Preman Campus

Preman Campus
KURAWA


__ADS_3

"Put Bayi kita dimana?". Gw yang masih dalam keadaan bingung dan linglung saat bertanya.


"Bayi? Bayi apa Bimo? kamu mimpi apa barusan?". Putri mengambil tissue dan dan menyeka keringat di kening gw.


Mimpi? Gw bicara dalam hati dan melihat sekeliling.


Gw berbaring di ruangan yang cukup besar dan mewah dengan tangan gw yang masih nempel selang infus.


"Aku dimana ini Put? aku abis kamu operasi kan?".


"Kamu di Rumah Sakit Bim, sebenarnya kamu mimpi apa hingga lupa kalau kamu baru aku operasi tadi?".


Berarti tadi itu benar-benar mimpi, gw bernafas lega sekaligus kecewa.


Lega karena gw belum siap punya anak dan kecewa karena gw kagak jadi nge harem karena kata orang yang kagak mau disebutkan namanya harem dan punya banyak istri adalah impian para pria.


"Bimo kok kamu diem? kamu mimpi apa tadi hingga tanya bayi ke aku?".


"Biarin aku senderan dulu Put, tolong bantu".


Gw pun berusaha untuk duduk dan Putri langsung memencet tombol yang ada di bawah ranjang sehingga bagian atas sedikit naik dan bisa buat gw untuk bersandar.


"Perut aku kok nyeri ya Put, operasi aku berhasil kan?".


"Wajar lah Bimo baru juga 3 jam setelah kamu aku operasi belum kering itu jahitan di perut".


"Kamu jangan banyak gerak dulu ya? biar enggak kebuka lukanya, nanti bisa infeksi".


"Nanti secara Rutin bakalan aku bersihkan biar tidak ada kuman dan luka di jahitan itu". Putri melajutkan berbicara.


"Kok perut aku masih juga aneh ya Put, alat operasi kamu enggak ada yang ketinggalan di dalam perut aku kan ya?". Gw bertanya memastikan


"Ngaco kamu! mana mungkin aku melakukan hal seperti itu, mungkin cuma perasaan kamu aja itu dan wajar setiap pasien yang habis di operasi memang merasakan hal seperti itu, karena penyakit nya sudah menghilang".


Gw memangguk mengerti mendengar penjelasan dokter cantik di samping gw ini.


Gw melihat jam yang ada di dinding menunjukan pukul 9 pagi, berarti 4 jam gw tertidur setelah operasi.


"Oya aku sudah urus semua soal adminitrasi selama kamu berada di sini dan aku pilihkan kamar VVIP ini untuk kamu, setelah melihat begitu mengerikannya isi dompet kamu itu".


"Hp dan dompet kamu ada di nakas itu sebelah kamu , udah aku cas juga itu hp nya". Putri menunjuk Meja di sebelah ranjang gw.


"Ok thanks Put" Gw bicara dan meraih hp menyalakannya.


"Aku boleh tanya gak Bim?"


"kayak sama siapa aja kamu, tanya ya tanya aja" Gw bicara tanpa melihat Putri karena mata gw fokus ke logo Hp gw yang mulai muncul di layar.


"Kamu anak orang kaya ya?".


"Iya Ayah dan Bunda aku kaya". Jawab gw singkat dan jujur.


Gw udah tau bakalan seperti ini sejak gw ambil keputusan serahin dompet gw ke Putri, pasti dia bayar kamar mewah VVIP ini dengan kartu ajaib gw.


"Kamu enggak penasaran biaya yang kamu keluarkan untuk menempati kamar yang aku pilihkan ini?".


"Enggak kenapa emang paling semalam cuma 15 sampai 20 juta aja kan ini?". Jawab gw enteng


"Kamu enggak usah liat aku seperti itu Put, aku juga tau kamu anak sultan".


"Emang kelihatan banget ya Bim?". Dia tampak biasa saja gw tau dia juga anak sultan.


"Sejak kamu bawa aku keruangan kamu, sudah bisa menebak. Mana ada ruangan Dokter mirip sama kamar hotel bintang 5 seperti itu".


"Tapi aku enggak senekad kamu yang bawa kartu Black Diamond seperti bawa kartu mainan".


"Aku malah enggak ngerti nama itu kartu, aku sebutnya kartu hitam aja atau kartu ajaib gitu, karena itu buat bekal jajan aku disini dari ayah".


"Serius kamu enggak tau itu kartu apa?".


"Iya serius yang aku tau cuma isi uang di dalam nya aja". Gw menjawab jujur


"Kartu hitam yang bergambar berlian dan mahkota di atasnya yang kamu miliki itu hanya ada 50 di Dunia Bimo dan minimal saldo yang ada di dalamnya harus 50 milyar, ayah aku punya 1 itu pun selalu dia jaga seperti anak kandung".


"Oh".


"Kok cuma oh aja kamu?".


"Hehehe, emang aku mesti gimana? enggak usah bahas duit lah gak suka aku Put".


