Preman Campus

Preman Campus
PAGI HARI 2


__ADS_3

Setelah candaan kecil gua dan mbak Suci yang pagi-pagi datang ke rumah Jono, kami berdua duduk berhadap-hadapan di ruang tamu.


Mbak Suci tampak sibuk sendiri dengan rantang yang dia bawa dan membuat gua penasaran.


"Itu apa mbak di dalamnya?". tanya gua pelan.


"Yang namanya rantang ya isinya makanan Bimo, ini ada nasi.. Sayur asem-asem kambing dan ayam goreng". Mbak Suci menata makanan di atas meja.


"Kamu mau pindah makan disini mbak?".


"Makanan ini buat kamu Bimo, belum sarapan kan kamu? Tadi aku tanya sama ibu Jono kamu masih tidur, langsung saja aku kesini bawain kamu sarapan".


"Emang ketemu sama nyokap Mika kamu mbak? Dia kan lagi kerja".


"Kamu belum tau ya? ibunya Jono kan kerja di tempat aku.. Bantu-bantu di toko dan rumah". Mbak Suci menjelaskan.


"Oh seperti itu tapi kamu datangnya telat mbak, gimana dong?".


"Telat gimana maksud kamu Bimo?".


"Ya telat, aku kan udah makan.. baru aja selesai beberapa saat yang lalu, Tante kan tadi masak sarapan".


"Lho kok tidak bilang ya tadi dia sama aku? Padahal ikut bantuin masukin makanan ke rantang ini". Mbak Suci sedikit terkejut tapi hanya untuk sesaat saja.


"Mungkin saja dia kira aku belum bangun mbak dan juga mungkin Tante enggak enak cuma masak makanan sederhana jadi dia diam saat kamu kesini bawa makanan, padahal masakan Tante enak banget.. Tadi aja aku makan banyak". Gua bicara sambil flashback betapa nikmatnya sarapan gua tadi.


"Emang Tante masak apa buat kamu Bim, sampai segitunya kamu puji?". Mbak Suci tampak penasaran.


"Sayur asem dengan sambel terasi dan tempe tahu, sederhana tapi bikin nagih".


"Ternyata mbak salah mengira kamu Bim, aku kira kamu cuma mau makan daging aja.. Secara kan kamu enggak kekurangan apapun".


"Jangan samakan aku dengan tuan muda yang sok di tv-tv itu mbak, aku sih segala makanan bisa aja makan.. asal bersih dan tidak terlalu pedas".


"Lha terus makanan yang mbak bawa ini gimana? padahal mbak udah masak setelah subuh tadi.. masak aku bawa balik". Mbak Suci memandang gua dengan sedikit cemberut.


"Hehehehe lha gimana mbak? Perut aku juga udah penuh banget ini, lagian aku juga enggak tau jika kamu mau masakin aku, Jadi curiga ini". Gua tersenyum menyipitkan mata memandang mbak Suci.

__ADS_1


"Cu cu curiga a a apa? Ka kamu jangan salah paham". Dengan cepat dan terbata mbak Suci menjawab tanpa berani memandang gua.


"Hehehe, lucu lagi mbak kamu kalau lagi salah tingkah seperti itu.. ya udah deh berhubung mbak ku yang cantik udah dengan perhatiannya memasak, adik kamu yang manis dan penurut ini akan makan".


"Serius kamu mau makan Bim? Katanya udah kenyang... enggak usah kamu paksakan nanti malah sakit perut lagi". Mbak Suci menasehati tapi gua bisa liat sedikit senyum kecil dari bibirnya.


Kata orang perkataan wanita itu lain di mulut lain juga di hati, apa yang dia katakan terkadang tidak sesuai dengan apa yang hatinya inginkan dan sekaranglah samar gua bisa melihat dengan wanita depan gua ini.


"Tenang aja mbak, enggak banyak kok aku makannya.. Cuma mau cicipi seberapa lezat masakan kamu".


"Ya udah deh jika kamu maksa". mbak Suci tampak cuek tapi gua bisa tau dia lagi jaim sekarang padahal gua bisa liat jika dia sedang menahan senyum.


"Tapi aku enggak makan nasinya ya mbak, nasi kan dimana-mana hampir sama rasanya.. Enggak apa-apa kan?".


"Iya gak apa-apa kok, ini cepat coba sayur asem daging kambingnya". Mbak Suci memberi gua sendok berserta garpu yang dia selipkan di samping rantang.


Gua mengambil sendok dan segera gua ambil kuahnya.. "Hemmmm". Gua mencecap sambil merem seperti chef profesional yang lagi cicipi makanan.


"Gimana? Ke asinan ya Bim? Atau terlalu pedas?". Mbak Suci bertanya dengan raut wajah tegang.


"Sempurna mbak dan pas cocok dengan selera aku, kuahnya gurih tapi tidak berbau sama sekali, Keren ternyata mbak Suci jago masak juga". Gua memuji setinggi langit padahal ya rasanya biasa aja kek asem-asem kambing yang di jual di warteg.


