Preman Campus

Preman Campus
MAKAN MALAM


__ADS_3

Kamar kost Amora pukul 18:05 menit, sebelum gw meluncur ke hotel tempat para anak uler adu mekanik dengan ayam, gw sempatkan untuk makan malam dengan Amora di kost.


gw memandang Amora penuh cinta dan kasih saat dia dengan sabar dan telaten menaruh nasi di piring berwarna putih depan gw, piring khas Indonesia banget dengan motif bunga merah di sisi-sisinya.


Entah apa motivasi Amora mau ngelayani gw makan kek gini tapi sebagai cowo yang baik, gw nurut aja dan sesekali waspada siapa tau aja dengan sengaja Amora taruh sesuatu di makanan gw.


Kalau dia naruh obat perangsang sih masih gw terima beda lagi kalau Amora mau ngerjain gw dan masukin obat pencuci perut, bisa bermalam di toilet gw entar.


"Sayang kamu mau pakai sayur apa? Ini ada sop buntut, rawon, gulai dan sayur asem". Amora berucap dengan senyum yang selalu menghiasi wajah manisnya, udah kek pelayan resto ini cewe gw kalau kek gini. Berasa pengen buka dompet gw dan sawer kasih dia uang tips.


"Biar aku ambil sendiri aja Amora, kamu duduk dan ikut makan, jangan berdiri mulu seperti satpam kamu ini". Sebagai cowo dewasa gw malu makan dilayani kek gini.


"Enggak..! kamu diam aja biar aku yang ambilin, aku seneng ngelakuinnya kok". Amora mendorong gw untuk duduk kembali disaat gw akan berdiri dan meraih entong di tangan dia.


Gw merinding karena berasa jadi seorang suami saat ini juga. "Ya udah aku mau sayur asem aja". Jawab gw pelan, jika Amora senang dengan apa yang dia lakukan gw akan biarin aja, selama dia kagak kumat dan tabok gw lagi seperti di dalam mobil tadi saat gw remas 2 gunung indahnya.


"Sayang serius kamu mau sayur asem? Itu isinya cuma kacang panjang dan terong ungu lho enggak ada dagingnya berbeda sama sayur yang lain". Amora mengingatkan dengan pandangan yang selalu ke arah gw.


"Yang lain ada ada santannya, aku tidak terlalu suka dengan makanan yang terlalu banyak mengandung santan nanti kolestrol". Gw menjawab apa adanya, emang kagak suka gw makanan kek gitu.


"Menerapkan gaya hidup sehat ternyata pacar aku". Amora tampak kagum, dia ambil mangkuk sayur asam dan dia taruh di samping piring gw yang sudah terisi nasi segunung, mungkin dikira gw kuli bangunan apa yak diumpani nasi segitu banyaknya.


"untuk lauknya kamu mau apa?". Amora bertanya kembali, keknya sangat menghanyati peran ini cewe, mungkin sedang latihan jadi ibu rumah tangga yang baik dia.


Gw melihat dan mengamati lauk yang tersedia di atas meja dan kebayakan adalah daging semua, memang orang Indonesia kalau makan kagak pakai daging keknya belum afdol dan nikmat.


"Daging semua ya lauknya? enggak ada tahu atau tempe gitu?". Gw bertanya dan menatap Amora.


"Ya enggak ada lah sayang mana mungkin aku pesenin kamu lauk tahu dan tempe, kan lebih bergizi daging".


"Bergizi apaan? Daging itu banyak lemaknya, walaupun enak jangan terlalu sering makan itu, aku lebih suka tahu dan tempe untuk lauk daripada daging".


"Kalau enggak makan daging mana ada tenaga sayang? Kamu ini aneh banget".


"Daging itu seperti mie instan Amora, kalau terlalu sering makan enggak baik untuk kesehatan".


Amora menatap gw dengan melongo dan pandangan tidak percaya, "Sayang?". Amora berucap lembut.


