Preman Campus

Preman Campus
AIR


__ADS_3

"Kamu! Kamu siapa sebenarnya?". Luzy menyipitkan matanya menatap gw.


"Oya kita kan belum kenalan kan senior? sibuk berantem dan adu mulut aja tadi kita". Gw menjawab santai dan sudah terlalu sering melihat orang terkejut kek Luzy saat ini.


"Senior Luzy bisa panggil aku Bimo dan aku adalah junior kamu di Campus walau kita beda jurusan".


"Bimo? Apa itu nama asli kamu? kenapa aku tidak pernah dengar nama itu di Campus? Sepetinya kamu bukan pria biasa".


"Apa harus ya aku jawab itu? Bukannya kita disini sedang nego kenapa seperti perbincangan kencan buta gini sih?".


"Apa sebegitu penasarannya ya kamu dengan aku?". Gw menatap dan menggoda Luzy.


Dia tampak salting dan malu. "Enggak siapa yang penasaran?". Tanpa berani menatap gw dia menjawab.


"Baguslah kalau seperti itu, aku harap untuk kedepannya kamu seperti ini terus".


"Maksud kamu apa? Apa kamu fikir aku akan penasaran dan suka gitu sama kamu?".


"Hahaha! Senior bisa aja mana mungkin kamu yang cantik dan gaul bisa suka sama aku yang berwajah pas-pas an dan culun ini, lagian kan kita disini untuk bisnis. Bukan begitu senior?". Gw langsung menarik batasan dan menegaskan status diantara kami.


"Tentu saja aku dan kamu tidak harus menggunakan perasaan karena ini adalah bisnis semalam saja, setelah ini aku akan mengangap semuanya hanya mimpi buruk". Jawab Luzy tegas tapi sedikit terbata dan gugup.


"Jadi apa tawaran aku 200 juta Ok dan kamu terima senior?". Gw bertanya lagi untuk memastikan.


"Keadaan dan situasi yang aku alami tidak bisa aku untuk menolak, iya aku terima tawaran kamu". Dengan nada suara lirih campur sedih Luzy menjawab.


"Ok kalau gitu tunggu sebentar lagi untuk 105 juta yang lain, Oya kok terlihat tidak senang dan tidak bahagia gitu kamu senior? Kan harusnya seneng biaya operasi dan perawatan bunda kamu teratasi".


"Kamu gila ya? wanita mana yang akan bahagia disaat akan kehilangan sesuatu yang selalu dia jaga!".


"Hehehe.. tau gak senior aku itu orangnya berbeda lho". Gw berucap pelan dan tersenyum kecil melihat kekawatiran wanita malang di depan gw ini.


"Berbeda apa yang berbeda? Bukannya kamu sama saja dengan orang-orang kaya di luaran sana, menganggap kehidupan orang lain hanya sedekar mainan?". Dengan emosional dia berucap.


"Mainan? Bukannya itu kata-kata orang yang telah menyerah dan tidak lagi mau berusaha ya senior, dan tolong jangan samakan aku dengan mereka".

__ADS_1


"Karena aku lebih keren tentunya dari orang kaya yang lainnya, mungkin kamu tidak percaya dengan kata-kata aku ini tapi beberapa jam ke depan pasti kamu akan mengerti dan tau bahwa aku begitu mengagumkan". Dengan santai dan percaya diri gw berucap.


Luzy terdiam dan seperti sedang mengartikan kata-kata yang baru saja gw ucapkan.


"Wahai air dimanakah kau berada..".


Gw yang sedang memandang wajah bingung luzy dikagetkan dengan suara orang yang sedang melantunkan puisi dengan suara ngebass.


Luzy pun tampak sama terkejutnya dan kami berdua pun menengok ke arah sumber suara, yang tepatnya berasal dari pojokan sudut ruangan.


"Wahai air datanglah padaku.. Tidak taukah engkau aku di sini kehausan.." Sambil menatap langit dengan pandangan kosong Udin melantunkan puisi.


"Teman kamu itu kesurupan ya? Ngapain di pojokan sana dia bicara sendiri dan membaca puisi?". Luzy bertanya tapi kagak gw jawab.


