Preman Campus

Preman Campus
HITAM, JANGKUNG DAN PENDEK


__ADS_3

Suara besi berdenyit terdengar dan pelan-pelan wahana Biang lala ini mulai bergerak berputar lagi membawa gw dan Bianca untuk kembali ke daratan.


Tepat 2 jam gw terjebak sama Bianca di sini dan sekarang akhirnya bisa keluar.


Ada kesel dan senangnya terjebak di wahana ini. Kesel karena harus menunggu lama dam senang karena banyak kejadian tak terduga selama 2 jam ini.


Yang paling berkesan dan bagian senangnya adalah melihat dan mengintip Bianca pipis di depan gw dan tentu saja ciuman mesra kami berdua tadi yang buat klepek-klepek.


Disaat gw dan Bianca turun dan kembali menginjakkan kaki di tanah, bapak penjaga loket tiket sudah ada di depan kami.


Dia menatap gw aneh dan tersenyum melihat gw yang kagak pakai baju alias telanjang dada.


"Kenapa mas nya enggak pakai baju, biang lala saya tidak mas pakai untuk itu kan?". Dia bertanya dan curiga menatap gw dan Bianca.


Bianca cuma bisa menunduk malu di belakang gw.


"Untuk apa pak? tolong yang sopan dan tidak berfikir aneh-aneh. Baju saya basah, bapak kan tau sendiri tadi hujan lebat air masuk dari sisi samping dan terkena baju saya". Gw segera beralasan.


"Oh seperti itu maaf ya mas kalau perkataan saya menyinggung mas sama temennya". Si bapak langsung meminta maaf dan gw cuma mengangguk saja.


"Sudah kan pak, saya pergi dulu udah jam 10 malam juga. Pasar malam juga udah sepi". Gw beranjak berjalan dan menggandeng tangan Bianca.


"Tunggu mas?!". Bapak itu teriak dan berlari mengejar sampai di depan gw lagi.


"Ada apa lagi pak?". Sekarang Bianca yang bertanya dengan binggung.


"Ini neng uangnya saya kembalikan karena mesin kami tadi rusak dan membuat kalian berdua terjebak di atas selama 2 jam, pengelola pasar malam merasa tidak enak".


Bapak itu mengeluarkan uang yang gw kasih di awal untuk membooking wahana biang lala.


"Ambil saja pak, buat beli kopi sama temen-temen yang memperbaiki mesin tadi". Gw menolak.


"Iya pak di ambil saja itu sudah bukan hak kami lagi, kan mesin rusak tidak disengaja". Bianca menambahi.


"Serius ini neng? Terima kasih kalau begitu". Si bapak tersenyum bahagia.


"Kapan-kapan main kesini lagi ya mas!". Dia berteriak saat gw beranjak dan berjalan pergi.

__ADS_1


"Sayang kamu disuruh datang kesini lagi itu". Bianca yang berjalan di samping gw berbicara dengan senyum jail di wajahnya.


"Ogah! Sampai kapanpun kagak bakal aku main ke tempat kek gini lagi Bie". Gw menjawab dengan kesel dan mengerutu.


"Kenapa kamu trauma ya?". Bianca tertawa kecil.


"Bukan trauma lagi Bie, kamu ngerasain sendirikan kita terjebak selama dua jam di atas sana tadi. Pantat aku sampai jamuran rasanya walau dapat hadiah piring cantik pun enggak akan mau aku kesini lagi".


"Hehehe, mana ada masuk pasar malam dapat hadiah piring cantik. Tapi Sayang kenapa enggak ada yang jual baju ya? Udah tutup semua".


Gw melihat sekeliling pasar malam dan benar penjual baju udah kagak ada.


"Mungkin karena hujan tadi Bie jadi pada tutup lebih awal, liat aja ini tempat udah sepi tinggal segelintir orang doang".


"Terus gimana sayang kamu mau pulang telanjang dada seperti ini?".


"Heeei!! Kalian abis ngapain hah?!".


