
Posisi gua masih di dealer motor dan masih dalam mode kalap, hajar mantan suami Suci dengan membabi buta dan tanpa ampun.
Walau itu orang sudah babak belur dan bersimbah darah plus tertindih motor tapi masih saja sadar dan bernafas sampai 3 orang datang dari depan dengan tergesa-gesa.
Lisa sales dealer dan 2 orang satpam, satu pria setengah baya dan satunya satpam muda yang berwajah tampan dan berkulit putih bersih, rasanya pengen gua sayat sama silet itu muka karena paling benci gua liat muka boy band kek gitu.
Samsul, mantan suami Suci gua pasrahkan ke Jono untuk patahkan tangan dan kakinya. Walau dia tidak menjawab, gua nyakin dia bisa, tergantung nyalinya Jono aja sebesar apa anu atau sekecil kuaci.
Gua melesat maju menerjang angin menuju dua satpam.
Mereka berdua sejenak saling berpandangan dan mengangguk, dengan memegang erat pentungan hitam di tangan lekas mereka berlari ke depan menyambut kedatangan gua.
Babak selanjutnya dari adu nyali dan skill ini pun segera dimulai.
Dengan bermodalkan senjata tangan dan kaki plus nyali besar, gua bersiap mengeluarkan semua skill gelut yang gua punya.
Skill yang telah gua asah bertahun-tahun dan hampir tiap hari, mungkin gua bisa dibilang bodoh dalam segala hal kehidupan tapi kalau soal gelut dan adu nyawa jalanan tanpa aturan gua adalah rajanya.
Entah kenapa kalau soal tumpahkan darah orang, otak gua bisa berfikir dengan cepat dan tepat dalam segala situasi dan kondisi.
Ada orang yang terlahir tampan dan cantik dan ada pula yang terlahir kaya, mungkin gua adalah orang yang terlahir dengan bakat alami gelut.
Selama tangan dan kaki ini masih bisa bergerak, gua akan tetap melawan. Rasa sakit yang diterima tubuh saat selesai adu nyawa itu hanya gua anggap cinderamata dan oleh-oleh dari gua menjalani hobi gila ini.
Mungkin dimata orang lain gua hanyalah bajingan sombong, sampah masyarakat dan pembuat onar.
Gua merasa bangga mendapat julukan seperti itu, karena inilah gua Abimana Pramono jika orang-orang memilih jalan yang mulus, gua akan memilih jalan yang terjal dan berbahaya.
Gua akui jalan pikiran gua memang kagak normal seperti kebanyakan anak muda lainya karena gua kagak mau dianggap lemah dan banyak orang yang musti gua lindungi. Itulah yang buat gua terus maju menerjang tanpa rasa takut.
Di zaman sekarang jika manusia lemah dan penakut hanya akan menjadi sasaran bully dan cacian dan gua lebih memilih menjadi pem bully daripada di bully.
sebelum orang lain mencaci akan gua caci mereka terlebih dahulu.
sebelum orang lain sakiti orang yang gua sayang akan gua hancurkan terlebih dahulu kehidupan keluarganya.
Rasa sakit yang diterima musuh harus lebih banyak dari rasa sakit yang gua terima.
Air mata yang di keluarkan musuh harus lebih deras dari air mata yang gua keluarkan.
Dan darah yang tumpah dari musuh harus lebih banyak dan kental dibandingkan dengan darah gua.
Akan gua buat mereka menyesal karena menjadikan gua sebagai musuh.
Akan gua buat mereka sadar bahwa memusuhi gua sama saja mengalami mimpi buruk.
Inilah bentuk pertahan diri yang gua ciptakan sendiri, gua rela menahan dan berjuang untuk segala hal yang gua sayang dan harga diri gua sendiri.
Harga diri dan martabat gua tidak akan semudah itu untuk di remehkan dan di injak-injak.
Kekerasan tidak menyelesaikan masalah tapi terkadang dengan kekerasan membuat masalah menjadi mudah.
................
4 meter jarak antara gua dan dua satpam yang berlari di depan mulai terkikis dengan cepat.
3 meter, pertarungan 2 lawan satu ini akan segera dimulai.
2 meter, dengan pentungan yang di angkat ke atas dua satpam itu bersiap untuk menyerang.