"Kenapa kamu pandang aku kek gitu? Kagum ya dengan kata-kata aku barusan". Gw langsung jumawa.


"Kagum?". Amora tersenyum tipis, "Sayang untuk orang yang suka minum miras sepertinya kamu enggak pantes deh bicara kesehatan seperti itu". terlihat banget Amora lagi nyindir gw.


Jleb banget itu kata-kata Amora sumpah, langsung kena dan nancem di punggung gw.


"Amora aku enggak bakalan kenyang ini jika kamu empani sindiran mulu, jadi makan apa kagak ini sih kita?". Gw udah mulai kagak sabar dan mengalihkan pembicaraan.


"Kan kamu yang belum milih lauk, kamu mau yang mana? Jangan manja dan pilih salah satu atau semuanya terserah kamu". Amora menunjuk lauk di atas meja.


Amora itu apa? Kok beda sendiri kelihatannya itu bukan daging ya?". Gw menunjuk lauk yang sudah dicampur cabe hijau dan irisan bawang merah goreng.


"Oh ini ikan asin, bonus dari resto kata yang ngantar tadi karena kita udah pesen banyak kita jadi di kasih bonus itu". Amora menjelaskan.


Gw mengamati dalam diam lauk yang bernama ikan asin di pojokan meja, dari bentuknya yang unik buat gw penasaran.


"Aku tadi sempet kesel masak aku pesen banyak makanan gini bonusnya cuma ikan asin". Amora terus saja bicara sementara gw yang masih fokus memandang ikan asin.


"Ikan asin itu apa e?". Tanya gw serius menatap Amora.

__ADS_1


"Ikan yang dikasih garam ya? Apa ikan ditaburi micin? Tapi kok itu kecil-kecil ikannya?". Gw terus memandang Amora dan bertanya karena jujur saja baru ini aku tau ada makanan kek gitu.


Amora yang masih berdiri disamping meja bengong melihat gw. "Sayang kamu lagi bercanda lagi ya? Masak enggak tau ikan asin kamu?".


"Siapa yang bercanda? Serius aku enggak tau Amora makanya aku tanya, baru ini aku liat ada nama lauk ikan asin". Jawab gw dengan muka polos.


"Kelihatannya pacar aku terlalu lama hidup di dalam istana ini, masak ikan asin aja enggak tau.. Pasti dirumah kamu dimasakin makanan eropa dari kecil ya?". Amora mulai menebak dan menunjuk gw.


"Iya! Dirumah ada 3 chef yang bantu bunda ngurus dapur tapi aku lebih suka masakan bunda sih". Jawab gw mengiyakan pertanyaan Amora.


"Hehh!" Amora terkejut sekali lagi, "Aku kan cuma asal bertanya sayang, serius dirumah kamu ada 3 chef?". Amora membulatkan matanya tidak percaya.


"Iya ada 3 dari Italy, Perancis dan Jepang. Ngomong-ngomong kamu enggak jadi layani aku makan ini? tanya mulu, ambilin itu yang kamu sebut ikan asin aku mau coba". Gw udah mulai kagak sabar dan terlalu penasaran dengan rasanya.


Amora tersadar dari lamunannya dan dengan cepat mengambil mangkuk yang berisi ikan asin dan dia taruh di dekat gw.


"Kamu juga makan gi, ngapain liatin aku terus? jangan bilang kamu juga akan suapin aku dalam rangka pelayanan yang kamu sebutin tadi".


"Emang sayang mau aku suapin?". Amora tersenyum menggoda.


"Kagak!". Jawab gw cepat, "Cepat kamu duduk kita makan bareng".


Amora tersenyum mendengar penolakan cepat gw, dia mengangguk dan segera duduk di kursi dan kami pun mulai makan bersama, berhadap-hadapan dengan berbagai macam makanan di depan kami.