Sebelum gw menjawab pertanyaan Bianca, suara pria terdengar dari samping kiri.


Auto gw dan Bianca menengok ke sumber suara.


3 orang yang memakai sarung dan kupluk berwarna putih yang dari awal melihat Bianca dengan pandangan mesum.


3 orang yang hampir gw ajak adu nyawa disaat mereka bersiul dan menghina gw di awal gw sampai sini tadi.


Sekarang mereka berjalan dengan sok gagah menghampiri gw dan Bianca, dengan pandangan tajam yang diarahkan ke gw.


Mereka berhenti sekitar 8 meter di depan, gw dan Bianca saling memandang dengan bingung.


"Kenapa kamu tidak jawab hah!". Pria berkulit hitam yang berdiri di tengah kembali berbicara dan nunjuk gw.


"Kamu kenal sama mereka sayang?". Bianca tampak biasa saja dan tidak takut.


"Enggak Bie, aku kan pertama kali datang kesini mana aku kenal". Gw menjawab pelan.


Kami berdua juga memandang mereka bertiga yang sok kenal banget.

__ADS_1


"Malah diam saja kalian, kalau ditanya itu dijawab!". Pria jangkung samping kanan membetak.


"Mungkin mereka merasa berdosa dan malu". Pria pendek samping kiri ikut berbicara.


"Maaf apa kalian berbicara sama saya?". Gw mencoba sopan karena dari cara pakaian gw nyakin mereka adalah penghuni pondok pesantren bokapnya Nissa yang kagak jauh dari dini.


"Kalau tidak bicara sama kamu, sama siapa lagi ha!". Pria hitam di tengah kembali berbicara dengan lantang.


"Kalian abis ngapain? ini dekat pondok pesantren berani-beraninya kalian berdua berbuat mesum disini!". Si jankung ikut berbicara menuduh gw dan Bianca tanpa bukti.


"Kita selesai main dan naik biang lala bukan berbuat mesum, tolong jangan memfitnah kami". Bianca bicara dan menjawab tanpa ragu.


"Kamu fikir kami buta hah! Liat itu pacar kamu yang telanjang dada, apa kamu fikir kami tidak liat perbuatan kalian waktu naik komedi putar!".


"Bang biasa aja ngomongnya jangan bentak cewe gw kek gitu! kalau kita berbuat mesum emang apa urusan kalian?!". Gw langsung tersulut emosi dan menarik Bianca kebelakang tubuh gw.


"Jadi urusan kamilah wilayah dekat pondok pesantren kami kalian buat berzina!". si pria janggung tampak emosi dan membantah ucapan gw.


"Terus apa urusan gw sama pondok pesantren kalian? Tau aja kagak gw! Kagak usah munafik lu pada. Gw diem aja saat kalian bersiul tadi dan ngehina gw sekarang lu pada fitnah gw, mau lu pada apa sebenarnya?!".


"Kalian harus diarak keliling kampung karena sudah berzina dan itulah hukuman untuk kalian". Si pria pendek bicara dan tersenyum sengit.


"Bukan cuma diarak, kalian berdua juga harus ditelanjangi supaya sadar dan bertobat". Si hitam menambahi.


"Jika kalian tidak mau dan menolak jangan salahkan kami kalau kami kasar". Si jangkung mengancam.


"Kagak ada opsi lain ya selain di arak?". Pelan gw bertanya dan tangan gw sudah mengepal keras.


Mereka bertiga saling berpandangan untuk sesaat dan kembali menatap gw dengan aura mengintimidasi.


"Tidak ada kompromi itu adalah hukuman yang tepat untuk orang seperti kalian".


"Sayang cepet dong aku udah kedinginan ini". Bianca bicara dari belakang.


Auto gw menengok dan melihat Bianca karena kagak ngarti apa maksudnya.


"Cepet apa Bie?". Gw bertanya bingung.

__ADS_1


"Cepet kasih pelajaran sama mereka lah apa lagi, udah lancang gitu bicaranya dan tidak sopan". Bianca bicara enteng banget.


__ADS_2