__ADS_1
Akhirnya kami saling berhadapan di jarak 1 meter dan mereka langsung mengayunkan pentungan dari atas dengan target kepala gua.
"Lemah!." Gua yang sudah sangat fokus mencibir dengan senyum iblis yang tercetak di bibir dan dengan gerakan tangan cepat langsung menangkap tongkat, gua tangkap dua-duanya di udara.
2 Satpam beda usia itu langsung terpana dengan gerakan cepat pertahanan gila yang gua lakukan, rasa sakit remeh dari itu pukulan di telapak tangan tidak gua rasakan.
Pertahan segera gua ubah menjadi serangan dengan skill dan sedikit nekad, gua meloncat dengan kedua kaki terangkat ke depan.
Dengan kedua tangan yang masih menahan tongkat di udara, gua melakukan gerakan tendangan dua kaki bersamaan mengarah ke dada kedua satpam.
Adegan selanjutkan adalah gua yang seperti penyihir mengambang di udara untuk sepersekian detik.
Jika trio wek-wek Reza, Udin dan Rio ada disini mungkin mereka akan kagum dengan aksi yang gua lakukan dan bertepuk tangan untuk gua dengan hebohnya.
Tendangan 2 kaki gua dengan telak mengenai dada mereka berdua dan langsung mundur beberapa langkah ke belakang dengan 2 tongkat yang masih mereka pegang terlepas dari gua.
Sementara gua langsung jatuh terlentang di tanah dan segera bangkit.
"Jon loe liat kan tadi? Gimana keren kagak aksi gua?." Tanpa melihat Jono di belakang gua bertanya.
"Iya keren tapi itu sama aja loe sakiti diri loe sendiri bemo!." Jono di belakang menjawab.
"Udah loe urus saja itu musuh loe dan awas kalau nanti gua kagak liat kaki sama tangannya patah, bakalan gua bakar bulu hidung loe."
Gua langsung melesat maju lagi menghampiri dua satpam di depan yang sekarang tampak bimbang dan ragu setelah mendengar apa yang baru saja gua katakan.
Mereka diam dan masih memegang erat tongkat di tangan bersiap menyambut gua lagi.
Satpam setengah baya mengayunkan tongkat menyamping dari bawah menuju perut gua.
Sementara satpam muda mengayunkan tongkat dari samping atas menuju pala samping gua.
2 pukulan tongkat itu saling melewati satu sama lain dengan bunyi wung dari angin yang mereka pukul.
Belum sempat gua membalas, mereka maju mendekat dan melakukan gerakan yang sama mengayunkan tongkatnya ke arah samping perut gua dan samping pala.
Terpaksa gua mundur lagi untuk menghindar dan yang lebih anjingnya adalah mereka berdua maju lagi dan melakukan gerakan yang sama lagi.
Sialan! Apa mereka kagak punya jurus yang lain apa yak? Kenapa malah jadi maju mundur kek gini? jika gini terus dan gua terus menghindar mundur bisa mundur sampai benua Afrika gua entar.
Terpaksa aksi nekad gua lakukan untuk menyudahi adegan gelut lawak ini.
Untuk serangan selanjutnya gua kagak menghindar dan berdiri kokoh bersiap menerima serangan, semua otot di tubuh gua kencangkan untuk mengurangi guncangan.
"Bug!." Gua meringis saat tongkat mengenai perut samping gua, semoga aja kagak kenapa-napa ginjal yang ada di sana.
"Prak!." tongkat mengenai pala samping gua, untuk sesaat mata gua jadi gelap dan gua langsung oleng ke samping kanan.
Sadar Bemo masih ada beberapa pacar loe yang masih gadis dan belum kamu jamah! Gua berteriak dalam hati dan kembali sadar dan berdiri tegak.
Dua satpam itu kembali terpana melihat gua dan untuk ke sekian kalinya mereka langsung menyerang lagi dengan gerakan yang sama tapi sebelum itu gua maju terlebih dahulu dan langsung cengkram dan tekan leher mereka masing-masing dengan kedua tangan dan jari-jari gua.
Gua cekik 2 satpam itu dengan brutal karena gua mencari celah untuk patahan kerongkongan mereka agar langsung wasalam.
