Preman Campus

Preman Campus
SORRY BRO


__ADS_3

■Mood Diriku ancur guys😂 2× ngirim naskah hari ini ditolak mulu. terlalu vulgar katanya padahal kagak vulgar-vulgar amat. Gw nulis part ini dalam keadaan Bt, sorry kalau kagak sesuai ekpetasi kalian. Dengan terpaksa gw nulis apa yang disukai editor agar bisa up■


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kamar Bianca ini seakan-akan menjadi saksi bisu dari dosa yang kami berdua lakukan.


Mungkin kami sudah gila disaat orang lain hari pertama jadian akan malu-malu dan saling gengsi, gw dan Bianca disini tampil beda.


Bianca masih berada di atas badan gw, dengan ganas memberi tanda cinta di leher sebelah kanan.


Mungkin saat ini sudah banyak setan berkumpul di ruangan ini, bersorak sorai dan berpesta pora merayakan kemenangannya di saat berhasil mengoda dan menghasut kami berdua.


"Uuuhh.. Biee kamu ngapain?". Gw mendesah dan bersuara disaat tubuh bagian bawah Bianca bergerak, kue apem tembem yang masih terbungkus hot pant bergesekan dengan palu thor gw yang masih terbungkus celana.


Saat ini didalam tubuh gw sedang ada pertarungan antara nafsu dan akal sehat.


Nafsu untuk melanjutkan dan menikmati dosa ini sampai akhir dan akal sehat untuk menghentikan kegilaan ini.


Gerakan Bianca semakin liar kagak terkendali dibawah sana.


Dan akhirnya akal sehat gw unggul sementara akan nafsu.


Gw pegang pinggang Bianca dan dengan cepat gw bawa dia berguling ke kiri.


"Kyaahh!". Bianca berteriak kecil saat kita berpindah posisi dan gw sekarang ada di atas dia.


"Bimooo?". Dia memanggil nama gw dengan suara tertahan.


Gw segera bertumpu dengan kedua tangan dan sedikit menjauh tapi posisi masih di atas dia. Posisi gw saat ini persis seperti orang yang lagi push up dengan Bianca yang ada di bawah gw menatap gw sendu.


"Bie kamu tau kan apa yang kita lakukan ini salah?". akal sehat gw bersuara memberi wanita di bawah gw ini peringatan.


Bianca tidak menjawab melihat gw dengan sorot mata yang sulit gw artikan.


Dada dia gw liat naik turun beriringan dengan nafas dia yang mulai kagak teratur.


Pelan-pelan kedua tangannya menjulur ke atas, menyentuh dan mengelus muka gw pelan. Tidak lupa merapikan rambut gw yang mentutupi kening.


Gw merasa menjadi Ariel Noah saat ini, karena adengan ini persis sama saat Cut tari menyibak rambut Ariel ke belakang.


"Bimo kamu tidak akan meningkalkan aku kan?" Akhirnya Bianca bicara di saat tangannya mengelus lembut bibir gw.


"Bie aku janji selama kamu enggak meningkalkan aku terlebih dulu, Bimo akan selalu ada di samping kamu". Jawab gw jujur


"Aku sayang banget sama kamu Bim". Sambil menyakatan perasannya kedua tangan Bianca naik ke atas leher gw.


Pelan-pelan dia tarik wajah gw mendekati wajah dia.


Bianca memejamkan kedua matanya disaat jarak bibir kami berdua tinggal beberapa inci.


Nafsu gw yang dari tadi di tekan oleh akal sehat, sekarang berontak dan kembali membara menatang akal sehat gw kembali.


Dan kali ini Nafsu ini sedang berada di atas angin dan akal sehat mulai melemah di saat bibir gw sampai dan menempel erat di bibir ranum Bianca.

__ADS_1


"Emmmm!!".


"Uuuhhhh!!".


******* gw dan Bianca datang bersaamanan menikmati sensasi hangat yang menjalar di tubuh kami masing-masing.


Untuk sesaat bibir kami hanya saling menempel dan tidak ada pergerakan lainya.


Akal sehat gw kembali melawan berharap Bianca sadar dan menghentikan nafsu dan kegilaan kita berdua ini.


Tapi apa daya terkadang harapan tidak sesuai dengan keadaan.


"Bibir Bianca pelan-pelan mulai bergerak, *3***** Bibir gw pelan.


"Kriiuuukkk!!".


Disaat gw sudah pasrah akan keadaan dan mulai menikmati, suara aneh kembali terdengar dari perut Bianca.


