
Mungkin karena efek badan capek kelelahan perjalan Blora-Jogja dan gelut di jalan tadi, gua merasa sama sekali tidak selera dan tidak mood untuk bercinta walau sekarang bibir gua dan Bianca masih terpaut mesra.
Jujur kondisi gua saat ini sedang berantakan banget, baju dan celana kusam.. badan lengket karena keringat dan masih mangku Bianca pula.
Sekarang gua hanya diam dan pasif saja menerima serangan bibir Bianca yang sangat aktif sejak tadi.
Mau di diapain pun pasrah gua saat ini karena memang keadaan tubuh gua yang kagak mendukung.
Jika gua menolak ataupun menghindar takutnya Bianca akan kecewa dan pasti suasana akan berubah, gua kagak mau itu terjadi jadi saat ini gua hanya bisa menunggu.
Menunggu Bianca puas ataupun menunggu dia tersadar dengan sendirinya.
Tidak lama setelah tau gua hanya diam dan pasif Bianca membuka matanya dan menarik bibirnya, dia kembali duduk tegak di atas pangkuan gua.
"Sayang kenapa?". Doi malah tanya gua kenapa, dia tampak bingung menatap gua.
"Maaf sayang aku capek banget, di rumah Jono aku kurang tidur karena suatu hal di tambah perjalanan Blora-Jogja dan ada insiden juga yang buat aku luka seperti ini". Gua berucap jujur karena saat ini kagak perlu gua rasa untuk bohongi Bianca.
"Maaf sayang aku kira bisa membuat kamu lebih baik ternyata aku salah". Sendu Bianca menatap gua dan berucap.
"Lebih baik gimana?". Tanya gua tidak mengerti.
"Liat kamu terluka seperti ini aku merasa sangat sedih Bim dan hati aku juga sangat sakit, walau kamu tersenyum dan bilang tidak apa-apa aku bisa melihat jika kamu bicara seperti itu hanya untuk menenangkan aku".
"Terus apa hubungannya dengan tindakan kamu tadi Bie?".
"Aku rindu Bimo sama kamu, aku rasa setelah aku berinisiatif seperti tadi setidaknya bisa hibur kamu dan sedikit mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan, ternyata aku salah". Bianca langsung menunduk.
Gua ingin tertawa tapi gua tahan, jari telunjuk kanan gua naik dan gua tempelkan di jidat Bianca, auto dia mendongak dan kembali menatap gua.
Gua tersenyum kecil dan Bianca yang melihat itu juga tersenyum, segera jari telunjuk gua yang masih nempel di jidatnya gua dorong pelan ke belakang "Gadis bodoh!".
"Ahh! Sayang kenapa malah toyor kepala aku? Dan apa itu tadi Gadis bodoh?". Bianca cemberut menggemaskan.
"Ya kamu gadis bodoh, hehehe". Gua tertawa pelan.
"Dengar ya sayang untuk menghibur aku tidak harus kamu berbuat seperti tadi, bagi aku liat dan bertemu kamu itu sudah sangat menghibur dan membahagiakan". Gua melanjutkan bicara.
__ADS_1
"Kamu enggak suka ya sayang?".
"Suka Bie aku suka banget malah tapi kita tidak harus melakukan itu setiap bertemu, apa kamu pikir di dalam otak aku isinya cuma tentang itu saja?".
'Iya". Jawab Bianca cepat dengan wajah polos sambil menahan senyum.
"Aku serius Bianca!". karena gemas gua cubit pipinya pelan.
"Sakit sayang". Bianca merengek.
"Makanya serius, tolong jangan lihat aku dari sisi yang salah Bie".
"Dari awal kan kamu sayang yang sudah salah, wajar dong jika aku salah paham kamu saja gitu". Bianca berkelah.
"Awal yang mana? Gitu gimana sih Bie?". Gua bertanya sambil memiringkan kepala, bukan bingung tapi lebih ke kaku aja leher gua.
Paha gua juga ngilu dan mati rasa ini di duduki sama bokong semok cewe gua dari tadi.
" Ya dari awal kita bertemulah sayang, dari pandangan mata kamu, permintaan kamu juga dan tangan kamu". Bianca bicara dengan menyipitkan kedua matanya, dia melihat gua saat ini seperti hakim yang sedang melihat tersangka.
