
"Mbak pelan-pelan aja mengendari motornya, jalannya ke rumah Jono kok enggak rata dan bergelombang gini sih?". Gua berkomentar setelah beberapa saat di bonceng mbak Suci dengan motor maticnya.
"Ya maklumlah Bimo ini kan jalan kampung yang masih tertinggal.. Ya seperti ini lah beda sama jalan di kota, jangan bilang kamu takut?". Di depan gua mbak Suci menjawab.
"Aku enggak takut mbak tapi jika enggak hati-hati kamu mengendarai motornya bisa terbang dan jatuh ke ini aku".
"Ya ampun Bimo ya pegangan lah, jangan bilang tuan muda seperti kamu enggak pernah di bonceng motor". Dengan suara pelan mbak Suci menyindir.
"Ok aku pegangan". Kedua tangan gua langsung meraih dan memegang pinggang mbak Suci.
"Bimo kamu ngapain?". Mbak Suci tersentak terkejut.
"Katanya tadi suruh pegangan, lha ini aku lagi pegangan.. Apa salah tempat ya mbak? Apa perlu ini tangan aku naik ke atas sedikit".
"Adik mesum! lepas gak tangan kamu? Maksud mbak itu pegangan di besi belakang kamu itu".
"Oalah gitu to, mana aku tau mbak lha kamu gak bilang secara detail.. Ya aku asal aja cari pegangan yang nyaman dan itu ada di kamu". Gua tersenyum dan melepas tangan dari pinggang mbak Suci.
"Pinter banget kamu cari alasan Bim dan juga bisa gak itu duduknya kamu rada mundur, takut jatuh ya takut jatuh tapi jangan terlalu mepet nempel ke punggung mbak gini dong, geli tauk".
"Jangan salahkan aku dong mbak, salahkan jalannya yang gak rata dan buat aku maju terus.. Apa mungkin jangan-jangan mbak Suci sengaja ya?".
"Sengaja apa? kamu aja itu yang cari kesempatan dalam kesempitan".
"Lho! emang mbak Suci masih sempit ya?". gua pura-pura bego, godain janda emang mengasikkan dan memacu adrenalin.
"Bimo! Yang mbak katakan itu kalimat kiasan.. Kamu polos apa emang sengaja sih".
"Hehe.. bercanda mbak.. Oya ini masih jauh ya rumah Jono? Kok belum sampai-sampai kita". Gua segera mengalihkan pembicaraan, kagak baik jika nanti gua keceplosan dan bercanda kelewatan.
"Bentar lagi Bimo, di ujung jalan sana rumah teman kamu berada".
"Kalau gitu kita berhenti sebentar mbak".
"Berhenti? Mau ngapain?".
"Udah deh mbak, berhenti aja sebentar enggak ada 1 menit kok". Gua memaksa.
"Ya udah, awas ya kalau kamu aneh-aneh". Mbak Suci memperingatkan dan segera meminggirkan motor.
__ADS_1
Gua segera turun dan langsung melepas Hoodie yang gua pakai menyisakan kaos hitam polo.
"Bimo! Kamu mau ngapain? Cepat pakai lagi itu jaket kamu, jangan aneh-aneh ini itu di tengah perkampungan". Mbak Suci tampak panik dan terkejut dengan apa yang gua lakukan.
"Aneh-aneh apa sih mbak? emang aku mau apa?". gua menjawab dan tersenyum kecil. "Ini kamu pakai, gua menyodorkan Hoodie yang baru saja gua lepas ke mbak Suci.
Mbak Suci menerima Hoodie gua dengan wajah bingung, "Buat apa kamu kasih ini ke mbak Bim? Kamu suruh mbak bawain jaket kamu?".
"Aku pinjemin ke kamu sebentar itu mbak, udah jangan banyak nanya cepetan pakai dan jalan lagi kita".
"Mbak gak dingin Bimo, ngapain juga kamu pinjemin jaket? kamu aja yang pakai". Mbak Suci menyodorkan Hoodie lagi ke gua.
"Aku pinjemin itu Hoodie bukan untuk melindungi kamu dari hawa dingin sore hari mbak tapi untuk melindungi kamu dari tatapan panas para pejantan, kagak sadar itu kaos yang kamu pakai ketat banget sampai.. Ehem-ehem, nanti kalau tiba-tiba para kaum lelaki berkumpul pada nobar itu gimana coba?". Gua batuk pelan dan memalingkan muka.
"Ehh.." Mbak Suci langsung tersentak kaget, gua melirik sedikit, dengan wajah malau merona dia sedang menutupi dadanya yang besar dan menonjol dengan Hoodie gua.
"Maaf Bimo mbak belum sempat ganti baju, tutup toko dan langsung berangkat susulin Jono dan kamu". Mbak Suci berucap pelan.
"Udah mbak jangan minta maaf cepetan itu dipakai, Aku khawatir sama Jono Jika enggak cepat kesana kita".
Mbak Suci mengangguk mengerti dan dengan cepat memakai Hoodie gua, walau sedikit kebesaran tapi setidaknya bisa menutupi dua tonjolan besar di dadanya dia.
"Apa kamu bilang Bim?". Dengan muka gemasnya mbak Suci melihat gua dengan tatapan syahdu, syahdu pengen nampar keknya.
"Udah enggak usah bahas perkataan aku yang ngawur dan gak bermakna mbak, ayo kita lanjutkan perjalanan".
