Preman Campus

Preman Campus
KABIN PESAWAT


__ADS_3

"Sayang kamu kenapa kok teriak-teriak seperti itu?".


Suara bunda dari arah belakang terdengar masuk di telinga gw.


Sontak gw pun berbalik badan tersenyum walau wajah gw tertutup masker.


Bunda dan Ayah ada di depan gw saat ini, yang di belakangnya ada beberapa bodygurad dan orang-orang yang menyambutnya tadi.


"Enggak kok Bun, cuma lagi main-main aja sama dua monyet peliharaan Bimo". Jawab gw ngasal karena masih kesel sama Reza dan Udin.


Mereka dua malah ikutan tersenyum melihat Ayah dan Bunda, senang banget keknya jadi gw jadiin peliharaan.


"Kamu ini ada-ada saja, masak temannya dibilang peliharaan".


"Jagoan kita berangkat sekarang". Bokap berbicara.


"Iya Bimo ngikut aja sama Ayah dan Bunda".


"Bawa kesini kursi rodanya!". Ayah bicara menyuruh kepada Bodyguard dibelakang dia.


Tidak lama datanglah kursi roda menghapiri gw yang didorong sama bodyguard bokap.


"Ayah apa ini? Bimo kan sakit di perut bukan di kaki, masak jalan ke pesawat aja musti naik kursi roda". Gw melancarkan protes dan keberatan.


"Sayang, kamu tidak boleh banyak gerak dan terlalu capek, jahitan di perut kamu belum kering. Kamu naik kursi roda dulu ya?". Bunda berbicara halus dan lembut.


"Benar apa kata Bunda kamu jagoan, kamu nurut aja biar Bunda kamu lebih tenang dan tidak terlalu kawatir lagi". Ayah bicara menyakinkan


"Iya Bimo akan naik, tapi biar 2 temen Bimo aja yang dorong ya?".


"Iya terserah sayang maunya apa". Bunda tersenyum lembut.


Gw pun segera duduk di kursi roda, dan dengan gagahnya 2 cebong berjalan ke belakang kursi roda dengan tegak kek tentara yang lagi baris-berbasis. Mau pamer sama siapa sih ini bocah. belagu banget jalan aja dibuat-buat.


Tapi anehnya bunda malah tersenyum melihat tingkah konyol cebong bersaudara.


Biarlah mungkin dimata bunda mereka ini bagaikan topeng monyet yang lagi ngehibur semua orang.


Bunda dan Ayah berjalan lebih dulu menuju ke pesawat pribadi yang akan kita naiki.


Gw di belakang duduk manis di kursi roda dan di dorong oleh Reza. Udin berjalan di samping kursi roda, yang matanya terus saja memandang kagum pesawat yang akan kami naiki sebentar lagi.

__ADS_1


Gw lihat ada beberapa petugas bandara yang sedang sibuk menata alat yang gw nyakin adalah tangga untuk kita naik dan menunju pintu pesawat.


Semaki mendekat akhirnya gw tau itu adalah eskalator datar yang dipasang dari bawah menuju pintu pesawat dan bukan tangga.


Sampai segitunya ayah dan bunda kagak mau liat gw capek karena jalan. Memang yang terbaik Ayah dan Bunda gw ini.


"Sayang Bunda sama Ayah naik dulu ya, kalian berdua tolong bantu Bimo naik ya?". Bunda berbicara sama Reza dan Udin.


"Siap tante serahkan saja tugas ini kepada kami". Reza berbicara dan terlihat bersemangat.


"Iya tante dan om tenang saja, tidak akan kami biarkan Bimo lecet sedikitpun". Udin dengan semangat penjilatnya.


"Baiklah terima kasih, kalian memang teman yang baik". Bunda dan Ayah langsung melangkahkan kaki di eskalator di depan mereka.


"Ayo cak kita meluncur!". Reza mendorong kursi roda ke arah depan.


"Meluncur mate lu, awas aja kalau gw sampai jatoh!".


"Tenang aja Bim, dek Za udah professional dia soal dorong-mendorong". Udin menyakinkan gw


"Benar apa kata kak Din cak, Diriku dulu sering mendorong gerobak sate Keliling Madura". Reza berucap dengan bangga.


"Ini kursi roda nyet! nape lu samain sama gerobak sate? udah gila ya lu? enteng amat kalau ngomong".


"Siap kak Din!". Reza pelan-pelan mendorong kursi roda naik eskalator datar menuju pintu pesawat.


