Preman Campus

Preman Campus
JARI


__ADS_3

Gw masih di rumah Bianca, Pukul 16:30 alias setengah lima sore sehabis numpang makan gratis, gw duduk di ruang tamu menyedot sebatang nekotin di temani seorang wanita cantik yang duduk disebalah gw.


Wanita cantik itu tentu saja adalah cewe no 2 gw yaitu Bianca. Dia sedang mengupas buah apel dengan lembut dengan pisau kecil di tangannya.


"Bie kalau kamu liatin aku terus kek gitu, nanti kamu salah ngupas lho! Bukannya apel yang kamu kupas tapi malah kulit tangan kamu nanti".


"Pede siapa juga yang liatin kamu". Bianca mengelak tapi tidak bisa menyembunyikan ekpresi malunya.


"Liatin aku juga gak apa-apa kok, wajar aja diriku kan seperti karya seni. Bisa membuat orang tidak berkedip saat melihat".


"Bimo sebenarnya aku penasaran dengan satu hal". Bianca berbicara dan memandang gw serius.


"Iya wajar itu Bie, diriku kan menampilkan aura misteri yang agung. Kamu penasaran soal apa?".


"Aku penasaran apa sifat narsis kamu ini turunan atau memang tumbuh dengan sendirinya, seiring dengan bertambah nya usia kamu?"


Hampir saja gw tersedak asep rokok saat mendengar Bianca bicara dan tanya kek gitu.


"Bie, kamu tidak bisa bertanya seperi itu dengan muka datar dan polos kek gitu. Aku mau marah enggak bisa ini".


Bianca tersenyum lembut mengambil sepotong apel dan di arahkan ke mulut gw. "Marahnya ditahan dulu Bimo, ini makan dulu apelnya. Aku suapin".


Gw mengangguk dan dengan cepat gua masukan mulut potongan apel berserta 2 jari Bianca.


"Bimooo!". Dengan cepat Bianca menarik jarinya yang sempat gw kulum.


Gw tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.


"Basah jari aku Bim, kamu sengaja ya?". Bianca cemberut melihat gw.


"Manis jari kamu Bie, lebih manis dari apel".


"Jorok tau Bim, tanggung jawab kamu".


"Tanggung jawab apaan Bie, jari kamu kan kagak bunting".


"Ini bersihkan jari aku Bimoo, ada air liur kamu ini". Bianca menyodorkan lagi 2 jari basahnya ke depan.


"Oalah itu ta, Bilang dong dari tadi".


Gw langsung pegang tangang Bianca, tanpa banyak bacot gw kulum lagi kedua jarinya.


"Bimooo Geli Bim". Bianca berontak saat gw jari dia ada di mulut gw.


"Bimo lepasin ini di ruang tamu". Bianca berusaha menarik jarinya tapi dari awal tangannya sudah gw pegang erat.


"Ucchhh! Bimo geli.." Wajah bianca memerah dan mendesah kecil saat gw mempermainkan jarinya dengan lidah gw.


Gw tersentak kagak nyangka Bianca bakalan ngedesah kek gitu. Dengan cepat gw keluarkan kedua jari dia.


Bianca terdiam dan melihat kedua jari dia yang basah kuyup.


"Bie! kamu mau ngapain!". Gw terkejut dan mundur saat Bianca maju dan mengunakan baju gw untuk mengelap jari dia.


"Bie, itu di meja kan ada tissue".


"Itu hukuman buat kamu Bim, nekad banget sih ini kan ruangan terbuka".

__ADS_1


"Aku kan cuma bercanda Bie, ehhh kamu malah mendesah kek gitu". Jawab gw datar.


Wajah Bianca langsung semerah cat nippon pain, menunduk malu kagak berani melihat gw.


"A a aku kan ter ter kejut Bim". Bianca berbicara terbata-bata seperti saraf lidahnya lagi kagak singkron dengan saraf otaknya.


"Nona Bianca yang cantik, orang terkejut kan biasanya latah bukan mendesah, bilang aja kamu lagi 5ange".


"Bimo masak kamu bicara seperti itu sama cewe".


"Mulut dan lidah aku emang gini dari dulu sayang, kamu tau itu kan". Gw tersenyum kecil


Bianca menggelengkan kepala seperti orang tidak percaya.


Autu kepala gw juga ikut ngangguk-gangguk.


"Bimo kenapa kamu gitu? sakit ya leher kamu".


"Kagak kok, kamu kan lagi geleng-geleng ya aku ngangguk-ngangguk".