"Iya aku enggak bahas soal itu lagi, aku juga sudah tau kamu siapa dari nama belakang kamu itu".

__ADS_1


Tapi setidaknya jawab 1 pertaayaan aku ya?".


"Kasih gw minum dulu napa, haus ini abis operasi dan bangun tidur". Gw mengeluh


Putri tersenyum melihat gw yang kehausan dia mengambil dan membuka botol air minum dan menaruh sedotan ke dalamnya.


"Ini! kamu minum pelan-pelan aja".


Gw meraih air mineral dan langsung menyedotnya hingga habis separuh karena emang sudah haus dan lapar banget ini perut gw.


"Ya udah sekarang kamu boleh tanya?". Gw bicara dan mengembalikan botol air dan langsung diterima Putri dan di taruh di meja dekat ranjang gw.


"Kamu tadi mimpi apa hingga tanya soal bayi kita?". Putri bertanya dengan malu-malu.


"Itu kan cuma mimpi Put, bunga tidur itu ngapain kamu tanyaain?".


"Jawab Bimo, aku penasaran?".


"Iya benar jawabannya seperti apa yang kamu fikirkan itu". Gw bicara seakan-akan bisa nebak isi kepala dokter ini.


"Emang kamu bisa baca fikiran aku? cepat jawab atau aku lepas lagi ini jahitan di perut kamu!".


"Put ancaman kamu kok ngeri gitu, kalau aku sakit lagi gimana coba?".


"Kamu tenang aja aku kan dokter kalau sakit ya nanti aku obati". Dia menjawab dengan entengnya.


Pinter banget ini cewe dia yang nebar luka dia juga yang mau mengobati.


"Ini namanya kamu menyalahgunakan profesi kamu untuk urusan pribadi, bisa kena pasal kamu!". Gw mencoba balik mengancam


"aku enggak takut,lagian ini kan rumah sakit keluarga aku, lagian dengan reputasi aku yang sempurna sebagai dokter enggak akan ada yang percaya sama omongan kamu Bimo". Dia bicara sambil tersenyum lebar.


Ini cewe gw kira cuma domba yang lugu, eh ternyata rubah ekor sembilan pinter banget dia bicara.


Emang kalah pengalaman hidup gw kelihatannya, terbukti dari usia kita yang terpaut 8 tahun.


Dan juga dia tadi bilang rumah sakit ini miliknya,semakin terpojok posisi gw ini.


"Aku tadi mimpi kita punya bayi bersama". Gw kasih dia sepengal cerita doang dari mimpi gw yang nge harem tadi.


"Tu kan muka kamu jadi merah, baper kan kamu sekarang? makanya kalau udah tau jawabannya jangan tanya".


"aku kan mau pastiin dan dengar langsung dari kamu".


"Bukannya pelit Bim, kamu belum boleh makan saat ini. Kamu makannya nanti siang itupun hanya boleh makan bubur selama 3 hari kedepan sampai usus kamu kembali normal".


"Iya aku nurut aja apa kata dokter putri". Gw menjawab tanpa protes untuk kebaikan gw juga kan agar cepat sembuh.


"Kamu enggak kerja put? aku senang kamu temanin disini tapi kamu kan dokter pasti ditunggu sama pasien kan kamu?".


"Ini hari minggu Bimo aku libur, dari selesai operasi kamu aku langsung temani kamu disini lagian disini banyak dokter, paling jika ada operasi sulit aja aku kerja di hari minggu"


"Tok..tok..tok!". Terdengar suara ketukan dari pintu.


"Siapa Put?".


"Harusnya kan aku yang tanya, mungkin yang ngetuk itu teman kamu".


"Aku belum kasih kabar ke mereka, hp aku kan ada sama kamu dan baru ini kamu kasih balik".


Kami saling berpandangan dan saling menebak siapa yang ngetuk pintu di depan itu.


"Rumah Sakit kamu ini enggak ada setannya kan Put?" Gw bertanya memastikan.


"Ngaco kamu, mana ada setan ketuk pintu!".


"Siapa tau aja dia setan yang sopan, kan bila cewe dan cowo berduaan setan bakal datang untuk menggoda iman kita, Mungkin itu dia coba kamu suruh masuk. Biar kita tergoda".


"Bimo ihhh! enggak lucu bercandaan kamu".


"Gak apa-apa gak lucu juga yang penting bisa buat wajah kamu merona".


"Tok..tok..tok..!". Suara ketukan pintu terdengar semakin keras.


"Iya masuk enggak dikunci itu pintu!". Gw bicara karena risih ngetuk mulu orang di luar itu.


Pintu pun di buka dan muncul pria dewasa tampan yang kagak gw kenal memakai kostum dokter.


Dia tinggi dan gagah dan terlihat sangat maskulin beda sama gw yang burik ini.


Dan seperti biasa entah kenapa saat liat cowo cakep gw pengen aja ngerusak itu wajahnya apalagi saat orang ini liat gw dengan pandangan permusuhan.

