Preman Campus

Preman Campus
BABANG TAMVAN


__ADS_3

"Suara apapun yang lu berdua dengar nanti, gw harap kalian tetap disini dan percaya sama gw, sampai gw keluar dari sana". Gw bicara sama Reza dan Udin.


Mereka hanya mengangguk pertanda mereka paham dengan apa yang gw bicarakan.


Gw segera berjalan ke arah pintu masuk ruang wawancara penerimaan anggota baru Rohis ( Rohani islami).


Gw kagak nyangka bakal dapat diskriminasi kek gini, apa 2 orang yang di sebut Reza dan Udin itu udah tau gw?


Apa mungkin mereka adalah orang-orang yang liat gw mabok di parkiran atau orang-orang yang liat kebrutalan gw saat hantam para panitia Ospek?.


Atau mungkin jangan-jangan mereka dapat pesan dari pecun yang tadi debat sama gw untuk menghentikan sesi prekrutan anggota baru?.


Segala kemungkin dan pertanyaan ada di kepala gw tanpa gw tau jawabannya.


"Bruaaak!! gw tendang pintu berwarna putih itu dan langsung terbuka lebar.


Kali ini gw berjalan pelan masuk ke dalam.


"Permisi! assalamualaikum..!".


Tanpa ada jawaban gw langsung disambut dengan tatapan kaget 3 orang. 2 cewe dan 1 pria. 1 orang cewe gw udah tau kalau itu Nissa wanita yang buat heboh ini campus tapi untuk yang 2 orang itu kagak tau gw, mungkin mereka pentinggi di organisasi ini.


Gw berbalik dan gw tutup pintu yang gw dobrak tadi.


"Cklek!! Langsung gw kunci.


Gw melihat 3 orang yang masih berdiri bengong di belakang meja di depan sana.


Ruangan ini cukup luas di samping kanan dan kiri ada rak buku yang cukup besar dan ada sofa dan meja di sudut kiri.


Banyak lukisan bergambar wajah manusia berkalung sorban yang menempel di dinding, tapi gw kagak tau itu wajah siapa.


"Permisi! assalamualaikum!". Gw berbicara sekali lagi mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam". wanita yang bernama Nissa itu menjawab salam gw.


Sedangkan dua orang lainya menatap gw tajam.


"Ngapain antum disini?". Pria yang berada di tengah 2 cewe berbicara.


Gw lihat kebelakang ke kanan dan ke kiri. Perasaan gw masuk sendirian ke sini kagak sama orang yang bernama antum, udah gila apa itu orang.


"Loe ngomong sama gw? nama gw Bimo bukan Antum!".


Gw liat Nissa disana sedikit tersenyum, sialan apa yang lucu.


"Antum itu bahasa Arab dan artinya adalah kamu". Nissa bicara lembut menjelaskan.


"Oh seperti itu sorry kagak tau gw,belum pernah ke Arab soalnya". Gw sedikit malu tapi bodo amat emang bener gw kagak tau.


"Tadi loe berarti tanya kenapa gw disini kan?".


"Ya mau ikut mencalonkan diri jadi anggota Rohis lah bang! masak mau cari cabe-cabean gw disini".


"Antum yang sopan nya ini bukan tempat untuk orang tidak punya hati dan belas kasih seperti antum!".


Pria itu masih menatap gw tajam, rasanya pengen gw culek itu mata. Tapi ini amarah masih gw redam.


"Kenapa gw musti sopan, Lu sendiri yang dari tadi teriak-teriak mulu sama gw, dan benar gw tidak punya hati maka dari itu saya kesini! karena mau ambil hati cewe cakep disebelah elo bang!". Gw mengedipkan sebelah mata ke Nissa.

__ADS_1


Dan dia langsung menunduk, kali ini tidak beristifar dia saat bertatapan sama gw seperti di depan gerbang campus tadi pagi.


"Antum.!!! pria itu mengangkat tangan dan nunjuk gw.


