
"Mari kita adu pukulan mana yang lebih kuat?! Anak muda bau kencur kemarin sore atau orang tua bangkotan bau tanah yang sudah hidup lama".
Gw melangkah maju menyambut serangan yang akan dilancarkan pria tua berdasi.
Pukulan lurus langsung dia lancarkan di saat jarak diantara kita cuma tinggal sejengkal.
Gw langsung pasang kuda-kuda dan mengambil ancang-ancang.
Niat awal ingin gw adu pukulan dia dengan hantaman bogem gw! Tapi entah kenapa rasa tidak nyaman langsung gw rasakan melihat rambut pria di depan gw yang beruban.
Apa iya gw akan patahkan jari orang tua cuma karena tabrakan di toilet? Dan salah paham yang gak penting ini?
Hati nurani gw memberontak seketika dan munculnya rasa iba dan kasian saat berhadapan dengan lawan yang kagak sepadan.
"Wusss!". Pukulan dia mengarah ke muka gw.
"Sreet!". Dengan cepat gw melangkah ke samping untuk menghindar.
Tubuh dia berputar dan menghadap gw, sekali lagi melancarkan serangannya ke gw masih dengan tinjunya itu yang sekarang mengarah lurus ke perut gw.
Gw bulatkan tedad! untuk sekali saja ini gw akan adu pukulan dengan orang tua, rasa iba dan kasian segera gw buang jauh-jauh.
Gw menarik tangan kebelakang dan bogem gw meluncur lurus kedepan siap untuk menghadang dan berbenturan dengan pukulan orang tua kagak tau diri ini.
"Hiyaaa!". Dia teriak dengan mulut terbuka karena tau tinjunya akan gw hadang, teriakan yang terlihat membakar semangat dirinya sendiri sekaligus membuat tangan gw jatuh dari udara seketika sebelum berbenturan dengan pukulan dia.
Jatuh tanpa daya tangan gw saat melihat gigi ompong pria di depan gw ini, rasa kagak tega sakiti orang tua muncul lagi.
"Buggkkk". tanpa hadangan pukulan dia mengenai tepat di perut gw.
Gw menyipitkan mata dan mundur dua langkah ke belakang, yang namanya ditonjok orang ya sakit tapi gw bisa menahannya.
"Kenapa kamu turunkan tangan kamu ha?! Kamu takut kalah adu tinju dengan saya?! Hahaha, siapa yang bilang tadi mau adu tinju dan tendangan dengan saya?! Umur dan pengalaman berbicara disini anak muda". Dia berucap dengan sombongnya.
Sialan udah gw kasihani malah kagak tau diri ini orang, nyolot dan ngetawain gw.
Kalau kagak gw turunin bisa patah jari loe tadi pak tua!. Gw mengumpat dalam hati.
"Anak muda jaman sekarang omongan saja yang besar! sok tidak takut dan sok jagoan, segitu aja ternyata". Merasa di atas angin dia mulai mencibir.
"Anda bodoh apa bego?! enggak sadar saya kasihani, saya iba melihat uban dan gigi anda yang ompong itu, harusnya anda sadar dan cukup sampai disini saja perselisihan kita".
"Kasian?! iba?! Hahaha.. Harusnya saya yang bilang seperti itu sama kamu, bilang saja kamu takut? Belum terlambat untuk meminta maaf nak mungkin jika kamu minta maaf dan mencium sepatu ini, saya akan memberi maaf". Wajah tua itu tersenyum tipis dengan arogansi yang jelas terpancar.
"Saya sudah terlalu lama di toilet sini, entah mengapa bau tidak sedap semakin menyebar bersaaman dengan kata-kata yang anda ucapkan".
"Jika anda mau tuntut saya, tuntut saja nama saya Abimana pramono dan kuliah di UGM, udah gitu aja saya pergi dulu".
"Mau kemana kamu?! Jilat dulu ini sepatu saya!". Di melangkah cepat untuk mengadang gw.
Dia mengangkat kaki kanan dan tendangan menyamping dia lancarkan, sepatu pantofel hitam mengkilap meluncur ke arah perut samping gw.
"Anda yang minta sendiri! Jadi rasakan dan anggap ini pelajaran dari anak muda ke orang tua". Gw berucap datar dan mengangkat kaki kanan.
Power tendangan gw kurangi menjadi setengah, gw lancarkan dan gw adu dengan tendangan dia.
