
Kalimat permintaan yang di ucapkan Putri itu begitu sangat merdu gw mendengarnya, sekarang gw kagak perlu cari alasan untuk merahasiakan hubungan ini karena Putri udah memintanya terlebih dahulu.
"Bimo kok diam? Jawab dong, kamu enggak suka ya dengan permintaan aku?". Putri tampak kawatir terlihat dari ekpresi wajahnya.
Suka put, suka banget malah. Itulah jawaban gw dalam hati saat ini.
"Permintaan kamu aneh Put, apa kamu malu ya pacaran sama aku? Hingga mau kamu sembunyikan hubungan kita". Saat ini gw menutupi sorak-sorai dan mempertanyakan permintaan Putri.
"Sedetikpun aku enggak malu Bimo, malah kalau bisa aku ingin mengabarkan sama dunia kalau kita adalah sepasang kekasih. Aku minta seperti itu karena mempertimbangkan segala kemungkinan". Putri mengutarakan ap yang dia fikirkan.
"Kemungkinan apa?". Gw bertanya karena ingin mendengar alasan yang akan dia katakan.
"Yang pertama aku enggak mau Rumah Sakit heboh Bim, kamu tau kan pekerjaan aku. Jika hubungan kita menyebar pasti aku tidak bisa konsentrasi bekerja, apalagi beberapa orang di sini kan mengenal kamu dan juga ini soal Papa aku". Putri tampak gelisah dengan kata terakhir itu.
"Papa kamu, kenapa dia emangnya? Enggak suka ya dia sama aku? wajar juga sih kan kita pernah adu mulut dulu dan dia ngehina aku sampai bebusa". Gw mengingat moment saat itu.
"Bimo dengerin aku dulu, papa bukan enggak suka sama kamu. Dia malah sangat mendukung jika kita mempunyai hubungan spesial dan beberapa hari ini malah aku yang di desak mulu untuk dekati kamu dan ambil hati kamu".
"Serius Put!". Gw auto terkejut.
"Aku sama papa kamu kan musuhan, kenapa bisa berubah gitu dia? Udah tobat ya apa dapat hidayah?".
"Bukannya gitu Bim, papa itu orangnya sangat ambisus sekali. Setelah tau identitas kamu yang sangat mewah itu dia terlihat sangat bersemangat. Aku takutnya jika dia tau hubungan kita malah membuat aku jadi malu nanti sama kamu".
"Malu gimana Putri? Papa kamu suka salto di depan pacar anaknya ya? Apa tiba-tiba dia kayang?". Gw tersenyum membayangkan itu.
"Ihh Bimo aku serius ini! Jangan bercanda dong kamunya?". Putri langsung menggembungkan pipinya cemberut.
"Hehe, buat selingan aja Put. Serius mulu cepet tua entar kita, terus kenapa kamu bisa malu sama aku tentang Papa kamu itu?". Gw kembali ke topik utama.
"Kan tadi aku udah bilang Bimo, papa itu sangat ambisius sekali. Jika tau kita pacaran, aku takutnya dia akan meminta macam-macam sama kamu dan aku enggak mau itu terjadi, kamu mengerti kan maksud aku?". Putri memandang gw serius.
"Sedikit banyak aku mengerti Put, kamu enggak mau aku dimanfaatkan Ayah kamu kan?". Gw menebak.
"Kurang lebih seperti itu Bim, aku juga takut Papa dan Mama kamu tau dan jadi gak suka sama aku dan keluarga aku".
"Bukan Papa mama Put tapi Ayah Bunda". Gw mengoreksi.
"Sama aja kan Bimo".
"Beda dong, Ayah dan Bunda itu adalah panggilan resmi dari keluarga Pramono sejak zaman dahulu kala. Kamu harus biasakan itu jika nanti jadi mantu mereka".
"Bimo apa sih? Fikiran kamu terlalu jauh". Putri tersipu malu-malu.
"Hehehe, manis Put jika kamu seperti ini. Minta cium boleh?".
