Preman Campus

Preman Campus
BIMO? NAMA YANG MEMBUAT PENASARAN SEMUA ANGGOTA ROHIS


__ADS_3

Info author: Untuk beberapa part spesial, akan sedikit membahas karakter yang lainya sekedar selingan agar kalian kagak bosan dengan bacot Bimo terus-terusan😂.


***


Ruangan Organisasi Rohis tampak sunyi setelah seseorang bertanya dan semua pandangan saat ini menuju ke depan menanti jawaban dari sang ketua Rohis Nissa.


"Baik, kalau memang tidak ada halangan yang mendesak semua anggota Rohis diwajibkan untuk datang dan berpartisipasi, untuk acaranya sendiri akan di isi dengan pentas seni Islami.. Mendengarkan ceramah dan lomba baca Alquran". Nissa menjawab dengan nada bicara yang sangat halus.


Pria yang bertanya tadi mengangguk mengerti dan kembali duduk setelah mendengar jawaban dari sang ketua Rohis.


"Apa ada pertanyaan lainnya?". Tidak berselang lama Nissa kembali bertanya dan memandang semua orang termasuk 2 orang yang duduk di pojok paling belakang sana.


"Dek Za, loe enggak mau bertanya itu sama Nissa?". Udin di pojokan berbisik pelan ke Reza.


"Benar juga ya? Aku ingin tau sesuatu yang membuat diriku penasaran terus". Reza tampak antusias dan akan mengacungkan jarinya.


"Tunggu sebentar Za! Loe mau tanya apa? Kasih tau gua dulu, bisa di umpati orang banyak entar kita kalau pertanyaan loe ngawur dan melenceng dari topik". Udin segera menahan Reza.


"Hehehe, diriku mau bertanya ada hubungan apa Nissa sama Bimo kak Din". Reza menampilkan senyum penuh arti.


"Kalau loe tanya gituan bukan mendapat umpatan lagi kita dek Za tapi langsung mendapat musuh semua anggota Rohis, ngaco banget pertanyaan loe". Udin tampak kesal.


"Kan diriku penasaran kak Din, dirimu juga penasaran juga kan?". Reza langsung cemberut.


"Iya gua juga penasaran tapi ya enggak loe tanyakan sekarang juga kali, ngoblok banget loe jadi orang.. Enggak tau situasi banget".


"Iya diriku mengerti itu tapi jangan menghina gitu dong! Mau ajak adu hinaan dirimu?". Reza tampak tidak terima dikatain goblok.


"Ok siapa takut kami warga Gunung Kidul punya kamus hinaan asal loe tau". Udin langsung Sombong.


"Cuma seperti itu saja, di Madura hinaan sudah menjadi bahasa resmi kami asal dirimu tau". Reza kagak mau kalah dan mereka langsung beradu pandang.


"Kalian 2 orang yang duduk di pojok, ada yang ingin kalian tanyakan?". Suara Nissa terdengar dan pandangannya terarah ke Reza dan Udin.


Semua anggota Rohis yang duduk di depan pun mengikuti arah pandangan Nissa dan mereka semua ikut memandang Reza dan Udin yang saat ini kaku tubuh mereka dan mendadak pucat pasi mendapati semua pandangan orang ke arah mereka.


"Kenapa diam? Aku perhatikan kalian ngobrol tadi, kalau mau ada yang ditanyakan silahkan tanyakan saja". Nissa berucap lembut.


"Kak Din gimana ini?". Reza berguman pelan menyenggol lengan Udin.


"Mana gua tau Za, gara-gara loe ini kita masuk ke dalam situasi seperti ini".


"Kok diriku? Kan kita sama-sama, mana diperhatikan banyak pasang mata lagi.. Aku jadi malu".


"Ini bukan saatnya loe malu Za, cepat berfikir". Udin mulai panik.


"Udin, Reza biar aku yang bicara dan bertanya soal rasa penasaran kalian". Rio yang dari tadi diam saja tersenyum kecil dan langsung mengangkat tangannya ke Udara dengan cepat dan langsung berdiri.


Udin dan Reza sontak terkejut dengan ucapan dan tindakan Rio tapi udah terlambat untuk mereka menghentikankannya.


"Ri loe mau tanya apaan? Duduk lagi kagak loe". Udin mengancam pelan.


"Tenang saja Din serahkan semua kepada aku, sebagai teman aku akan mewakili kalian". Rio tersenyum kecil.


"Yo, duduk Yo.. ta kita enggak butuh wakil!". Reza juga langsung panik.


"Iya kamu silahkan bertanya". Nissa yang melihat Rio berdiri mempersilahkan.


Rio untuk sesaat memandang Reza dan Udin sekilas dan menganggukan kepalanya penuh arti dan langsung kembali melihat ke depan.


"Dek Za perasaan gua enggak enak, gimana ini?". Udin berkeringat dingin.


