Preman Campus

Preman Campus
HASUTAN


__ADS_3

Pukul 11:30 gw masih berada di klinik Campus, sertelah adegan permintaan maaf Reza dan Udin di terima Rio yang ternyata adalah anggota Rohis juga sama seperti mereka berdua, sungguh kebetulan yang membagongkan.


Reza dan Udin duduk di atas ranjang berdampingan saling berbisik satu sama lain, dan setelah itu mereka saling mengangguk dan tersenyum perasaan gw kagak enak melihat tingkah mereka berdua, pasti sedang merencakan sesuatu itu 2 anak uler dan pastinya bakalan nyusahin gw itu pasti nanti.


sementara Rio menuduk duduk di ranjang depan Reza dan Udin dengan celana yang basah karena kencing ketakutan tadi.


Kalau gw masih berdiri kek satpam melihat mereka mereka bertiga.


Suasana hening kagak ada yang berbicara setelah acara maaf-maafan yang lebih mirip acara temu kangen itu, sampai bosen sendiri gw liat wajah mereka bertiga, Reza dan Udin yang tadi seperti orang diskusi pun belum bersuara sama sekali.


Gw liat Rio juga tampak masih sedikit tegang dan tidak percaya kalau 2 orang di depan dia adalah sama-sama anggota Rohis.


Pemuda bernama Rio ini benar-benar sangat mendalami perannya sebagia nerd sejati dengan rambut klimis belah tengah dan pakaian rapi kek mau kondangan, kagak lupa kaca mata yang lumayan tebal yang terus nangring di depan matanya.


"Ehemm! Nyet katanya lu berdua mau tanggung jawab? Malah diem kalian cepet bicara". Keheningan gw singkirkan dengan mengingatkan 2 anak uler dengan tujuan awal mereka yang mau bertanggung jawab.


"Oh iya cak makasih udah dirimu ingatkan". Reza mengambil duit dari dompetnya begitu juga dengan Udin setelah mengerti akan arti ucapan gw.


Rio hanya bengong melihat Reza dan Udin mengambil uang berwarna merah dan menghitungnya, gw belum tau ini bocah dari keluarga kaya apa kagak tapi dari pandangan dia ngeliat itu duit gw menebak dengan pasti jika dia dari kalangan menengah kebawah.


"Bro sorry kita berdua sudah sakiti loe, tolong terima bentuk tanggung jawab kami berdua". Udin menyerahkan duit 3 juta ke Rio hasil patungannya sama Reza.


"Tidak-tidak, saya tidak bisa menerimanya. Saya sudah memafkan kalian". Rio menampik pelan uang yang di ulurkan Udin.


"Temanku terimalah ini uang halal kok, gunakan untuk mengobati luka dirimu karena kekilafan diriku". Reza menyakinkan.


Gw tersenyum tipis mendengar itu duit yang die kate halal, bukannya itu duit mereka dapat dari malak si Dio dan temanya ya? emang udah pada jago ngibul mereka itu, pada belajar sama siapa sih? Gw bertanya-tanya dalam diam.


"Benar mas saya sudah memaafkan kalian dan tidak mengharapkan apapun, walau saya miskin saya masih ada uang dari kerja sambilan yang saya jalani". Rio terlihat sudah bisa berbicara normal.


"Panggil aja gw Udin dan dia Reza kita seumuran tidak usah terlalu sopan".


"Iya temanku jangan bicara seperti itu dirimu, diriku semakin merasa bersalah jika dirimu sopan dan menghormati kami". Reza dengan acting sedihnya.


"Apa bolah saya hanya panggil kalian dengan sebutan nama saja? Kalian tidak marah?". Rio bertanya memastikan.


Wajar saja jika itu anak masih sedikit takut dan curiga dengan Reza dan Udin yang menjadi baik setelah beberapa saat yang lalu gebukin dia tanpa ampun.


"Gw malah senang jika loe mau panggil kita berdua dengan nama saja, bukan begitu Za?".


"Tul bertul itu takye, kita bisa lebih akrab kalau seperti itu. Kita kan sama-sama anggota Rohis". Reza tersenyum lembut penuh arti.


