Preman Campus

Preman Campus
HUTAN LEBAT


__ADS_3

Gua berlari mengikuti jejak si kampret dan gua baru tau jika Jono bisa berlari sangat kencang sekali, sepertinya punya bakat lari tersembunyi itu anak dan sangat cocok jika beralih profesi dari kang tatto menjadi jambret atau copet yang membutuhkan skill lari cepat.


Setelah beberapa saat gua berhenti lari bukan karena capek atau kebelet pipis tapi gua kehilangan jejak itu bocah, sekarang gua berada di pertigaan jalan dengan rumah padat penduduk dan gua merasa sangat asing di tempat ini.


"Sialan gua harus cari kemana ini rumah itu bocah?Jika salah jalan kan gua bisa kesasar dan bisa dituduh yang kagak-kagak sama warga kampung". Gua bergumam pelan sambil melihat ke sekeliling.


Gua menengok ke samping kiri dan melihat banner kecil di depan rumah bertulisan jual pulsa dan kartu perdana. Sepertinya gua harus cari clue dan bertanya ke arah mana rumah si kampret karena gua selalu berpegang teguh apa kata pepatah malu bertanya sesat di kamar janda.


Gua segera melangkah ke arah depan counter kecil yang sepi kagak ada pelanggan dan tanpa penjaga.


"Permisi! Permisi?". Gua bersuara memanggil.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki berat dari dalam rumah dan segera muncul pria bertelanjang dada dengan tubuh tinggi kekar bak binaragawan dengan kulit sawo matang dan kepala botak mengkilap, pandangan matanya tajam melihat gua dengan penuh selidik.


"APA?". Dia berucap dan menatap gua penuh aura intimidasi dan entah kenapa gua reflek langsung mundur ngeliat orang yang gua perkirakan berumur 35 tahun itu.


"Mas? kenapa malah dibentak sih pelanggan nya?". Suara langkah kaki terdengar bersamaan dengan suara wanita.


Tidak lama gua melihat seorang wanita yang juga muncul dari dalam rumah dan berdiri di belakang counter berdampingan dengan pria kekar.


Wanita yang juga dengan kulit kuning Langsat dengan muka yang terbilang manis khas wanita Jawa, gua perkirakan dia berumur sekitar 33 tahunan.


Kaki gua yang tadi mundur liat pria kekar seram sekarang maju dengan sendirinya setelah melihat itu wanita yang cuma memakai daster tipis putih menerawang yang samar gua bisa liat isi dalamnya.. Body itu wanita juga buat gua cenat-cenut kagak karuan, di desa pelosok gini ada yang saingi tubuh Aura Kasih, depan belakang sama besarnya.


Tanpa gua sadari ludah keluar dari mulut yang segera gua telan dan tanpa gua sadari pula.. Batang yang selama beberapa jam terakhir terlelap tidur sekarang kruntel-kruntel mulai bangun dan berdiri tegak membuat celana gua sesak dan menonjol.


"Hoi! Kamu liat apa?". Suara bentakan keras membuyarkan lamunan gua seketika.


"Saya tidak lihat apa-apa mas, mata saya kalau kalau sore gini agak rabun dan kurang jelas melihat". Dengan sedikit terbata gua segera beralasan menjawab.


"Emang kamu Ayam! punya mata rabun senja! Alasan saja.. Kamu pasti liat istri saya dan membayangkan yang tidak-tidak kan?". Pria kekar itu masih melotot melihat gua dan otot dadanya yang bergerak-gerak.


"Mas sudah deh, kamu cemburuan sekali jadi orang". Wanita dengan daster tipis itu segera menegur suaminya.


"Tapi sayang dia melihat kamu tanpa kedip tadi". Sang suami menjawab lembut melihat istrinya.


"Kamu jangan menuduh gitu mas, cepat minta maaf! Sebelum aku marah sama kamu".


"Tapi sayang?". tampak enggak.

__ADS_1


Adegan yang terjadi selanjutnya membuat gua geli dan ingin tertawa lebar karena, pria kekar itu langsung menunduk keder saat mendapat tatapan tajam dari sang istri.


"Iya sayang mas akan minta maaf". Pria itu langsung langsung tunduk dan menuruti apa kata sang istri.


Pria itu melihat gua lagi, pipi gua yang semula menggembung akibat nahan tawa segera gua buat normal kembali.


"MAAF!". Dengan suara nge bass dan jantan pria itu berucap meminta maaf, suara yang sangat berbeda dengan yang dia keluarkan saat berbicara dengan sang istri.


"Iya bang tidak apa-apa kok, cuma kesalahpahaman kecil aja". Jawab gua cepat sambil tersenyum ramah.


"Maaf ya dek suami saya memang cemburuan orangnya". Sekarang sang istri yang berbicara.


"Sayang kok dia kamu panggil dek? kamu kenal sama dia?".


"Mas bisa diam gak sih kamu? Enggak tau aku lagi bicara ini.. Dan juga dia kan terlihat lebih muda dari kita jadi wajar dong aku panggil dek, benar kan tebakan saya?". Wanita itu kembali menatap gua.


