Preman Campus

Preman Campus
RADAR


__ADS_3

Di tengah tatapan membunuh beberapa pria yang berada di cafetaria, gw duduk tepat di hadapan Putri yang masih bengong saja.


"Apa aku kebanyakan melamun jadi behalusinasi?". Putri berguman pelan, terkejut memandang gw. Dia beberapa kali mengucek kedua matanya untuk memastikan yang di lihatnya adalah nyata dan bukan fatamorgana.


"Makanan ini enggak kamu makan kan Put?". Gw menunjuk nampan di depannya yang masih penuh nasi dan lauk-pauk.


Putri kek orang bego hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil kagak kedip melihat gw.


"Ok gw makan ya?". nampan di depan dia langsung gw ambil dan tanpa menunggu lama gw makan dengan lahap.


"Hemmm.. Enggak nyangka makanan Rumah Sakit bisa lezat seperti ini, apa karena aku lagi laper ya?". Gw ngoceh sendiri sambil terus memasukan nasi ke dalam mulut.


"BIMOO!".


Putri tiba-tiba menyebut nama gw lantang buat gw yang lagi ngunyah makanan auto terkejut.


"Uhukk-uhukk! tersedak aku Put! Air mana air?". Gw gelimpungan memegangi tenggorokan menyambar botol Aqua di atas meja.


"Ini makanan aku, kenapa kamu makan? Ambil enggak bilang-bilang!". Putri menarik nampan di depan gw yang tinggal separuh isinya, dia kagak peduli itu sama gw yang megap-megap tersedak.


"Glukk-glukk". Gw tenggak air sampai habis setengah botol.


"Parah kamu Put, ampir aja aku masuk UGD main bentak aja. Kalau mau cari pasien ya kagak gini juga dong caranya". Gw berucap sambil menghapus air yang nempel di sudut bibir.


"Kamu yang ambil makanan aku enggak bilang-bilang, sejak kapan kamu duduk disitu kok aku enggak tau?".


"Bener-bener musti cuci muka kamu itu biar cepat sadar, aku kan udah duduk disini dari tadi dan juga udah minta izin makan itu. Apa kamu lupa tadi kamu nganguk-nganguk setuju?".


"Emang iya gitu?". Putri tampak linglung dan mengingat-ngingat.


"Malah tanya dia, kenapa sih kamu Put kok seperti orang kehilangan fokus gini. Ada masalah ya apa kurang minum air?".


"Faktor usia mungkin, aku kan udah tua". Jawab dia acuh tak acuh.

__ADS_1


"Ngajak bercanda ya kamu? kulit dan wajah kamu aja masih seperti Abg gitu, coba kamu lepas kostum dokter itu dan ganti sama seragam SMA pasti orang-orang akan kira kamu anak dibawah umur".


"Seperti itu ya?". Tanya dia masih dengan ekpresi datarnya.


"Iyalah seperti itu". Jawab gw mantap sambil tersenyum.


"Terus kenapa kamu panggil aku kakak kalau masih muda kan harus kamu panggil adek?". Putri tanpa basa-basi bertanya dengan wajah serius.


Put kecilin suara kamu, enggak malu kamu bicara kek gitu? Itu liat dilihatin banyak orang kamu, lagian kan tadi itu aku cuma bercanda dan jailin kamu kenapa jadi serius gini sih?". Gw berbicara pelan.


"Bercanda kamu enggak lucu". Putri menghiraukan tatapan orang dan masih saja cemberut.


"Iya enggak lucu dan aku minta maaf untuk itu dan enggak akan mengulanginya lagi, Oya kamu tau gak aku dari tadi cariin kamu muter-muter rumah sakit, liat ni keringat di baju aku seperti orang abis lomba lari marathon". Gw mengalihkan pembicaraan.


"Mau apa cari aku? Ada masalah dengan 3 teman kamu itu?".


