
"Saya bukan setan mas, saya manusia dan memilik kios yang baru aja mas selamatkan". Orang itu berucap canggung masih dengan mengaruk kepalanya.
"Oh iya pak, maaf reflek terkejut saya tadi karena kaget". Gw tersenyum kecil dan langsung ingat.
"Eheemmm!". Luzy ikut-ikutan berdehem.
"Lu mau takuti gw juga ya? Apa tenggorokan diganjal sesuatu?".
"Sampai kapan kamu akan peluk aku seperti ini? Lepas cepat! Keringat kamu nempel di tubuh aku semua".
Gw langsung tersadar dan melepaskan Luzy, "siapa suruh lu tadi kagak menghindar saat gw peluk.. Lagian cuma peluk ini enggak bakalan hamil juga kan". Jawab gw sekenanya untuk menutupi malu.
"Mulut kamu itu ya benar-benar tidak pernah disekolahkan! Dan juga mana bisa aku menghindar jika kamu peluknya erat banget seperti tadi".
"Erat apaan coba? Bukannyq tadi kamu juga membalas pelukan gw ya?". Gw terseyum kecil memutar bakikan fakta.
"Siapa yang membalas hah?! Aku tadi cuma reflek terkejut dan takut jatuh karena kamu tabrak dari depan, jangan alasan dan cepat minta maaf". Luzy berucap tegas.
"Maaf? Maaf apaan coba". Gw menjawab cuek.
"Kamu!". Luzy tampak menahan amarahya yang akan meledak lagi, dia berucap sambil nunjuk gw.
"Udah kagak usah nunjuk-nunjuk gw, iya gw minta maaf jika kata-kata gw tadi sakiti hati lu yang masih murni itu".
"Bisa tulus gak minta maaf nya? Kepaksa banget kamu pakai sindir segala".
Gw mengeratkan gigi gemes, udah minta maaf masih dibilang kagak tulus bener-bener minta di e.n.t.o.t ini betina.
"Udah pokoknya gw sudah minta maaf, mau lu terima apa kagak terserah lu". Gw menjawab acuh tak acuh.
"Mas, mbak? bicaranya di kios saya saja ini.. jangan di pinggir jalan seperti ini". Bapak penjual kios berbicara menyela perdebatan gw sama Luzy.
"Oh iya pak terima kasih, kami cuma orang asing kok dan dia sudah mau pergi". Gw segera menjawab dan melirik Luzy sinis.
"Siapa yang pergi! urusan kita belum selesai ya!". Luzy mendorong gw kesamping dan langsung berjalan ke depan menuju ke kios.
__ADS_1
"Hoii! Baju gw itu jangan lu injek!". Gw teriak karena ngeliat Luzy yang sengaja injak baju gw di tanah.
Dia kagak ngejawab ataupun berbalik badan dan terus saja berjalan.
"Cewe saraf!". Gw ngedumel sendiri saat melihat punggung Luzy menjauh, dikira kaos gw keset sepatunya apa yak? Pengen gw piting rasanya leher itu betina.
"Hehehe, wanita memang seperti itu mas.. Mungkin dia ingin mencari perhatian masnya, sebagai pacar kan harusnya mas mengerti". Si bapak yang masih berdiri di samping gw tersenyum jail memandang gw.
"Pacar apa pak?! Mana ada saya pacaran sama banteng betina kek gitu".
"Cantik-cantik gitu kok dibilang banteng, masnya bisa saja.. Oya nama saya Roni mas panggil saja pak Roni".
"Oh iya pak nama sama Bimo". Gw membalas mengenalkan diri.
"Mas Bimo ya? Saya berterima kasih atas bantuannya tadi padahal saya sudah pasrah jika toko saya dijarah sama mereka".
"Biasa aja lagi pak, mana mungkin saya diam aja jika ada kejahatan di depan mata". Gw berucap kek pahlawan di Tv.
"Tapi saya benar-benar sangat berterima kasih sama mas Bimo... saya terharu, takut sekaligus kagum".
"Terharu karena nak Bimo mau nolong saya padahal kita tidak saling mengenal, takut karena perkelahian tadi dan kagum melihat nak Bimo yang masih muda tapi fisiknya sangat begitu kuat, saya kira cuma di film-film saja 1 orang bisa mengalahkan 4 orang tapi hari ini saya melihat dengan mata kepala saya sendiri". Pak Roni memuji dan gw langsung merasa besar kepala.