"Sama kak Din, diriku juga udah pipis sedikit ini di celana karena terlalu tegang". Reza tampak jujur sekali dan enggak ada yang dia sembunyikan, membuat Udin langsung begong saat mendengarnya.

__ADS_1


Semua pandangan semua orang saat ini tertuju ke Rio yang berdiri tanpa rasa takut.


"Saya mau bertanya juga mewakili kedua teman saya ini.. Apa hubungan di antara Ketua Nissa dan Bimo?". Rio dengan wajah tidak berdosanya bertanya dan tersenyum.


Hening suasana di dalam ruangan langsung hening dan sepi, jika ada jarum jatuh pasti akan terdengar sangat keras saat ini.


Reza langsung megap-megap mendengar pertanyaan Rio, sementara Udin langsung menunduk melantunkan semua doa yang dia tau.


Semua orang yang mendengar pertanyaan itu juga langsung terkejut tidak percaya, mereka langsung saling berbisik dan saling bertanya siapa itu Bimo hingga suasana langsung sedikit gaduh.


Tapi jika ditanya siapa disini orang yang paling terkejut tentu saja adalah Wanita cantik berjilbab putih yang berdiri di depan sana. Nissa untuk sesaat linglung mendengar pertanyaan seperti itu.


Pandangan semua anggota Rohis saat ini tertuju ke Nissa menanti jawaban yang akan keluar dari bibirnya.


Wajah Nissa untuk sepersekian detik memerah dan itu dilihat semua orang dan membuat mereka langsung curiga.


"Maaf ini adalah rapat untuk membahas rencana organisasi rohis kita di malam tahun baru nanti, pertanyaan pribadi tidak di izinkan". Dengan suara pelan Nissa menjawab, dia tampak berusaha tampil setenang mungkin.


Mungkin dia tidak mengira nama Bimo akan muncul ditengah-tengah rapat ini.


"Apa ada pertanyaan lainnya?". Nissa langsung mengalihkan perhatian semua orang tapi itu terlihat sangat tidak berhasil karena semua orang saat ini melihat ada yang aneh dengan sang ketua Rohis setelah mendengar nama Bimo.


Di dalam fikiran semua orang saling bertanya-tanya siapa pria yang bernama Bimo ini, yang namanya saja bisa langsung membuat kecantikan no 1 di Campus langsung memerah dan tampak salah tingkah.


Mereka langsung penasaran dan bertekad akan langsung mencari tau siapa itu Bimo setelah rapat ini selesai.


"Huaasssuuu..!".


"Huaaassuu...!".


"Sayang! Bersin kamu buat aku terkejut, hampir aja aku injak rem ini".


"Sorry Bie sorry, hidung aku enggak gatal tapi entah kenapa langsung bersin sendiri tiba-tiba.. punggung aku juga dingin banget ini".


"Mungkin juga itu Bie tapi aku kok merasa takut ya saat ini, seperti sedang dalam bahaya gitu". Gw menjelaskan apa yang gw rasakan, saat ini rasanya kek ada banyak orang yang lagi liatin gw.


"Hehehe.. Dalam bahaya apa sayang? Kan kamu cuma sama aku sekarang, mungkin cuma perasaan kamu saja itu, gimana kalau kita mampir Apotik dan beli obat flu untuk kamu?". Bianca menawari.


"Aku jarang minum obat Bie, enggak usah deh.. Jika ini memang flu juga sembuh sendiri entar". Jawab gw cepat menolak.


"Yang namanya orang sakit itu ya harus minum obat sayang biar cepat sembuh, kan nanti juga kamu akan ke Blora kalau tampah sakit gimana coba? Aku kan bisa semakin kawatir".


"Tenang saja sayang cowo kamu ini kuat kok dan enggak gampang sakit kamu tenang saja". Gw menyakinkan Bianca.


"Enggak pokoknya kamu harus minum obat kalau gak gitu aku akan nekad ikut kamu ke Blora dan jagain kamu". Bianca tiba-tiba mengancam.


Auto gw terkejut, bisa runyam ini jika dia ngintilin gw, gara-gara bersin biadap 2x itu bisa gini respon Bianca.


"Mana bisa Bie kamu ikut, kan aku enggak lagi pergi piknik ini.. Enggak ada cara lain ya selain minum obat? Benar-benar enggak suka aku".


Bianca tampak berfikir, "Ada satu cara sih sayang jika kamu tidak minum obat dan bisa menyembuhkan masuk angin".


"Cara apa itu? Selain minum obat mau aku pakai cara itu". Gw bertanya cepat.


"Ini cara tradisional sayang dan terbukti ampuh mengatasi masuk angin".


"Kamu enggak suruh aku minum jamu kan Bie? enggak ahh! jamu kan lebih pait dari obat". Gw langsung menolak cepat.


"Bukan sayang ini bukan obat ataupun jamu dan hanya butuh koin dan minyak kayu putih saja".