"Din lu ingat kan ini dimana nyet? kenapa lu malah baca puisi disana? Jangan takut-takutin gw lu anjing!".


"Oh air...tidak taukah engkau aku sangat membutuhkan mu, tenggorokanku sangat gatal ini air".


"Nyet! Kalau lu marah sama gw marah aja kagak usah buat gw takut sialan!". Gw mengumpat kesal.


"Apa iya seperti itu senior?".


"Kelihatannya sih seperti itu, tapi yang anehnya kenapa dia tidak melihat kita dan melamun terus disana dan tidak mengambil air sendiri?".


"Oh airr datanglah padaku wahai air!!!". Kali ini kenceng banget itu Udin ngomong airnya.


"Iya! Iya! Air datang ini..". Gw berdiri dan meraih sebotol wisky yang masih penuh dan membukanya.


Gw berjalan pelan menghampiri Udin dengan jengkel, minta air pakai baca puisi segala ini bocah.


"Ini bos airnya silahkan diminum". Gw jongkok di depan udin yang senderan dan menaruh wisky di dekat tangannya.


Udin menatap gw tajam meraih botol wisky dan langsung menenggaknya hingga habis separuh.


"Cuma ngelamun dan ngambek itu ternyata bisa haus juga ya bos". Gw tersenyum menyindir.

__ADS_1


Udin meletakkan lagi botol wisky dan kembali menatap gw. "Gimana rasanya makan temen sendiri? Kamu tau gak apa yang kamu lakukan ke aku itu jahat!".


"Nyet! Lu kagak usah jiplak dialognya AADC jijik gw dengernya anjing! lu bukan Dian sastro, udah gw beri air kan lanjutin aja ngelamun lu, gw mau menatap cewe yang masih perawan ting-ting disana dulu".


Gw langsung beranjak berdiri, berjalan dan duduk lagi di depan luzy.


"Gimana teman kamu Bimo? Apa benar dia minta air?".


"Iya senior terkadang memang sering kumat itu dia dan bicara ngelantur kek gitu, maklum lah dia kan lahir di hari jumat kliwon jadi mental nya tidak stabil". Gw asal ngomong aja biar luzy percaya lagian kesel gw sama itu anak uler, cuma kek ginian aja ngambek.


"Sreeekkkk..!!". Suara pintu di geser dari luar dan munculnya Reza dengan senyum lebarnya membawa dua plastik besar di tangan kiri dan kanan.


"Cak diriku kembali cak, sambut dong". Reza berucap di tengah pintu.


"Bimo temen kamu yang ini juga lahir di hari jumat kliwon ya?". Luzy dengan suara pelan bertanya.


"Bukan senior kalau yang ini lahirnya waktu ada gempa bumi jadi otaknya agak geser".


Luzy tidak kuasa untuk tidak tersenyum mendengar celotehan gw.


"Cak malah diam dam bisik-bisik dirimu?". Udin berjalan masuk.


"Ini dana yang kamu minta yang ini 105 juta". Udin menaruh plastik berisi uang di atas meja. "Dan yang ini 45 juta". 1 plastik dia taruh di lantai.


"Jadi pas diriku narik 150 juta seperti apa yang dirimu minta, ini kartu dirimu". Reza mengembalikan kartu hitam gw dan langsung gw masukan dompet kembali.


"Oya nyet adik lu Rio kemana? Tadi kan keluar sama lu, apa jangan-jangan lu tabokin lagi ya itu anak?".


"Rio tadi bilang sama diriku mau balik ke kost dulu cak dan akan tunggu kita di hotel jambuwuluk nanti malam". Reza menjelaskan sambil duduk kembali.


Gw mengangguk mengerti mendengarkan penjelasan Reza dan gw beralih kembali melihat Luzy yang diam menatap 2 kantong plastik di depannya.


"Senior di depan kamu sekarang ada 200 juta sesuai kesepatakan kita, silahkan hitung kembali jika tidak percaya".


"Jika senior mengambilnya nanti malam jam 7 malam aku tunggu kamu di hotel Jambuwuluk".

__ADS_1


__ADS_2