Preman Campus

Preman Campus
SINGAPURA


__ADS_3

Nyet kenapa lu berdua pada bengong! kesambet lu pada? kenalin ini bunda gw". Gw berbicara menyadarkan 2 anak cebong yang otaknya berlari entah kemana.


Mereka langsung tersentak dan terseyum canggung.


"Sayang kok temennya dipanggil monyet, jangan gitu dong". Bunda menegur gw.


"enggak apa-apa kok bunda, mereka senang Bimo panggil seperti itu. Kalau bunda bawa kacang coba aja lempar ke mereka. Pasti langsung bahagia".


"Hehehe, bisa saja anak bunda". Bunda tersenyum mendengar celotehan gw.


2 anak cebong terlihat cemberut menatap gw tapi itu tidak lama, mereka kembali tersenyum memperkenalkan diri.


"Selamat siang juga tante dan om". Reza menyapa Ayah dan Bunda.


"Nama saya Reza Rahardian. Saya kenal Abimana sejak pertama kali masuk Campus, pertama bertemu saya sudah kagum dengan kebaikan hati putra tante dan om, dan sejak saat itu sebisa mungkin saya berusaha untuk menjadi temannya".


Kagum dengan kebaikan hati gw? bukannya saat pertama kali bertemu gw ngumpati ini bocah ya dan hampir gw jadikan samsak tinju. Pinter banget ini pangeran Madura berbicara.


"Oh iya terima kasih sudah mau berteman dan menjaga anak saya yang bandel ini". Bunda bicara melihat Reza.


Udin melihat Reza dengan tatapan persaingan yang begitu dalam dan gw lihat ini anak kagak mau kalah dari Reza untuk memberikan kesan baik di hadapan Ayah dan Bunda gw.


"Selamat siang juga om dan tante yang terhormat". Udin menyapa


Kek nya ini anak mau pidato deh, bukan mau memperkenalkan diri. Gw membatin dalam hati.


"Perkenalkan nama saya Udin, saya juga sahabat dari Abimana. Saat Putra tante dapat masalah saya akan selalu menjadi orang pertama yang akan menolong dan membatu, karena saya dari kampung dan tidak punya saudara disini. Saya sudah menganggap dia saudara kandung saya sendiri. Maaf jika saya lancang".


"Oh tidak kok, tidak lancang sama sekali. Saya malah berterima kasih jika nak Udin mau menjaga Bimo disini". Bunda tersenyum termakan dengan kata-kata melas cebong no 1.


Bisa-bisanya ini anak ngibul kek gitu, jadi orang pertama yang nolong gw saat ada masalah? bukannya ini anak yang larinya paling kenceng ya saat gw dikeroyok sama panitia ospek. Emang penjilat paling berbakat ini kek nya si Udin.


Reza cemberut karena melihat Bunda yang tersenyum ke Udin, kelihatannya ilmu ini bocah masih di bawah kakak cebongnya.


"Jagoan? ceritakan semuanya apa yang terjadi disini, jangan ada yang kamu tutupi dari ayah". Tiba-tiba bokap berbicara dan membuat suasana menjadi hening kembali.


"Ayah bicara apa sih enggak ada apa-apa kok".


"Kamu jangan berbohong, saat teman kamu video call. Ayah bisa lihat kamu bersimbah darah dan itu bukan karena operasi".


"Apa benar sayang yang dikatakan papa kamu?". Bunda ikut berbicara


Gw hanya diam dan melihat Udin, gara-gara ini bocah video call bokap jadi serba salah gini gw.


"Sayang kok diem? Bimo jangan takut dan cerita sama Ayah dan Bunda".


"Iya jagoan, supaya ayah bisa selesaikan dengan cepat jika kamu ada masah disini".


"Tuan Rama ini hanya salah paham saja". Tiba-tiba pak Amir berbicara dari belakang.


"DIAM..!! saya tidak bicara sama kamu!". Bokap langsung berubah garang saat pak Amir berbicara.


"Iya tuan, maaf..maaf jika saya telah lancang". Pak Amir langsung minta maaf dan menunduk.


"Papa sabar dulu, biar Bimo berbicara".


