
"Dokter putri? maaf mengganggu acara anda mengelap keringat saya, tapi ngomong-ngomong saya berada dimana ini?".
"Putri!". Dia menyebutkan namanya sendiri.
"Panggil aku Putri saja, seperti biasa! dan jangan terlalu formal bahasa kamu itu, aneh aku dengernya".
Dengan menahan sakit di perut, gw tersenyum kecil dan menggangguk. Semoga senyum gw kagak terlihat aneh di mata dia.
"Dan sekarang kamu berada di ruangan saya, kamu begitu terkenal disini dan sudah ada yang mengenali jadi akan heboh nanti jika kamu aku tempatkan di ruangan biasa".
"Aku takut enggak bisa merawat kamu dengan baik". Dia menjelaskan panjang lebar.
Gw agak terkejut saat dia bilang ini ruangan dia sendiri karena ruangan ini begitu luas dan memiliki interior yang begitu mewah.
Kelihatannya dia bukan dokter biasa. Gw bersepekulasi dan menebak-nebak identitas dokter Ayunda Putri ini.
"Bimo, kamu kok malah melamun? saya cek tekanan darah kamu dulu ya?".
"Iya silahkan dokter Putri". Gw menjawab pelan tapi dia malah terlihat kagak senang.
"Iya silahkan Putri". Gw meralat ucapan gw.
Dan dia tersenyum kecil, dan memasang alat kecil di pergelangan tangan gw.
Gw kagak tau itu alat namanya apa, yang pasti alat yang mirip jam tangan itu langsung mengeluarkan angka di layar kecilnya. Kagak gw sangka alat medis sudah berkembang dengan pesat.
Gw masih ingat waktu SD saat disuntik cacar alat cek darah masih seperti karet yang di lilitkan di pangkal tangan dan harus di pompa dulu untuk cek darah.
"Hemm! tekanan darah kamu normal, sekarang biar aku cek detak jantung kamu ya?".
"Iya silahkan". Jawab gw pelan dan tidak mengalihkan pandangan gw dari wajah dia.
Melihat bibir putri yang merah natural tanpa balutan lipstik itu, gw jadi kebayang moment hot gw sama Amora. Secara tidak langsung skill kissing gw telah naik ke tingkat selanjutnya.
Dia tanpa bicara dengan cekatan mengambil Stetoskop yang ada di lehernya, memasang alat dengar di kedua kupingnya dan memegang ujungnya untuk ditempelkan di dada gw.
Gw jadi grogi kagak karuan karena Putri begitu dekat, semoga aja dia kagak ngecium bau aneh dari tubuh gw ini. Karena baju dan celana yang gw pakai adalah pakaian kotor.
"Bimo kok detak jantung kamu cepat sekali". Dia bicara dan masih menempelkan Stetoskop di dada gw.
"Coba kamu agak munduran dikit, pasti detak jantung aku normal kembali".
"Apa maksud kamu?" Dia bicara sambil ngeliat wajah gw.
"Oh iya ya! kok aneh banget jantung kamu, aku mundur kok jadi normal kembali". Dia bicara dan terlihat bingung.
Ini dokter lugu apa pura-pura lugu yak? kalau melihat usianya harusnya dia udah punya pacar dan ahli dalam hal ginian.
"Itu karena kamu berada dekat banget sama aku Putri, jadi jantung aku detaknya kencang". Gw berkata jujur
__ADS_1
Muka dia langsung merona mendengar omongan gw.
"Plaaakk!!
"Aaaaaaaa!!!". Gw teriak kencang saat dia pukul manja perut gw yang sakit banget.
"Maaf maaf aku enggak sengaja Bimo!". Dia tampak kawatir dan terkejut.
"Enggak apa-apa santai saja, tapi apa benar aku harus di operasi? enggak kamu kasih obat aja? kalau bisa disembuhkan dengan obat aku minta itu aja".
"Enggak bisa! usus buntu ya harus di operasi, walau ini penyakit ringan tapi kalau di biarkan akan merusak pencernaan kamu dan akan memicu penyakit dalam yang lebih berbahaya". Putri bicara tegas khas seorang dokter yang kawatir akan pasiennya.
Dia memegang Stetoskopnya dari dada gw dan pelan turun kebawah, sontak gw langsung panik.
"Ma..mau kamu bawa kemana itu Put? jantung aku kan ada di dada sini". Gw bicara terbata takut dia aneh-aneh dan nempelin Stetoskopnya di kepala bawah gw.
"Kamu yang tenang Bimo seperti anak kecil yang mau di suntik saja kamu, stetoskop itu tidak hanya untuk memeriksa suara detak jantung saja".
"Tapi bisa untuk mendengar suara paru-paru dan memeriksa gangguang pada usus dan lambung". Dia menjelaskan kegunaan barang yang selalu nempel di leher para dokter itu.
"Kamu tahan sebentar?".
"Tahan apa?" Gw bingung dengan ucapannya.
