
Bianca keluar dari mobil dan waktu seakan-akan langsung berhenti saat itu juga.
Para pembeli yang baru datang ke angkringan yang semuanya pria dan juga abang pedagang langsung terpana kagak kedip melihat cewe yang jemput gua itu.
Sambil masih menikmati sate usus gua melihat penampilan Bianca, itu cewe mau jemput gua apa mau hadirin pesta sih sebenarnya? Gua kagak tau musti puji atau marah, harus bangga atau kesal saat mata para lelaki melihat Bianca dengan sorot mata akan kekaguman.
Bianca pakai dress putih selutut yang begitu cantik menampakkan lengannya yang mulus dan kakinya yang jenjang mempesona.
High heels warna putih pula yang dia pakai senada dengan dress-nya, dengan make up dan riasan yang tipis menambah aura kecantikannya semakin terpancar. Ditunjang dengan body dan tinggi badan dia, sekarang Bianca lebih mirip seperti bidadari cuma kurang 2 sayap doang itu di punggung dia.
Pelan dengan anggun dia melangkah setelah menutup pintu mobil, rambutnya yang hitam panjang melambai-lambai diterpa angin sore.
Bianca saat ini tampak seperti karakter utama cewe di komik romance dengan anggunnya keluar dari cerita dan muncul di dunia nyata.
Gua masih duduk lesehan, berhubung gua udah pernah cicipi dia jadi gua kagak terlalu terpesona.. Fokus gua masih lebih ke sate usus.
4 meter Bianca di depan melihat gua yang sedang memegang sate usus di kedua tangan, dengan pandangan aneh dia tampak risih dan langsung memalingkan muka.
Gua hampir saja tersedak tusuk sate melihat cewe yang katanya cinta sama gua itu cuek dan malam buang muka.
"Permisi, selamat sore". Dengan suara lembut, selembut kapas Bianca berucap di hadapan para pelanggan angkringan dan sang penjual.
Angkringan langsung heboh kagak ada yang mengomando, para pembeli pria dan Abang penjual langsung berjejer rapi di depan Bianca. "Selamat sore". Jawab mereka serempak sambil tersenyum lebar tebar pesona.
Bianca tampak terkejut dan mundur satu langkah.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?". Salah satu pria bertanya
"Mbak mau beli makanan apa gorengan?". Abang penjual juga ikut bertanya.
"Mobilnya mogok ya mbak? Saya bekerja di bengkel lho, biar saya bantu".
"Mbak mau tanya alamat ya? Saya warga sini, mau saya antar?".
__ADS_1
Bianca hanya tersenyum kecil mendengar segala macam pertanyaan dari para pria di depannya, dia clingak-clinguk entah mencari apaan padahal gua ada disini dekat 4 meter di depan dia.
"Maaf semua saya cuma sedang mencari seseorang yang katanya tadi sedang menunggu dan makan disini". Jawab Bianca pelan.
Para pria itu cuma mengangguk dengan pandangan yang masih kagak kedip melihat cewe gua.
"Saya pemilik angkringan ini mbak dan dari tadi yang makan disini tidak ada".
******! Gua di anggap apaan ini? dari tadi duduk makan kagak ada yang sadar.
Bianca juga aneh, mau ngerjain gua apa gimana itu cewe.. Udah tau gua tepat di depannya.
"Beneran pak tidak ada?". Bianca bertanya lagi dengan pandangan yang melihat sekitar.
Bie? Cowo kamu disini Bie! Kamu liat kemana? Gua berteriak dalam hati sambil mengunyah sate usus.
"Oh iya ada satu mbak! Ini mas yang borong sate usus saya, dia pelanggan pertama dan yang makan disini cuma dia". Abang penjual berbalik badan nunjuk gua, auto semua pria juga langsung balik badan.
Bianca menatap gua untuk yang kedua kalinya, dia juga melihat sate usus 1 wadah besar di hadapan gua, untuk sesaat dia terdiam.. satu detik kemudian dia mundur satu langkah sambil menutup mulutnya dan kedua mata indahnya yang melebar.