"Kan tadi sore kamu ngajakin makan diluar ya aku cari kamu untuk itu, ehh gak taunya malah asik melamun disini kamu".


"Paling juga enggak serius kamu Bim".


"Enggak lucu". Putri menjawab dengan sinis.


"Kan aku lagi serius Put, lupa ya? Mana bisa lucu. Kamu mau aku ngelawak? aku juga bisa jadi orang terlucu di dunia jika kamu mau".


"Hehe, apasih enggak jelas.. Kamu mau pamerin keahlian bersilat lidah kamu ya?". Sudut bibir Putri terangkat sedikit dan gw langsung lega melihat itu.


"Nah gitu dong senyum, kamu kan lebih cantik jika tersenyum enggak cemberut mulu seperti tadi seperti orang yang belum gajian aja".


"Kalau kamu serius kan bisa telfon aku Bimo, ngapain cari muter-muter? Itu tidak menunjukan keseriusan sama sekali".


"Dokter Adinda Putri yang terhormat, tolong itu di cek dulu Hpnya sebelum menuduh saya". Gw menujuk Hp putri yang tergeletak di atas meja.


"Kenapa memang Hp aku?". Putri dengan cepat memeriksa dan tidak ada 3 detik dari awalnya terkejut melihat layar Hp sekarang dia tampak tersenyum canggung melihat gw.

__ADS_1


"Liat kan sekarang, berapa kali aku calling kamu tapi kamu abaikan. Sekarang yang tidak serius siapa aku tanya?". Merasa di atas angin gw jadi berani sekarang.


"Iya maaf enggak sadar aku, ini kan gara-gara kamu juga".


"Kok aku lagi? Kan kamu yang melamun dan enggak sadar aku caliing, enggak mau kalah banget sih".


"Hehe, ya kan aku melamun gara-gara kamu". Putri tersenyum memandang gw.


"Emang ya dimana-mana memang selalu cowo yang kalah dan selalu salah". Gw mengeluh pelan.


"Hehe nah itu kamu tau". Putri tampak senang banget ngeliat kepasrahan gw. "Oya kok kamu tau aku ada disini Bim, apa kamu nanya seluruh orang di Rumah Sakit ya?". Putri bertanya dengan menopang dagunya di atas meja memandang gw.


"GR kamu kagak lah! kurang kerjaan banget tanya semua orang disini, bisa bebusa ini mulut kan ada ratusan orang".


"Terus gimana ceritanya kok tiba-tiba kamu bisa muncul di depan aku?".


Tanpa menjawab dengan kata-kata gw menempatkan 2 jari telunjuk di atas kepala.


"Apa itu Kamu mau jadi banteng ya? mau nyeruduk aku gitu". Putri terkekeh pelan melihat kelakuan gw yang mungkin absurd dimata dia.


"Kan kamu tanya gimana cara aku nemuin kamu disini, ya ini jawabannya". Gw masih mempertahankan jari telunjuk di atas kepala.


"Aneh banget, kamu sakit ya? kok enggak nyambung banget gini. Gerakan apa itu?".


"Ini radar Put dan kuat banget ini". Jawab gw cepat.


"Hehehe, emang aku anak kecil Bimo bisa kamu bohongi dengan trik kecil gitu. Mana ada radar jari yang bisa menentukan lokasi". Putri mengelengkan kepalanya pelan, tampak gemas dia meliat jari telunjuk gw yang masih di kepala dan ngacung ke atas.


"Siapa bilang ini radar jari Put, kan aku belum selesai". Gw tenang berbicara.


"Terus radar apa itu?". Putri tampak penasaran.


Kedua jari gw turun dari atas kepala dan Putri tampak fokus melihat itu.

__ADS_1


Jari telunjuk kiri gw arah kan ke dada gw sendiri dan jari telunjuk kanan gw arahkan ke depan menunjuk dada Putri.


"Ini namanya Radar hati Put dan aku ciptakan khusus untuk menemukan kamu dimanapun kamu berada".


__ADS_2