"Parah! aku ini cowo kamu lho Bie bukan musuh kamu, mana ada orang masuk angin minum minyak kayu putih bukan sembuh malah tambah sakit entar aku, ngaco kamu kalau ngomong".


"Kamu itu sayang yang ngaco, negatif mulu fikiran kamu.. minyak kayu putih itu bukan untuk diminum tapi dipakai kerokkan dengan koin". Bianca menjelaskan.

__ADS_1


"Kerokkan? Enggak ah! tambah telat nanti aku sampai bloranya Bie".


"Oh gitu ya udah aku akan ikut kamu kalau gitu". Jawab Bianca datar.


"Ya ampun Bie sampai segitunya kamu, aku enggak gak apa-apa kok". Gw mengeluh pelan, perhatian Bianca terlalu besar dan menjurus keras kepala.


"Enggak! Aku tetap kawatir, kamu pilih aja.. Minum obat atau kerokkan dan jika enggak mau dua-duanya aku akan ikut kamu ke Blora". Bianca berucap tegas.


Sialan! Siapa sih yang buat gw dalam situasi kek gini, kalau itu orang bakalan gw remukin. Gw mengumpat dalam diam.


"Kamu enggak jawab berarti setuju aku ikut ke Blora". Bianca dengan pemikirannya.


"Ok aku mau kerokkan, terlalu bahaya jika kamu ikut dan enggak enak nanti aku sama Jono". Gw membuat keputusan, daripada minum obat yang pait.. Gw lebih milih disayat sama koin di punggung, paling sakitnya kagak seberapa dan sudah biasa gw merasakan sakit lebih dari itu.. Palingan juga sakitan di hantam kunci Inggris.


"Nah gitu kan enak sayang, kenapa enggak jawab seperti itu dari tadi sih.. Malah ngajak debat terus kamu". Bianca tersenyum mendengar jawaban gw.


"Kita udah hampir sampai Rumah aku ini, nanti kamu mau dikerokin di mana? Ruang tamu atau kamar aku?".


Gw yang semula dongkol dan pandangan buram langsung cerah seketika mendengar pilihan yang diberikan sama Bianca.


"Aku malu Bie, masak kerokan di ruang tamu?". Jawab gw datar menyembunyikan sorak sorai di dalam dada.


"Ya udah di kamar aku aja kalau gitu". Jawab Bianca pelan berbarengan dengan mobil yang telah sampai di depan gerbang Rumah.


Gw mengangguk pelan dan menyembunyikan senyum yang hampir merekah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ketua saya mau bertanya!". Di dalam ruangan Rohis, suara seorang wanita menggema dan langsung berdiri.


"Baik silahkan bertanya tapi saya harap pertanyaannya berhubungan dengan topik rapat kita ini". Pelan dan halus Nissa berbicara dan berisi peringatan di dalam kata-kata itu.


"Iya ketua saya mengerti". Jawab wanita itu dan menganguk.


"Baik silahkan mau bertanya apa?".


"Begini ketua acara kita kan bertepatan pada malam tau baru dan biasanya keluarga saya akan berkumpul bersama, jika saya membawa keluarga ke acara kita nanti bagaimana boleh apa enggak?".


"Iya ketua saya juga ingin bertanya seperti itu". Beberapa orang ikut berbicara.


"Baik-baik semua orang tenang dulu saya akan menjawab". Nissa mencoba mengendalikan suasana dan tampak berhasil.


"Jika para Anggota ingin membawa keluarga, kerabat ataupun teman ke acara organisasi kita nanti diperbolehkan tapi karena acara kita di dalam Pesantren saya harap pakaian yang dikenakan sesuai, semua mengerti kan?".


"MENGERTI!". Jawab para anggota serempak.


"Baik jika enggak ada pertanyaan lain saya rasa rapat kita akhiri sampai disini, dan pada tanggal 20 Desember nanti kita akan rapat lagi untuk membahas pentas seni apa saja yang akan kita tampilkan".


"Untuk menggakhiri rapat ini mari kita berdoa bersama-sama agar acara kita nanti berjalan lancar dan berkah".


"Berdoa mulai".


"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozatanaa wa qinaa adzaa bannaar". Reza di belakang berguman pelan sambil memejamkan mata.


"Dek Za? kenapa doa makan yang loe baca". Udin terkejut dan menatap Reza aneh.


"Kak Din kan Nissa enggak bilang suruh ta kita baca doa apa, ya diriku asal pilih saja.. Udah cepat dirimu juga berdoa".


"Bener juga ya? Ok deh gw akan mulai berdoa juga kalau gitu, Allahmumma Bismika Ahya Wa Bismika Amut".


"Kak Din dengar baca doa dirimu kok diriku jadi mengantuk ya?".


"Gua baca doa sebelum tidur dek Za". Jawab Udin pelan.

__ADS_1


"Reza: ???


__ADS_2