"Bimo, jangan godain aku terus.." Putri memalingkan mukanya, tidak kuasa melihat gw.
"Ya ampun, menggemaskan banget sih cewe aku". Gw menjulurkan tangan dan mengacak-acak rambut Putri.
__ADS_1
"Bimo jangan di acak-acak dong". Putri menutupi rambutnya dengan telapak tangan.
"Salah sendiri kenapa kamu gemesin kek gitu, aku kan jadi tergoda".
"Tergodanya nanti saja tuan muda Abimana, gimana ini kelanjutannya?".
"Aku sih hayuukk aja Put, tinggal nunggu kamu ini mau di sofa apa di lantai?".
"Kelanjutan permintaan aku tuan muda mesum, kamu malah aneh-aneh lagi fikirannya". Putri berucap sambil memukul pelan paha gw.
"Ok-Ok kita kembali ke topik utama sekarang, ngomong-ngomong sampai mana tadi kita?".
"Hongkong!". Jawab Putri cepat tampak kesel dia.
"Hongkong? Waahh pas kalau gitu dari dulu aku sangat pengen gelut sama Jacky Chan, songgong banget itu orang ngelawak mulu saat gelut di film".
BIMOOO!". Putri menatapi tajam gw.
"hahaha, iya tuan Putri kan kamu yang mancing bilang hongkong ya aku ngikut dong". Gw balas dengan senyuman tatapan tajam dia itu.
"Bimo kamu bisa serius gak? aku marah ini, kalau aku marah bisa nekad?". Putri mengancam.
"Haahahahaha". Gw langsung ngakak mendengar itu.
"Nekad kamu itu ngapain sih Put? Hahaha, lucu banget kamu. Apa kamu mau nekad guling-guling di lantai? Apa nekad makan cabe sekilo? Hehe, aneh-aneh aja kamu ini".
"Hehe, Ok karena aku takut dicakar sama kamu. Aku akan mengutarakan pendapat soal permintaan kamu itu".
Jadi gini Put, soal permintaan kamu itu ada benarnya juga. Kan kita yang menjalani hubungan ini dan aku rasa cukup kita berdua saja yang tau. Jika nanti keadaan memungkinkan baru kita bicarakan lagi untuk kedepannya gimana? Dan cari waktu yang cocok untuk memberi tau semuanya, aku akan mendukung semua yang kamu katakan tadi. Sejatinya itu aku serius kok orangnya, bercanda cuma ingin buat kamu tersenyum". Gw mengusap lembut pipi Putri.
"Jadi kamu enggak keberatan dengan permintaan aku itu?". Ucapan Putri berubah lembut kembali.
"Sama sekali enggak, jika ini untuk hubungan kita agar tidak terkena virus dan untuk ketenangan dan kenyamanan kamu, dengan senang hati aku mau merahasikan hubungan ini".
"Terima kasih udah mau ngertiin aku sayang". Putri memandang gw dengan senyum lembutnya.
"Ciee udah manggil sayang ni ya?". Gw menggoda.
"Memang enggak mau dipanggil sayang? Ya udah aku panggil Bimo aja kalau gitu".
"Mau dong mau banget malah, dalam hubungan kan panggilan sayang wajib. Bukan begitu Putri sayang?". Gw tersenyum genit.
"Emang pintar kamu merubah suasana, apa sih yang enggak kamu bisa sayang?".
"Untuk kamu aku bisa ngelakuin apa saja sayang". Gw berguman pelan dan menarik Putri masuk ke dalam pelukan gw.
Tidak ada penolakan dan perlawanan, sepertiya Putri juga menginginkan ini.
Kami berpelukan mesra dan saling mencari kehangatan dari satu sama lain.
__ADS_1
"Oya sayang kamu serius besok mau ke Blora?". Putri bertanya dan keluar dari pelukan gw.
"Serius sayang, besok berangkat subuh aku Kamu mau kan tolongin aku untuk ngejaga 3 teman aku itu?".