"Tapi saya liat tadi mas Bimo tidak hanya mengandalkan keberuntungan, gerakan-gerakan mas Bimo sangat cepat dan percaya diri.. Apa mas Bimo sudah nyakin akan menang dari awal ya?".
"Pak Roni ini terlalu meninggikan saya, mana ada nyakin menang sebelum berantem? Kan di tengah-tengah perkelahian bisa terjadi banyak hal yang tidak dapat diprediksi, saya cuma beruntung karena waspada dan berhati-hati mencari peluang bagus untuk melumpuhkan mereka satu per satu". Gw merendah lagi.
"Memang ya kalau pemuda hebat itu selalu berbeda dari yang lainya, beruntung saya bertemu mas Bimo malam ini.. Mari mas ke kios saya sebentar, saya tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan mas Bimo, cuma bisa menawarkan minum dan dangangan saya saja". Pak Roni tampak canggung memandang gw.
"Saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa kok pak, saya tulus membantu".
"Ayolah mas Bimo ke kios saya sebentar sedekar istirahat minum, kan mbaknya juga sudah duduk itu di depan kios saya.. Masak mas Bimo mau tinggal?
"Liat itu mbaknya, dia melihat mas Bimo terus.. Minta disamperin itu mas". Pak Roni membujuk gw mengandalkan Luzy.
Padahal gw mau langsung kabur dari itu betina tapi kabur juga harus jalan kaki dan cari taksi lagi, tenggorokan gw juga kering banget abis adu ilmu kanuragan sama 4 bajingan tadi.
__ADS_1
Gw menghela nafas panjang dan mengiyakan ajakan pak Roni, berjalan bersama menuju kios kagak lupa gw ambil baju di tanah dan membersihkannya bentar dan langsung memakainya kembali.
Luzy yang duduk di kursi plastik depan kios memalingkan wajahnya melihat gw datang.
"Mas silahkan duduk dulu disini sama embaknya, saya ambilkan minum dulu sebentar". Pak Rohmat menaruh kursi di depan gw yang posinya langsung berdadapan wajah dengan Luzy, keknya sengaja ini pak Roni.
Gw hanya menganguk dan langsung duduk.
"Oya mas Bimo sama mbak nya mau minum apa?". Pak Roni menawari.
"Saya tidak usah pak, saya tidak haus". Luzy menanggapi dengan halus dan sopan.
"Baik kalau seperti itu, kalau mas Bimo?".
"Kalau ada saya minum yang anget-anget saja pak, maaf kalau merepotkan".
"Sama sekali enggak merepotkan kok, ini cuma sebagian kecil dari rasa terima kasih saya atas kebaikan mas Bimo, teh anget mas Bimo mau?".
"Iya pak Boleh, terima kasih".
Pak Roni tersenyum dan mengangguk setelah itu langsung masuk ke dalam kiosnya, meninggalkan berdua sama banteng betina liar.
"Lu kagak mau balik? Sampai kapan lu mau ngintilin gw terus? Apa lu kecewa kagak jadi ngamar sama gw?". Gw membuka pembicaraan dengan sarkas.
Luzy yang dari tadi melengos sekarang memandang gw dalam diam, keknya udah terbiasa dia sama bahasa yang gw gunakan.. Dia tampak tidak semarah tadi walau terlihat masih sedikit kesal dari ekpresi wajah cantiknya.
"Mata lu bisa bicara ya? Apa lu lagi ngejawab gw sama telepati sekarang? tadi ada nerocos mulu".
"Aku harus siapkan mental dulu karena harus kuat jika bicara sama cowo yang baru saja keluar dari Rumah Sakit jiwa". Luzy menjawab dengan sinis.
"Iya lu harus ati-ati sama gw! dan harus siapkan mental lu sekuat mungkin saat sama gw karena lu bisa dalam bahaya besar nantinya".
"Apa kamu mau sakiti aku? Apa kamu tidak malu sakiti wanita?". Luzy bertanya dan ada dana mengejek di ucapannya.
"Denger ya neng apa gw terlihat seperti cowo yang biasa mukul cewe? Bahaya yang gw sebutkan tadi juga nanti lu bakalan sadar sendiri, mungkin saat ini lu juga sudah sadar tapi pura-pura bego". Gw tersenyum kecil penuh arti melihal Luzy yang tampak sedang berfikir.
__ADS_1
"Aku tidak tau, sekalipun aku tau tidak akan takut juga dengan bahaya itu". Jawab Luzy berani dan tegas.
"Hahahaha, Ok gw akui keberanian kamu.. tadi lu bilang ada urusan sama gw kan? Urusan apa lagi cepet bilang".