Preman Campus

Preman Campus
AGENDA DAN RENCANA


__ADS_3

"Hari ini aku enggak ada mata kuliah sayang, memangnya kenapa?".


"Itu Bie, aku mau minta tolong sesuatu sama kamu". Gw mengutarakan niat.


"Tolong apa? jadi serius gini kamu". Bianca melajukan mobil dengan pelan saat ini, mungkin dia ingin mendengar permintaan gw dengan jelas.


"Ini tentang 2 orang bego sahabat aku itu, mereka mau gelut sama anak jurusan kedokteran gigi, aku suruh tunggu kagak mau.. Dan nekad mau pergi tanpa aku".


"Reza dan Udin maksud kamu?". Bianca sedikit terkejut.


"Iya siapa lagi kalau bukan 2 orang itu, kan teman aku cuma mereka".


"Iya-iya Bim, kelihatannya cuma orang seperti Reza dan Udin saja yang mau berteman sama kamu". Bianca dengan polosnya mengangguk.


"Itu pujian apa sindiran Bie? Kok rada kagak enak aku dengarnya, maksud kamu aku enggak bisa dapat teman orang waras gitu?".


"Kamu sendiri lho sayang yang bilang, hehehe". Bianca malah tertawa riang.


"Jadi mau enggak ini kamu bantu teman cowo kamu ini, mereka mau gelut di Campus soalnya".


"Serius mereka mau berantem di Campus? aku liat mereka tidak bisa berkelahi kan? Kok malah nekad gitu?". Bianca masih terlihat tidak percaya.


"Mereka memang antara nekad dan sombong kali ini, kemarin pagi kan mereka berantem saat Reza di culik sama pengagum kamu itu.. saat itulah nyali mereka terbentuk dan langsung merasa paling hebat, aku takutnya mereka ketemu lawan yang kuat.. ancur-ancur gitu kan teman aku juga".


"Ya ampun bisa-bisanya 2 teman kamu itu sangat percaya diri gitu sayang, memang masalahnya apa sih sampai mau berantem?".


"Kamu tau Rio gak Bie?".


"Rio siapa?". Bianca bertanya binggung.


"Rio anak UGM yang orangnya culun berkacamata besar dan menjadi bahan bullyan anak-anank Campus".


"Oh dia.. Iya aku pernah dengar nama dan rumornya tapi enggak pernah ketemu orangnya sayang, memang menurut kabar yang aku dengar orang yang bernama Rio itu sering di tindas di Campus, kalau gitu apa hubungannya 2 teman kamu dan Rio itu?".

__ADS_1


"Entah kebelulan apa kagak, mereka bertiga satu organisasi Bie.. Dan kebetulan juga mereka pernah ada salah paham tapi entah ada setan lewat atau apa, mereka malah berteman.. Dan kemarin itu Rio ditindas dan dibully sama anak kedokteran gigi". Gw menjelaskan akar permasalahannya ke Bianca.


"Jadi Reza dan Udin mau balas dendam untuk Rio gitu sayang?". Bianca menyimpulkan.


"Iya rencana mereka sih gitu Bie, makanya aku kawatir.. Aku juga belum pernah liat itu calon musuh mereka kuat apa kagak".


"Memang siapa namanya anak kedokteran gigi itu?". Bianca kembali bertanya penasaran.


"Emmm.. Kalau enggak salah namanya Andi atau siapa gitu, rada enggak ingat aku".


"Andi? Oh Andi itu". Bianca menjawab ambigu.


"Kamu kenal Bie?". Gw auto curiga.


"Dia pernah deketin aku sayang tapi enggak aku gubris, Aku risih dulu itu dan langsung bilang sama kakak, setelah itu aku enggak tau.. Tapi yang pasti Andi itu setiap liat aku langsung lari ketakutan sampai sekarang juga gitu, mungkin saja dia diancam sama anak-anak Zeus". Bianca menjawab dan menjelaskan semuanya ke gw.


"Jadi menurut kamu ada kemungkinan menang apa enggak itu 2 teman aku Bie?". Gw bertanya hal lain dan kagak punya waktu untuk cemburu karena dari awal memang gw udah sadar punya cewe Idola pasti banyak cowo yang ngedeketin.


"Kalau menang apa gaknya mana aku tau sayang, mana aku pernah perhatikan yang seperti itu.. Tapi mungkin Reza dan Udin bisa dalam masalah jika mereka nekad ke fakultas kedokteran gigi, apa menurut kamu teman-teman Andi itu akan diam saja saat temannya dipukuli? Logikanya pasti mereka akan membatu dong".