"Praaaaaakkk!". Suara tulang kering berbenturan nyaring sekali.
"Aaaaaa!". Auto pria itu teriak tidak kalah nyaringnya.
Tubuh dia berputar dulu efek setengah power tendangan gw dan akhiranya jatuh terletang dia di lantai toilet, meringis menampakkan gigi ompongnya sambil memegangi kaki yang mungkin saja retak itu tulangnya.
Mungkin salah gw harusnya gunain seperempat power aja tadi, setengah keknya kagak bisa nahan tulang pak tua ini.
"Tu kan saya bilang juga apa! Makanya jadi orang tua kagah usah kebayakan gaya, tulang udah renta juga masih aja songong pakai nantangin gw segala, ingat umur pak!".
__ADS_1
"Bocah kurang ajar! Tidak takut dosa kamu menendang orang tua?!". Masih tiduran di lantai dia malah ngomongin dosa.
"Kan anda tadi yang nantang! susah bicara ma orang pikun, lain kali jangan sok ya jadi orang tua jika mau berumur panjang, ingat anak bini berserta cucu dirumah". Gw berucap dan melangkah pergi.
"Mau kemana kamu bocah?! Urusan kita belum selesai!". Dia berteriak tapi bodo amat kagak mood gw gelut sama orang tua yang kagak sepadan kekuatannya sama gw.
Gw melangkah dan berniat segera keluar dari ini toilet jahanam.
Emang keknya apes gw hari ini baru 2 langkah, muncul 1 orang lagi masuk kedalam toilet. Sama-sama memakai jas rapi dan terlihat masih muda sekitar berumur 28 tahunan.
Dia terkejut melihat keadaan di dalam dan dia membelalakan matanya melihat orang tua yang tergeletak di lantai.
Perasaan gw mulai kagak enak dan gw segera mundur menjauh untuk melihat apa yang selanjutnya akan terjadi.
"Senior!". Pria itu berteriak kawatir dan menghampiri jaksa songgong di lantai.
"Senior anda kenapa senior?". Pemuda itu tampak panik dan membatu berdiri pria tua yang dia panggil senior.
"Bagus kamu datang Budi! anak kurang aja itu menghina dan aniaya saya, kamu harus cepat tangkap dia dan jebloskan ke penjara".
Pemuda bernama Rudi itu tertegun untuk sejenak dan langsung memandang gw.
"Apa masalahnya senior kenapa bisa anda bertengkar dengan anak muda seperti dia?".
"Plaaak!".
Gw terkejut melihat adegan di depan gw, pria tua itu malah menampar pria muda yang menolong dia.
"Kamu jangan banyak tanya! Kalau saya suruh tangkap ya tangkap, kamu mau membangkang ha?! Promosi jabatan kamu ada ditangan saya, jangan macam-macam dan turuti perintah saya!". Pria itu berteriak dan mengancam.
Budi tampak menunduk setelah di tampar dan hanya mengangguk pasrah, dia berjalan dan berdiri 3 meter di depan gw.
"Maaf saya tidak tau masalahnya tapi kamu harus ikut saya ke kantor, jangan memberontak dan memaksa saya untuk sakiti kamu". Dia berucap pelan.
Budi terdiam dan tampak tidak bisa menjawab pertanyaan gw.
"Hahahaha, kenapa bocah! Sekarang kamu takut ya, hahahaaa! Sudah terlambat. Tangkap dia Budi. Cepat!".
"Maaf saya harus mengikuti perintah atasan". Budi berucap pelan.
"Ok bang jika seperti itu, coba saja tangkap saya. Jangan segan dan keluarin semua kemampuan abang, saya sudah tidak punya banyak waktu dan harus keluar dari toilet ini".
"Budi melangkah maju begitu juga dengan gw.
Bogem tangan kiri dia lancarkan menuju wajah gw.
"Praakkk!". Gw adu bogem dia dengan kepalan tangan gw.
"Ahhhh!". Dia mendesah dan langsung mundur 1 langkah kebelakang.
Gw langsung saja maju mengejar dan mengangkat kaki mengarahkan tendangan tinggi ke kepala dia.
"Wussss!". Tendangan gw mengenai angin karena dia langsung menunduk.
Pukulun dia lancarkan dari bawah dan mencoba menyasar dagu gw, dan sekarang gw yang mengindar kesamping.
