu aja enaknya datang jam berapa, akan aku tunggu". Jawab gw sambil tersenyum.
Bagaimana kalau jam 9 malam, aku harus temani ibu di rumah sakit dan menunggu sampai dia terlelap".
"Iya jam 9 juga enggak apa-apa aku orangnya sabar, sekarang silahkan dibawa uangnya dan cepat di urus itu jadwal operasi Bunda kamu.. Hati-hati naik motornya dan jangan ngebut".
"Walaupun kamu pembalap ada kemungkinan jatuh juga kan? Aspal itu keras dan aku enggak mau kamu terluka".
"Kamu kenapa bicara seperti itu?". Luzy tampak terkejut dan memerah wajahnya.
Emang gw salah ngomong lagi ya? Bukannya wajar aku enggak mau dia terluka dan enggak jadi datang ke hotel jika dia jatuh dari motor, apa coba yang difikirkan betina depan gw ini. Gw bingung sendiri dan bertanya dalam hati.
"Ingat ya ini cuma hubungan 1 malam, jangan kamu pakai perasaan". Dia berucap dan menunduk.
Bener-bener sudah salah paham ini betina, fantasy dia liar banget.
__ADS_1
"Aku pergi dulu dan akan datang pukul 9 nanti malam". Luzy dengan cepat berdiri melirik gw sedetik dan segera berpaling meraih 2 kantong plastik di meja berserta helm full facenya.
Gw diam saja saat dia berjalan dan menggeser pintu, sebelum keluar dia masih sempat itu berbalik badan dan melihat gw.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gw langsung rebahan di lantai setelah Luzy pergi.
"Ahhh.. Akhirnya selesai juga nyet! Capek banget ini gw dari pagi gerak dan bicara mulu".
"Selamat cak dirimu akan melihat darah nanti malam". Reza tersenyum penuh arti melihat gw.
"Ngomong apaan sih lu nyet! Darah apaan coba?".
"Jangan ra pura-pura bodoh dirimu cak, Luzy kan masih segelan itu dan virgin.. dirimu sodok ya pasti muncrat dong darahnya".
"Sodok mate lu yang si sodok! Udah kagak usah lu bahas tentang itu, sekarang lu keluar sono dan bayar ini makanan dan minuman dan cabut dari sini".
"Udah diriku bayar tadi cak saat keluar ambil dana, cuma abis 2 juta itu dan aku bayar dengan uang diriku".
"Diriku kan sudah banyak dirimu bantu dan traktir ayam juga cak, cuma traktir makan ini santai aja".
"Tumben nyet otak lu bener dan tau balas budi, nyok ah kita sekarang cabut! Gw mau mandi dan balik ke kost".
"Jadi ini kita balik ke kost masing-masing dulu cak?".
"Ya iyalah baru jam setengah lima ini, kan lu ngen*tot nya jam 7 malam. Nanti kita ketemu di hotel aja".
"Ok deh, diriku juga mau ambil dan minum itu obat kuat juga dan itu obat masih ada di kost".
"Ya udah tunggu apa lagi yok ah kita cabut sekarang". Gw yang rebahan di lantai kembali duduk.
"Tunggu cak! Dia gimana?". Reza menunjuk Udin yang masih termenung di pojokan menatap langit-langit, wisky yang gw kasih pun tampak tinggal botolnya doang dan sudah abis airnya dia tenggak.
"Pastes aja kek ada yang kurang nyet, ternyata itu bocah masih kedekem disana". Gw geleng-geleng kagak percaya liat anak gunung kidul itu.
Reza bangkit dari duduknya dengan raut wajah tidak sukanya dia menghampiri Udin.
__ADS_1
"Din selesai merenung dirimu? kalau enggak ada Bimo gimana coba tadi bisa malu kita sama Luzy, dirimu main batalkan saja". Reza ceramah di depan Udin.
"Seperti ini rasanya ditipu teman sendiri dan di adu domba dengan orang lain". Udin berguman pelan dan menatap Reza sendu. Gw mulai merasakan tanda bahaya.
"Tipu apanya yang ditipu? Yang ada dirimu tipu senior Luzy Din, dia sudah datang jauh-jauh kemari malah dirimu PHP".
"Reza saudaraku coba kamu fikirkan, Luzy itu masih perawan apa menurut loe gw akan ngelepasnya gitu aja tanpa intervensi dan ancaman dari pihak luar?".
"Maksud dirimu ada orang yang suruh kamu mundur gitu?". Reza bertanya dan mulai tampak iba dengan saudara ulernya.
"Bukan hanya suruh mundur, orang itu juga memfitnah dan mengahasut kamu untuk memaki dan membenci gua". Udin berdiri dengan sempoyongan.
Gw yang akan tau arah pembicaran 2 anak uler itu akan kemana, langsung mengambil tas dan plastik isi uang, pelan-pelan gw merangkak menuju pintu.
"Serius dirimu Din? Siapa orang itu? Pantas saja diriku juga agak curiga dengan kamu yang melepaskan perawan gitu aja".
"Kamu tebak aja sendiri, siapa orang yang paling di untungkan dan rela makan temennya sendiri, srigala berbulu angsa pandai menghasut dan membual".
Gw yang masih merangkak langsung berdiri tegak karena merasakan tatapan membunuh dari arah belakang, pelan-pelan gw berbalik badan.
Gw tersenyum lebar melihat Udin dan Reza yang telah bergandengan tangan saat ini, mereka bagai uler kembar siam. Menatap gw tajam.
"Din, Za keknya mau ujan ini.. Gw cabut dulu ya dan sampai ketemu lagi nanti malam".
"Cak? Berhenti disitu dirimu!". Gw akan lari tapi suara ngebass Reza menhentikan kaki gw yang akan melangkah.
"Tega banget dirimu ya cak? Sama teman sendiri seperti itu". Reza berjalan menghampiri gw dengan memegang dan mengandeng tangan Udin.
"Bisa-bisanya diriku tertipu sama dirimu dan ikut marah sama Udin, bener-bener berbakat dirimu jadi penulis skenario".
"Za kenapa lu kek jadi bapaknya si Udin, seperti sedang mau ngelabrak orang yang sakiti anak lu gitu?".
"Udin kan sahabat kita cak, ayam pilihan dia dirimu ambil gitu aja kalau diriku ya pasti akan marah juga".
"Betul apa kata loe Za, marahi aja si Bemo mentang-mentang kaya dia menganiaya kita yang rakyat jelata". Udin ngomporin saudara ulernya.
"Nyet lu berdua kagak usah lebay deh! dan juga lepas itu kaitan tangan kalian jijik gw liatnya, gw punya alasan sendiri untuk mengambil Luzy dari si Udin asal lu tau aja! Gw kagak sehina yang lu berdua bayangin".
__ADS_1