Rio hanya mengangguk dan tidak berucap apapun dan itu sudah cukup buat 2 anak uler tampak lega.


"Serius bro kamu enggak mau uang ini?". Udin bertanya sekali lagi.


"Saya serius, kalian kan juga mahasiswa butuh uang juga untuk keseharian. Terima kasih atas niat baiknya tapi saya benar-benar tidak apa-apa".


"Dirimu sungguh berhati mulia". Reza mengambil duitnya lagi dengan cepat dan langsung masuk kantong.


Udin kagak kalah cepat sambil menatap Rio kagum, dia memasukkan duit ke dalam sakunya.


"Bro loe mau kan jadi teman kita?". Udin berbicara yang buat gw terkejut, udah gila apa ini anak. Bocah culun gini mau diajak temenan.


Rio juga tampak terkejut dengan tawaran yang diberikan Udin.


"Za, Bim kita berteman ya sama Rio? gimana menurut kalian?". Udin meminta pendapat gw dan Reza.


"Ide bagus itu Din, itu juga yang mau diriku ucapkan tadi". Reza menjawab cepat dan mengedipkan satu matanya ke gw.


"Kalau loe Bim?".


Untuk sesaat gw bingung dengan maksud 2 anak uler ini, tapi gw iyain aja karena penasaran juga.


"Nyet gw sih terserah lu berdua aja, tapi tanya dulu itu sama Rio nya mau kagak temenan sama kita".


Reza dan Udin pun beralih memandan Rio yang menundukkan kepalanya, seperti sedang berfikir atau ketiduran gw kagak tau.


"Bro loe mau kan temenan sama kita?".


"Musuh kemarin adalah teman hari ini, kita berteman ya?". Reza dan ungkapan ngasalnya yang kagak gw mengerti.


"Kita bertiga berjanji akan baik sama loe dan lindungi loe jika ada masalah, loe jangan takut kita bertiga tulus kok". Udin dengan mulut manisnya mulai menghasut.

__ADS_1


Gw masih kagak ngarti sebenernya kenapa 2 anak uler ini pengen berteman sama Rio, mungkin nanti gw akan tanyakan motif mereka berdua yang gw liat sangat-sangat mencurigakan.


"Kalian bertiga tidak malu berteman dengan saya, saya kan lemah dan sering di bully di Campus karena penampilan saya yang katanya norak". Rio berucap pelan melihat Reza dan Udin mencari ketulusan dari wajah keduanya.


"Diriku tidak malu sama sekali dan juga mulai besok jika dirimu diganggu orang bilang saja pada mi kami, sekuat tenaga akan kami bantu, itulah kegunaan teman bukan? saling membantu dan melindungi". Reza berucap sangat menyakinkan dengan raut wajah serius.


"Nyet itu bukannya kata-kata dari anime naruto ya?".


"Alah diam saja dirimu cak! Ini adalah moment yang tepat untuk diriku bicara seperti itu, ya kan Din?".


"Betul sekali bro, jika kita berteman masalah loe adalah masalah kami. Kita akan selalu bersama bersatu kita akan teguh dan bercerai kita .."


"Kawin lagi kan nyet?!". Gw menyela bacot Udin.


"Runtuh Bemo! runtuh! Nyolot aj loe". Udin sedikit kesel karena pidatonya sedikit gw ganggu.


"Hehehe". Rio tertawa pelan melihat kami bertiga.


2 anak uler dan gw terkejut seketika saat tau itu bocah bisa tertawa juga.


"Kalian begitu riang, saya tidak nyakin bisa menjadi teman kalian tapi saya ingin mencoba mempunyai teman jadi jika boleh saya mau menjadi teman kalian". Ria berucap pelan dan memandai kita bertiga bergantian.


"Bagus-bagus ta kita resmi menjadi teman". Reza berdiri dan memeluk Rio sebentar.


"Selamat datang di geng kita teman, jangan sungkan jika kamu hadapi masalah bilang aja sama kita". Udin juga memeluk Rio sebentar sebelum melepaskannya.