"Aaaaaaa!! sakittttttt!!". Gw berteriak saat dia memencet perut kiri gw dengan stetoskopnya.
"Malah tersenyum kamu Put, harusnya kan bilang dulu kamu bukan main pencet-pencet aja". Gw mengeluh perut udah sakit banget, malah di tekan. Ya auto jerit gw.
"Kamu kan enggak bilang tahan untuk apa? aku kira kamu suruh aku tahan untuk tidak terlalu terpesona sama kamu".
"Kamu bisa aja Bimo lagi sakit juga, Plaaakk!!".
"Aaaaaaaa!!".
"Maaf maaf aku enggak sengaja".
Sialan kagak sengaja kok dua kali, perut sakit aku jadi korban pukulan manja dia.
"Kelihatannya aku salah deh Put datang kemari, bukannya sembuh malah tampah parah ini kamu pukul dengan manja terus".
"Kamu beneran dokter kan ya? bukan miss Indonesia yang lagi nyamar kan?".
"Kok kamu bicara gitu, aku ada lisensi tau dan sebagai info aja aku adalah lulusan terbaik dari universitas kedokteran terbaik juga di negeri ini". Putri bicara dengan kebanggaan dirinya yang begitu tinggi.
"Sayang banget kalau gitu?".
"Sayang kenapa? semua orang selalu puji-puji aku dengan semua prestasi yang telah aku dapatkan?".
"Sayang aja gitu dengan paras kamu yang cantik dan mempesona harusnya bisa jadi miss Indonesia dan mengharumkan nama bangsa".
__ADS_1
Muka dia merah kembali dengan gombalan receh yang gw ucapkan.
"Taakkk!". Gw langsung tangkap tangan dia yang akan mukul perut gw lagi.
"Kali ini kamu pasti sengaja kan mau pukul perut aku? maaf Putri kamu enggak akan bisa pukul perut pangeran lagi". Gw bicara dan tersenyum kecil.
"Hehehe, iya Pangeran maaf aku sengaja". Dia juga tersenyum kecil panggil gw Pangeran seperti pertama kali bertemu
"Oya Bimo kamu harus hubungi kerabat kamu untuk menemani kamu disini setelah operasi nanti dan mengurus semua adminitrasi".
Dilema kembali gw rasakan saat mendengar perkataan Putri, apa gw harus hubungi Ayah sama Bunda ya? pasti nanti bakalan heboh ini Rumah sakit.
Dan bunda pasti akan panik dan kalau itu terjadi pasti Ayah tidak tinggal diam, bisa-bisa dokter terbaik di dunia akan dia datangkan untuk memeriksa gw.
Belum lagi jika Ayah marah karena gw kagak ditangani dengan baik disini. Ada kemungkinan kepemilikan Rumah Sakit ini bisa jatuh ke tangan gw lagi seperti kasus si Campus tadi siang.
"Bimo kok melamun, kamu lagi mikirin apa? soal biaya ya?".
"Jika kamu tidak ada biar aku aja yang tanggung semua biaya selama kamu disini".
"Thanks Put kamu udah cantik, tapi juga baik banget. Tapi bukan itu yang aku fikirkan".
"Kalau gitu apa masalahnya?".
"Kalau gini gimana, aku akan kasih KTP dan uang untuk pembayaran tapi gw minta tolong, kamu mau enggak jadi wali aku? Orang tua aku di Jakarta soalnya aku enggak mau mereka panik".
Putri tampak diam dan berfikir, terlihat dia begitu bimbang dengan permitaan gw.
"Kalau kamu enggak mau, gak apa-apa kok". Gw bicara cepat dan merasa enggak enak.
"Enggak kok!".
"Dengan senang hati aku akan menjadi wali kamu". Dia tersenyum malu-malu.
"Kamu serius? jika itu membebani kamu mending aku minta tolong sama temen aku aku aja".
"Aku serius Bimo, aku mau jadi wali kamu selama disini".
"Terima kasih senang rasanya punya teman dokter".
"Teman?!". Dia berucap teman
"Iya teman, kita kan baru bertemu 2x ini kan? masak mau jadi musuh kita, lagian aku enggak berani punya musuh yang setiap hari pegang suntikan".
Sialan kenapa ini cewe malah tatap gw aneh ya?
Dan tidak lama senyum tipis kembali terukir di bibir nya. "Iya untuk sekarang kita teman, Aku keluar sebentar ya Bimo! Biar aku ambilin kamu baju operasi". Di melangkah pergi keluar ruangan dengan wajah merona.
Apa maksudnya coba kata 'untuk sekarang itu'. Saat otak isi lem gw coba untuk berfikir.
__ADS_1
Rasa sakit di perut gw semakin menjadi padahal saat ngobrol sama Putri tadi kagak sesakit ini.
Gw melihat ke arah pintu dan bicara dalam hati "Apa dia lubang berjalan sekaligus obat berjalan ya?".