
"Temen loe Jon?". Gua berbisik dan bertanya dari belakang karena pria yang mendekat itu memanggil nama Jono.
"Sul?". Jono menanggapi menjawab pelan, tidak ada raut wajah terkejut dari Jono yang seakan-akan dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Jon namanya bisul ya? Kocak banget". Gua menahan tawa di belakang punggung Jono.
"Samsul Bim, udah loe diam saja jangan bergerak dan bicara, biar gua yang ngomong. Pura-pura jadi patung aja loe". Jono bergumam pelan.
"Iya dah yang ketemu temennya, gua langsung di buang. Sana loe peluk dan kasih cipika-cipiki".
"Ternyata benar ini kamu Jono? ya ampun aku kira salah liat tadi dari dalam". Dengan senyum lebar pria itu berhenti di depan Jono dan sales wanita yang tadi menyambutnya berada di sampingnya.
"Udah lama aku enggak liat kamu, ada apa kamu kesini? Mau minta sumbangan?". Senyum pria itu berubah menjadi senyum meremehkan dan pandangan matanya juga merendahkan.
Oh ternyata musuh dan bukan teman, gua bicara dalam diam mengoreksi tebakan awal gua tadi. Hoki banget Jono bisa ketemu musuh disini.
"Hahaha, Bercanda Jon.. gitu aja serius banget muka kamu". Pria itu tanpa rasa bersalah malah tertawa lebar dan menepuk-nepuk pundak Jono.
"Hehe". Jono tertawa garing, "Gak apa-apa kok aku sul santai aja". Jono berucap menjawab dengan nada bicara yang kagak pernah gua dengar sebelumnya, nada suara yang mirip kek nada kacung bicara sama majikannya.
"Udah lama kita tidak bertemu Jon, aku dengar kamu jadi TKI di Timur Leste". Dengan muka serius tapi masih dengan pandangan menghina pria bernama Samsul itu kembali berbicara yang sangat kagak enak di dengar di kuping.
"Bukan, aku enggak jadi TKI di sana". Jono masih dengan tenang menjawab dan kagak terintimidasi sama sekali.
"Lho kalau gitu jadi TKi dimana? Di Papua Nugini ya? pantas aja tambah item gini kulit kamu". Dengan suara datar tapi terdengar songong pria itu kembali menebak dengan rasis kali ini.
Gua yang sudah kagak tahan dengar Jono di lecehkan udah mengepal tinju erat tapi seakan tau dengan keadaan gua, Jono yang masih berhadapan dengan bisul itu langsung menutupi jalan gua dengan tubuhnya dan memberi isyarat lambaian tangan di belakang punggung.
Bukannya merasa aneh atau risih sales wanita bernama Lisa black Tepos itu malah cekikikan tertawa mendengar suara merendahkan dari pria yang dia panggil manager.
Kagak tau gua jalan pikiran ini bocah yang diam saja di perlakukan kek sampah gitu, kalau itu gua yang direndahkan udah gua potong itu lidah.
"Aku enggak jadi TKI tapi cuma merantau saja di Ibu kota Jakarta". Jono masih tenang menjawab.
"Oh di jakarta ya? Aku kira di luar negeri, maaf salah tebak, ngomong-ngomong Kerja apa di sana? Jadi tukang parkir atau pemulung?".
Liat punggung Jono naik turun sesaat mengambil nafas panjang, gua tau ini bocah udah kagak tenang tapi yang buat gua bingung kenapa masih bersabar dia.
"Aku jadi seniman tatto di Jakarta".Jawab Jono setelah mengambil nafas panjang.
__ADS_1
"Oya?". Tampak sekali pria itu sedang acting terkejut. "Enggak sangka aku orang seperti kamu punya bakat juga Jon, hahaha".
"Ini pujian lho dari aku bukan hinaan jangan salah paham kamu". dengan tawa ringan bisul melanjutkan bicara dan kembali menepuk pundak Jono kek lagi menepuk laron.
"Enggak santai aja, mana mungkin aku salah paham". Jono selalu tampak mengalah, sepertinya kesabaran dia kagak ada batasannya ini.
"Bagus kalau gitu, tapi ngomong-ngomong Lisa?". Pria itu memandang sales yang ada disampingnya.
"Iya pak ada apa?". Dengan muka merah dan senyum seindah mentari pagi wanita yang susunya kecil kek susu bocah itu menjawab.
"Kenapa kamu diam dan tidak panggil satpam sih?".
"Panggil satpam? buat apa pak?". Wanita itu tampak bingung.
"Itu di belakang kenalan saya ada pengemis, kenapa kamu biarkan masuk sih.. Kemana itu para satpam". Pria itu melihat dan menunjuk gua.
Anjing! minta di gorok ini orang punya leher.. emosi gua langsung naik dan siap maju menumpahkan darah itu orang.