"Satria sabar dulu jangan emosi seperti itu". Nissa yang dari tadi nunduk bicara ke cowok disebalahnya yang dia panggil dengan nama Satria.


Pantes songgong namanya aja Satria pasti nama panjangnya Satria Baja pink itu. Gw membatin


"Maaf Nissa aku khilaf, soalnya dia terang-terangan bicara tidak sopan dan berniat buruk sama kamu". Pria itu bicara halus banget saat ngomong dengan ketua Rohis cakep itu.


"Hei bang sat, yang punya niat buruk bukannya elu!".


"Apa maksud antum ha! niat buruk apa?!"


Pria bernama Satrio terlihat begitu marah terlihat dari mata dia yang mulai merah.


"Astafirlahalazim, tolong jaga berbicara. Jangan berucap kotor disini". Pertama kali Nissa bicara dan tatap gw.


"Bicara kotor apa? nama dia Satria kan?! kalau gw panggil bang satria kan kepanjangan, ya gw singkat jadi bang sat lebih simpel".


"Antum sungguh keterlaluan, terang-terangan memfitnah saya". Pria itu bicara mencoba menyudutkan gw.


"Kalau kagak terang-terangan terus gw musti bersandiwara gitu kek lu dan seperti cowo-cowo yang dari pagi ikut seleksi rohis".


"Apa maksud kamu? jangan fitnah kamu ya!". Betina satunya yang dari tadi diam ikut berbicara.


"Kalian kagak usah pada munafik dah, kalian pasti tau kenapa banyak orang yang ingin masuk rohis, kalau bukan karena ketua nya yang cakep, kalau kagak mana ada yang mau masuk sini, gw disini juga dengan alasan yang sama".


Mereka bertiga terdiam Nissa hanya menunduk dan 2 orang lainya menatap gw dengan aura yang kagak menyenangkan.


"Kita sudah tidak menerima pendaftaran lagi, cepat buka pintu itu dan keluar kamu dari ruangan ini!". Wanita yang gw kagak tau namanya berbicara lagi.


Gw cuek saja dengan usiran dari itu betina yang bernama Ana, gw masukkan tangan ke saku celana dan berjalan ke kursi kayu di depan mereka, tempat calon anggota rohis duduk untuk menerima pertanyaan seleksi masuk organisasi ini.


Gw duduk dengan santai. "Ngapain kalian bertiga pada masih berdiri, duduk gi anggap aja rumah sendiri". Gw bicara melihat mereka masih berdiri aja dari tadi.


Mereka tetap saja berdiri berasa kek bos gw duduk kek gini.


"Antum, masih berani ya duduk disana?! itu bukan tempat yang pantas di duduki untuk orang hina seperti antum!". Mulai pedes omongan ini bocah


"Terus orang hina kek gw musti duduk dimana? di kepala lu?! apa dipangkuan ketua rohis campus kita yang dari tadi nunduk saja itu?".


"Adek Nissa? babang tamvan tidak boleh duduk disini sama Bang Sat, dirimu mau pangku abang gak sebagai gantinya?" Gw mencoba menggoda Nissa.


"Ada banyak orang,kamu duduk disana aja". Dia menjawab gw dengan masih posisi menunduk.


Jawaban Nissa membuat 2 orang disamping dia terlihat terkejut termasuk gw, berarti kalau kagak ada banyak orang mau dong dia pangku gw.


Sialan padahal gw kagak pake pelet atau jaran goyang, kenapa ada aja cewe yang tertarik sama gw yang berwajah pas-pas an ini.


"Manusia Iblis, antum tidak tau siapa ketua rohis kita? dia bukan orang sembarangan yang bisa kamu lecehkan dengan mulut busuk antum itu!". Pria itu segera berbicara memecah keheningan yang sempat terjadi.