"Pertama pandangan mata kamu itu dari pertama kita kenal sampai kita pacaran, kamu kalau bicara sama aku yang kamu lihat bukan wajah aku tapi lihat yang lain".
"Yang lain apa dulu ini? Yang lain kan banyak". Gua pura-pura bego, ternyata udah sadar ini cewe jika gua sering pandang tanpa kedip bodynya yang molek ini yang sekarang lagi nangkring di paha gua.
"Jangan ngeles deh sayang, aku diam-diam itu selalu perhatian kamu tau".
"Hehe, iya sorry". Gua kagak tau musti bilang apa lagi karena terlanjur malu.
"Kenapa minta maaf? awalnya sih aku risih tapi sekarang enggak kok karena kamu adalah pacar aku". Bianca agak malu saat mengucapkan kalimat terakhir itu.
Iyalah loe kagak risih lagi kalau masih sih kagak mungkin loe glendotan ke gua seperti sekarang, jawab gua dalam diam.
"Terus apa maksudnya dengan yang kedua itu? tadi kamu bilang permintaan kan? permintaan apa?".
"Baru ke luar kota 3 hari kenapa ingatan kamu jadi bermasalah gini sih sayang? kamu lupa ya apa yang kamu minta kemarin malam saat kita video call an?". Bianca tersipu saat bicara mengingatkan gua dan langsung memalingkan wajahnya.
"Iya aku ingat, karena itu ya kamu jadi menganggap aku cowo mesum yang isi otaknya cuma hal-hal tentang itu".
__ADS_1
"Kamu lho ya yang bicara sendiri, aku cuma menebak saja dan juga aku enggak mau kecewakan kamu karena.." Bianca diam dan tidak melanjutkan bicara.
"Karena apa Bie?".
"Emang karena apa lagi Bimo? Ya karena aku cinta dan gak mau kehilangan kamu".
Anjir! Segede apa sih cinta ini cewe sama gua? Sampai segitunya gak mau buat gua kecewa.
"Bie sorry mungkin aku terlalu egois dan gak bisa mengerti kamu tapi aku gak pernah paksa kamu sayang, tolong jadi diri sendiri dan jangan berubah karena aku".
"Apa sih sayang? Semua keputusan yang aku ambil itu sudah aku pikirkan dan aku enggak menyesal, aku juga gak mungkin berubah karena kamu, yang ada kamu itu yang akan aku rubah". Bianca bicara dengan senyum percaya diri.
"Hehe, iya bie rubah aku untuk jadi lebih baik dan pantas untuk berada di samping kamu, ajari dan bimbing aku agar selalu bisa kamu banggakan".
"ihhh.. So sweet banget sih cowo aku". Bianca tampak gemas dan acak-acak rambut gua yang sudah sangat berantakan dan lepek.
"Jadi Bie aku akan berubah tapi tolong hilangkan ya pikirin kamu yang mengira aku cowo mesum itu, di otak aku itu ada banyak hal dan tidak semuanya tentang s e k s".
"Sepertinya untuk itu aku gak bisa deh sayang". Dengan wajah memerah Bianca bicara.
"Kenapa gak bisa? aku gak akan paksa kok jika kamu gak mau dan jika pun suatu saat nanti kamu menolak aku juga gak apa-apa".
"Mana bisa aku tidak berpikir ke sana jika yang ke tiga masih nakal sayang". Wajah Bianca semakin memerah
"Yang ke tiga apa sih?".
"Pertama pandangan kamu, kedua permintaan kamu dan yang ke tiga..
"Tangan aku kan?". Gua memotong karena udah tau.
"Memang kenapa dengan ta..... " Gua auto berubah bego saat ini tidak bisa berucap lagi karena entah sejak kapan, tanpa gua sadari tangan kiri gua berada tepat di atas gundukan besar dan bergerak meremas.
Tangan sialan! pantas saja dari tadi gua merasakan ada yang empuk-empuk.
Pantas saja sejak tadi nafas Bianca kagak teratur dan wajahnya memerah ternyata, tangan gua kerasukan dan melakukan hal gila tanpa sepengetahuan otak gua.
Fix Bianca pasti akan selalu menganggap gua cowo paling m e s u m sedunia.
__ADS_1