"Oh iya mbak saya belum genap 20 tahun jadi masih kecil dan pantas di panggil dek".


"Tu mas dengar kan kamu, dia lebih muda 15 tahun dari kamu.. Jadi orang jangan asal marah-marah kenapa sih?".


"Iya sayang maaf". Pria itu berucap parau dan kembali menunduk.


"Oya kamu mau beli pulsa ya dek? Ayo sini mendekat". Wanita itu melambai ke gua memperlihatkan ketiaknya yang mulus.


"Maaf mbak saya tidak mau beli pulsa, saya pendatang dan mau bertanya alamat". Jawab gua dengan malu-malu.


"Mas kamu disini saja dan renungkan sifat cemburuan kamu itu". wanita itu memberi perintah menatap sang suami dan sedetik kemudian menatap gua ramah.


"Oh seperti itu, mau tanya alamat siapa?". mendengar perkataan gua, wanita itu segera keluar dari belakang counter yang berada di dalam rumah, melangkah menghampiri gua yang ada di pinggir jalan.


Tadi saat itu wanita itu di belakang counter gua cuma bisa melihat dengan samar karena lampu di didalam rumah belum di nyalakan tapi setelah melihat itu wanita sepenuhnya tanpa menghalang berjalan keluar, rasanya gua mau jatuh terduduk seketika karena kaki gua yang tiba-tiba geter sendiri.


Bukan tanpa alasan, daster putih tipis yang dia pakai bergoyang melambai-lambai diterpa angin sore hari.


Asu! kagak pakai Daleman ini betina!. Gua syok mengumpat dalam hati karena melihat pemandangan yang familiar dari balik daster tipis itu.


Bagian bawah tembem banget hampir mirip seperti milik cewe gua Bianca yang membedakan cuma aksesoris yang ada di atasnya, Kalau Bianca polos sedangkan itu betina lebat dan hitam banget berasa ngelihat hutan Amazon gua saat ini.


Ya ampun! ini pemandangan apaan coba? ini kan gua masuk kampung Jono kenapa berasa masuk ke tempat lokalisasi gini sih.

__ADS_1


"Dek kok diam? Mau tanya alamat siapa kamu?". Setelah berada di depan gua wanita itu bertanya dengan santainya.


Gua kira dia tau dengan apa yang gua liat tapi dia tampak cuek dan samar gua juga bisa melihat senyum mencurigakan dari bibirnya.


"Oh iya mbak, saya mau tanya ini.. Kok bisa lebat banget gitu ya?".


"Apa? Apanya yang lebat dek? Katanya kamu tadi mau tanya alamat?". Dengan menahan senyum wanita depan gua berucap.


Dancok! gua mengumpat dalam hati lagi dan rasanya ingin gigit lidah yang kagak bertulang di dalam mulut, sangat sinkron sekali ini lidah sama otak gua.. Apa yang gua pikirkan itu yang lidah goyangkan.


"Oh itu mbak, hutan di sana itu lebat banget ya?". Gua menggerakkan jari dengan serius agak kagak salah tunjuk ke hutan lebat lainya di bawah pusar sana.


"Hehehe.. iya dek hutan mau masuk ke kampung ini memang sedikit lebat tapi aman kok di masuki". Sambil tertawa kecil melihat gua dia menjawab.


Aman di masuki? Ini betina lagi bahas hutan yang mana yak? Kenapa batang gua malah semakin tegak kek gini.. wah udah kagak bener ini, gua harus segera minggat dari tempat penuh godaan ini.


Suara motor matic terdengar berhenti dan fokus gua langsung teralihkan.


"Bimo ngapain kamu disini bukannya tadi kamu ngejar Jono?". Suara familiar terdengar memanggil nama gua dan itu adalah suara mbak Suci.


"Eh mbak.. Kehilangan jejak Jono aku dan ini mau tanya sama mbaknya ini". Gua segera menjawab.


"Suci kapan kamu pulang? Kok aku belum liat kamu".


"Baru 2 jam yang lalu aku sampai rumah mbak Rini". Jawab mbak Suci ramah.


Oh nama hutan lebat ini Rini. Gua bicara dalam diam dan mengangguk.


"Bimo kok kamu malah bengong gitu? Ayo sini ikut.. Kita ke rumah Jono barengan". Mbak Suci memberi perintah.


"Oh iya mbak". Gua segera menjawab.


"Mbak Rini maaf kalau saya sudah merepotkan saya pergi dulu".


"Iya kalau kamu mau beli pulsa nanti datang aja kesini, counter saya satu-satunya di desa ini".


Gua hanya tersenyum menanggapi dan segera berjalan ke arah mbak Suci yang masih duduk di atas motor maticnya dan segera gua naik duduk di belakang.


"Mbak Rini kami pergi dulu". Mbak Suci pamitan dan segera menarik gas, motor melaju belok kiri pertigaan.

__ADS_1


Hutan lebat selamat tinggal, jika ada kesempatan nanti gua mampir lagi untuk menjelajahi kamu. Gua juga pamitan dan tentu saja hati gua yang berbicara.


__ADS_2