Preman Campus

Preman Campus
SUNGAI


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 19:30, usia malam baru saja seumur jagung tapi udara di dalam ruang tamu Jono seperti pukul 03:00 dini hari begitu dingin menerpa kulit dan pori-pori tubuh gua.


Gua saat ini dalam keadaan tegang karena menunggu jawaban dari Suci tentang ajakan gua untuk berbuat dosa bersama-sama menyelam ke dalam lautan cinta yang penuh akan rasa, rasa nikmat dunia yang tidak bisa terbantahkan.


"Sayang kamu enggak mau ya?". Setelah beberapa saat gua bertanya lagi pelan masih dengan mempertahankan raut wajah melas kek orang yang kagak makan beberapa hari.


Dengan wajahnya yang bersemu Suci mendongak setelah menunduk dari tadi, dengan sorot mata yang tidak bisa gua artikan dia memandang gua lekat.


"Bimo aku takut". Suara Suci mencicit pelan tapi masih bisa gua dengar dengan sangat jelas.


Dia bilang takut? takut apa? Bukannya dia sudah pernah menikah dan punya anak juga, berarti doi udah pengalaman dong dan punya jam terbang tinggi beda sama gua. Dalam hati segala spekulasi dan pertanyaan muncul membuat gua bingung sendiri saat ini.


Tapi harapan itu masih ada dan angin masih belum berubah arah, dia cuma bilang takut dan belum bilang tidak untuk menolak.. Itu berarti peluang gua masih terbuka.


"Rasa takut itu hanya datang saat kita tidak nyaman akan suatu hal sayang, apa mungkin kamu tidak nyaman berada di dekat aku?". lidah dan mulut gua berbicara dan entah dari mana orang bego kek gua bisa kepikiran kalimat ke gitu.


"Bukan, bukan itu maksud aku.. Aku nyaman berada di dekat kamu Bimo tapi.." Lagi-lagi Suci tampak ragu dan bimbang.


"Tapi apa? coba kamu jujur dan bilang saja, aku akan coba mengerti kok". Gua masih sangat penasaran dengan apa yang ada dipikiran Suci saat ini.


Suci kagak menjawab dan malah mengambil hp dari saku dan langsung memunggungi gua, dia tampak mengetik sesuatu.


"Sayang kamu ngapa.." Belum sempat gua lanjut bertanya bicara, Hp gua bergetar di dalam saku celana.


Gua kagak bodoh dan langsung bisa menarik benang lurus dengan situasi saat ini, "Sayang kenapa kamu malah kirim pesan? Kan kira cuma berjarak 1 cm tinggal ngomong langsung saja".


Suci tampak diam saja dengan posisi yang masih sama berpaling dan memunggungi gua.


Mau gak mau gua juga ambil hp dari saku, moment aneh macam apa coba ini? guna hp kan mendekatkan yang jauh kenapa malah kebalik gini menjadi menjauhkan yang dekat.. Jika penemu hp liat keadaan gua ini pasti langsung nepok jidat dia.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang gua ambil hp dan segera membuka pesan dari wanita yang malu-malu di sebelah.


(Aku takut keluarga Jono dengar Bimo dan ini bukan tempat yang aman) beberapa baris kata dalam bentuk pesan singkat gua baca dalam hati.


Auto gua tersenyum ternyata Suci kagak menolak seperti yang gua perkirakan dan dia lebih menghawatirkan tempat ini.


Setelah gua pikir-pikir memang benar jika kami melakukannya di kamar Jono ada kemungkinan Mika dan Mila beserta nyokap nya akan dengar suara-suara yang mungkin bisa membuat mereka takut.


"Ya ampun sayang cuma ini saja kenapa malu-malu bicara sih, ini berarti kamu mau kan ajarin aku?". Gua bicara dan memegang pundak Suci membalik dia untuk menghadap gua lagi.