"He-he-he.. Kamu ya buat aku selalu senyum. Dasar cowo aneh". Bianca mendorong bahu gw pelan.


"Jadi gimana Bie kita naik sekarang?".


"Naik kemana?" Bianca tampak bingung menatap gw.


"Kan kamu lagi 5ange ya naik ke kamar kamu lagi lah". Gw tersenyum genit


"Bimo mesum!". Bianca langsung mengeser duduknya menjauh dari gw.


"Bimooo! Bianca dengan cepat mendekat lagi dan langsung membungkam mulut gw dengan telapak tangannya.


"Emmm..emmmm!". Gw kagak bisa bicara


Bianca melotot mengintimidasi. "Kalau kamu masih ngedoda aku bakalan selamanya tangan aku berada di mulut kamu".


"Emmm..Emmmm!". Gw berguman dan langsung menjulurkan lidah gw ke telapak tangan Bianca.


"Bimoo!".


"Plakk!"


"Plakk!".


"Plakk!".


Bianca teriak kecil dan langsung menghujai gw dengan pukulan manja.


"Ampun Bie, ampuun!". Gw langsung memohon.


"Tidak ada ampun untuk kamu Bim!" Sekarang giliran kuping gw yang jadi sasaran tangan Bianca.


"Ahh..Aahhh.. Sakit Bie.. Sakit". Gw memegangi tangan Bianca yang menempel di kuping gw.


"Eheeemmmm!".


"Bie kamu denger suara orang berdehem kagak!".

__ADS_1


"Jangan cari alasan kamu Bim, disini kan cuma ada kita berdua".


"Serius Bie, aku dengar orang berdehem".


Mata gw dan Bianca saling bertemu dan memandang dengan posisi tangan dia yang masih memegang kuping gw.


"Eheeeeeeeemmmm!".


Bianca terkejut begitu juga dengan gw, pelan-pelan kepala kita bergerak menoleh ke arah pintu masuk.


"Allahu akbar!". Gw sontak terkejut dan langsung meloncat menjauh dari Bianca.


"Kakak ini tidak seperti yang kamu bayangkan". Bianca langsung berbicara.


Karena orang yang melihat kami di dekat pintu itu adalah bang Jack.


Mampus! Gw langsung mengumpat dalam hati, keringat dingin langsung keluar dari kening gw.


Bang Jack masih aja diem dan gw semakin tegang, entah dari kapan dia berdiri di situ. Apa mungkin di dengar perbincangan mesum gw sama Bianca? Gw pengen teriak saat ini juga.


"Bimo, Bie.. Kenapa kalian lihatin saya seperti itu? Lanjutin aja kegiatan kalian. Jewer aja lagi Bie kuping Bimo, kakak akan pura-pura tidak lihat". Bang Jack akhirnya bicara dan tersenyum kecil.


"Bang saya cuma lagi bercanda kok sama Bianca". Gw segera bicara menjelaskan.


"Hahaha, kamu beruntung Bim". Bang Jack berbicara dan ikutan duduk di sofa depan gw.


"Beruntung apa bang?".


"Iya beruntung bisa dijewer sama Bianca, saya aja kakaknya belum pernah".


Gw melongo seketika saat mengedar itu udah gila apa yak ini orang, Iri karena jeweran.


"Kakak!". Bianca tampak malu.


"Beruntung apa bang, kuping saya serasa mau lepas".


"Hahahaha". Bang Jack malah tertawa lantang.


"Ya udah kalian lanjutin aja ngobrolnya, saya masuk dulu. Oya Bim apa yang kamu katakan tadi siang memang benar dan saya sudah membereskan semuanya, kita bicara lagi nanti". Bang Jack bicara dan berdiri.


"Bimo mau aku ajak ke pasar malam kak, enggak sempat bicara sama kakak". Bianca langsung berbicara.


"Pasar malam?". Bang Jack melihat ke arah gw.


Auto gw langsung berdiri dan berucap. "Iya bang ini soal janji saya sama Bianca, karena udah hampir malam taman hiburan pasti sudah tutup".


"Jadi kalian akan ke pasar malam sekarang?".


"Iya yak, boleh kan Bie jalan sama Bimo?".


"Bolehlah apa sih yang enggak untuk adik tersayang kakak". Bang Jack mengusap pucuk rambut Bianca pelan.


"Bim, hati-hati ya dan tolong jaga adik manja saya ini".


"Siap bang". Jawab gw mantap dan bang Jack tampak puas mendengarnya.


Bang Jack pun langsung melangkah pergi meninggalkan gw dan Bianca berdua kembali.

__ADS_1


__ADS_2