
"Emmm.. Emmm..!". Bianca berontak saat gw teken kepala dia kenceng.
Nafas gw ngos-ngos an dan mata gw merem melek, karena akhirnya cro* lagi dengan bantuan mulut dan lidah cewe gw.
"Plaaakk!"
"Plaaakk!".
"Buggkk!".
Segala macam pukulan Bianca lancarkan ke perut gw, pipi dia mengembung dan bibirnya tertutup rapat bertanda masih di dalam mulut itu cairan.
Bianca cepat langsung turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi untuk yang ke dua kalinya.
"Bie telen aja Bie, enak itu banyak vitamin dan proteinnya". lidah gw bergoyang dan berbicara ngawur terus ini, mungkin efek dari senang dan bahagia jadi gw sedikit over.. Tapi wajarlah ya sebagai anak muda yang sehat dan pertama kali bercinta jadi agak gila dikit bisa dimaklumi.
Gw segera beranjak dan turun dari ranjang berjalan dan mengambil baju, cd dan celana yang langsung gw pakai.
Gw berjalan ke arah kulkas yang berada di sudut kamar Bianca, mengambil air minerel dan gw langsung berjalan menuju sofa, duduk dan membuka tas mengambil rokok menyulutnya.
Merokok setelah makan itu nikmatnya tiada tara tapi merokok setelah bercinta itu nikmatnya sungguh tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, setiap sedotan asap yang gw transfer dari mulut ke paru-paru membuat gw semakin rileks dan nyaman setelah mengeluarkan asap melalui hidung.
Gw minum air beberapa teguk dan senderan sambil nyebat, fikiran gw kosong saat ini.. dan cuma melamun doang sambil melihat asap yang gw hembuskan menghilang di udara.
Pintu kamar mandi terbuka setelah beberapa saat dan Bianca menampakkan dirinya.
"Sayang kok udah pakai baju aja kamu, enggak mandi malah ngerokok".. Bianca bertanya dan berjalan menghampiri duduk di sebelah gw.
"Mandi di kost aja aku Bie, udah hampir jam 4 sore juga.. Nanti keburu abang kamu balik lagi bisa dalam masalah nanti aku". Gw menjawab santai.
"Kakak kalau keluar itu baliknya jam 5 lebih sayang, jadi kamu enggak usah kawatir". Bianca berucap dan meraih air gw di atas meja, dia buka dan langsung Bianca minum.
"Udah terlanjur berpakaian ini Bie, mandi di kost juga enggak apa-apa biar langsung istirahat nanti supaya besok fit dan langsung cabut Blora".
"Terserah kamu aja kalau gitu, apa kamu mau aku antar sekarang?". Bianca menawari.
"Enggak usah Bie, kan jalan kamu masih aneh gitu nanti malah banyak orang yang curiga". Gw menolak.
"Lha terus kamu gimana balik ke kostnya sayang?".
"Kan ada siapa itu sopir dibawah tadi itu?".
"Joni?". Bianca menjawab cepat.
"Iya Joni, bisa diantar dia kan?".
"Bisa aja sih tapi kamu ke Bloranya gimana? Mau diantar Joni juga besok?".
__ADS_1
"Enggak usah Bie, batalkan saja rencana itu.. Aku mau naik bus aja dan berangkat subuh sepertinya lebih nyaman naik bus, jika diantar Joni nanti malah ngobrol terus di perjalanan".
"Berangkat subuh? Emang kamu bisa bangun subuh sayang?". Bianca tersenyum tidak percaya.
"Bisalah Bie kan bisa pasang alarm nanti, gampang itu ma bisa diatur". Jawab gw pelan sambil menyedot rokok.
"Ya udah kalau seperti itu kamu besok hati-hati naik busnya, udah tau rutenya kan kamu sayang? Dari Jogja ke Blora?".
"Iya udah tau dari Jogja naik Bus ke Solo dari Solo ke Purwodadi dan dari purwodadi ke Blora".
"Iya itu rutenya sayang dan juga jangan lupa bawa uang koin kamu nanti kalai naik bus".
"Koin? Buat apa? Masak aku kamu suruh aku bawa receh gitu". Gw menolak cepat.
"Ih sayang dengerin dulu, kan kamu bukan naik bus patas.. Jadi nanti pasti banyak pengamen di dalam bus, gunanya uang koin ya buat itu". Bianca menjelaskan.
"Aku enggak pernah kasih uang ke pengamen sayang, apalagi kalau yang ngamen anak-anak muda paling anti aku kasih uang ke mereka".
"Kalau yang ngamen anak-anak atau orang tua sayang, gimana? Kamu tetap gak mau ngasih?".
"Itu sih tergantung Bie, tapi kenapa kita jadi ngomongin pengamen gini sih? Enggak ada bahasan lain apa?".
"Hehehe, bahasan apa sayang". Bianca tertawa kecil memandang gw.
"Bahas apa gitu, oya ngomong-ngomong gimana tadi rasanya?". Gw bertanya dan mengedipkan satu mata menggoda Bianca.
"Hehe, masih pakai malu segala kamu sayang udah terjadi juga. Tadi kamu telen apa kamu muntahin?". Gw mencolek lengan Bianca.
