Preman Campus

Preman Campus
PERKENALAN DIRI PALING NARSIS


__ADS_3

Gw masih berdiri di pinggir jalan tanpa bisa menggerakkan kaki untuk melangkah, untuk sesaat gw linglung melihat mobil di depan sana.


Setau gw Bianca kagak tau gw kost dimana, apa jangan-jangan bang Anton yang kasih tau, karena cuma bang Anton saja yang pernah ngantar dan jemput gw disini.


Ya Allah cobaan apa lagi ini, hamba cuma sarapan soto se uprit kenapa cobaannya bisa sebanyak ini.. Tenaga sama otak hamba enggak kuat ya Allah. Gw berguman dan bicara sendiri putus asa.


Mau nangis tapi air mata kagak mau keluar, mau minta tolong.. Minta tolong sama siapa? Mau kabur malah tambah lagi entar masalahnya.


Saat ini gw bagaikan berada di perempatan jalan dan punya 4 pilihan jalan yang harus gw pilih untuk menghadapi situasi seperti ini.


Jalan lurus bisa dilewati tapi penuh duri, jalan belok kiri berisi ranjau yang bisa meledak kapan saja, ambil jalan kanan bisa langsung hanyut gw karena disana ada sungai. Mau jalan mundur juga kagak bisa karena belakang gw udah jurang.


Gw menghela nafas panjang dan mendongak ke atas melihat langit yang cerah nan terang kontras dengan suasana hati gw yang kelam dan mendung.


Awan-awan bergerak dengan indah seperti kapas putih yang terbang terbawa angin, bebas mau kemanapun dia mau berbeda sama gw yang menggerakan kaki saja kagak bisa karena terlalu takut dengan badai yang siap menyambut di depan sana.


Disaat gw udah kagak tau musti ngapain untuk sekilas gw teringat kata-kata mutiara dari bokap yang selalu dia ucapkan ke gw. "Jangan pernah takut dan gentar karena nama Pramono akan selalu ada di belakang nama kamu".


Semilir angin pelan-pelan gw rasakan menerpa membawa gw ke dalam kesejukan dan ketenangan setelah mengingat kata-kata Rama Putra Pramono.


Akhirnya gw bisa nyakin dengan jalan yang akan gua pilih di antara 4 jalan, yaitu langsung saja nerjang maju lurus ke depan walau penuh duri sekalipun kagak bakalan gentar gw, karena duri itu pasti akan layu jika tau di nadi gw mengalir darah Pramono.


"Ok Bimo ayo maju!". Gw berguman dan mulai melangkahkan kaki dengan mantap dan percaya diri.


Dekat dan semakin dekat gw dengan gerbang kost, Gw mulai jalan mengendap-endap kek ninja untuk mengamati situasi terlebih dulu.


Gw mengintip sedikit dari celah gerbang yang bolong karena hanya terbuat dari seng yang mulai karatan.


Deg! benar firasat gw.. Bianca sendang duduk di bale-bale dan sedang ngobrol dengan Luzy, ini sudah gw duga sejak awal karena mereka memang satu Campus ada kemungkinan saling mengenal tapi gw kagak mengira mereka akan sedekat itu.


Teman Mekanik Pria Luzy juga masih disini dan sedang memeriksa lampu motor yang di hantam batu sama Amora.

__ADS_1


Gw sudahi acara ngintip mengintip ini menegakkan badan dan jalan beberapa langkah ke depan memasuki gerbang kost dengan percaya diri dan menampilkan ekpresi senormal dan sedatar mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu langkah dan gw menampilkan diri gw bak bintang utama film yang dengan gagah menunjukan diri pertama kali.


Gw berhenti dan 3 orang langsung memandang gw dengan ekpresi berbeda.


Bianca seperti biasa langsung tersenyum cerah saat melihat gw, cewe gw yang satu ini memang sedikit istimewa dia bagai boneka barbie versi semok dan bohai.


Luzy tidak perlu ditanya lagi dia memandang gw dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang sangat kental, beberapa detik lagi mungkin dia akan meledak.


Dan teman pria Luzy si mekanik yang berdiri di depan motor memandang gw dengan ekpresi terkejut dan tidak percaya, mungkin dia menebak gw kagak mungkin balik lagi dan sembunyi.


Luzy tampak mau berdiri dari duduknya dan bibirnya udah siap untuk mengumpati gw.