Dia yang masih jongkok di bawah mencoba berdiri tegak dan ini adalah kesempatan gw untuk mengakhiri, gw angkat kaki untuk kedua kalinya dan bagai kilat gw menyasar kepala samping Budi.
"Praakk!". Tendangan gw tepat sasaran mengenai pipi.
Rudi berputar sekali efek kuat tendangan gw dan langsung jatuh di lantai.
Rudi masih sadar dan tanpa menunggu lama gw injek dadanya.
"Bang gw rasa sampai disini saja perkelahian kita, jangan paksa saya untuk patahkan tulang abang".
__ADS_1
Rudi tampak ketakutan dan mengangguk cepat.
"Pak tua! Lu masih punya anak buah kagak! Suruh kemari aja biar gw abisin sekalian". Gw menantang.
Pria itu juga tampak ketakutan dengan intimidasi yang gw lakukan, dia mundur sampai pojok.
"Bang lain kali jangan nurut aja dengan atasan bego itu, jika dia salah lawan aja dan jika kamu ditampar balas tampar saja".
"Nama Gw Abimana Pramono, putra tunggal dari Rama Putra Pramono pemilik Pramono grup".
"Rudi kembali membelalakkan matanya nya memandang gw tidak percaya dengan posisi masih terlentang di lantai.
"Bruukk!". Pria tua yang semula berdiri di pojokan jatuh terduduk setelah mendengar identitas gw.
"Bang jika kedepannya lu ada masalah di kerjaan atau sama atasan bego itu, jangan segan datang ke gw untuk minta bantuan. Gw kuliah di UGM".
Rudi mengangguk cepat dan masih tampak linglung.
"Ok kalau gitu gw cabut dulu kapan-kapan kita ngopi bareng". Tanpa menunggu jawaban Rudi gw melangkah pergi dan berjalan cepat ke tempat para pencari ayam berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gw berdiri di depan ruangan anak-anak pencari ayam, tapi kenapa rasanya ada yang aneh ya?
Sepi banget dan kagak ada suara Reza dan Udin, apa mereka pada pergi dan kagak jadi main ayam.
Gw yang penasaran langsung aja gw geser pintu untuk masuk ke dalam.
Auto gw jadi patung dadakan setelah tau apa yang terjadi di dalam, sedikit terkejut dan mengerti kenapa kagak ada suara dari tadi.
Ayam berhijab pesanan Rio ternyata sudah datang dan duduk lesehan di depan mereka bertiga dengan cueknya dia melihat ke arah gw.
Untuk sesaat gw sedikit kagak kedip, beda banget sama di foto ini ayam dan aslinya lebih cakep dan manis.
pakaiannya pun cukup trendi dan kagak terlihat seperti ayam pinggir jalan.
Celana jeans biru elegan, kaos putih dibalut jaket demin sepinggang plus hijab putih menutupi kepala dia.
Ayam kelas atas memang berbeda. Gw membatin dalam hati.
Sempat berfikir gw untuk mengucapkan salam saat melihat kepala dia yang berhijab, tapi segera gw urungkan.
"Muncul lagi 1 orang bodoh!". Wanita itu berucap acuh tak acuh saat melihat gw yang bengong.
"Cak kamu kembali". Reza tersenyum canggung melihat gw.
"Bim, du du duk.. Bim". Udin berubah jadi azis gagap.
Sementara Rio jangan ditanya, gw liat dari tadi nunduk aja itu bocah dan kagak mau ngelihat ayam pesanannya.
Gw segera duduk di samping Reza dan disinilah sekarang gw berada.
Duduk jejer empat kek teletubies dengan Udin di ujung kiri, Rio dan Reza ditengah dan Gw di ujung kanan.
Di depan kami hanya terhalang meja kecil, seekor ayam terus saja memandang kami satu-persatu dengan pandangan sinis.
Suasana hening, 3 orang disebelah gw juga kagak bicara dari tadi.
"Halooo..! Suasana macam apa ini? Kenapa kalian diam saja?". Ayam di depan kami mulai kagak sabar.
"Kalian mau ngerjain aku ya?". Dia melotot tapi tetap manis gw liat.
"Siapa kemarin dan tadi ngechat aku suruh kemari?".
Seketika jari telunjuk gw, Udin dan Rio terangkat dan menunjuk Reza.
__ADS_1