Auto mereka gelagapan dengan mata mendelik.
Gerakan random mereka lakukan untuk bisa melepaskan diri dari cekikkan gua, dari memukul tubuh gua dengan membabi buta dengan tongkat sampai lengan gua yang memegang leher mereka juga terkena pukulan.
Merasa keadaan tidak menguntungkan arah serangan gua alihkan.
__ADS_1
Gua pengang erat leher keduanya dan langsung gua tarik kesamping.
"Prak!." Suara dua kepala saling berbenturan keras.
Kedua satpam itu langsung oleng pijakan kakinya dan ini adalah kesempatan emas bagi gua.
Segera gua kasih bogem mentah wajah keduanya yang membuat mereka sadar lagi dan langsung mundur.
Gua langsung melesat mengejar dan kali ini gua melakukan tendangan menyamping dengan target perut satpam muda.
"Uak!." Teriakan kesakitan langsung gua dengar.
Satpam setengah baya langsung mengalihkan perhatian gua dengan kembali menyerang membuat gua mundur menjauh dari satpam muda.
"Sorry om, bukan maksud gua sakiti orang tua tapi jalannya memang harus seperti ini dan terima nasib saja." Gua bicara dan tangkap ayunan tongkat nya dan langsung bergerak maju dengan cepat ke belakang dia.
lengan gua langsung mengait lehernya dari belakang dengan ini skill kuncian leher gua pertontonkan.
Satpam setengah baya langsung berontak karena jalur nafas nya gua sumbat dan tekan.
Dia terlihat mau teriak tapi cuma mulutnya doang yang terbuka tidak ada suara yang keluar.
"Bemo! Awas belakang loe Bim!." Jono berteriak
"Bug!." pukulan keras gua rasakan mengenai punggung gua.
Segera gua lepas kuncian leher di satpam setengah baya dan dia langsung lunglai jatuh pingsan di lantai.
Gua segera berbalik dan menghindar saat satpam muda itu akan menyerang lagi dengan tongkatnya.
Pria muda itu melihat teman nya yang tergeletak di lantai dengan bola mata bergetar.
"Kenapa tong! Loe mau kek gitu? sini-sini kebetulan gua benci sama wajah tampan loe itu, kalau ada beberapa codet di sana sepertinya akan lebih bagus." gua bicara dan tersenyum jahat.
Satpam muda itu langsung mundur beberapa langkah.
"Lho, kenapa mundur? sini-sini jangan takut biar Abang Bimo permak muka kamu." Gua maju pelan mendekat.
"Pergi! pergi! Jangan mendekat pergi!." Satpam muda itu histeris dengan muka ketakutan putus asa.
Tongkat dia lempar ke arah gua dengan cepat dan tanpa masalah langsung gua tangkap, yang kagak gua pikirkan adalah itu satpam langsung lari tunggang langgang.
"Tong mau kemana loe?! Ini tongkat loe ketinggalan! Tangkap ya?." Gua langsung mengambil ancang-ancang dan segera gua lempar tongkat ke depan ke arah dia lari.
Tongkat terbang di udara dengan bunyi wung-wung menerpa angin.
"Bug!."
"Nice hit!". kepalan tangan gua naik ke atas karena lemparan gua tepat sasaran mengenai pala itu satpam pengecut yang langsung jatuh nyungsep ke depan kiss tanah.
"A A A A A A..! Tolong!." Dia segera bangkit dan lari sambil berteriak.
Gua tersenyum melihat pria muda yang ketakutan itu, mental tempe dan nyali kecil kok jadi aparat keamanan, apa itu bocah nembak pakai duit? Hem Indonesiaku memang keren hal yang mustahil bisa berubah menjadi mustahal.
Gua akan berbalik badan melihat Jono apa sudah kelar patahkan anggota tubuh Samsul tapi deru langkah beberapa orang gua mengalihkan perhatian gua.
Dari arah dalam dealer Lisa sales wanita itu sekarang membawa 4 orang pria muda dengan baju bengkel kotor penuh oli.
Gua tersenyum lebar dan langsung menggerakkan tubuh ke kanan dan ke kiri sepertinya akan lebih seru ini 4 lawan 1.
__ADS_1