Preman Campus

Preman Campus
ROMANTIS


__ADS_3

"Bianca sayang, please jangan ngebut seperti ini.. Badan aku sakit semua sayang, kamu enggak kasihan sama aku? berhenti ya dan mari kita bicara, aku akan cerita semuanya". Gua bicara selembut mungkin dengan kedua tangan yang memegang sabuk pengaman erat mencoba untuk membujuk Bianca.


Perut gua juga mulai mual tapi gua tahan, sayang banget jika nutrisi dari sate usus hilang jika gua muntah.


Bianca tidak menjawab tapi bisa gua rasakan laju mobil mulai melambat, gua langsung tenang saat mobil benar-benar berhenti di pinggir jalan.


"Bie?". Panggil gua pelan karena Bianca masih menatap ke depan kagak mau melihat gua, kedua matanya sayu dengan ekspresi sedih.. bibir ranumnya tertutup tapi ada tetesan air yang keluar dari kedua mata indahnya.


Baru ini gua liat dan benar apa kata para pejuang cinta di luaran sana, menangis dalam diam itu benar-benar ada dan bukan legenda.


Niat mau gua rekam ini Bianca tapi sepertinya momennya kagak pas jadi niat itu gua urungkan.


"Bie?" gua panggil sekali lagi dengan menyentuh lengannya yang lembut, mau gua cubit kagak berani, Bianca sepertinya lagi sensitif.


Pelan Bianca berpaling dengan dengan air mata bening yang masih membasahi pipinya.


"Jangan menangis sayang, aku gak apa-apa kok.. itu di depan ada cafe, kita bicara di sana ya?". Bujuk gua lagi, memang menghadapi wanita itu harus sabar dan halus.


Wajah gua yang lebam dan bonyok tetap gua usahakan untuk memberi Bianca senyuman semanis mungkin walau mungkin terlihat mengerikan saat dipandang olehnya.


Bianca memandang gua lekat dengan bibirnya yang masih terkunci.


"Bianca sayang, pacar kamu ini manusia biasa yang banyak kekurangan dan kelemahan, bukan manusia super yang bisa dengar suara hati kamu.. Kalau kamu marah atau kesal mending marah atau tabok aku sekalian, jangan buat aku menebak dengan ke diaman kamu gini".


Sabar Bimo sabar, betina itu memang makhluk yang rumit.. Loe harus bisa belajar memahaminya pelan-pelan, lanjut gua dalam hati.


Suasana hening dan tenang untuk sesaat, hanya gua dan Bianca yang saling tatap tanpa kedip sampai mata gua perih.. Mau kedip kagak berani juga, tiba-tiba hal yang kagak gua duga terjadi.


"Ya ampun, kamu mau apa Bie?". Gua terkejut dengan apa yang tiba-tiba dilakukan Bianca.


Dia bergeser atau lebih tepatnya berpindah tempat dari jok belakang kemudi ke atas pangkuan gua secara cepat dan tiba-tiba.

__ADS_1


"Bie kamu ngapain?". Gua yang masih terkejut kagak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa bertanya dan mengangkat tangan ke atas seperti orang yang sedang di todong senjata.


Bianca yang memakai dress duduk dipangkuan dan menghadap gua, posisi ini sangat aneh sekali dengan wajah kami yang saling berhadapan begitu dekat.


Gua rasa Bianca kagak risih sama sekali saat dress nya berantakan dan menyingkap ke atas menampakkan paha mulusnya, dia juga menduduki tepat di atas suatu benda yang masih terbungkus celana dan pelan-pelan malah mulai menguap dan bangun.


 Bianca masih saja diam memegang pundak gua dengan kedua tangannya dan beberapa detik kemudian dia memeluk gua erat.


Di dalam pelukan gua akhirnya tangis Bianca pecah sejadi-jadinya, dia menangis tersedu-sedu.


Gua hampir aja gagal fokus karena benda bulat besar yang nempel erat di dada gua, dada yang berbeda saat lalu di tendang musuh tapi sekarang malah di gencet sama aset Bianca.


Gua yang kagak tau musti ngapain hanya bisa mengelus rambutnya lembut.


Gua tau cewe gua menangis ini karena ada hubungannya dengan gua.


