
Gw masih berjalan santai mendekati live drama yang berjudul. Suami istri dan 2 pebinor di depan sana, sambil menghabiskan rokok yang tinggal beberapa sedotan lagi, gw fokus melihat ke depan.
Di depan sana ada 1 orang pria yang begitu sangat marah dan emosi saat tau istrinya disentuh oleh 2 anak cebong.
Cuma disentuh tangannya aja udah kek anjing kepanasan itu orang, bagaimana jika disentuh bagian tubuh yang lainnya, mungkin akan berubah jadi Hulk dia.
Udin masih berdiri tegak dan terlihat tidak gentar sama sekali, dia melindungi Reza dibelakang yang mentalnya sudah ciut sejak tadi.
"Kalian patahkan sendiri tangan kalian atau saya yang akan patahkan! berani-beraninya binatang dan kotoran seperti kalian menyentuh istri saya!".
Muka Udin langsung terlihat pucat seketika dan Reza semakin mengigil ketakutan saat pria itu berbicara dan mengancam mematahkan tangan 2 cebong.
Gw berjalan cepat, berani-beraninya itu orang mau sakiti peliharaan yang selalu hibur gw disaat gabut, walaupun ujung-unjungnya gw emosi tetap saja hari-hari gw kagak membosankan saat ada 2 anak cebong itu.
"Ehemm! assalamualaikum!". Gw berteriak memberi salam dan berjalan mendekat ke arah 2 cebong yang langsung melihat gw dengan mata berbinar penuh bintang.
Mungkin mereka melihat gw bak dewa penolong yang baru loncar dari langit dan mendarat di depan mereka.
Gw memberikan senyum lebar ke Reza dan Udin.
Pria itu langsung menatap gw tajam dan melihat gw dari ujung kaki sampai ujung rambut, begitu juga dengan sang wanita yang dari tadi menunduk takut. Melihat gw juga dengan tatapan bingung.
Tenang neng abang Bimo datang. Gw sekilas melihat wanita itu dan bicara dalam hati.
"Cakkkk!!". Reza berteriak dan melompat ke dalam pelukan gw sambil menangis tersedu. Hampir aja gw kejengkang karena ditabrak badan ini bocah. Kagak bilang dulu kalau mau minta peluk.
"Bim! Bimooo!". Udin kagak kalah histerisnya dan ikut memeluk gw.
Gw udah memprediksi ini bakalan terjadi dan gw pasrah aja di peluk sama mereka. Biarlah mereka tenang terlebih dahulu baru gw maki entar.
"Cup-cup-cup! udah-udah jangan pada kek anak kecil kalian".
"Cak, kenapa dirimu lama sekali cak! diriku ketakutan sejak tadi". Reza curhat di pelukan gw.
"Gua kira loe bakalan diam aja Bim liat kita dianiaya". Udin yang matanya mulai basah berbicara pelan.
"Gw diam karena pengen liat mental kalian nyet! kagak gw sangka digertak dikit gitu aja udah mengkerut batang kalian berdua".
"Kamu jahat cak! jahat!". Reza menepuk-nepuk dada gw.
"Iya Bim, loe tega dari tadi cuma lihatin kita saja!". Udin penepuk-nepuk punggung gw.
"Tadi kan sudah gw larang lu berdua nyet untuk kenalan sama betina ini, lu berdua pada kagak mau dengerin gw. Ya ini akibatnya jika lu pada sembrono".
"Mana kita tau cak dia punya pawang yang serem seperti itu?".
Alasan aja lu berdua, udah ah lepas!". Gw mendorong mereka berdua menjauh.
"Za? kampret lu! ingus lu di baju gw semua anjing!". Gw mengumpat saat liat baju depan gw ada ingus yang mengalir.
"Maaf cak, anggap aja itu pewangi baju dirimu". Anak Madura bicara dengan entengnya sambil mengusap wajahnya.
Dia berhenti menangis dan terlihat tenang karena ada gw disini.
__ADS_1
"Bim, apa yang loe lihat disini nanti lupakan semuanya?". Udin bicara pelan
"Maksud lu apa nyet?"
Udin diam saja dan memperlihatankan muka sedih seperti mau bunuh diri aja ini bocah.
"Za kakak lu kenapa? tadi keren bisa lindungi loe!".
"Kak Din ngompol Cak?". Reza menjawab dan menunjuk celana Udin.
"Bang5at! biadap kalian, teman kagak tau diuntung!". Gw langsung mengumpat marah.
Karena gw liat dari jauh sejak tadi, kagak tau kalau ini bocah ngompol. Gw tarik lagi kata-kata gw yang muji dia berani tadi.
Sama aja 2 cebong ini yang satu nanggis dan yang satu lebih parah lagi karena ngompol, Benar-benar suram ini masa depan mereka berdua.
Pelan gw liat celana Udin untuk memastikan dan benar saja tercetak genangan air di celana depannya, gw pengen lempar itu bocah ke danau rasanya biar sekalian mandi.
Jadi 2 manusia ini peluk dan lumuri pakaian gw pakai ingus dan air kencing, kesalahan besar gw datang kemari mending pergi aja tadi.