Gw mulai siram nasi putih dengan sayur asem secukupnya kagak lupa gw sendok beberapa biji kacang panjang yang telah dipotong-potong.


Setelah memasukan nasi di dalam mulut rasanya biasa saja tapi gw berhenti mengunyah setelah mengkombinasikannya dengan ikan asin.


Rasa asin dan gurih plus pedas segar langsung berputar-putar di dalam mulut gw.


Gw rasakan ini seperti sulap karena baru pertama kali gw tau ada makanan unik seperti ikan asin ini.


"Sayang kenapa dengan wajah kamu kok senyum-senyum sendiri? Kamu mau takuti aku ya?". Amora memandang gw dengan raut wajah penasaran.


"Diam Amora, abang sedang menghayati ini makan makanan terenak di dunia". Gw menjawab sambil mengunyah ikan asin berlahan.


"Uhuk-uhuk.." Amora terbatuk mendengar kata-kata gw. "Sayang itu kan cuma ikan asin apanya yang enak coba? Sampai segitunya ekpresi wajah kamu". Amora tampak tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat.


"Tempatmu bermain kurang jauh Amora, ikan asin ini adalah masterpiece dunia kuliner harusnya ini dibuat oleh chef ternama kan?". Gw bertanya sambil terus mengunyah makanan.


"Sayang tempatmu bermain itu yang kejauhan malah, masterpiece apa yang masterpiece? Nenek aku aja bisa buat lebih enak dari itu dan juga ikan asin itu murah jadi semua orang bisa membuatnya, mungkin 20 ribu udah dapat banyak itu". Amora menjawab diluar ekpetasi gw.


"Iya kah? baru tau aku tapi seriusan ini enak banget".


"Ekpresi makan kamu menghasut aku sayang, seenak apa sih ikan asin kamu itu?". Amora tersenyum dan tangan dia menjulur ke depan mencoba megambil ikan asin di dalam mangkuk depan gw.


"Plakk!".


"Auucch! Sayang kenapa dipukul tangan aku?". Amora menarik tangannya kembali dan gw langsung mengamankan mangkuk ikan asin.


"Jangan serakah Amora sayang, didepan kamu kan ada itu banyak lauk.. ikan asin ini jatah abang Bimo". Gw menaruh semua ikan asin di atas piring.


"Ya ampun sayang sampai segitunya kamu, jika disuruh milih ikan asin sama aku. Kamu bakalan milih apa?". Amora bertanya dengan raut wajah cemberutnya.


"Pertanyaan kamu enggak penting banget itu tau, cepet makan dan habisin aja makanan yang ada dipiring kamu".


"Iya-iya, aku enggak akan rebut ikan asin kamu lagi". Amora tampak pasrah tapi bibirnya mengerucut ke depan alias cemberut.

__ADS_1


Amora dengan ekpresi kesel kembali makan begitu juga dengan gw, tidak ada percakapan di antara kami sampai kita berdua selesai menyantap makanan di piring masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ahhhh..! Kenyangnya, heeiikkk!". Gw bercendawa keras sambil mengelus perut yang sudah terisi penuh.


"Ihh sayang jorok". Amora yang juga selesai makan berucap.


"Jorok apaan coba, semua orang juga kalau abis makan bercendawa". Jawab gw santai sambil ngeluarin rokok dari saku celana.


"Iya tapi ya enggak sekeras itu juga sayang cendawanya, kalau makan sama orang banyak kan enggak sopan itu namanya". Amora menasehati.


"Cendawa itu panggilan alam Amora hampir mirip kek kentut dan ini bukan sound system yang bisa diatur volumenya".


"Dikasih tau malah ngeles aja kamu ini jangan ngerokok dulu ayo bantu aku cuci piring". Amora beranjak dari duduknya.


"Enggak salah itu kamu suruh aku cuci piring?". Gw bertanya memastikan.