"Iya mbak". Gua langsung menusuk daging dengan garpu.


"Gimana Bim? Keras gak?".


"Enggak kok mbak, lembut dan empuk banget dagingnya. Dua kali kunyah udah lumer dan bisa aku telan.. Benar-benar pandai memasak kamu mbak, udah bisa masuk MasterChef ini". Gua memuji lagi, memang benar empuk dan lembut sih dagingnya tapi empuk dan lembutnya sangat keterlaluan, makan daging seperti makan harum manis.. masuk mulut langsung hilang.


"Hehehe, MasterChef apa sih? Masak cuma hobi mbak aja kok.. lagian sayur asem kambing itu pertama kali aku buat dan menu baru yang sengaja mbak buat untuk kamu, kalau kamu suka nanti aku masakin lagi". Mbak Suci berkata dengan bibirnya yang selalu tersenyum.


Bentar-bentar menu baru dan pertama kali dia masak sayur ini? Gua bengong seketika dan bertanya dalam diam.


Jadi bahasa kasarnya gua dijadikan bahan percobaan untuk cicipi ini sayur yang baru pertama kali dia buat? Emang minta di ***** ini janda atu.. Percuma gua puji setinggi langit, kalau dia salah masukin bumbu atau bahan bisa mabok gua.


"Bim kok kamu malah bengong dan liat mbak seperti itu? ada apa?".


"Enggak kok mbak, cuma penasaran aja laki-laki beruntung mana yang akan cicipi masakan kamu tiap hari".

__ADS_1


"Apa sih kam Bim? laki-laki apa? jangan ngaco ah". Mbak Suci salah tingkah lagi, "Kamu juga coba itu ayam gorengnya".Mbak Suci mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya mbak tapi ini bukan pertama kali juga kamu goreng ayam kan?". Gua bertanya memastikan.


"Ya bukan lah Bimo, pertanyaan Kamu aneh banget".


Loe itu yang aneh, sayur asem-asem kambing uji coba loe kasih ke gua, Teriak gua dalam diam lagi.


Agar mbak Suci kagak curiga segera gua ambil paha ayam goreng dan gua makan perlahan.


"Gimana Bim?". Untuk ke sekian kalinya janda depan gua bertanya dengan ekspresi berharap, tentu saja berharap minta pujian dan tentu saja bakalan gua kasih.. Pujian ma gratis.


"Seperti yang aku duga sebelumnya mbak, walau tampilannya sederhana dan tidak meyakinkan karena ada berbagai bagian yang gosong tapi soal rasa bisa bersaing ini dengan ayam KFC atau Kentucky".


Bukannya senang gua puji, mbak Suci malah tampak cemberut.


"Kenapa mbak? ada yang salah dengan pujian aku?".


"Pujian kamu seperti sindiran Bim, bilang aja enggak enak sekalian.. Kalau ada yang gosong kenapa kamu makan?". Mbak Suci menyilangkan kedua tangannya di dada dan melihat ke samping sambil masih cemberut.


Kalau gua kagak makan loe bakalan tambah sedih janda! Ribet amat sih loe.. Apa semua cewe kek gini ya? Laki-laki jujur salah, bohong pun salah.. memang kagak ada yang benar kita kaum laki-laki di mata para lobang berjalan, lagi gua hanya bisa bicara dalam diam.


"Terkadang yang berbeda itu yang lebih spesial mbak, walau gosong sedikit tapi kwalitas rasanya tidak bisa diragukan lagi.. Menurut aku sih ini mirip seperti kamu mbak".


"Jadi sekarang kamu samakan aku dengan daging gosong Bim? Jahat banget sih".


"Bukan begitu mbak maksud aku mirip itu, walau status kamu janda tapi aku nyakin kwalitas rasa dan pengalaman kamu tidak diragukan lagi.. Kan tadi aku bilang yang berbeda terkadang itu yang lebih spesial". Terkadang gua bangga dengan isi otak gua yang sangat ahli dalam mencari solusi ngawur.


"Gila? Adik gendeng?". Mbak Suci langsung memaki tapi dengan senyum, ekspresi cemberut nya udah minggat entah kemana. "Tau dari mana coba kamu, sok tau". Mood Mbak Suci tampak balik lagi.


"Aku enggak tau sih mbak, maka dari itu..


"Maka dari itu apa?!". Mbak Suci memotong omongan gua dan menunjukan kepalan tangannya.


"Maka dari itu makanan ini kita taruh di dapur aja biar dimakan Mika dan Mila saat pulang sekolah nanti, gimana enggak apa-apa kan?".


"Hehehe, pinter banget kamu ngeles Bim.. ya udah biar aku taruh di dapur Jono saja". Mbak Suci menata lagi makanan di rantang.

__ADS_1


Dia berdiri dan berjalan ke belakang dengan pandangan gua yang fokus ke pinggulnya yang terlihat masih sangat kencang.


Otak gua langsung traveling dengan telapak tangan yang berasa gatal pengen mengelus itu pinggul janda.


__ADS_2