"Cuup!!" Suara 2 bibir yang tadi menempel terlepas.


Gw langsung kembali ke posisi push up. "Bie jangan bilang itu tadi suara cicak yang lagi kentut".


"Bimooo!". Bianca berteriak dan seketika itu pula menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Isssh sayang malu-malu". Gw tersenyum melihat bianca yang menyembunyikan wajahnya.


Gw langsung bangun seketika dan merayap turun dari ranjang, merasakan gw yang bergerak Bianca yang masih terlentang menatap gw aneh.


"Bimo mau kemana?". Bianca bertanya lirih.


"Kemana lagi sayang ya turun ke bawah lah, temani kamu makan". Gw menjawab se datar mungkin.


"Bim kamu enggak mau disini sama aku dulu?".


Mendengar itu rasanya gw pengen loncat seketika ke atas ranjang lagi, tapi perasaan gw kagak enak. Merasa ada seseorang yang mengumpat saat ini.


Entah ini ilusi atau tidak sejak tadi gw mendengar suara pria yang terus saja mengumpat marah karena naskah dia hari ini 2x ditolak oleh editor.


Gw kagak tau itu suara siapa dan naskah apa yang dia bicarakan, tapi yang pasti karena umpatan dan makian dari dia. Nafsu gw telah padam dan saat ini sepenuhnya di kendalikan oleh akal sehat.


"Bimoo?". Bianca kembali memanggil nama gw manja.


"Bie aku sayang sama kamu, sayang banget. Tapi perbuatan kita ini tidak benar sayang, aku takut kita melangkah terlalu jauh disaat kita di kuasi oleh nafsu".


Bianca tampak terkejut dengan kalimat yang gw ucapkan. Pelan-pelan dia juga mulai beranjak dari atas ranjang dan turun berdiri di depan gw.


"Bimo?".


"Iya Bie".


"Terima kasih". Bianca berucap dan memeluk gw hangat.


"Terima kasih udah ngejaga kesucian aku di saat aku sudah hilang kendali". Bianca kembali berucap di dalam pelukan gw.

__ADS_1


"Aku yang harusnya berterima kasih Bie, karena suara perut kamu bisa mengalihkan nafsu aku".


"Bimooo!". Bianca berteriak dan keluar dari pelukan gw.


Bianca cemberut melihat gw dan gw tersenyum melihat itu.


"Ya ampun imut banget sih kamu, cewe siapa ini?". Gw menggoda Bianca dan mencubit pipinya pelan.


"Tauk!". dia menjawab cepat dan singkat.


"He-he-he, jangan ngambek dong sayang. Babang tamvan kan bercanda".


"Jangan godain aku terus sayang, kamu enggak lupa kan sama janji kamu?".


"Iya aku ingat kok, janji bawa kamu ke taman hiburan kan? Iya besok kita kesana".


"Enggak mau! Aku maunya sekarang". Bianca merengek kek anak kecil.


"Ini kan udah hampir menjelang sore Bie, bentar lagi juga tutup itu taman hiburannya".


"Kalau gitu kita ke pasar malam saja, aku tau tempatnya walaupun agak jauh".


"Serius kamu ajak aku ke pasar malam Bie?".


"Kenapa kamu enggak mau ya?". Bianca tampak sedih.


"Siapa bilang aku enggak mau, mau banget malah asal kamu senang aku juga senang".


"Terima kasih sayang". Bianca tersenyum cerah dan memeluk gw lagi.


"Iya apa sih yang enggak buat kamu". Jawab gw pelan sambil mengusap rambut Bianca pelan.


"Ya udah kita turun yuk, kita makan dulu. Ngisi tenaga buat bermain di pasar malam nanti".


Bianca menganguk pelan dan kami pun berjalan ke arah pintu.


"Tunggu Bie!". Gw berhenti berjalan saat sudah berada di dekat pintu.


"Kenapa lagi sih sayang?".


"Kamu ganti baju dulu sana aku tunggu di luar, kue apem kamu tercetak jelas itu".


"Bimo apaan sih". Bianca malah tersipu.


"Cepat sayang ganti baju dulu, aku tunggu di luar".


"Iya aku ganti baju". Bianca berucap pelan tersenyum dan melangkah ke ruangan pakaian.


Dengan cepat gw keluar kamar dan menutup pintu pelan.


Gw bersender di tembok dekat pintu, mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


Gw melihat kebawah tempat dimana batang gw berada dan berguman pelan. "Sorry bro telah mengecewakan elu".

__ADS_1


__ADS_2