"Itu sudah menjadi pekerjaan dokter sayang untuk merawat pasien, kamu tenang saja".
"Thanks kalau seperti itu, bahagia aku punya cewe dokter seperti kamu. Oya sampai lupa". Gw langsung mengeluarkan dompet.
"Pakai kartu ini sayang untuk membayar kamar dan segala perawatan yang dibutuhkan untuk mereka bertiga". Gw menyodorkan kartu hitam dengan logo mahkota ke Putri.
"Apa sih enggak usah, udah aku urus semuanya kok buat teman kamu itu tidak perlu kamu membayar sayang". Putri mendorong kartu yang gw pegang.
"Kok malah jadi ngerepotin kamu gini? Enggak ah, aku ganti ya?".
"Seperti sama siapa saja kamu sayang, cewe kamu ini kan pemilik Rumah Sakit jadi santai aja dan juga ini RS swasta tidak mendapat dana dari pemerintah jadi tenang saja. Aku enggak menyalahi aturan kok". Putri menjelaskan lembut.
"Tapi kan tetap saja aku harus ganti uang kamu sayang, masak baru jadian kamu udah keluarin biaya banyak untuk ngerawat teman-teman aku". Gw kekeh tetap ingin menganti.
"Bimo sayang, jangan keras kepala deh. Cuma uang kecil aja kamu peritungin.. Aku juga ingin tampil keren di mata kamu, kapan lagi bisa sombong di depan putra mahkota hehehe".
"Hahaha, dasar kamu ini. Ok deh terima kasih kalau gitu. Kesombongan kamu aku terima tapi hanya untuk 1x ini saja, kedepannya harus aku yang ngeluarin duit buat kamu. Kan aku cowo, malu kalau dibayarin cewe aku mulu".
"Iya deh kedepannya aku akan membiarkan kamu untuk sombong dan pamerin yang kamu punya, aku akan menantikannya sayang". Putri tampak tersenyum bahagia.
"Oya sayang, besok kamu antar aku ke terminal ya? Aku mau naik bus soalnya".
"Iya besok aku antar dan bangunin juga saat sudah subuh, aku ada shif malam soalnya dan jadi dokter jaga UGD untuk malam ini".
"Jadi kamu enggak tidur dong?".
"Ini sudah jadi tanggung jawab pekerjaan sayang dan juga setiap habis shif malam besoknya aku libur kok, tenang saja. Aku dokter jadi bisa menjaga kesehatan diri. Kamu jangan terlalu kawatir ya?".
"Aku enggak bisa berkata apa-apa jika memang sudah seperti itu dan kamu bahagia menjalaninya, cuma satu pesan aku jangan terlalu memaksakan diri".
"Iya sayang aku akan ingat pesan kamu, jadi gimana kamu istirahat disini? Besok aku bangunin?".
"Aku di kamar sama 4 peliharan aku aja deh Sayang, siapa tau mereka kumat lagi entar dan nanggis tiba-tiba. Disini juga sendiri kan? Kamu pasti akan tinggalin".
"Ya sendirilah sayang, kan aku harus siaga di UGD. Ayo aku antar kamu ke atas". Putri berdiri dari duduknya.
"Enggak usah, capek nanti kamu. Kita berpisah di depan lift aja. Kamu jalan ke UGD dan aku naik ke atas". Gw juga ikut berdiri.
"Perhatian banget sih cowo aku, hehe". Putri mencubit pipi gw pelan dan kami saling bertukar senyum penuh kasih sayang.
Gw dan Putri berjalan keluar dan sesuai kesepakatan, jalan kami berbeda saat tiba di depan lift.
Setelah tiba dan masuk ke dalam kamar, gw melihat trio wek-wek masih tertidur pulas.
Gw juga langsung otw sofa untuk rebahan dan tidur, udah enggak sabar nunggu subuh dan ketemu si Jono. Lagi apa ya dia saat ini?
__ADS_1