Dengan cepat kita sampai di pintu pesawat dan sudah disambut dengan 2 pramugari cantik yang tersenyum ke arah gw yang sedang membuka masker.


"Selamat siang tuan muda Abimana". Mereka berbicara serempak.


Kursi roda berhenti dan diam di tengah-tengah 2 pramugari.


Gw liat Reza menata rambutnya dan Udin menggosok-gosok kedua tangannya, mereka dengan pandangan buasnya melihat 2 pramugari cakep di depan bagai santapan yang lezat.


Gw langsung berdiri dari kursi roda karena tau ini 2 cebong bakalan kumat, bisa malu gw kalau sampai Udin ngiler di sini dan Reza yang akan berubah jadi buaya kampung.


"Kak, tunjukkan kabin tempat saya istirahat selama penerbangan". Gw cepat berbicara saat dua pramugari ini menatap Reza dan Udin aneh.


"Oh iya tuan mari ikut saya". Salah satu dari mereka berbicara.


"Nyet lu berdua kagak usah aneh-aneh! gw tendang keluar nanti lu berdua".

__ADS_1


"Sirik aja dirimu cak, enggak rela liat teman senang".


"Iyi Bim biarkanlah biarkanlah kami berbahagia walau sejenak".


"Senang dan bahagia dari mana?! yang ada kakak-kanak ini takut sama lu berdua, udah lu berdua ikut gw".


Kami pun dipandu 1 pramugari berjalan ke arah belakang, 1 pintu terbuka terlihat kabin pesawat yang begitu luas dengan kursi yang mewah dan sudah ada Ayah dan Bunda yang duduk disana. Menikmati minuman yang aja di meja depannya.


"Sayang kok kamu jalan". Bunda bertanya.


"Enggak enak bunda naik kursi Roda mulu nanti aja kalau sudah mendarat naik itu lagi".


"Jagoan di kabin belakang sudah Ayah siapkan tempat untuk kamu disana ada ranjang juga untuk kamu istirahat. Ayah dan bunda akan di kabin sini".


"Di sana juga sudah ada berbagai macam makanan dan camilan siapa tau teman-teman kamu lapar". Ayah kembali bicara yang membuat 2 cebong tersenyum lebar.


"Ya udah Bimo kesana dulu pengen cepet-ceper rebahan".


"Iya sayang nanti Bunda kesana untuk lihat kamu, sayang istirahat aja dulu".


"Mari tuan saya antar". Pramugari di depan gw kembali berbicara ramah memandu jalan gw dan dua cebong.


1 pintu kembali terbuka dan terlihat kabin yang tak kalah mewahnya seperti yang di tempati Ayah dan Bunda.


Disisi kiri ada ranjang yang empuk, gw langsung berjalan mendekat dan rebahan di atasnya.


Di sisi kanan ada 2 kursi besar mewah warna hitam dan meja yang penuh makanan dan camilan di depannya. Tanpa di beri aba-aba 2 cebong langsung berjalan dan duduk diatasnya.


"Tuan nama saya adalah Pipit, saya adalah pramugari untuk melayani kabin yang tuan tempati jika butuh sesuatu tolong pencet saja tombol merah di dekat pintu ini, saya akan segera datang". Dia bicara sambil memegang tombol merah yang berada di dalam kotak kaca kecil menempel di dinding dekat pintu pemisah kabin pesawat.


Gw tersenyum mendengar namanya yang ke burung itu dan dia melihat itu, semoga aja kagak salah paham kakak Pipit ini.


"Iya terima kasih nanti saya akan melakukannya jika butuh sesuatu, maaf kalau merepotkan kakak". gw bicara sopan.


"Tidak merepotkan sama sekali tuan, ini sudah kewajiban saya". Kalau begitu saya permisi dulu".


"Iya kak silahkan". Gw mempersilahkan dan pramugari bernama Pipit itupun melangkah pergi membuka pintu dan berjalan ke depan.


Gw menengok ke Arah kanan, ada Udin dan Reza yang sedang balapan memakan makanan dan caliman yang tersaji di meja depan mereka.


Udah kagak bisa berkata apa-apa lagi gw lihat tingkah polah 2 cebong ini.

__ADS_1


Biarlah mereka pada berebut makanan, yang penting gw aman kagak direcoki sama mereka yang selalu buat gw darah tinggi.


Gw memejamkan mata mencoba untuk istirahat sesaat, karena terlau lelah tubuh gw ini.


__ADS_2