Diam adalah pilihan yang gua ambil untuk saat ini menunggu bianca tenang dan mendekapnya dalam pelukan hangat.


"Sayang udah dong nangisnya, aku juga ikut sedih jika kamu seperti ini terus". Setelah beberapa saat gua memberanikan diri bicara.


Dia melepas pelukannya dan gua langsung bernafas lega karena sesak dari tadi dada gua di gencet 2 benda besar nan bulat itu.


"Ya ampun, liat ini riasan cantik kamu jadi pudar.. Kamu dandan untuk tampil cantik di depan aku kan?". Dengan lembut tangan kanan gua naik menghapus pipi cewe gua yang basah.


Bianca terpejam sesaat menikmati sentuhan lembut dari gua.


"Sayang kalau boleh tau kenapa kamu menangis?". Merasa situasi udah aman dan tenang, gua beranikan diri bertanya saat tangan gua masih mengelus pipinya.


Bianca membuka matanya memegang tangan gua dan menurunkannya ke bawah dan selanjutnya malah kedua tangan dia yang baik mencakup pipi gua dengan telapak tangannya.


Pelan dan lembut dia mulai mengelus luka-luka di wajah gua.

__ADS_1


"Pasti sakit banget". Gumam dia dengan ekspresi sedih.


"Enggak kok sayang, cuma luka kecil ini". Dengan tersenyum gua berbohong untuk kebaikan, aslinya sih sakit banget cok.


"Luka yang kamu bilang kecil ini, menimbulkan luka besar di hati aku.. hati seorang wanita yang menghawatirkan kekasihnya". Bianca bicara dan terus mengelus pipi gua sampai pada moment wajah dia maju.


Gua udah siap jika dia mau nangis dan peluk gua lagi, gua juga udah ambil nafas panjang agar kagak bengek saat ke gencet 2 gunung itu lagi, untuk saat ini gua udah siap seratus persen dan merem menantikan pelukan Bianca.


Apa ini? Gua yang memejamkan mata bicara dalam hati, Bianca belum peluk gua tapi gua Malah merasakan benda empuk dan basah nempel di wajah.


Auto gua membuka mata dan langsung melebar ini mata gua.


Bianca bukannya memeluk sesuai prediksi gua, dia malah mengecup lembut setiap inci wajah gua.. Di atas semua luka yang ada di sana.


Mungkin jika ada orang yang melihat adegan ini pasti akan mengira momen ini adalah momen yang sangat romantis dan mengharukan, wanita dengan sangat perhatian dan cinta mengecup setiap luka di wajah pacarnya.. Wanita yang mengerti akan rasa sakit yang di alami kekasihnya tapi..


Tapi bagi gua ini sangat menggelikan cok! Bibir basah dan lembut Bianca yang terus mengecup setiap inci wajah ini buat gua ingin tertawa karena terlalu geli.


Sialan emang dalam dilema gua saat ini, mau dorong Bianca takutnya dia malah sedih lagi.. Mau diam saja wajah gua udah basah semua.


"Bie?". Panggil gua pelan tapi tidak ada jawaban karena bibir dia masih asik memberi wajah gua kecupan, kedua netranya juga terpejam.


Ini cewe lagi kasih gua sayang apa lagi nafsu sih sebenarnya?


"Sayang? berhenti sayang.. Wajah aku kotor nanti kamu sakit". Mau gak mau gua pegang pundaknya.


Akhirnya mata dia terbuka dengan posisi bibir yang masih nempel di atas hidung gua.


Secara langsung mata kami berpandangan dengan lekat di jarak yang begitu dekat.


Kami berbagi oksigen sepertinya saat ini dengan wajah yang hampir nempel, oksigen yang gua hirup keluar dan langsung masuk ke hidung Bianca.

__ADS_1


Gua kagak atau apa yang sekarang ada di pikiran Bianca yang pasti Bibir dia yang semula ada di atas hidung gua pelan-pelan turun ke bawah dan berhenti di atas bibir gua.


Gua juga kagak tau siapa yang mulai duluan tapi yang gua tau, berbarengan mata kami terpejam dengan irama yang halus 2 bibir mulai bergerak se irama.


__ADS_2