Rio memandang gw takut-takut, perasaan gw jadi kagak enak. Apa jangan-jangan itu bocah minta peluk juga sama gw.


Pengen gw giling rasanya itu 2 anak uler yang memandang gw sambil tersenyum kecil.


"Cak ngapain dirimu ayo sambut teman baru kita, malah begong dirimu".


"Iya Bim geng kita semakin rame sekarang ada Rio disini".


Rame mate loe soak! Orang culun pesakitan lu ajak berteman, ini pasti nambah beban gw aja. Gw mengumpat dalam hati.


Gw ngambil nafas panjang dan berusaha tersenyum. "Senang berteman dengan lu Rio, seperti apa kata Reza dan Udin lu bisa minta bantuan ke gw jika ada masalah kecuali masalah rumah tangga keluarga lu ya?". Gw bercanda kecil dan menyodorkan kepalan tangan kiri ke depan.


"Terima kasih Bimo, saya tidak punya keluarga dan dari kecil hidup di panti asuhan". Jawab dia lirih.


"Sorry-sorry tadi gw cuma bercanda saja enggak ada mksud apa-apa". Gw merasa kagak enak.


"Tidak apa-apa wajar kan belum tau". Jawab dia sambil membetulkan letak kaca mata.


"Tenang Ri sekarang loe bisa anggap kita sebagai keluarga". Udin berucap sambil menepuk pundak Rio.


"Tul betul itu temanku kita sekarang adalah saudara". Reza ikut menepuk pundak Rio pelan.


"Terima kasih..terima kasih". Rio tampak sangat bahagia mendapatkan teman.


"Oya Ri abis ini loe mau kemana? Ada mata kuliah yang loe ikuti atau mau langsung pulang?". Udin bertanya tiba-tiba.


"Saya tidak ada mata kuliah lagi dan mau pulang ke kost".


"Kebetulan sekali itu temanku bagaimana jika dirimu ikut kita? Ketua geng Bimo akan traktir, dirimu mau ikut kan?".


"Betul itu Ri anggap aja sebagai pesta penyambutan loe sebagai teman kita". Udin berucap dengan bersemangat.


Gw geleng-geleng kepala mendengar 2 anak uler ngajak Rio juga, emang pada saraf mereka berdua ini mau maksiat malah ngajak-ngajak.


Rio yang belum tau traktiran jenis apa malah tersenyum dan terlihat sangat tersentuh sekali mendapat tawaran 2 anak uler.


"Terima kasih atas tawarannya, saya mau". Rio menjawab pelan malu-malu. "Traktiran makan dimana?". Dia lanjut bertanya.


2 anak uler saling bertukar pandang dan tersenyum tipis.


"Kita bukan mau ditraktir makan temanku tapi di traktir ayam Campus sama Bimo". Reza menjawab pelan dan mendapat anggukan kepala dari Udin.


"Apa!". Rio terkejut seketika.


"Astafirlah! Saya tidak berani kalau seperti itu, dosa besar ini". Rio langsung beristigfar.


Lagi-lagi Udin dan Reza saling perpandangan seperti sedang berbicara dengan telepati.

__ADS_1


Tidak lama mereka berdua mendekati Rio berdiri disamping kiri dan kanan merangkul bahu teman baru mereka.


"Temanku dirimu jangan nolak dulu, anggap aja ini pengalaman biar dirimu tidak kikuk nantinya". kang sate sudah mulai dengan hasutannya.


"Ri asal loe tau ya? Ayam Campus ini bukan sembarang ayam Campus, kita sudah ada kontak mereka nanti loe tinggal pilih. Masak udah gede gini masih perjaka loe, mungkin ini adalah awal loe keluar dari segala bully yang loe dapat". anak gunung kidul mulai ikut melancarkan jurus hasutannya.


Raut wajah Rio tampak bimbang dan tegang. "Tapi itu kan dosa apalagi kita anggota rohis, saya juga takut". Rio tampak berkeringat.


"Temanku apa dirimu tidak suka betina cantik semok dan aduhai?". Reza bertanya.