"Bimo darimana saja sih kamu?".


Luzy tampak terkejut saat dia didahuli Bianca yang berdiri dan langsung jalan menghampiri gw.


"Ngapain lagi Bimo ya jemput kamu lah, katanya kemarin kamu mau ke Blora pagi-pagi, supir udah ada di rumah tapi kamu enggak datang-datang, aku kawatir ya aku kesini aja". Jawab Amora sambil memandang gw lekat penuh cinta.


"Kok tau kamu alamat kost aku? dikasih tau bang Anton ya?". Gw menebak.


"Hehe iya, baru ini cewe enggak tau tempat tinggal cowonya sendiri". Amora cemberut manja.


"Ya kan kamu enggak pernah tanya". Jawab gw sambil tersenyum lembut.


"Harusnya kan kamu yang undang dan bawa aku kemari Bimo, masak cewe mulai duluan".


Gw cuma tersenyum memandang Bianca yang terus berbicara, di depan sana Luzy udah kek orang bego mendengar dan melihat percakapan gw sama Bianca.

__ADS_1


Mekanik pria itu juga sama dan tampak lebih terkejut, dia berjalan mendekat dan berdiri di samping Luzy.. Dia memandang gw dengan mata penuh kekaguman. Mungkin di syok liat gw yang punya 2 cewe spek Bidadari.


"Mereka berdua siapa Bie? Teman kamu ya?". Gw pura-pura tanya dan menunjuk Luzy yang tampak kek singa yang bulunya pada mekar dan siap untuk nerkam gw.


"Oh iya sini aku kenalin". Amora mengandeng tangan gw dan berjalan mendekati Luzy dan mekanik pria.


"Luzy kenalin ini pacar aku yang aku ceritakan tadi, namanya Bimo dia mahasiswa baru di Campus kita. Dia juga nge kost disini".


"Sayang kenalin ini Luzy dia satu angkatan sama aku di UGM walau enggak satu jurusan, kita saling kenal saat pertama kali jadi mahasiswa baru". Bianca mengenalkan gw dan Luzy.


Luzy masih diam sebelum dia berbicara gw mengulurkan tangan lebih dulu.


"Kenalin Nama Gw Abimana Pramono, pewaris tunggal dari Pramono grup perusahan multi internasional sekaligus putra dari pasangan terkaya se Asia, Rama Putra Pramono dan Shinta Wiratama". Gw berucap lantang tegas dan penuh intimidasi. Sebenarnya gw malu gila ngomong kek gitu tapi apa boleh buat itu adalah satu-satunya cara agar duri depan gw ini bisa layu sebelum bicara aneh-aneh di depan Bianca.


Hening, suasana hening.. Luzy langsung bengong kek orang bego dan pria di sebelahnya bibirnya terbuka sambil memandang gw tanpa kedip.


"Bimo kamu narsis banget sih, hehehe.. kok gitu kamu kenalannya? Mau pamer ya?". Bianca langsung mencubit tangan gw pelan.


"Aaauu! Sakit Bie, emang bener kan kata-kata perkelan aku dan gak bohong".


"Iya benar tapi kan biasanya kamu mati-matian sembunyikan identitas kamu yang mewah itu, kenapa sekarang malah kamu katakan dengan mudah?".


"Kan ini pertama kali kamu kenalin aku ke teman kamu Bie, ya sesekali bolehlah biar kamu enggak malu punya cowo kek aku".


"Aku enggak pernah malu Bimo punya cowo kamu, sorry ya Luz jika cowo aku narsis dan buat kamu terkejut dengan identitasnya". Bianca memandang Luzy yang masih tampak terkejut.


Dia sudah mengira gw tajir dari awal, tapi keknya dia kagak mengira jika latar belakang gw lebih mengerikan dari yang dia kira.


"Emm tidak apa-apa, beruntung kamu punya pacar hebat seperti itu". Luzy seperti menekan Amarahnya menjawab Bianca dan tersenyum kecil.


Dari jawaban itu cewe sudah sangat bisa gw pastikan dia kagak berani bicara ngelantur setelah mendengar perkenalan diri gw.

__ADS_1


Gw tersenyum dalam diam, akhirnya duri di tengah jalan itu layu dengan sendirinya.


Selanjutnya akan lebih mudah ini jalan gw.


__ADS_2