"Bim Peluk lagi Bim!". Udin bicara dan merentangkan tangannya.
"Iya cak, peluk lagi dan beri kita kekuatan!". Reza ikut merentangkan tangannya.
"Peluk mate lu pic3k! kagak!". Gw dorong mereka berdua menjauh.
"Geli gw nyet lu peluk mulu, harus mandi kembang tujuh rupa ini nanti gw. Najis karena ingus dan ompol kalian".
"Kamu siapa ha?! datang-datang ikut campur! mau jadi jagoan kamu!".
"Saya teman mereka berdua mas, kalau boleh tau ada apa ini ya?". biasa kata pembuka basa-basi dulu.
"Kamu buta ya! saya tau kamu dari tadi melihat kesini!".
"Masnya tau ya? Jadi malu saya diperhatikan, tapi maaf saya masih suka wanita mas".
"Kamu bego apa gila ha! kelihatannya kamu sama gobloknya dengan dua teman kamu itu! binatang dan kotoran".
"Kalau teman saya ada salah tolong dimaafkankita selesakain dengan baik-baik dan musawarah untuk mufakat.
"Cak dirimu mau calon lurah apa camat? pakai ngomong musawarah segala dirimu".
"Iya Bim, jangan aneh-aneh, celana gua udah basah banget ini".
2 anak cebong yang berdiri dibelakang gw berbicara dan berbisik.
"Kamu mau saya memafkan binatang dan kotoran itu? Gampang itu, tapi biar saya pinjam dulu tangan mereka berdua untuk saya patahkan!". Dia tersenyum penuh kemenangan.
"Boleh silahkan saja tapi gw juga boleh kan pinjam mulut lu untuk buang kotoran, kebelet boker gw!".
Suasana hening wajah pria itu merah padam karena emosi dengan ucapan gw.
Dan sang betina pun terlihat terkejut mendengar gw yang bicara blak-blak an.
__ADS_1
Sementara dua cebong berdiri di belakang gw dengan gagahnya, menatap pria di depan tanpa rasa takut, setalah mendengar gw bicara nyolot ke pria di depan itu.
Mungkin mereka merasa sudah aman saat gw sudah berada di sini, jadi mereka begitu jumawa.
"Ha-ha-ha-ha! sungguh lucu! sangat lucu". Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kamu minta apa tadi! hei! bocah sungguh berani kamu bicara seperti itu, sudah bosan hidup kamu hah!". Dia melotot dan menatap tajam gw.
"Ya berani lah, jadi selingkuhan bini lu aja gw berani, masak hadapu sampah rendahan kek lu aja gw takut".
"kamu dengar kan dia mau jadi selingkuhan kamu?! bagaimana? jadi bersemangat kan itu lubang jal*ng kamu". Pria itu bicara dan merendahkan istrinya lagi.
"Mas kita pergi saja kita bicara berdua si tempat lain mas, aku mohon sama kamu!".
"Plaaak!!".
"aaacccgh! sakit mas".
Pria biadap itu menampar istrinya lagi.
"Jangan harap aku akan pergi sebelum mematahkan tulang-tulang mereka!". Dia bicara dan kembali menatap kami bertiga.
"Jangan mengira saya akan takut dengan kalian bertiga, saya adalah tentara yang sudah terlatih, lawan sepuluh orang pun tidak akan gentar". Dia bicara dengan sombongnya.
"Cak gimana ini cak, dia tentara ternyata". Reza bicara dari belakang.
"Iya Bim, kita kabur aja gimana?".
Gw diam aja saat 2 cebong dibelakang gw bicara, bakalan kagak kelar-kelar ini entar kalau mendengar ocehan mereka.
"Kenapa emangnya kalau lu tentara! dibacok juga bakalan berdarah lu!". Gw bicara tanpa rasa takut.
Pria itu tampak terkejut karena gw kagak takut dengan intimidasi yang dia lancarkan.
"Bagus-bagus! ternyata punya nyali juga kamu banci!". Dia mencemooh.
"Lu yang banci babi! cuma bisa sakiti cewe doang".
"Ha-ha-ha! saya jadi bersemangat untuk merobek mulut kamu!". Dia bicara dan terlihat siap melesat ke arah gw.
"Gw juga bersemangat untuk injek batang lu biar kagak bisa berdiri lagi!".
"Bang5at! jangan panggil saya Doni jika saya tidak buat kalian lumpuh disini!". Dia mengumpat dan menyebutkan namanya.
"Iya nanti lu gw panggil Merry kalau gitu, jika batang lu udah gw lepas dari tubuh lu itu".
"Mampus kalian bang5at!". Dia langsung berlari ke arah gw dengan emosi dan amarah.
"Mas jangan mas!!". Wanita itu berteriak saat suaminya melesat maju ke arah gw dan dua cebong yang langsung mundur kebelakang mereka.
"Lu yang bakalan gw buat mampus babi!!". Gw pun melesat maju menerima tantangannya dengan senang hati.
"Prakkkk!!!". Suara dua tinju saling berbenturan.
__ADS_1