Preman Campus

Preman Campus
AYAM PILIHAN REZA 2


__ADS_3

"Cak dia namanya Sisil, anak fakultas ekonomi dan dia adalah ayam pilihan diriku". Dengan bangga Reza berbisik ditelinga gw.


Wanita semok nan bohai, body campuran antara gitar sumedang dan gitar spanyol dengan aset menggoda memandang kami ber 4 dengan santai dan senyum kecil tercetak di bibirnya yang tebal nan eksotis.


Mungkin dimata dia kami terlihat seperti keledai dungu yang terpesona melihat indahnya burung merak, wanita bernama Sisil itu berjalan masuk tanpa mengeluarkan suara.


Dengan santainya dia duduk di depan gw persis posisi duduk yang sama dengan Gita yang membedakan adalah wanita ini tampak cuek saja dan seakan-akan sedang memamerkan aset dia, separuh payu**ra itu jelas terbuka dan hanya sebagian yang tertutup gaun.


Bulat memikat dan menantang, damage dan aura yang Sisil tampilkan sangat luar biasa menghantam jiwa pejantan 4 pemuda yang masih perjaka.


Suasana masih hening dan Sisil memandang kami berempat satu persatu dan lagi-lagi dia tersenyum, entah apa yang ada di fikirannya gw kagak tau dan yang pasti kelihatannya dia perbeda dengan pecun bernama gita tadi.


Tangannya yang mulus menjulur dan jari-jari lentiknya itu mengambil bungkus rokok didepan gw, menarik 1 batang dan menempelkan di bibir yang terbalut lipstik merah merona.


Dia memandang gw yang ada tepat didepannya dan bola mata bulatnya bergerak memandang korek api di atas meja.


Apa ini betina suruh gw buat sulut rokok di bibirnya itu?. Gw bertanya-tanya dalam hati sangat jelas isarat yang dia tunjukan.


Tangan gw sedikit bergetar saat meraih korek api di atas meja dan itu tidak luput dari pandangan sisil.


"Cak tenang cak! Dirimu pasti bisa jangan sampai kumat penyakit ayan dirimu". Reza berbisik pelan.


Kalau keadaan suasana normal pasti gw sudah kasih sumpah serapah itu sama anak kang sate.


Tangan gw memegang korek dan maju ke depan berada tepat di bawah ujung rokok yang nembel di bibir Sisil.


Api kecil menyala dan dia memandang gw sambil menyedot dan menggerakkan batang rokok di bibirnya.


"Makasih".


Satu kata pelan yang dia ucapkan tapi entah kenapa menusuk-nusuk gendang telinga gw, mungkin 3 orang yang masih bengong di samping gw merasakan hal yang sama.


Suasana hening kembali, kami berempat masih diam dan masih berada dalam pengaruh sihir 2 benda bulat menantang Sisil.


Sisil menghisap batang rokok halus dengan kedua matanya yang terpejam seakan-seakan sangat menikmati asap yang dia hirup.


Wuusss.. Asap keluar dari bibir merah itu dan meluncur ke depan menerpa wajah gw.


"Uhukk-uhukk!". Auto gw terbatuk dan kesadaran gw langsung menyala keluar dari imajinasi liar yang dari tadi menari-nari di dalam otak.

__ADS_1


Betina di depan gw tampak biasa saja dan kagak merasa bersalah dengan racun asap rorok yang dia hembuskan ke gw.


Dia kembali menghisap batang rokok mild itu dan saat ini arah bibirnya menghadap ke Reza.


"Wusss..". Asap keluar lagi terbang dengan anggunnya meluncur kearah muka anak kang sate.


Gw bengong seketika ngeliat bocah saraf di samping gw, bukannya menghindar wajah Reza malah tampak merah merona kek orang *****.


Reza dengan cepat memajukan wajahnya menyambut dengan mulut terbuka asap yang datang dari depan.


Tanpa merasa jijik asap di udara itu Reza sedot dengan mulut dan langsung dia telan.


Reza tersenyum bahagia kek orang yang abis menang togel.