Rio cuma tersenyum canggung menjawab pertanyaan Reza.


"Temanku bisa diriku tebak pasti dirimu hanya bisa mengagumi betina dari jauh kan dan tidak PD untuk mendekati".


Rio mengangguk pelan.


"Nak itu dirimu bisa latihan nanti saat ngamar sama Ayam Campus biar bisa PD berdekatan sama betina anggaplah ini belajar".


"Saya rasa ada yang aneh Reza, tapi masuk akal juga ucapan kamu". Rio berucap dengan polosnya dan termakan hasutan kang sate.


"Ri jujur sama kita loe pernah c*li kan?". Giliran Udin yang tanya blak-blakan.


Muke Rio jadi memerah mendengar pertanyaan Udin.


"Jujur aja Ri cowo normal mana sih yang gak pernah C*li".


"Iya saya pernah". Jawab Rio malu dan menunduk.


"Nah itu dia Ri, C*li itu tidak baik untuk kesehatan dan juga bisa terbuang sia-sia itu air m*ni loe, kita harus membuang sesuatu pada tempat yang tepat, bener gak Za?".


"Tul betul tak ye, ayolah temanku kapan lagi kamu bisa bobo satu ranjang dengan betina cantik yang hampir mendekati ketua Rohis kita kecantikannya".


"Apa mereka secantik itu?". Rio malah tampak penasaran setelah Reza bawa-bawa nama Nissa.


"Yoi Ri, loe pasti enggak balakan nyesel deh nanti kalau ikut sama kita".


"Iya temanku, dirimu harus rileks untuk sejenak dan bully aja itu betina di atas ranjang sesuka dirimu".


Sialan emang, kenapa gw ada ditengah-tengah pembicaraan kagak bener gini, gw bicara dalam hati melihat 2 anak uler yang keknya berhasil menghasut anak polos bernama Rio itu.


"Jika seperti itu saya tidak sopan jika menolak ajakan kalian, iya saya mau ikut". Rio tersenyum melihat Reza dan Udin.


"Sip Ri, memang tidak salah pilih teman gw". Udin berucap bangga.


"Dirimu memang beda temanku, luapkan emosi dirimu yang selalu di bully nanti malam dan keluarkan semua tenaga dan kemampuan dirimu". Reza memberi semangat.


"Iya Reza beruntung saya bertemu kalian, walau awal tidak enak saya tidak menyesal karena kalian mau berteman dengan saya". Rio tampak tulus mengucapkan itu.


"Ehemm-ehemm, kok tenggorokan gua gatal ya?". Udin terbatuk pelan terlihat sekali sangat dibuat-buat.


"Din mau diriku belikan minuman?". Reza bertanya.


"Reza biar aku saja yang beli minuman untuk kalian". Rio menawarkan diri.


"Ahhh jangan Ri enggak enak gua". Udin berucap sambil menahan senyum.


"Tidak apa-apa kan kita sudah berteman, 4 minuman kan untuk Bimo juga?".


"Jika dirimu tidak keberatan sih diriku tidak bisa mencegah temanku".


"Saya tidak keberatan sama sekali, tunggu sebentar saya akan beli minuman untuk kalian". Rio dengan riang gembira berjalan keluar klinik Campus.


"Plaakk!". Reza dan Udin langsung saling tos.


"Yeeaaahh!". Mereka bersorak bersama-sama.


"Hei anak codot! Pada keblinger ya otak lu pada? bocah baik-baik itu anjing! Kenapa malah lu berdua ajak maksiat". Gw yang dari tadi diam kagak kuasa untuk tidak mengumpat setelah Rio pergi beli minum.


"Cak dengarkan penjelasan kita berdua dulu cak". Reza berucap tenang.


"Iya Bim loe pasti senang dengan penjelasan kita berdua". Udin tersenyum penuh arti.


"Udah kagak usah sok misteris lu berdua cepat bilang apa rencana lu berdua?! Kenapa ajak berteman bocah cacingan kek gitu?".

__ADS_1


__ADS_2