"Samsul, dia teman aku dan kesini sama aku dia". Jono buru-buru bicara dan kembali menghalangi jalan gua, sesaat Jono berbalik badan melihat gua dengan muka memohon.
"Jon!". Gua melototi Jono dengan tajam.
Sialan jadi karena ini dia minta gua berjanji tadi. Gua langsung mengumpat dalam hati dan mencoba tenang dulu untuk saat ini dan tandai dulu pala itu orang dengan warna merah bertanda bakalan gua bejek itu pala.
"Iya pak yang di belakang itu teman mas ini dan datang bersama tadi". Sales wanita itu ikut menjawab menanggapi.
"Ya ampun temen kamu dia Jono? Aku kira pengemis, maaf-maaf mas". Samsul segera minta maaf tapi terdengar sekali itu hanya basa-basi dan tidak tulus sama sekali.
"Kenalin saya Samsul kenalan Jono". Dia mengulurkan tangannya ke depan ke arah gua yang masih dihalangi Jono.
Langsung gua dorong Jono ke samping walau agak berat karena pijakan kakinya yang kokoh menghalangi gua.
Segera gua raih tangan Samsul, ",Kenalin juga gua hamba allah". Jawab gua singkat dengan senyum tipis dan segera gua tarik tangan gua.
Suasana hening Samsul melongo dengar jawaban gua begitu juga Sales wanita di sampingnya yang langsung menutupi mulutnya dan Jono yang tampak nahan senyum pura-pura kagak dengar.
"Hahaha.. Hahaha.. Lucu sekali teman kamu Jono". Samsul tertawa lebar 3 detik dan setelah itu menatap gua tajam.
Merasa di tantang, sama sekali kagak gentar gua karena ini adalah hal yang memang gua inginkan langsung saja gua mendongak songong menatap dia balik dengan tajam pula.
__ADS_1
"Hehehe, iya teman aku memang lucu dan suka bercanda orangnya". Tau situasi panas gua dan Samsul Jono langsung menarik gua kebelakang dan menghalangi lagi gua dengan tubuhnya.
Ekspresi wajah Samsul langsung berubah sok kalem lagi, "Benar-benar pandai milih teman kamu Jon, bisa dapat teman mirip sekali gitu sama kamu". sekali lagi tatapan mata samsul penuh akan penghinaan menatap Jono dan gua.
"Oya dari tadi dari tadi aku gak tawari kalian minum, Lisa".
"Iya pak".
"Sirup botol sisa THR lebaran kemarin masih ada kan di gudang, tolong buatin untuk Jono dan hamba Allah ini".
"Masih ada pak tapi kan sudah kadaluarsa seminggu yang lalu".
"Baru seminggu ini tidak apa-apa, Jono dan keluarnya juga sering makan makanan kadaluarsa".
"Tong! Ti ati loe kalau ngomong tong!". kuping gua udah panas dan kagak terima Mika dan Mila ikut di bawa-bawa.
"Apa kamu bilang?". dengan muka merah marah Samsul memandang tajam gua lagi.
"Bude.. Emmmm". Mau ngomong budeg tapi mulut gua segera di sumpal sama si Kampret.
"Udah aku bilang jangan telat minum obat, ngeyel kamu ini". Jono acting sambil membungkam mulut gua dan dia memberi isyarat dengan kedipan mata berkali-kali.
"Emmm.. Emmm .."
"Iya aku ngerti nanti kita mampir apotik buat beli obat".
"Sorry Sul, dia memang suka bicara tidak dengan semestinya dan juga enggak usah repot-repot dengan minum kami berdua tidak haus kok". Jono bicara dan memaksakan senyumnya.
"Lepas Jon!". Gua dorong Jono ke depan dan langsung membersihkan bibir gua yang abis kena telapak tangan itu kampret yang penuh kuman.
"Jadi teman kamu itu sebenarnya.. Hahaha ya ampun maaf-maaf harusnya aku sadar dari tadi tidak mungkin ada orang waras yang pakai tali rafia buat ikat pinggang". Samsul terpingkal memegang perutnya.
Gua kagak tau apa yang ada dalam pikiran Jono saat ini, apa ini orang ada hubungannya dengan yang dia bicarakan dengan Suci tadi, entah kenapa gua merasa Jono lebih membela ini orang daripada membela gua.
Janji yang gua ucapkan tadi tidak mungkin bisa gua tepati lagi dan untuk saat ini gua hiraukan saja itu orang mau bilang apa dan gua segera mengamati situasi yang ada.
Di depan ada 2 satpam dan kemungkinan di dalam dealer masih ada beberapa orang mekanik yang gua perkirakan sekitar 4 sampai lima orang, jadi bila gua hantam ini orang ada sekitar 7 orang lagi yang bakalan keroyok gua.
7 orang ya? walau berat keknya gua bisa menang walau pastinya bakalan kena hantam juga gua, jika Jono ikut serta pasti akan lebih baik. Gua berfikir dalam diam menyusun strategi yang tepat dan akurat.
__ADS_1