Preman Campus

Preman Campus
SHINTA BUKAN DESY


__ADS_3

"Lebih nyaman dan aman pakai gamis yang tertutup seperti ini yah, kan di luaran sana berbahaya banyak orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan".


Jawaban Mbak Suci itu sangat menohok gua banget, gua bukan orang jahat cuma orang agak nekad aja dan juga bukan cari kesempatan melainkan pencari kesempitan sebuah lubang yang hangat.


Gua rasa semua cowo yang normal akan seperti gua, bagaikan kucing yang melihat daging empuk.. kagak mungkin cuma dipandang doang dan pasti akan langsung di sikat.. Naluri lelaki emang kagak beda sama nalurinya kucing walau dalam konteks yang berbeda.


"Apa mungkin kamu pernah mengalami hal seperti itu? Benar begitu? Bilang jujur sama Ayah". Ekspresi muka pak Siswanto langsung berubah dengan kumisnya yang tampak naik dan berkedut.


Tentu saja ekspresi gua juga berubah, berubah panik tentu saja.. Bisa di massa orang satu kampung gua Jika mbak Suci benar-benar buka mulut dan berbicara tentang apa yang terjadi di atas motor tadi.


Anjir! Kenapa situasinya berubah total kek gini sih? Bukannya abis moment erotis masuk ke komedi lagi kenapa malah langsung loncat ke horor? Keringat dingin udah gua rasakan mulai muncul di kening.


Suasana berubah hening, Pak Siswanto dan Jono senang menunggu jawaban dari mbak Suci.. sementara gua menunggu moment yang tepat untuk kabur dan balik ke Jogja.


"Apa sih Yah? Enggak kok mana mungkin Suci mengalami seperti itu, ini untuk jaga-jaga aja kan sedia payung sebelum hujan". Jawab mbak Suci datar.


Gua kagak tau dia lagi liat gua apa kagak karena saking grogi nya, gua langsung menunduk sejak tadi.


"Kamu ini buat Ayah takut aja, ayah kira kamu mengalami kejadian yang seperti itu.. Ya udah cepat berangkat ke Blora nanti keburu Diah pulang sekolah".


"Kita berangkat sekarang Jon?". Suara mbak Suci bertanya ke Jono.


"Lho? kamu ke kotanya sama Jono?". Sebelum Jono menjawab pak Siswanto memotong.


"Iya om saya dan teman saya mau nebeng Suci ke kota untuk ambil uang di ATM". Jono segera menjawab dan menjelaskan.


"Oh seperti itu, bagus kalau gitu.. Bisa tenang paman kalau Suci ada temannya.. Berarti kamu pagi-pagi sekali tadi ke rumah Jono ya? Mau ajak dia bareng".


"Seperti itulah yah, Jono kan teman aku dan juga dekat dengan keluarga kita jadi aku ingin bantu".


"Tapi kan tadi kamu keluar bawa rantang makanan? Kalau kamu ke rumah Jono, makanannya buat siapa?".


Gua masih menunduk dan mengaktifkan ilmu tak kasat mata dan dari suara nada bicara pak Siswanto, dia sedang tampak curiga.


Gua melirik ke atas sedikit dan benar saja bokap mbak Suci sedang menatap Jono lekat.


"Bukan om! bukan untuk saya makanannya!". Si kampret kek ada bensinnya itu dia punya mulut, bicara cepat banget dan lugas tidak mau jadi kambing hitam.


"Kalau bukan buat kamu berarti buat". Suara pak Siswanto menebak dan tidak di lanjutkan kalimatnya.


Gua yang sedang duduk melihat kedua kaki gua yang mulai geter sendiri, gua nyakin se nyakin-nyakinnya Jika saat ini pandangan pak Siswanto, Jono dan mbak Suci sedang melihat gua.


"Bim? Kenapa dari tadi loe diam dan nunduk aja sih, kenapa? sakit perut ya.. kebanyakan sarapan sih loe tadi". Jono bicara dan menepuk pundak gua.


Gua langsung mendongak, mau mengumpat ke si kampret yang malah bawa-bawa sarapan segala.. Kata mutiara dari kebun binatang yang sudah ada di mulut segera gua telan lagi karena tepat di depan gua pemilik kumis Gatotkaca dengan sorot mata yang mengintimidasi sedang menatap gua.

__ADS_1


"Sarapan?". Pak Siswanto bergumam pelan dan mulai memandang gua dan mbak Suci dengan curiga.


"Apa anak saya memasak dan membawakan makanan untuk kamu nak Bimo?".


pelan sih pertanyaan itu tapi di pendengaran gua rasanya kek lagi ngomong pakai toa masjid bokapnya mbak Suci.


"Bim ditanya itu kamu, cepat jawab". Si kampret malah seperti orang yang sedang berbahagia melihat keadaan gua, definisi sebenarnya dari menari di atas luka sahabat ya ini seperti sedang di tampilkan oleh kang tatto sekarang.


"Ayah? kenapa malah nakuti anak kecil gitu sih? liat itu dia sampai pucat gitu wajahnya.. makanan yang Suci bawa ke rumah Jono tadi itu untuk Mika dan Mila, apa sih yang ayah pikirkan?".


"Oh buat adik-adiknya Jono, ayah kira..


"Kira apa? jangan mengira-ngira deh". mbak Suci langsung memotong.


"Iya-iya ayah minta maaf tapi kamu juga harus minta maaf sama nak Bimo temannya Jono".


"Kenapa Suci yang harus minta maaf? Haruskan kan dia yang minta maaf sama aku". Mbak Suci tampak terkejut dengan omongannya sendiri yang keceplosan dan langsung menutup mulutnya.


