
"Tong liat no di sebelah gua ada pahlawan kesiangan, loe ada korek kagak". dengan santai gua bertanya.
"En.. nggak ada mas". Masih dengan terbata dan pemuda yang sebangku sama gua menjawab dengan suara pelan dan terus saja menunduk, lagi cari jangkrik itu keknya dia.
"Pahlawan kesiangan?! Apa maksud ucapan kamu? Kamu ngatain saya?!". Dengan suara lantang dan mata melotot kek mau keluar, pria dengan seragam militer itu langsung nge gas plus nyolot tapi masih dalam posisi duduk, dia dengan jelas mendengar omongan gua sepertinya.
Suara dia yang keras membuat para penumpang lainnya langsung mengalihkan perhatiannya, memandang sang tentara dengan bingung.. Termasuk kondektur bus yang melihat dari depan, Cuma sopir saja yang tampaknya beda dan kagak terpengaruh ikut menengok, seru mungkin jika dia ikut kepo.. Bisa nyungsep berjamaah pasti.
"Siapa yang ngatain anda". Jawab gua enteng sambil tersenyum karena para penumpang sedang melihat gua sekarang, setidaknya di awal musti tampilkan kesan baik.
"Itu tadi! Apa maksud kamu bilang saya pahlawan kesorean?! Saya itu pahlawan negara". Dengan percaya diri lanjut ke gak tau malu dia ngaku-ngaku.
Anjir pede gila, dari tampangnya yang sok dan sifat pembela kebenaran itu, keknya ini anak baru saja menjadi tentara baru yang lagi hobi pamer-pamernya dan sok jagoan, Gua ingin tertawa saat ini.
Indonesia ya kek gini ni, padahal gajinya kagak seberapa tapi entah kenapa polisi dan tentara menjadi profesi yang di idamkan, apa mungkin profesi itu punya power untuk sewenang-wenang ya?
Jika ada orang tetangga satu pengusaha dan satu aparat, pasti yang dihormati warga sekitar adalah si aparat dan itu adalah hal yang sangat membagongkan di negara Konoha ini.
"Oh anda pahlawan negara! udah perang di mana saja mas?". Dengan muka sok polos gua bertanya.
"Pria yang memakai seragam ini ya pahlawan negara! tidak sembarang orang bisa menjadi tentara". Dengan penuh kebanggaan dia berujar.
"Uwihh.. Berarti seragam yang anda pakai itu spesial ya? tapi kenapa pahlawan negara pergi naik bus? apa mungkin jangan-jangan pak pahlawan ini cari keringanan ongkos? bayar separuh kan? kalau seragam itu naik angkutan umum". Gua masih santai dengan senyum tipis penuh penghinaan
Para menumpang lainnya yang dengan ucapan gua langsung tertawa pelan.
Muka pria itu langsung memerah dan tampak geram dia, langsung bangkit berdiri dan mencengkram kerah baju gua sambil melotot, "Kamu menghina saya!?". Gua ditarik untuk berdiri.
Posisi gua kami sekarang berhadapan di tengah bus dengan posisi yang sangat dekat dan hampir nempel karena kerah baju gua yang di cengkram.
Suasana langsung tampak tegang dan masuk ke mencekam, kagak ada penumpang yang berani dan tertawa lagi.. supir di depan pun mulai menurunkan kecepatan bus.
"Pak pahlawan kok emosi, saya rakyat lho yang wajib anda lindungi.. Tolong lepaskan saya, sebelum..
"Sebelum apa!". Dia memotong ucapan gua dan mencengkram kerah gua semakin erat.
__ADS_1
"Pak mohon tenang pak, ini tempat umum tolong bicarakan baik-baik jika ada masalah". Kondektur di depan bicara tanpa berani mendekat.
"DIAM!". bentakan menglegar keluar dari mulut sang pahlawan yang langsung membuat kondektur bus kicep diam seribu bahasa.
"Tong ngapain loe nunduk Mulu dari tadi? liat sini coba". Gua melirik teman sebangku gua.
Dengan wajah melas pemuda berkacama tebal itu mendongak, arah matanya melihat gua tapi netra hitam nya ke pojok.
Sungguh pengen ngakak gua saat ini, segitu takutnya itu bocah sampai keseleo gitu matanya.
"Pegang rokok gua bentar, awas kalau parah!". Gua mengancam dan melempar sebatang rokok yang dari tadi gua pedang.
