
Taksi melaju pelan dan berbelok masuk ke mimi market. "Mbak kita sudah sampai". Sang sopir taksi mematikan mesin mobil dan menegok ke belakang dan tersenyum melihat Bianca yang ada di pelukan gw.
"Iya pak". Jawab Bianca biasa saja dan tidak malu sama sekali.
"Sayang kamu tunggu di mobil saja, aku belikan kamu minum. Kamu mau minum apa?". Bianca masih dengan perhatiannya.
"Kopi dingin kalengan aja Bie". Gw segera memberi tau apa yang ingin gw minum.
"Cuma itu aja? gak mau yang lain camilan misalnya?".
"Aku enggak suka camilan, jika ada buah manggis aja aku mau".
"Sayang ini kan mini market mana ada buah manggis, aneh-aneh deh kamu". Bianca cemberut mendengar keinginan gw.
"Ya udah minum aja kalau gitu, kamu serius berani sendiri enggak mau aku antar?".
"Sayang ini cuma mini market masak ke mini market aja minta kamu temenin, aku enggak semanja itu tauk".
"Ya udah cepat gi masuk, aku tunggu di sini jangan lama-lama".
"He em". Bianca mengangguk membuka pintu taksi dan keluar.
Gw amati cewe gw yang berjalan pelan menutu pintu masuk mini market.
Di depan sana gw liat 2 orang pemuda yang sedang duduk di depan mini market berpakain punk dengan vespa butut di depan mereka menatap Bianca dengan mata kagak kedip.
Mata keduanya mengikuti langkah dan goyangan pinggul cewe gw yang berjalan masuk ke mini market.
Gw fokus menatap mereka yang terlihat masih sangat muda dengan umur gw perkiran sekitar 16 sampai 17 tahunan.
Pakaian kumuh terlihat kagak pernah dicuci dan juga rambut acak-acakan, terlihat sekali mereka hidup di jalanan.
Gw mau muntah saat melihat vespa rongsok mereka yang dimodifikasi sedemikian rupa dan ditempeli benda-benda aneh, gw liat ada BH dan CD betina juga yang nempel disana.
"Mas beruntung banget ya punya pacar perhatian dan penyanyang seperti mbaknya". Supir taksi membuka perbincangan di saat gw fokus melihat 2 orang pemuda di depan sana.
"Kita memang baru aja jadian pak dan masih anget-angetnya". Jawab gw sekenanya.
__ADS_1
"Masa muda memang indah mas, saya dulu juga menikah muda di umur 22 tahun saya kira menikah itu adalah akhir ternyata setelah saya menjalaninya itu hanya awal".
"Awal dari apa pak memangnya?". Gw bertanya dengan rasa ingin tau.
"Awal dari semua tanggung jawab mas, saya sebagai pria harus berkerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan rumah tangga, awal dari hilangnya kebebasan seorang pria dan awal untuk menjadi pria sejati". Jawab supir taksi yang gw belum tau namanya itu.
"Bukannya tugas pria memang seperti itu ya pak kalau sudah menikah? Kebahagian keluarga adalah no 1".
"Iya mas memang seperti itu tapi saya ingin menasehati mas nya jangan terburu-buru untuk menikah sama mbaknya itu kalau belum mapan secara finansial, itu bisa jadi masalah nantinya seperti saya ini".
Gw pengen ketawa dengar nasehat dari supir ini tapi gw tahan. "Iya pak terima kasih atas nasehatnya".
"Sama-sama mas, itu pacar mas sudah keluar dari mini market". Dia nunjuk Bianca yang membuka pintu keluar.
Gw liat 2 pemuda punk kumal itu dengan kagak tau malunya berjalan dan menghadang jalan Bianca.
Gw liat cewe gw sedikit terkejut disaat salah satu dari mereka mengulurkan tangannya.
Gw kagak denger apa yang dikatakan mereka tapi yang pasti mereka terlihat ingin berkenalan sama cewe gw.
"Mas kelihatannya mbaknya di ganggu itu mas!". Supir taksi menunjuk ke arah depan.
"Iya pak saya tau!". Gw buka tas dan mengambil pisau ibu kantin yang belum gw kembalikan dan gw taruh di balik baju.
"Mas kok diem dan santai gitu! Kasian itu pacarnya tampak ketakutan dan risih, ini tempat umum dan di dalam mini market pun banyak orang. Berani sekali mereka berdua bertindak seperti itu".
"Namanya juga orang kagak punya otak pak, mungkin mereka kagak pernah minum ASI dari kecil. Bapak tunggu di sini aja biar saya turun sebentar".
"Iya mas hati-hati kelihatannya mereka bukan orang baik". Supir taksi mengingatkan.
Gw kagak ngejawab dan langsung turun dari taksi berjalan beberapa langkah dan berdiri di depan taksi melihat Bianca yang masih di hadang jalannya oleh 2 pemuda yang sama-sama berambut mohawk cuma beda di warna doang merah dan biru.
"Sayang!". Bianca teriak memangil disaat di melihat gw tersenyum ke arah dia.
2 pemuda itu berbalik badan melihat gw terkejut dengan panggilan Bianca.
Bianca langsung aja berjalan cepat disaat perhatian 2 orang itu teralihkan.
__ADS_1
"Sayang kok kamu diem aja dari tadi dan enggak turun saat aku di gangguin?". Bianca cemberut saat sudah ada di samping gw.
"Ini aku turun Bie, mana kopi kalengan aku".
Bianca mengambil kopi dari plastik yang dia bawa, membukanya dan dia serahkan ke gw.
Tanpa peduli dengan 2 orang yang memandang gw remeh, gw tenggak 1 kaleng kopi dengan cepat.
Kandungan cafein dan rasa dingin buat gw seger dan melek seketika.
"Cantik! Itu pacar kamu?". Si rambut mohawk warna merah bertanya dengan nada meremehkan melihat gw dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Iya memang kenapa masalah buat loe!". Jawab Bianca ketus.
"Ya masalah dong cantik, wanita seperti kamu harusnya sama kita yang keren bukan sama pria udik seperti itu". Pria mohawk warna biru menjawab.
"Idihh! amit-amit, ngaca dulu loe sebelum bicara. Punya kaca gak?".
"Cantik pedes banget bicara kamu? Cowo kamu aja bisu gitu, hahahaha!".
"Bro mungkin cowonya ketakutan liat kita mungkin aja dia kencing di celana itu, hahaha!".
2 pemuda itu ngobrol dan ngatain gw dengan riang gembira.
"Sayang kok kamu diem aja dihina seperti itu? Enggak seperti biasanya kamu".
"Cantik pacar kamu takut itu sama kita liat aja mata nya yang mau nanggis gitu".
"Sini aja cantik nanti kita ajak keliling kota dengan vespa keren kita, sekaligus kita enak-enak di atasnya". si rambut merah mengedipkam satu matanya ke arah Bianca.
"Sayang! Ayo kita pergi aja, males ladeni sampah seperti mereka". Bianca memegang tangan gw dan dia seret untuk jalan ke pintu taksi.
"Iya pergi aja! dan bawa itu cowo loe biat di susuin emaknya biar enggak gizi buruk!". Hahahaha.
Bianca membuka pintu mobil, langsung gw dorong dia untuk masuk. "Tunggu bentar disini, biar abang olahraga bentar!".
Gw bicara dan tutup pintu mobil, berbalik dan berjalan ke arah 2 orang yang tertawa melihat gw.
__ADS_1