"Nak Bimo salah apa sama kamu? Bukannya ini pertemuan pertama kalian ya?".


"Em itu tadi saat aku ke rumah Jono menaruh makanan dia ngorok kenceng banget dan buat aku takut". Jawab mbak Suci cepat tanpa berpikir kek nya itu dia.


"Apa?". Ayah mbak Suci tampak terkejut dan malah mulai tertawa pelan dia.


Jono yang tau mbak Suci bohong cuma diam saja dan tampak juga menahan tawanya.


"Emang dia anak kecil kok yah, kenapa harus Suci minta maaf?". mbak Suci kekeh menolak.


"Walau pun terlihat masih sangat muda nak Bimo ini udah mandiri dan berkerja juga mapan, buktinya dia bisa bantu Jono dengan masalahnya dan juga ayah dengar dia juga bagi-bagi uang kemarin sama warga, Jika orang seperti ini kamu panggil anak kecil ya tidak sopan". Pak Siswanto berbicara panjang.


"Bim emang loe udah kerja ya? Kok gua kagak tau?". Jono bertanya di samping gua, kagak tau serius apa kagak ini kampret.. Keknya sih mau nambah bensin dalam api.


"Udah om tidak apa-apa saya masih kecil kok emang seperti apa yang dibilang mbak Suci.. saya masih 19 tahun dan masih kuliah di Jogja". Jawab gua jujur yang langsung membuat bokap mbak Suci bengong.


"Lho? Masih 19 tahun dan kuliah?". Ekspresi bingung muncul di wajah pak Siswanto.


Gua hanya bisa tersenyum kecil dan mengangguk.


"Benar paman teman saya masih kuliah dan dia memang jauh lebih muda dari saya dan Suci". Jono yang udah waras kembali ikut bicara menyakinkan.


"Kalau masih kuliah dari mana nak Bimo bisa dapat dan punya uang begitu banyak untuk bantu kamu Jon?".


Sialan ini bapak-bapak kepo banget sih jadi orang, semoga aja Jono kagak buka identitas gua dan menjawab menang togel atau ngepet aja.


"Apa sih Ayah? dari tadi tanya terus enggak biasanya ayah seperti ini".

__ADS_1


"Ayah kan penasaran Suci dan nak Bimo tampak berbeda, ayah yang baru kenal aja bisa tau dengan sekali liat".


"Iya om teman saya ini memang berbeda dari yang lainnya dari namanya aja sudah sangat membedakan dari yang lain". Jono berbicara dan langsung gua pelototi.


"Udah deh Bim, biar cepat kelar dan langsung ke kota kita". Jono bergumam pelan yang tentu saja hanya gua yang dengar.


"Nama?". Pak Siswanto tampak belum mengerti.


"Teman Jono ini anak dari Idola ayah, udah gak penasaran lagi kan sekarang.. Yuk Jono kita berangkat keburu siang entar, kalau turunin ngobrol sama ayah aku bisa sampai nanti malam kamu disini". Mbak Suci yang tampak sudah BT berbicara.


"Bentar-bentar kalian jangan pergi dulu, Ayah masih belum paham".


Jono yang sudah berdiri langsung duduk lagi dia.


"Kalau gitu apa mungkin nak Bimo anak Desy Ratnasari?". Pak Siswanto berdiri dari duduknya dengan mata terbuka lebar menatap gua.


"Hahahaha, bukan paman bukan.. maaf saya tidak bisa menahan ketawa". Jono bicara dan memegangi perutnya.


"Lho kata Kamu tadi anak idola ayah Ci? idola ayah kan dari muda dulu Desy Ratnasari yang wajahnya mirip sama ibu kamu".


Mbak Suci juga tampak tersenyum dia saat ini mendengar tebakan ayahnya.


Cuma gua yang diam saja dari tadi dan entah mengapa mendengar tebakan Bokap mbak Suci gua rada kagak suka.. Nyokap gua kan Shinta Wiratama wanita tercantik di dunia dan yang paling sayang sama gua.


"Om nama saya Abimana Pramono". Gua langsung berdiri dan berucap tegas dan mantap.


"Tadi kan nak Bimo sudah bilang kenapa bilang la...." Pak Siswanto tidak melanjutkan kata-katanya dan dari ekspresi nya tampak menyadari sesuatu.


"PRAMONO! APA NAK BIMO PUTRA SEMATA WAYANG DARI RAMA PUTRA PRAMONO, PENGUSAHA MISTERIUS TERKAYA DI ASIA?!!!". dengan suara lantang bak petir bokap mbak Suci bicara dengan berteriak.


"hehe, iya om tolong biasa aja dan anggap sa..." kali ini kalimat gua yang terhenti.


"Ayah?! ayah kenapa Ayah?!". mbak Suci langsung panik karena ayahnya langsung tertidur jatuh di kursi setelah dengar gua bilang iya.


"Jon kenapa malah tidur itu bokap teman kamu?". Gua bertanya ke Jono yang juga tampak terkejut.


"ITU PINGSAN BEMO! BUKAN TIDUR! GILA LOE YA!". kali ini Jono yang membentak gua.


"Paman? Paman kenapa? bangun paman!". Jono langsung maju dan ikut panik.


"Ci seperti nya paman cuma pingsan lebih baik kita bawa ke dalam dulu".


"Iya". Mbak Suci langsung setuju.


"Bantuin Bemo! gara-gara loe juga ini, cepat bantu gendong".

__ADS_1


"Oh iya Jon". gua yang belum ngeh kenapa bokap mbak Suci pingan nurut aja dan membantu.


__ADS_2