Dengan gelagapan dia menangkap rokok yang gua lempar dan dengan hati-hati dia memegang nya.
"Plaaaakkk!!". bunyi tamparan terdengar dan wajah gua langsung menengok ke kiri.
Tamparan yang diberikan dari sang pahlawan dan membuat para penumpang langsung berteriak histeris.
"Kamu mau sok jagoan disini! Menindas para penumpang hah!". Dengan geram dia berteriak di depan muka gua.
"Loe yang mulai ini ya! Jangan salahkan gua kalau nanti kagak bisa berhenti".
"Cuihhh!". Tanpa banyak bicara gua ludahi muka dia, ludah bercampur darah akibat tamparan.
Untuk beberapa detik dia terpejam karena ludah gua mengenai matanya dengan satu tangan yang masih memegang kerah baju gua.
Kedua tangan gua naik memegang kepalanya yang berambut cepak, berasa pegang landak gua ini karena rambut bajingan ini yang runcing.. Jika ada hujan tahu pasti menang banyak ini orang.
Merasakan bahaya kedua mata dia langsung terbuka lebar tapi itu sudah terlambat karena kepalanya yang gua pegang segera gua tarik ke depan.
"Praaakkkkkkk...!!!". suara tempurung kepala berbenturan keras.
Pahlawan berpakaian loreng itu langsung mundur oleng ke belakang sementara gua mencoba untuk tetap berdiri tegak, mustahil jika gua bilang kagak merasakan sakit tapi sakit ini kagak seberapa dengan kesenangan yang akan terjadi selanjutnya.
"Bangsat! Mau mati kamu!". Sang pahlawan langsung murka berteriak dan langsung maju menghampiri gua.
__ADS_1
Para penumpang sudah pada histeris semua saat ini dan bus sudah mulai menepi dan berhenti.
Cuma 1 orang saja yang tampak tenang, bukan gua tapi manusia yang lagi pegang rokok yang gua lempar tadi, cuma terlihat gemetar saja itu bocah.. kek lagi kena ayan.
"Wusssshh..!". Bogem mentah kanan langsung dia lancarkan ke muka gua saat jarak kamu sudah berhadapan kembali.
Di tempat sempit seperti ini hanya ada dua pilihan untuk menghindar yaitu menunduk atau mundur dan gua memilih opsi kedua.
"Setttt..!!". Dengan lincah gua mundur untuk menjaga jarak.
"Tap-tap..!". Dia mengejar maju.
"Wusshhh..!".
"Wusssshh..!".
Bogem tangan kiri dan kanan dia lancarkan secara cepat dan bergantian dan gua terus saja mundur sampai mentok belakang bus.
Para penumpang langsung pada berhamburan keluar lewat pintu depan termasuk manusia yang gua kasih amanah untuk jaga sebatang rokok.
Sekarang di dalam bus tinggal gua dan sang pahlawan negara siap untuk saling menyakiti dan adu nyawa.
Pahlawan loreng VS Preman Campus, judul yang tepat untuk situasi ini.
Pahlawan dengan bela diri terlatih melawan pemuda biasa yang hobi gelut dengan bela diri jalanan.
"Mati kamu anjing!". Dengan teriakan penuh akan emosi dia mengambil ancang-ancang kuat dan sekali lagi melancarkan bogem mentah tangan kanan.
"Loe yang mampus babi!". Gua balas dengan teriakan pula dan juga mengambil posisi untuk menyerang karena udah kagak bisa mundur menghindar karena udah mentok di pantat bus.
"Praaakkkkkkk..!!". Suara tulang di tangan berbenturan, karena bogem kanan yang dia lancarkan gua tahan dengan bogem tangan kiri.
Dia meringis kesakitan dan mundur sambil menggerak-gerakkan tangannya yang baru saja beradu dengan tangan gua.
"Ya ampun, maaf-maaf.. Sakit ya? sengaja sih gua". Hahahaha..
__ADS_1
Dengan lidah setan gua menghina dan mencaci plus mengejek.
"Ayo maju, masak pahlawan negara cuma gitu saja kemampuan loe? Gua aja belum serius ini". Gua berlagak untuk memancing emosi musuh karena semakin emosi dan Khalaf dia semakin menghilangkan konsentrasi dan terbuka semua celah untuk gua nge bantai.