"Ajarin apa sih, aku enggak tau maksud kamu". Suci tampak pura-pura bego lagi tapi gua sudah bisa merasakan dia yang sudah tampak rileks.


"Jika itu yang kamu khawatirkan aku tau tempat yang aman sayang, jikapun kamu menjerit-jerit dan teriak-teriak pun bakalan aman dan enggak mungkin ada yang dengar". Gua berucap dan memandang Suci penuh arti karena otak ini selalu begitu cepat berfikir jika menyangkut kek ginian.


"Bimo kamu nyakin dengan semua ini? Aku enggak mau jika masa depan kamu terganggu karena aku nantinya". Suci tampak serius lagi dan malah mengalihkan topik, gua melihat dia kembali ke mode dewasa.


Faktanya memang seperti ini, butuh usaha dan perjuangan jika kita menginginkan suatu hal.. Kagak ada yang instan di dunia ini, karena itulah manusia dibekali akal dan pikiran untuk berfikir.


Jika manusia menyerah sebelum mencapai hal yang dia inginkan bisa jadi dia tidak bisa menggunakan akal dan pikirannya dengan baik.


Suci langsung tersenyum lembut mendengar kalimat yang gua ucapkan, "Aku tau kamu tidak akan berubah Bimo". Reflek dia langsung memeluk gua penuh kasih.


"Aku juga tau kamu tidak akan berubah". gua bisikin kata-kata yang hampir sama saat kami masih berpelukan hangat.


99 persen usaha dan perjuangan gua untuk menyakinkan Suci udah berhasil dan gua anggap pelukan ini sebagai pemanasan.


Suci tampak masih nyaman di dalam pelukannya gua dan dia diam saja saat kedua tangan gua mulai jail menjelajah ke berbagai tempat yang berbahaya.


Gua rasakan Suci mulai mencengkram baju belakang gua dengan jari-jarinya dan nafasnya pun mulai kagak teratur menatap leher gua.

__ADS_1


"Sayang jangan disini". Dengan suara yang sangat begitu parau dan terengah-engah Suci berbisik.


Gua segera sadar dan menghentikan aktifitas kedua tangan.


"Sayang kita pindah tempat yuk?". Gua dorong Suci pelan untuk keluar dari pelukan gua.


"Kemana?". Dengan wajah yang sudah sangat Merona Suci bertanya dengan kedua matanya yang sudah tampak sayu, gua rasa dia juga udah masuk ke dalam mode menginginkan lebih dari sekedar pelukan dan permainan tangan gua.


Gua segera membisikkan tempat yang sudah gua pikirkan dari awal.


Suci tampak terkejut dan memandang gua lekat tidak percaya.


"Bimo kenapa ide kamu bisa sampai kesana?".


"Cuma itu sayang tempat yang paling aman dan bukannya lebih asik ya jika melakukannya di sana sambil menikmati suasana". Gua memberikan kedipan mata penuh arti.


"Aduh! kenapa aku malah dicubit?". Gua menggosok lengan.


"Suasana apa? Yang ada bisa kedinginan kita Bimo jika ke sana, enggak ada tempat lain apa?".


"Tempat lain apa sayang yang aman dan sepi? cuma di sungai belakang itu saja, Ayolah percaya sama aku.. Awalnya dingin tapi lama-lama juga hangat kok dan bisa berkeringat kita". Gua berdiri dan meraih tangan Suci.


"Tapi Bimo?". Suci masih ragu.


Segera gua bungkam dia dengan ciuman kilat di bibir agar diam dan itu berhasil.


Pelan gua melangkah berjalan ke belakang rumah Jono sambil mengandeng Suci dan tujuan kita adalah Sungai.


Sungai tempat yang sudah membuat gua terkesan saat pertama kali datang kesini dan kali ini sungai itu juga yang akan jadi saksi bisu untuk pengalaman pertama gua bercocok tanam di ruangan terbuka.

__ADS_1


__ADS_2