
"Bunda!".
Gw langsung memanggil saat melihat bunda berdiri di depan pintu dengan air mata yang berlinang.
"Bimo sayang!". Bunda langsung berlari menghampiri gw yang mencoba untuk beralih dari senderan ke duduk.
Bunda seperti biasa tampak begitu cantik dan mempesona dengan penampilan yang anggun yang bisa menyihir pria manapun yang melihatnya.
"Bunda jangan lari, pelan-pelan saja jalannya". Gw sedikit kawatir karena bunda memakai high hell, Kalau patah bisa nyungsep nanti itu bunda gw.
Tapi bunda seakan tidak menghiraukan perkataan yang anaknya ucapkan ini, dia terus berlari dan dengan cepat langsung memeluk tubuh gw saat kami sudah berhadapan.
Bunda menangis! bunda gw menangis tersedu seperti anak kecil di pelukan gw.
"Bimo maafin bunda ya sayang, kamu harus merasakan sakit tanpa ada bunda di sisi kamu". Bunda berbicara sambil mengusap-usap rambut gw.
Dari arah pintu gw liat bokap gw, Rama Putra Pramono masuk di ikuti Budi dan pak Amir yang terlihat terus menundukan kepalanya.
Dan gw juga melihat di luar pintu sana ada orang-orang yang gw nyakin adalah pengawal Bunda dan Ayah yang berdiri tegak berjejer di depan pintu.
"Jagoan apa yang kamu lakukan hingga pacar ayah menagis seperti itu?". Ayah langsung berbicara saat sudah berdiri di dekat gw yang masih di peluk bunda.
"Maaf pacar anda adalah ibu saya". Jawab gw enteng.
"Kalau begitu kamu anak saya dong ya? Ha-ha-ha!". Ayah tertawa.
"Papa!"
Bunda melepaskan pelukannya dan membentak ayah.
"Papa masih bisa bercanda! enggak kasihan sama Bimo yang kesakitan ini". Bunda bicara marah sama bokap dengan wajah gemesin karena ada sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Papa hanya bercanda ma, maaf ya? jagoan bagaimana keadaan kamu?". Bokap langsung tunduk seketika.
Tanpa menjawab bunda melihat gw lagi dan mengusap wajah gw dengan kedua tangannya.
"Sayang bagian mana yang sakit sayang? biar bunda lihat, kamu jangan takut ada bunda disini". Bunda bicara dengan raut wajah yang begitu kawatir.
"Bimo enggak apa-apa kok bunda, cuma lecet sedikit aja kok. Bunda jangan terlalu kawatir ya?". Gw bicara menenangkan
"Bagaimana bunda tidak kawatir, anak semata wayang bunda terbaring lemah seperti ini. Coba tunjukan bagian mana yang lecet sama bunda". Bunda kembali bertanya.
Gw bingung untuk tujukkan bekas operasi gw apa kagak.
__ADS_1
Saat gw melihat ayah dia mengangukan kepalanya seakan memberi isarat kepada gw.
"Sayang kamu liatin mama aja, ayah kamu sama sekali tidak menangis di perjalan kesini tadi. Kelihatannya dia tidak kawatir sama kamu". Bunda mencari perhatian gw dengan menjelekan bokap.
Wajah Bokap langsung cemberut seketika. "Mama kok ngomong seperti itu sih, papa juga kawatir sama anak kita. Papa kan cowo masak harus nangis. lagian kalau papa ikut nangis siapa dong nanti yang bisa peluk dan nenangin mama?".
"Jangan dengerin papa Bimo, dia hanya alasan saja itu. Yang pasti rasa sayang papa ke kamu tidak sebesar rasa sayang bunda".
Gw cuma tersenyum melihat ketidakberdayaan Ayah di depan Bunda dan di saat gw melihat wajah ayah sekita itu gw pengen tertawa.
"Bunda, ayah nangis bun!". Gw bicara pelan saat melihat 2 butir air mata jatuh dari mata Ayah.
Seketika bunda pun melihat ayah, dan seketika itu pula ayah membuat ekpresi wajahnya sememelas mungkin memandang bunda. Sungguh acting yang sempurna dari bokap gw. Ternyata dari sini bakat acting gw berasal.
Udin dan Reza melihat bokap gw seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Sementara di belakang sana Bokap Putri dan Pak Amir saling pandang satu sama lain. Mungkin mata mereka bisa bicara dan saling bertanya tentang apa yang terjadi di sini. Seorang Rama Putra Pramono nanggis? jika ini diliput dan masuk TV mungkin Indonesia akan gempar.
Yang gw harapkan cuma satu semoga tidak ada setan lewat sehingga kedua orang pria yang saling pandang dengan intens itu akan tumbuh benih-benih yang cinta.
Bunda seketika langsung berdiri dan yang semula duduk di sisi ranjang gw.
"Papa kenapa? Mama cuma bercanda kok". Bunda memegang wajah ayah dengan penuh kasih sayang dengan kedua tangan yang mengusap 2 tetes air mata buaya yang keluar itu.
Ayahku tersayang kenapa hanya bakat actingmu saja dirimu turunkan ke anakmu ini. Gw mengeluh dan bicara dalam hati.