"Sayang apa sih, enggak ada pertanyaan yang lain apa?". Bianca masih memalingkan wajahnya.
"Aku kan pengen tau Bie, enggak ada orang yang denger ini.. Gak apa-apa dong aku tanya gitu sama cewe aku sendiri".
"Aku akan jawab tapi nanti kamu juga harus jelasin aku tentang sesuatu". Bianca berbalik dan memandang gw.
"Jelasin apa?". Perasaan gw kagak enak dengar itu ucapan Bianca.
"Ada pokoknya, aku jawab pertanyaan kamu dan kamu beri aku penjelasan tentang sesuatu". Bianca tersenyum penuh arti.
"Iya sesuatu itu apa dulu?".
"Rahasia dong, kamu setuju dulu dengan kesepakatan kecil ini".
"Serius ini kesepatan kecil Bie? Dari senyum kamu itu kok aku jadi merinding ya?".
"Hehehe, cuma perasaan kamu aja itu sayang.. Gimana? Deal kan?".
Gw memandang Bianca penuh curiga, apa coba yang mau dia minta jelasin? Antara takut dan penasaran gw saat ini.
__ADS_1
"Ok deal! sekarang gimana tadi? Kamu telen apa kamu muntahin? Harus jujur lho ya, enggak baik bohongin pacar sendiri". Gw memperingatkan.
Bianca langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, "tertelan separuh sayang". Bianca berguman pelan banget tapi gw bisa dengar dengan jelas itu.
"Serius Bie?! Gimana rasanya?". Gw jadi bersemangat dengar pengakuan Bianca.
"Harus aku jelasin ya sayang, mesum banget pertanyaan kamu". Bianca masih berguman dan malu menutupi wajahnya.
"Sama cewe sendiri ini, gak apa-apalah sayang.. Jawab dong pengen tau aku". Gw mendesak Bianca untuk bicara, rokok yang masih separuh gw buang di lantai dan gw injak karena di kamar Bianca kagak ada asbak.
"Asin dan sedikit gurih". Bianca berguman dan langsung memunggungi gw, mungkin terlalu malu dia.
Gw pengen ketawa tapi sebisa mungkin gw tahan saat ini, ternyata benih gw akhirnya masuk ke perut Bianca juga.
Tadi saat kami beradu mekanik walau gw cro* berkali-kali tapi selalu gw muntahkan di luar dan kagak berani di dalam.
"Udah Bie ngapain kamu malu? Aku seneng kok dengarnya, sini!". Gw menarik Bianca untuk menghadap gw lagi.
Gw raih kedua tangannya yang menutupi wajah. "Jangan sembunyikan wajah cantik kamu Bie". Gw mengusap pipinya lembut.
Mata kami saling bertemu dan wajah Bianca yang memerah terlihat jelas, dia tersenyum kecil memandang gw.
Gw senderan lagi di sofa dan langsung gw peluk bianca dari samping, pipinya senderan di pundak gw.
"Sekarang giliran aku sayang?". Bianca bertanya.
"Iya kamu mau minta aku jelasin tentang apa?". Gw menjawab selembut mungkin sambil mengusap rambutnya.
"Pertama-tama aku mau tanya, kamu bohongin aku ya sayang?". Bianca bertanya sambil nusuk perut gw dengan jari telunjuknya seperti orang yang ngambek.
"Deg!". Perasaan kagak enak gw semakin terasa, tapi gw mencoba untuk tenang dulu.. Bisa semakin curiga nanti Bianca kalau tau gw panik, setidaknya gw harus tau dulu apa yang akan dia ditanyakan sehingga nanti gw bisa memberikan jawaban terbaik.
"Bohong soal apa Bie? Bisa lebih spesifik gak? Biar aku tau dimana salah aku dan biar bisa beri kamu penjelasan". Gw menjawab dengan tenang, menyembunyikan perasaan gw yang ketakutan.
Ada kemungkin saat gw tertidur tadi Bianca periksa Hp gw, jika memang itu yang terjadi pasti pertanyaannya akan buat gw keluar dari sini dalam keadaan babak belur.
Pelan Bianca keluar dari dalam dekapan gw dan dia langsung duduk tegak, memandang gw penuh curiga dan menyelidik.
"Bie? Aku takut kalau kamu pandang kek gitu sayang, aku bohongin kamu apa sih sebenarnya?".
"Itu yang ada di belakang tubuh kamu sayang, aku tadi melihat dengan sangat jelas tauk".
"Belakang tubuh aku? Apa sayang enggak ngerti aku sumpah! Bohong apa sih?".
"Bunga mawar berserta tangkainya di sisi kiri dan sali* di sisi kanan, kamu bilang enggak punya tatto? Terus itu apa gambar di kedua bokong kamu? Bisa gak kamu jelasin motif dan alasan kamu buat tatto itu di bokong?". Bianca berucap santai banget sambil mengulum senyum.
Gw berubah bego plus melongo saat ini mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir Bianca.
__ADS_1
Anjing! Kenapa gw bisa lupa sama itu aib, mengumpat dalam hati gw saat ini... Musti gimana coba gw sekarang.