Gua berdiri dan diam saja dengan kedua tangan memegang tusuk sate.
"Ya ampun sayang.. kenapa ini wajah kamu?". Dengan ekspresi sedih Bianca memegang wajah gua dengan kedua tangannya.
Dia belai wajah gua lembut dengan matanya yang tiba-tiba basah, "Maafin aku sayang maaf". Bianca tampak merasa bersalah, mungkin karena tadi dia yang kagak kenali gua dengan wajah bonyok penuh lebam ini.
Suasana hening para pria yang caper sejak tadi langsung melongo melihat adegan di depan mata mereka, terkejut dengan dagu yang hampir jatuh ke tanah.
"Sayang kenapa diam? Cepat bilang siapa yang buat kamu seperti ini biar aku adukan ke kakak". Bianca tampak emosi sendiri
"Bie aku lagi ngunyah makanan ini, jangan kamu elus-elus pipi aku.. Enggak bisa menelan jadinya".
"Masih bisa makan kamu? Kenapa tidak bilang sejak awal jika terluka? kamu mau buat aku jantungan?!". Bianca malah marah sekarang dengan mata basahnya.
__ADS_1
"Ya ampun kenapa malah nangis sih kamu, ayo masuk mobil dulu". Gua ambil tangannya yang masih di pipi gua dan gua gandeng jalan ke mobil dengan di iringi tatapan semua NPC cameo yang masih tampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Gua buka pintu samping kemudi dan gua dorong Bianca masuk, dengan tatapan sendu Bianca menatap gua dalam.
"Kamu tunggu di sini bentar, aku mau bungkus sisa sate yang masih banyak".
Tanpa menunggu jawaban Bianca gua tutup pintu mobil dan kembali jalan ambil wadah sate di tikar.
"Bang bisa bungkuskan ini gak?". Gua bertanya pelan tapi kagak ada jawaban dari orang yang gua acak bicara.
Gua pengen mengumpat saat ini karena para pria ini malah pandang gua bolak-balik dari unjung kaki ke ujung kepala.
Ekspresi mereka tampak aneh melihat wajah gua yang babak belur, rasanya pengen gua colok itu mereka punya mata.
"BANG!". Gua bicara dengan berteriak.
"Astaghfirullah!! Oh iya mas bisa-bisa, biar saya bungkuskan". Dengan terkejut dia menjawab dan langsung meraih wadah sate yang gua pegang, dia langsung berjalan cepat ke belakang meja.
"Ngapain loe pada liatin gua! NANTANG?! mau ajak adu nyawa loe semua?! Ayo sini maju! Satu-satu atau keroyokan silahkan". Gua yang terlanjur emosi sejak awal udah kagak bisa nahan diri lagi.
Para pria yang berjumlah 6 orang itu saling pandang dan malah langsung buyar, ada yang langsung duduk di depan meja dan ada pula yang langsung pergi duduk di jok motor sambil main hp.
"Cemen loe semua!". Gua mencaci tapi kagak ada respon.
"Mas ini sudah saya bungkus dan maaf tentang sebelumnya". Dengan wajah sungkan dia memberikan bungkusan plastik hitam isi sate.
Gua ambil cepat dan tanpa menjawab gua langsung pergi, membuka pintu depan dan masuk.
Gua taruh plastik di jok belakang, gua pandang Bianca tapi malah melamun dia dan menatap lurus ke depan dengan pipi yang berlinang air mata.
"Ya ampun sayang, kenapa nangis sih? tidak itu riasan wajah kamu? Kamu tampil cantik gini untuk aku kan?".
Bianca diam tanpa menjawab ataupun melihat gua, dia malah menyalahkan mesin mobil.
__ADS_1
"Astaghfirullah!". kali ini gua yang istighfar karena Bianca langsung injak gas dalam dan mobil langsung meluncur.
"Bie! Aku belum pakai sabuk pengamannya Bie!". Gua berteriak panik.