
Setelah mematahkan tangan kiri Tom, Reza berjalan dengan gagahnya sambil membusungkan dada seperti ayam jago yang mau mendekati ayam betina.
Dia menghampiri Udin yang berdiri di samping Dio yang tergeletak di tanah tak berdaya dengan muka lebam dan darah yang keluar dari hidung dam sudut bibirnya yang robek akibat hantaman Udin.
Udin melihat genggaman tangannya dengan kagum. ekpresi wajahnya jelas terlihat dia sangat puas dengan kemampuannya sendiri.
Wajar juga 2 anak uler betingkah kek gitu karena ini adalah fight yang mereka menangkan dengan usaha mereka sendiri.
"Din kita apakan Pecundang ini?". Reza bertanya ke Udin sambil melihat Dio yang tak berdaya rebahan di lantai, muka Reza masih jumawa dan songong.
"Loe tadi diapain aja Za sama dia?". Udin balik bertanya.
2 anak uler itu sudah kagak saling panggil dengan sebutan dek dan kak, apakah evolusi mereka bisa sejauh itu? Atau mereka lupa dengan sebutan yang sudah jadi ciri khas mereka?. Gw juga kagak tau yang pasti gw akan melihat saja mereka mau ngapain lagi.
Jika mereka kilaf dan terlalu sadis siksa itu bocah, gw akan segera mencegah karena ini masih di wilayah Campus dan gw belum tau identitas asli pria bernama Dio itu yang mengakui cewe gw sebagai miliknya.
"Tadi diriku diseret kesini diancam dan dipukuli dengan kursi dan di kencingi". Reza menjawab pertanyaan Udin tanpa ragu atau pun malu.
"Za pegang wajah dia dan buka lebar mulutnya!". Perintah Udin tegas dengan mata tajam.
Perasaan gw kagak enak dengar itu perintah Udin, rencana apa yang ada di otaknya itu? Gw mulai curiga sama 2 anak cebong yang baru aja berevolusi jadi anak uler itu.
Seakan tau dan tanpa bertanya Reza mengambil posisi dan duduk di atas perut Dio.
"aaaahh! Mau apa kalian bangsat?!". Dio berontak dan bergerak mencoba melepaskan diri dengan sisa-sisa tenaganya.
"Plaaak!". Satu tamparan.
"Plaaak!". dua tamparan.
"Plaaak!". Tiga tamparan.
Reza dengan santainya menampar kiri kanan wajah dio dengan tangannya yang gede itu. "Anjing hanya boleh menggonggong tidak untuk bicara!". Dengan tatapan tajam Reza berbicara.
Gw hampir aja tepuk tangan mendengar kata-kata yang di ucapkan itu anak Madura, keren banget kata-kata intimidasi dan merendahkannya.
"Sekarang diriku kasih 2 pilihan anjing! Mau buka mulut kau sendiri atau diriku yang buka? Pilihlah dengan bijak".
Itu kan gaya gw yang sebelum nyiksa musuh gw yang udah kagak berdaya dengan kasih pilihan. Di jiplak lagi ini karya gw sama Reza.
Udin yang berdiri di atas kepala Dio mulai melepaskan ikat pinggangnya dengan santai.
"Plakkk!". Satu tamparan lagi mendarat di wajah dio yang mulai ketakutan. "Jawab anjing! kau pilih yang mana?!".
"Kalian berani hah! Kalian tidak tau siapa gw?!". Dio mulai menggunakan latar belakangnya untuk perlindungan diri.
"Plaaak!". Reza menampar wajahnya lagi.
"Dengar ya anjing! Disini yang berhak mengancam itu kami, jikapun di belakang kau ada orang kuat kami tidak akan gentar!". Dengan percaya diri Reza bicara.
"Za kelamaan cepat buka mulutnya!". Udin sudah kagak sabar dengan apa yang dia ingin lakukan.
__ADS_1
Reza mengangguk dan mulai mencekik leher Dio dengan cepat.
Dio memukul-mukul lengan Reza karena jalan bernafasnya tersumbat.
Muka Dio mulai merah karena kekurangan oksigen setelah itu Reza melepaskan cekikannya.
1 detik kemudian Dio mengambil nafas seperti orang kesurupan dan Reza pun langsung menyumbat hidungnya dengan cepat.
Auto Dio hanya bisa bernafas dengan mulutnya yang megap-megap terbuka lebar.
Gile sadis amat itu si Reza, gw ngeri sendiri liatnya.
Dan saat mulut Dio terbuka lebar mengambil nafas, di situlah Udin mulai membuka kancing celana dan resletingnya.
Udah kagak bener ini 2 anak uler, masak anak orang akan dikasih minum air kencing lagian kan belum tau identitas itu orang siapa tau dia temennya Bianca.
"Stoooop! Stooppp!". Gw langsung berlari dan berteriak menghampiri Reza dan Udin.
Sontak 2 anak uler itu langsung melihat gw dengan tatapan mereka yang tidak senang.
Reza melepaskan sumbatan di hidung Dio dan Udin yang mau ngeluarin burungnya jadi terhenti dan kagak jadi mendengar gw teriak.
"Jangan halangi kami cak! Dirimu jadi penonton aja dan nikmati pertunjukan dengan menghisap rokok". Reza menjawab dengan sinis dengan posisi yang masih di atas perut Dio.
"Za loe kenal sama dia?". Udin bertanya ke Reza tanpa melihat gw.
Keknya marah ini anak sama gw, apa karena gw kagak maju ikut bantu dia gelut ya? Jadi lupa ingatan gini ini bocah.
"Alasan apa cak?! Bukannya dirimu tadi enak-enak kencing ya disana? Itu air dirimu masih mengenang di sana". Reza nunjuk rak di belalang sana.