Ayah hanya diam, terlihat dia sangat serius menatatap gw. Dan mau tidak mau gw pun mulai berbicara.


"Bunda, ayah sebenarnya seteleh operasi pertama Bimo berhasil ada sedikit insiden disini".


"Insiden apa sayang".

__ADS_1


"Bimo berantem bunda".


"Berantem? kamu kan habis operasi kok berantem?".


"Sama siapa?!". Ayah langsung bertanya to the point.


"Sama dokter disini". jawab gw singkat.


"Dan masalahnya?!".


"Wanita". Jawab gw singkat sambil menunduk.


"Sayang? kamu ini ya benar-benar nakal tapi bunda bangga sama kamu, kalau boleh tau siapa nama wanita itu?". Bunda terlihat penasaran sama Putri dan melupakan anaknya yang sakit ini.


Segitunya ya pengen cepat-cepat gw bawain mantu.


"Ini bukan seperti yang bunda fikirkan, namanya Putri dan dia adalah dokter yang mengoperasi Bimo Bun".


"Bunda tau sekarang Pria itu cemburukan kan saat kamu dekat sama Putri itu?".


"Iya bunda dan dia nyolot dan bicara kasar sama Bimo, ya Bimo gelut aja".


"Kamu ini memang persis seperti papa kamu, tidak berfikir dua kali jika ingin melakukan sesuatu".


"Dimana Dokter itu?". Ayah kembali bertanya.


"Maaf tuan, dokter itu sudah saya pecat". Budi bokap Putri memberanikan berbicara.


"Kamu siapa?".


"Saya direktur Rumah Sakit ini tuan dan juga Ayah dari dokter yang Bernama Putri". Budi berbicara sambil menunduk takut.


"Dipecat saja tidak cukup! berani-beraninya dia menyentuh jagoan saya, cabut lisensi dokternya!".


"Bagus! Dan terus apa lagi yang terjadi di sini? saya nyakin anak saya tidak menceritakan semuanya".


Mampus bakalan tambah rame ini kalau bokap tau gw diborgol dan dicaci maki sama bokapnya Putri.


Suasana kembali hening tidak ada yang berbicara, bokap Putri dan pak Amir pun terdiam. Mereka berdua sama-sama resah dan gelisah.


Bokap Putri melihat gw dengan raut wajah ketakutan, mungkin dia berfikir gw akan cerita soal makian dan hinaan yang dia lontarkan ke gw.


"Papa cukup!" Bunda tiba-tiba berbicara.


"Dia adalah ayah dari teman Bimo sekaligus yang mengoperasi anak kita, Papa jangan gegabah ya?". Bunda mengingatkan


Ayah hanya diam tapi sorot matanya masih tajam menatap Budi dan Amir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bimo sayang sekarang kamu ikut bunda sama Ayah ya?".


"Ikut kemana bunda? Bimo kan lagi sakit ini, enggak boleh jalan-jalan dulu".


"Kita ke Singapura sayang!".


"Bunda aneh-aneh saja deh, ngapain kita kesana?".


"Jagoan keluarga kita punya Rumah Sakit disana dan itu lebih maju dari Rumah Sakit kampung ini". Ayah bicara dan menghina.


Bokap Putri hanya mengangguk ketakukan seakan-akan mengakui rumah sakit miliknya ini adalah Rumah Sakit kampung.

__ADS_1


"Iya sayang, kamu pasti akan cepat sembuh disana. Bekas jahitan kamu pun nantinya bisa hilang sepenuhnya dengan alat-alat medis yang lebih modern". Bunda bicara menjelaskan.


Gw bingung saat ini dan bertanya-tanya dalam hati. bukan pertanyaan soal luka gw ini, tapi pertanyaaan sejak kapan keluarga ini punya Rumah Sakit di negeri singa itu. Sebenarnya seberapa kaya sih bokap dan nyokap gw ini.


Dulu gw yang kagak pernah penasaran sama ini entah kenapa jadi kepo banget sekarang.


"Sayang mau kan pergi kesana sama Ayah dan Bunda? 2 teman kamu juga boleh ikut kok agar kamu enggak kesepian selama perawatan".