"Papa kan juga sayang ma sama anak kita, mama kan tau sendiri papa tidak bisa nunjukin sayang papa ke Bimo tiap hari". Bokap bicara mencoba menarik hati nyokap dengan gw dijadikan bahannya.
"Iya mama tau kok kita berdua sama-sama sayang sama Bimo, dia kan buah hati kita". Bunda bicara dan langsung memeluk Ayah.
Mereka berdua berpelukan dengan hangatnya tanpa peduli dengan tatapan semua orang yang ada diruangan ini.
Gw jadi bingung bokap nyokap kesini mau lihat keadaan gw apa mau pamer kebucinan mereka sih.
"Eheemmm! ehemmm!". Bunda ayah? Mau Bimo pesankan hotel gak? Hotel di Jogja bagus-bagus lho". Gw bicara karena iri lihat Ayah dan bunda berpelukan, harusnya kan mereka yang peluk gw.
Udin dan Reza yang ada di sebelah gw terkejut tidak terkecuali dengan Budi dan Amir. Mungkin mereka sedang berfikir jika mereka yang bicara seperti itu bakalan kena masalah besar.
Ayah sama Bunda langsung melepaskan diri satu sama lain.
"Sayang kok ngomongnya seperti itu?". Bunda bicara pelan malu-malu.
"Jagoan sebutkan nama hotel itu? beneran bagus kan?". Kalau bokap bicara tanpa rasa malu sedikitpun.
__ADS_1
"Papa udah ah jangan bicara aneh-aneh lagi kasian Bimo kita ini, sayang maafin bunda ya sekarang tunjukin sama bunda dan Ayah bagian mana yang terluka?". Bunda kembali duduk di sisi ranjang gw dan meminta gw nunjukin lecet di perut.
Gw pun nurut aja jikalau gw nolak Bunda pasti akan sedih dan jika itu terjadi bakalan ada drama lagi di ruangan ini.
Gw senderan dan pelan gw buka kancing piama Rumah Sakit yang gw kenakan.
satu kancing dua kancing hingga lima kancing gw buka sehingga perut gw terekpos sepenuhnya.
"Sayang kenapa bisa begini? Papa! Bimo kita pa!". Bunda menangis kembali saat lihat jahitan di perut kiri gw yang masih basah.
Bokap yang berdiri langsung memeluk bunda lagi yang sedang duduk, mengelus rambut bunda yang dia sandarkan di perut.
"Mama tenang nya? kita dengarkan dulu putra kita bicara, papa bisa gila dan meratakan Rumah Sakit ini dengan tanah jika mama terus bersedih".
Sekilas memang itu kata-kata untuk menghibur bunda gw, tapi bagi bokap Putri itu tidak menghibur sama sekali terlihat dia yang kembali akan jatuh di lantai untungnya pak Amir ada di dekat dia dan bisa mencegah itu terjadi.
"Plukk-plukk-pluukk!!" Bunda memukuli perut ayah sambil masih menitikan air mata.
"Mana bisa mama bisa tenang jika melihat darah daging mama merasakan sakit seperti itu". Bunda berbicara dan mendorong Ayah pelan melepaskan diri dari pelukan.
"Bimo sayang jangan takut bilang sama bunda siapa yang ngelakuin ini sama kamu". Bunda memegang tangan gw untuk menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Bunda jangan sedih dan bersepekulasi yang aneh-aneh dulu, ini bukan karena Bimo disakiti orang bunda". Gw tersenyum kecil agar bunda melihat dan percaya bahwa gw baik-baik saja.
"Bimo sakit bunda dan jahitan ini karena Bimo habis dioperasi, Perut Bimo sakit banget semalam dan saat datang kesini ternyata usus buntu dan langsung di operasi tadi pagi". Gw bicara menjelaskan.
"Kenapa sayang tidak hubungi bunda sama Ayah tadi malam, kita kan bisa langsung kesini dan temani kamu sayang".
"Bimo kan kuat bunda cuma usus buntu ini, masak harus ganggu bunda san Ayah malam-malam". Gw berbohong kecil, kuat apanya semalam aja gw sampai jalan nungging-nungging karena ini perut.
"Sayang kok bicara seperti itu, kamu adalah prioritas no 1 bagi ayah sama bunda".
"Iya bunda maaf, Bimo juga ditemani 2 teman kok disini, Ini mereka". Gw menunjuk Reza dan Udin di samping kanan.
"Kenalin Bunda yang kurus ini nama Udin dan yang gemuk ini namanya Reza, mereka 2 teman yang dulu Bimo ceritain ke Bunda".
"Iya sayang bunda ingat semuanya yang Bimo katakan". Bunda bicara dan bantu gw mengancingkan baju.
Bunda langsung melihat duo cebong setelah selesai membelai sayang gw. "Selamat siang, maaf ya kalau Bimo ngerepotin kalian dan terima kasih telah menjaga anak saya disini". Bunda bicara dan tersenyum ramah ke arah Reza dan Udin.
Bangkenya ini anak cebong malah ngelihatin bunda gw tanpa kedip terpesona sama kecantikan dan pesona menawan bunda.
Dan gilanya bokap ngelihat itu, cari masalah ini anak.
__ADS_1