"Bim, jangan loe kira gw budeg ya? Gua juga dengar tadi bunyi kracak-kracak walau dalam posisi gelut juga!".
"Nyet tadi itu gw bener-bener kebelet kencing, bisa cidera batang gw jika nahan lama-lama". Gw mencoba beralasan.
"Ok cak jika itu alasan dirimu". Reza bangkit dari duduknya dari perut Dio dan berbicara.
"Tapi abis kencing kenapa malah ngerokok dirimu? Bukan tolongin Udin yang di injak-injak anjing ini?!". Reza terus saja bicara dan menendang pinggang Dio.
Dio langsung berguling dan meringkuk kesakitan.
"Bim bilang aja loe senang kan liat gw tersiksa?!". Udin menatap gw tajam.
"Nyet lu berdua tenang dulu, gw diam itu bukan berarti kagak mau tolong kalian. Gw cuma ingin melihat sampai sejauh mana kesabaran kalian saat harga diri kalian di hina".
"Tanpa gw maju pun kalian sudah bisa menang kan tadi? Keren banget kalian sumpah! Kenapa kagak dari dulu aja sih kalian gunain itu tinju?".
"Iya kita menang cak tapi kita bertaruh nyawa!". Reza masih aja sewot.
"Za yang namanya orang gelut kan memang harus bertaruh nyawa nyet! Lu mau bertaruh apaaan jika kagak itu?".
"Lu berdua denger ya? gw bangga dengan kalian yang telah berubah kek gini, setidaknya kalian bisa melindungi diri kalian sendiri nantinya jika gw kagak ada di deket kalian dan kalian dapat masalah".
__ADS_1
"Tapi kenapa loe hentikan gw Bim, bukannya nyiksa musuh adalah keahlian elo?".
"Iya cak kita mau balas dendam karena anjing ini telah menyiram diriku dengan air kencing". Reza masih dengan emosinya yang menggebu.
"Nyet dengar ya? Gw akan diam saja jika kalian patahkan kaki atau tangannya tapi yang akan kalian lakukan itu menjijikan dan gw kagak suka liatnya".
Udin dan Reza tampak diam dan sesaat setelah itu Udin membenarkan celana dia lagi. Gw sedikit tenang liat itu bocah masih nurut dengan omongan gw.
"Za kalau gitu kita patahkan saja lengan dan kakinya?". Udin bicara dan masih ingin siksa Dio.
"Ide bagus itu Din!". Reza menjawab dan tersenyum jahat.
Ini 2 orang lagi berevolusi apa lagi kesurupan yak? Jahat amat. Gw bertanya dalam hati.
Dio yang mendengar itu langsung merangkak menjauh dan memang hari ini adalah hari sial itu orang, dia mundur dan mentok di tembok dengan wajah melas dia melihat Reza dan Udin ketakukan.
Gw diam saja saat Reza dan Udin mulai melangkah menghampiri Dio yang ketakutan.
"Tolong cukup tolong! saya mengaku salah, tolong jangan mendekat, biarkan saya pergi dan kalian akan aman dan tidak akan saya laporkan ke paman saya.
"Hei manusia jahanam! Siapa paman dirimu hah? Suruh sini biar diriku kasih sekalian". Reza masih kagak gentar dan berjalan mendekat dengan membusungkan dadanya.
"Loe fikir gua takut sama paman loe?! Suruh sini dia biar gua kasih tendangan dua kaki". Udin merasa sudah hebat logat bicaranya kek nantang langit gitu.
"Asal kalian tau paman saya itu, tangan kiri sekaligus teman dari bos geng terbesar si Jogja ini, yaitu geng Zeus. Jika kalian masih berani sakiti saya, jangan harap bisa melihat hati esok". Dio mengancam lagi kali ini bisa membuat 2 anak uler berhenti mendekat setelah mendengar nama Zeuz.
Gw terkejut mendengar itu begitu pula dengan Reza dan Udin yang saling berpandangan.
"Za?".
"Iya Din".
"Kelihatannya kita tidak perlu mengotori tangan kita lagi karena anjing ini gimana kalau kita pergi dan cari minum? Loe haus kan?". Udin bicara dan rasanya pengen gw ketawa dengarnya.
"Iya Din haus banget ini diriku yok kita pergi, minum es teh kelihatannya seger". Reza seakan mengerti kode dari Udin, yang pasti kode itu adalah kode untuk segera kabur.
Mereka berbalik badan dan mengedipkan satu matanya ke gw. Gw geleng-geleng kepala melihat wajah Reza dan Udin yang kawatir dengan paman yang disebutkan Dio.
Gw melepaskan tas di punggung dan melemparkannya ke Udin.
"Apa ini Bim?". Udin menangkap lemparan tas gw.
"Didalam ada 2 kaleng bir buat kalian minum dan ada juga rokok buat kalian sedot, kalian minggir biar gw yang ambil alih dari sini".
Reza dan Udin tersenyum mendengar perkataan yang gw ucapkan, mereka tampak bernafas lega karena tau gw punya hubungan baik dengan geng Zeus.
Wajar aja jika mereka minder jika yang dikatakan Dio itu benar bakalan kesulitan 2 anak uler yang baru tumbuh itu, kan kagak lucu Reza dan Udin yang baru belajar langsung dihadapkan sama petarung pro, mereka berdua masih butuh jam terbang lagi di dunia adu bogem.
Reza dan Udin menyingkir dan memberi gw jalan, pisau di punggung pun sudah gw ambil dan gw pegang.
Dio melihat gw linglung dan tidak percaya. "Jangan mendekat! Jangan mendekat!". Dia berteriak histeris dan jatuh terduduk menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Tong sekarang lu bicara sama gw jika lu ngibul dan ngomong kagak jelas, pisau ini akan nyasar ke dalam perut lu!".