"Ya harus dong enggak ada makan malam gratis di dunia ini sayang, kamu harus bayar dengan bantu aku cuci piring kotor". Amora tersenyum jahat ngelihat gw.


"Enggak bisa aku bayar dengan yang lainnya aja ya makan malam ini? Gimana kalau aku bayar dengan belain lembut saja, disana". Gw menunjuk ranjang Amora yang terlihat sangat kokoh.


"Yeee.. Itu sih mau kamu cepet ah jangan males, berdiri dan bantu aku bawa piring dan mangkuk kotor ke wastafel". Amora memberi perintah dan gw pun mau gak mau memasukan rokok ke saku kembali dan berdiri dengan malas membawa piring kotor ke wastafel yang tidak jauh dari meja makan.


"Sayang kamu yang nyuci aku yang ngeringin". Amora mengambil kain putih kecil dan berdiri di samping kanan gw, jelas sangat terlihat dari raut wajahnya, Amora tampak menikmati kebersamaan dengan gw saat ini.


Mungkin dia lupa dengan adengan panas di mobil tadi, mungkin dia juga kagak tau sejak masuk ke kamar ini benda bergelantung di bawah puser gw selalu berdiri sampai saat ini.


Berduan dengan wanita di ruangan tertutup dengan kostum dia yang hot dan menantang, cowo mana yang kagak s.a.n.g.e.


2 pinggul bulat nan kencang itu saja sejak tadi buat gw nelen air liur mulu, hot pant yang dipakai Amora sungguh membuat gw hampir gila. Apalagi saat gw liat cetakan segitiga tembem dibagian depan bawah itu rasanya pengen nusuk pakai jari telunjuk.


Gw mulai membasuh piring dan menangkan fikiran, walau otak dan batang gw kagak singkron saat ini tetap saja gw harus bisa menahan diri.


"Sayang kamu lagi cuci piring apa lagi pijitin piring? Lama banget, cepat kasih aku satu per satu biar aku lap dan keringkan". Amora memecah lamunan gw dengan suaranya.


"Sorry terlalu asik mainin busa aku". Jawaban canggung terucap dari bibir gw dan segera membilas 1 piring dan menyerahkannya ke Amora yang berdiri di samping gw dari tadi.


Dengan lembut Amora mengelap piring dan menaruhnya di rak.


Satu persatu piring dan mangkuk juga selesai gw bilas dan gw taruh di dekat Amora.


"Sayang kamu mau langsung pergi ya? Tunggu sebentar nanti aku anter".


"Anter kemana?". Tanya gw binggung.


"Ya ke tempat kost temen kamu itulah, siapa namanya Udin sama Reza ya? Kan kamu mau kesana kan?".


"Enggak usah repot-repot Amora aku udah kirim pesan ke pak Rohmat tadi dan minta di jemput dengan grabnya". Gw segera menjawab, bisa ada tragedi nanti kalau Amora ngantar gw.


"Kenapa malah pesen grab sih kamu yank? Kan aku mau antar kamu dengan mobil baru yang kamu belikan". Amora menyelesaikan lap piring dan berdiri menghadap gw.


"Ini udah malam Amora aku enggak mau kawatir saat kamu balik dan nyetir sendiri dan juga kamu juga pasti capek karena berkerja dari pagi, aku kagak bisa tenang nanti nonton bolanya". Gw langsung memberi alasan manis ke Amora.


"Ya udah deh tapi besok sebelum kamu pergi ke Blora harus pamit aku dulu dan jangan main pergi aja". Amora memberi syarat.


Gw tersenyum lembut pelan gw pegang kedua pundak Amora dan gw tarik dia masuk ke dalam pelukan.

__ADS_1


Amora diam dan membalas pelukan lembut, kepala nya bersandar di dada bidang gw.


Gw belai rambut dia yang hitam panjang dan berucap. "Besok pagi sebelum aku ke blora pasti bakalan akan pamitan dan peluk kamu dulu sayang".


__ADS_2