"Aku pasti tolongin sayang tapi aku musti gimana? Apa harus minta bantuan kakak dan anak buahnya?".


"Tidak sampai sejauh itu Bie, cukup kamu pantau situasi mereka saja dan rekamin buat aku".


"Merekam? Serius sayang kamu suruh aku gitu?". Bianca tampak tidak percaya.


"Iya serius dan aku enggak pernah seserius ini, katanya tadi kamu mau tolongin aku?".


"Aku kira kan tolongin yang lain, pesen ambulance gitu untuk jaga-jaga, tadi katanya kamu kawatir".


"Aku memang kawatir Bie, tapi ini juga bisa buat pelajaran untuk mereka jika gegabah itu tidak baik.. Jadi kamu mau kan tolongin rekam mereka saat gelut, biar bisa aku jadikan dokumentasi apabila mereka gegabah lagi bisa untuk pengingat untuk 2 orang gila itu".


"Aku sih mau-mau saja sayang, enggak aku rekam juga nanti pasti banyak anak-anak yang memgambil videonya jika berantemnya di tempat rame, enggak nyangka aku kamu bisa berfikir sampai sejauh itu.. Memang benar sih rasa pahit itu bisa membuat orang cepat sadar dan tidak gegabah lagi".

__ADS_1


"OK deal ya ini kamu bantu rekamin mereka buat aku". Gw memastikan.


"Iya Bimo sayang cuma itu aja cukup serahkan sama cewe kamu yang cantik dan baik hati ini, hehe..". Bianca tersenyum memuji dirinya sendiri.


Gw mengangguk puas mendengar jawaban Bianca dan kagak sabar nunggu hasil rekaman Bianca nantinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dilain tempat dikawasan Campus UGM dan di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, Duduk lebih dari 50 orang dengan rapi.. Mereka diam dan mengamati 1 orang yang sedang bicara dan berdiri di depan dengan serius.


Ruangan itu sangat familiar sekali, karena di ruangan ini juga pertama kali Bimo berbicara dengan Nissa saat mencalonkan diri menjadi anggota Rohis yang berakhir kegagalan.


Di pojokan paling belakang ruangan itu duduk 3 anak manusia yang 2 cuma plonga-plongo dan yang satu sedang membersihkan kacamata, dengan muka cengoh mereka terlihat bosan dan mereka tidak lain tidak bukan adalah Reza, Udin dam Rio.. Sebagai anggota Rohis jika ada rapat mereka pasti akan hadir, seperti sekarang ini.


"Kak Din masih lama ya ini? Ngoceh terus itu Sa Nissa di depan". Reza berbisik pelan ke Udin yang duduk disebelahnya.


"Mana gua tau Za, disaat kita mau beraksi gelut, malah tiba-tiba dipanggil kesini untuk rapat". Udin menjawab pelan.


"Kalau seperti ini keburu kabur itu calon korban ta kita, jika kelamaan disini". Reza mengeluh.


"Yo, Nissa bahas apaan sih dari tadi itu? enggak ngerti gua?". Giliran Udin yang bertanya ke Rio yang tampak serius mengamati Nissa berbicara.


"Ketua Nissa sedang membahas rencana dan Agenda untuk acara akhir tahun baru organisasi Rohis kita Udin, Reza". Rio menjelaskan pelan.


Reza dan Udin tampak cuma manggut-manggut doang mereka, karena fokus mereka cuma mau gelut.


"Jadi seperti itu ya teman-teman, organisasi kita pada bulan depan yang bertepatan dengan malam tahun baru akan mengadakan pentas rohani dan mengundang anak-anak nyatim piatu, untuk lokasinya berada di Pesantren Darusalam yang kebetulan milik kedua orang tua saya". Di depan Nissa berbicara dengan lembut.


"Apa ada pertanyaan yang ingin kalian tanyakan?". Nissa memandang semua anggota Rohis di depan dia.


"Saya mau bertanya ketua?". Seorang pria mengacungkan tangannya ke atas.


"Iya silahkan?".

__ADS_1


"Apa semua anggota wajib hadir untuk acara pentas rohani ini dan kegiatan apa saja yang akan kita lakukan nantinya selain memberi santunan kepada anak yatim piatu?".


__ADS_2