__ADS_1


"Dokter Putri ternyata benar disini? saya cariin dari tadi". Pria itu Bicara lembut melihat Putri yang berdiri disamping gw.


"Dokter Arjuna ada apa cariin saya?".


"Saya tau kamu hari ini libur dan saya juga, bagaimana jika dokter Putri saya antar pulang".


"Maaf saya bawa mobil sendiri dan masih ingin menemani teman sekaligus pasien saya ini". Putri bicara menolak secara halus


Dan gw liat dokter yang bernama Arjuna itu sedikit kecewa dan langsung melihat dan mendekat ke arah gw.


"Kalau gak salah ini Pangeran-pangeran itu kan yang kamu operasi tadi pagi?".


"Dokter Arjuna kok tau?".


"Semua suster dan perawat di rumah sakit ini saling kasak kusuk membicaran teman kamu ini".


"Aku dengar-dengar dia ya Pahlawan yang selamatkan salah satu suster yang di sandera?".


Sumpah gw kagak suka banget sama nada bicara ini orang.


"Iya itu benar dan namanya bukan pangeran tapi Bimo".


Putri juga kenapa kasih tau nama gw segala, kagak ngerti apa ini orang lagi cari masalah sama gw.


"Hahahahaha, serius dok nama temennya Bemo? kok jauh banget Bemo ke Pangeran". Dia bicara sambil ngelirik gw dan tersenyum miring minta di robek itu mulut.


Gw juga tersenyum tapi di hati mengumpat, tunggu aja lu! sampai gw sembuh. Berani cari masalah sama gw lu tong! Ancaman sudah gw tebar dalam diam.


"Nama nya Bimo dok jangan mengubah nama orang seenaknya ya?". Putri juga tampak kesal.


"Maaf maaf saya cuma bercanda". Dia langsung meminta maaf tapi kagak ada tulus-lulusnya itu.


"Kamu mau maaffin saya kan Bimo?". Dia melihat gw dengan senyum sandiwaranya.


"Santai aja Dok, gak apa-apa kok". Gw bicara senormal mungkin.


"Ngomong-ngomong sakit apa dia dok kok sampai dokter Putri sendiri yang operasi?".


"Keluhan Bimo di perut dan saat saya periksa ternyata usus buntu, jadi langsung saya operasi".


"Hahahahahaha!".


Ini orang ketawa lagi saat dengar penyakit gw.


"Kok anda tertawa lagi dok, emang ada yang salah sama penyakit pasien saya?".


"Maaf maaf saya tidak bermaksud menertawakan, saya terkejut saja Pahlawan kok sakitnya usus buntu, remeh banget ya?".


"Put aku mau istirahat, kamu keluar sama dokter teman kamu ini". Gw bicara dan menyela saat Putri akan Bicara karena sumbu emosi gw udah mulai kebakar.


"Kamu yang sopan ya, dia ini dokter kamu dan kamu disini pasiennya! harusnya panggil dia dokter Putri".


Darah gw udah mendidih dengar bacot ini orang, 1 kali lagi dia bicara ngehina dan ngeremehin gw, bodo amat sama luka jahit di perut.


Bakalan gw gelut dan potong lidahnya sekaligus gw buat lumpuh.


"Dokter Arjuna tolong jangan bicara seperti itu sama teman saya, Saya sendiri yang menyuruh dia memanggil dengan nama saya langsung".


Dia diam saja dan tampak sedikit kesal saat Putri belain gw.


Tiba-tiba Hp gw berbunyi dan saat gw liat yang calling adalah cebong no 1 alias Udin.


"Maaf kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi saya mau angkat telfon dari temen saya, tolong dokter berdua keluar".


Putri menatap gw sendu karena gw panggil dia dokter.


"Kita keluar dokter Putri biarkan pasien anda sang Pahlawan Rumah Sakit kita ini istirahat".


Putri masih berdiri dan tidak beranjak 1 langkah pun.


"Bimo nanti aku kesini lagi ya kalau ada apa-apa langsung hubungi aku". Dia bicara pelan dan tampak berat hati ninggalin gw.


Gw hanya menganguk menjawab perkataan Putri karena udah sangat bad mood dan emosi sama dokter pria disebelah dia itu.


2 dokter itu pun melangkah pergi dan gw langsung mengambil nafas dalam-dalam, Mencoba untuk tenangin emosi gw yang mau meledak.


"Walaupun nama lu Arjuna gw kagak takut tunggu aja tanggal mainnya, gw akan jadi Kurawa yang bakal ubah tawa lebar kamu itu menjadi tanggis"


Gw geser tombol hijau di HP untuk menerima panggilan dari Udin.


"Selamat pagi sahabat super, sarapan apa kamu pagi ini?". Suara Udin terdengar bahagia, rasanya gw pengen ngunyah selang infus dengernya.

__ADS_1


"Sarapan mate lu, kagak tau lu gw mau mampus semalam?!".


__ADS_2