"Cak kelihatannya dirimu memang harus kesana deh, biar cepat sembuh dan kembali sehat. Singapura kan terkenal akan Rumah Sakitnya. Apalagi ini Rumah Sakit kamu sendiri, pasti pelayanannya terbaik". Reza tiba-tiba ikut berbicara dan berpendapat dengan raut wajah yang tampak bahagia.


"Iya Bim, kesehatan kamu adalah yang utama, Singapura juga bagus pemandangannya. Siapa tau di suasana yang damai dengan pemandangan indah kamu bisa lekas sembuh". Udin ikut berpendapat.


Emang minta ditimpuk 2 cebong ini banyak banget akalnya bilang aja pengen ke luar negeri gratis, pake mikirin kesehatan gw segala dan bawa-bawa pemandangan indah.


"Terima kasih kalian berdua sudah bicara dan menyakinkam Bimo, kalian memang teman yang perhatian".


Reza dan Udin tampak senang saat sipuji sama Bunda.


"Gimana sayang kamu mau kan ke Singapura?". Bunda bertanya sekali lagi.


Gw masih diam dan melihat Reza dan Udin yang mulutnya komat-kamit seperti berdoa.


Pengen ngakak gw liatnya, sampai segitunya ini dua anak cebong pengen ke luar negeri. Jika gw nolak pasti bakalan dibajiri umpatan ini nanti gw sama 2 cebong ini.


Kalau gw terima susah juga karena banyak hak yang harus gw lakukan disini.


"Pasti lama kan Bimo disana bunda? kuliah Bimo bagaimana entar?".


"Kamu tenang aja Jagoan, biar Ayah yang atur semuanya dan kamu jangan banyak alasan. Ini semua untuk kesembuhan kamu".


"Benar kata papa kamu Bimo, Bunda juga mau resmikan butik pertama bunda di Singapura, bunda akan tenang jika kamu ada di sisi bunda".


"Emang kurang ya Bun, Butik bunda kan udah ada di seluruh indonesia kenapa masih buka lagi? di luar negeri lagi. Nanti bunda capek".


"Bunda cuma meresmikan saja sayang semua sudah ada yang ngatur dan mengelola. Bunda ingin Butik bunda di kenal di seluruh dunia".


Sungguh Ambisius sekali ini nyokap gw kagak salah jika dia cocok sama Ayah.


Ya udah Bimo nurut aja apa kata Ayah dan Bunda tapi Bimo enggak mau lama-lama disana".


"Tenang saja jagoan mungkin cuma seminggu kamu sudah sehat kembali dan hilang itu bekas jahitan di perut". Ayah berbicara.


"Nyet lu berdua nyakin mau ikut gw ke Singapura?".


"Nyakin!". Jawab Mereka berdua dengan lantang, cepat dan bersemangat.


"Emang lu berdua punya paspors dan bisa ngurus visa?".


Mereka berdua langsung terdiam seribu bahasa, raut wajah kesedihan mulai tampak di wajah dua anak cebong.


"Kalian berdua tenang saja, cukup dengan temani putra saya saja. Semuanya akan saya urus". Bokap berbicara membawa angin segar bagi duo cebong.


"Terima kasih om". Mereka langsung bahagia dan bersemangat kembali.


"Jagoan kita langsung menuju ke bandara saja, sudah ada pesawat pribadi disana dan kita tinggal berangkat".


"Ayah sama bunda kapan siapin ini semua? kok cepat banget?".


"Sayang sejak teman kamu video call papa kamu, papa langsung memersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi". Bunda menjelaskan.


Gw kagak bisa ngomong apa-apa lagi, pasrah aja ini dan pergi ke Singapura. Itung-itung nyenening 2 anak cebong yang kagak pernah main jauh.

__ADS_1


"Biarkan saya masuk! saya teman pasien di dalam! saya mohon biarkan saya masuk".


Suara familiar terdengar dari arah pintu dan disana gw lihat Putri dengan memakai pakaian yang masih sama saat mengantar bubur ke gw, Dihandang pengawal bokap yang berada di depan pintu.


__ADS_2