Samar-samar gw liat asap itu dia keluarkan melalui hidung bersaaman dengan nafas.


Sisil tersenyum melihat Reza yang telah hanyut jauh kedasar pesonanya.


Dia kini memandang Rio yang dari tadi masih dalam mode pantung pancoran.


Sekali lagi jurus asap rokok dia hembuskan ke arah anak cebong baru bernama Rio.


Rio kagak gerak sedikitpun wajah datar dia masih dalam mode patung, dia seperti menahan nafas saat asap itu menerpa wajahnya.


"Huuu..!".


"Haaaa..!".


"Huuu..!".


"Haaa..!".


"Yo lu kagak ngapa-ngapa kan?". Gw auto panik saat liat Rio bernafas dari mulut kek abis dikejar anjing.


Rio menjawab dengan lambaian tangannya karena sibuk bernafas itu bocah.


Gw langsung memandang Sisil tajam, pecun murahain ini sedang mempermainkan kita. Rio sampai kena penyakit bengek gitu.


Sekilas Sisil memandang gw tanpa merasa bersalah dia tersenyum lagi.

__ADS_1


"Ehemm!". Suara deheman pelan terdengar dari sudut paling kiri dan mahkluk penunggu yang duduk disana adalah Udin.


Udin memandang Sisil penuh harap dengan iler yang mulai menetes dari sudut bibirnya.


Udah gila itu kek nya si Udin, apa jangan-jangan dia minta di asepin juga sama ini pecun.


Sisil melihat Udin dan dengan mudahnya dia pasti tau arti wajah dan iler Udin itu.


Dia tampak tidak jijik sama sekali malah tampak bersamangat ngeliat iler si Udin.


Bisa gw pastikan ada yang kagak bener dengan otak pecun ini, punya kelainan menyimpang keknya dia.


Sisil kembali menghisap batang rokok pelan dan langsung dia hembuskan ke arah wajah Udin.


Sudah gw duga temen gw satu itu pasti sama gilanya dengan anak kang sate, dengan cepat Udin memajukan wajahnya.


Dengan mata terpejam dan bibir tersenyum Udin tampak menikmati asap rokok yang menerpa wajahnya, mungkin di otak dia menganggap asap itu adalah angin sepoi-sepoi nak sejuk.


"Udah cukup permainan asap kagak bener ini!". Gw bersuara lantang memecah keheningan.


"Bukannya menyenangkan permainan yang aku ciptakan?". Dengan suara serak-serak basah akhirnya Sisil menjawab dia iringi dengan senyum mengoda itu.


"Menyenangkan apaan?! Yang ada kita keracunan dengan asap yang loe keluarin itu".


Gw bentak sisil kagak gentar dan malah menatap gw dengan berbinar, perasaan gw jadi kagak enak banget ini.


"Kita langsung aja bicara bisnis, apa benar nama loe Sisil? Penjual kasih sayang?". Gw bertanya to the point.


"Panggil saja aku Sisi, aku bisa jadi penjual dan juga bisa jadi pembeli". Dia menjawab dan menghisap rokoknya yang masih separuh.


"Kagak ngarti gw dengan jawaban loe? Apa maksudnya loe juga bisa pembeli itu?".


"Junior-junior yang manis". Sisil berucap centil nan manja sambil memandang kami ber 4.


jika permainan kalian bisa memuaskan dan bisa ngalahain aku, kalian enggak perlu bayar dan aku yang akan bayar kalian". Sisil berucap sambil mengeluarkan lidahnya dan menyapu bibir merah itu, mengoda 4 pemuda polos nan lugu.


"Kalian boleh main keroyokan juga, aku lebih suka 4 lawan 1 itupun jika kalian sanggup".


Gw jadi bego seketika, bener-bener udah bergeser otak ini pecun.

__ADS_1


"Za kenapa loe pilih ayam yang sakit jiwa kek gini sih? Udah saraf ini keknya ayam pilihan loe". Gw berbisik pelan di telinga akan kang sate Madura.


__ADS_2