"Ya udah ayo cepat naik kamu". Mbak Suci kembali duduk di depan dan gua langsung naik di belakang.
Selang beberapa saat tidak jauh di depan, gua melihat banyak orang yang berkerumun di depan sebuah halaman rumah.
"Uwiii rame banget itu depan rumah mbak, ada yang hajatan ya? Khitanan apa nikahan?". Gua sedikit kagum melihat warga yang berkerumun membentuk sebuah lingkaran besar.
"Apanya yang hajatan Bimo! Itu rumah Jono temen kamu". Jawab mbak Suci cepat dan tampak khawatir.
"Apa! Ayo mbak cepat kesana, putar itu gas sampai pol!". Gua yang khawatir sama si kampret langsung kagak tenang, mungkin saja di dalam lingkaran orang itu Jono di pukuli sama rentenir yang nagih hutang.
Motor berhenti tidak jauh dari kerumunan dan tanpa bicara sama mbak Suci gua langsung turun dan berjalan cepat ke arah kerumunan, awas saja kalau temen gua sampai babak belur lagi.. Bakalan gua buat itu para bajingan lumpuh seumur hidup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Saya enggak mau tau pokoknya keluarga kamu harus ganti sepeda listrik anak saya yang telah dirusak sama adik kamu!". Semakin dekat dengan kerumunan gua mendengar suara wanita setengah berteriak.
"Bu RT, apa enggak terlalu berlebihan jika anda meminta sepeda listrik baru? kerusakan ini bisa diperbaiki di bengkel saya rasa dan saya akan menanggung biaya nya". Suara Jono kali ini gua dengar dan sangat sopan dia berbicara.
Gua pelan-pelan langsung merangsek masuk ke dalam kerumunan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya gua bisa melihat Jono berdiri tegak di depan wanita setengah baya, wanita yang buat gua terkejut karena baru ini liat ada wanita yang memakai perhiasan segitu banyaknya.
Gua amati ada 3 kalung emas panjang yang melingkar di leher emak-emak yang di panggil Jono Bu RT itu, belum lagi pergelangan tangan kiri dan kanannya, gelang emas pada melingkar hampir sampai siku dan juga itu jari-jarinya setiap jari kecuali jempol ada cincinnya semua.
Gua langsung geleng-geleng kepala melihat itu, itu emak-emak mau ngelenong apa mau main sirkus di pasar malam? tapi anehnya para warga yang berkerumun menyaksikan kagak ada yang terkejut seperti gua dan mereka tampak biasa aja.
Sejenak gua berfikir dan bertanya pada diri sendiri apa mungkin ini cara orang kaya di desa memamerkan kekayaan nya?
Gua alihkan pandangan ke Jono dan melihat si belakangnya ada 3 wanita, 1 wanita setengah baya yang tampak khawatir dan tampak seperti mau menangis, bisa gua tebak itu pasti nyokap nya Jono dan 2 Gadis yang tampak ketakutan itu pasti adik-adiknya Jono dan gua bisa langsung mengenalinya yang tingginya sebahu Jono itu pasti adiknya yang SMP dan yang kecil imut itu pasti si bungsu yang baru kelas 3 SD.
"Bengkel kamu bilang? Sepeda listrik anak saya ini sepeda baru dan mahal! Baru dua hari saya beli dan sekarang setelah adik kamu pinjam dan buat jatuh langsung mati dan tidak bisa dinyalakan lagi, jika kamu bawa ke bengkel bukannya itu membuat seperti barang bekas! saya enggak mau tau kamu harus ganti yang baru, atau kamu bisa ganti rugi dengan uang 7 juta seperti harga yang saya keluarkan untuk membelinya". Wanita itu bicara lantang sambil menunjuk Jono dengan tangannya yang penuh akan gelang.
"7 juta?!". Jono berucap dengan mata melebar terkejut, begitu juga dengan para warga yang mulai berbisik setelah mengetahui harga sepeda listrik itu.
"Keluarga Jono udah dapat masalah dari ayahnya sekarang datang masalah lagi, sepertinya sangat sial keluarga mereka". guman salah satu warga yang tidak sengaja gua dengar.
"Bu RT tolong kasihani keluarga kami, Mana ada keluarga saya punya uang sebanyak itu." Jono tampak memelas.
"Saya tidak mau tau pokoknya terserah kamu mau cari uang dimana atau jual apa! Pokoknya saya mau uang ganti rugi 7 juta". Jawab wanita itu tegas dan kagak ada rasa belas kasihan.
"Mak? Mak mau apa Mak?". Jono memanggil Ibunya yang berlahan maju ke depan sambil mengusap air mata di wajahnya.
Ibu Jono tampak diam dan tidak menanggapi tapi setelah sampai di depan wanita itu dia pelan-pelan mulai menunduk dan siap untuk bersimpuh di tanah.
Sial! Udah kagak bisa tinggal diam ini gua sekarang.
"TANTE JANGAN TANTE!". Gua langsung berteriak lantang dan maju ke depan dengan cepat meraih lengan nyokap Jono dan untuk berdiri tegak sebelum benar-benar bersimpuh.
Suasana hening semua warga yang menyaksikan terkejut seketika termasuk nyokap Jono yang memandang gua dengan pilu.
"Bimo!". Jono memanggil gua.
"Anak keparat loe ya Jon! Loe diam aja saat nyokap loe mau merendahkan diri, kalau kagak ada orang banyak udah gua kasih sendiri loe ANJING!".
__ADS_1