"Satria,kamu tenang dulu. Aku enggak apa-apa". Nissa bicara pelan


"Tu kan bang Sat, dia aja kagak apa-apa. Kok lu yang nyolot! kenapa emang lu iri kagak bisa narik perhatian dia walau jarak kalian sudah dekat lama?".


"Ngapain saya iri sama binatang ha?!".


Sumbu emosi gw yang pendek ini sudah mulai tersulut saat itu bocah sebut gw binatang.

__ADS_1


"Nissa kamu harus tau dia bukan pria baik-baik, semua kejadian mengerikan di campus kita terjadi karena ulah dia".


"Apa maksud kamu Sat?" Nissa menoleh dan bertanya.


Gw diem aja nunggu calon korban gw bicara, gw mau dengar dia mau bicara apa.


"Nis, kamu tau kan tragedi ospek kemarin di fakultas bisnis dan management? yang salah satu korbannya Bagas orang yang satu angkatan sama kita, dia adalah pelakunya".


"Bukan itu saja Nis, tempo hari tragedi di kantin dan lapangan basket yang menghebohkan itu,dia juga pelakunya". Wanita bernama Ana ikut bicara membahas semua medali emas cabang gelut yang gw lakukan.


"Kalian jangan menuduh, kalau benar seperti yang kalian bicarakan pasti dia sudah dihukum, tapi kenapa dia bisa disini jika bersalah?". Calon gebetan gw berfikir sangat logis.


"Benar Nis, aku berani sumpah! aku liat sendiri semua prilaku dia yang busuk".


"Plok..plok..plok!" gw bertepuk tangan.


"Jadi karena itu lu kagak beri kemsempatan gw untuk ikut masuk sini?".


Mereka bertiga melihat gw lagi.


"Ya jelas lah binatang tetap saja binatang, kamu tidak pantas berada di antara orang-orang baik seperti kita".


Sumbu emosi gw udah kebakar separoh ini satu hinaan lagi keluar dari mulut ini orang, berarti kembang api akan di luncurkan dan pesta akan segera di mulai.


"Apa semua yang dituduhkan sama kamu itu benar?" Nissa menatap nanar ke gw dan bertanya.


Gw berdiri dan memengang kepala kursi kayu erat.


"Iya benar sekali gw yang melakukan itu semua, tapi bukan berarti gw kagak punya alasan. Tindakan yang gw lakukan sudah tepat karena mereka adalah hama Campus yang pantas untuk diberi pelajaran".


Nissa akan bicara lagi tapi langsung dipotong sama betina yang bernama Ana.


"Alasan kamu aja pasti itu. Yang harusnya di beri pelajaran dan sekaligus di ruwat itu kamu supaya tidak buat onar dan menyakiti orang tidak bersalah terus".


Peganggan tangan gw di kepala kursi kayu ini semakin kuat.


"Benar itu antum adalah binatang yang sudah kerasukan iblis!".


"Nissa kamu bisa mejamkan mata sebentar gak? dan sedikit menjauh".


"Kenapa emangnya? Dia terkejut sama permintaan gw dan menunduk.


Kenapa lagi ini anak nunduk mulu.


"Binatang seperti kamu memang sangat tidak bermoral". Pria itu mendengus menghina gw lagi.


"Nissa sorry ya dan jangan takut, sumbu emosi gw udah terbakar semua ini".


Gw angkat kursi kayu dan.. "Wuuuusssshhhh!!!".


"Bruuuuaaaaaakkkkk!!!!!!".


Gw lempar tepat ke arah tubuh pria bernama Satrio yang berdiri di tengah-tengah dua wanita di depan gw.


Dia tidak sempat menghindar karena terkejut dan langsung jatuh kebelakang di ikuti kursi kayu yang gw lempar.


"Aaaaaaaa!!! wanita bernama Ana itu langsung berteriak histeris dan langsung berlari menjauh ke sudut ruangan.


Sedangkan Nissa masih bediri kek patung terlihar dia belum mencerna apa yang barusan dia liat.

__ADS_1


__ADS_2