Preman Campus

Preman Campus
PENCARI KESEMPITAN


__ADS_3

"Jon siapa pria itu duduk di depan rumah mbak Suci? Sok banget gayanya ngerokok sambil menyilangkan kaki, mana kumisnya tebel banget lagi kek kumis Gatotkaca". Gua bertanya pada Jono saat sudah melihat rumah mbak Suci di depan sana.


"Oh itu paman Sasmito, bokap nya Suci.. tenang aja walau kelihatan serem karena kumisnya tapi orangnya ramah dan baik banget kok.. Penampilan luar sering kali menipu mata". Jono menjawab santai.


Gua hanya mengangguk mengerti, ternyata itu bokap nya cewe yang gua *****-***** di atas motor tadi.


Walau kemungkinannya kecil dan pasti tidak mungkin tapi gua harus waspada saat ini siapa tau ada asbak rokok melayang entar karena mbak Suci bilang ke Ayahnya apa yang gua lakukan tadi.


Tidak lama sampailah kami berdua di halaman rumah mbak Suci lebih tepatnya di samping pohon mangga tempat gua nangkring kemarin karena terbang dari sepeda warisannya si Jono.


Pria setengah baya yang lagi duduk itupun langsung mengalihkan pandangannya ke depan ke arah kami berdua tentu saja.


"Selamat pagi paman". Jono menyapa sambil tersenyum, melangkah duluan dan gua ikuti dari belakang.


"Eh itu kamu Jono? Paman kira siapa, ayo-ayo sini duduk". Bokap mbak Suci langsung menjawab dan berdiri dari duduknya.


Ternyata benar apa kata si kampret, penampilan luar kagak bisa menjadi jaminan kepribadian seseorang.. Terlihat sangat ramah itu bokap mbak Suci.. menjawab sapaan Jono pun sambil senyum.


"Iya paman terima kasih". Jono langsung duduk di bangku setelah melihat pak Sasmito duduk lagi terlebih dahulu.


Suasana hening untuk beberapa saat ketika gua masih berdiri dan saling bertatap dengan bokap mbak Suci.


Jujur gua kagak tau musti ngapain saat ini, kagak etis rasanya jika gua bicara duluan dan menyapa. Secara kan kita belum kenal.


"Ini siapa kalau boleh tau?". Masih dengan ramah bokap mbak Suci akhirnya berbicara.


Mulut gua udah terbuka lebar dan mau ngejawab tapi di dahului sama Jono.


"Ini teman saya dari Jakarta paman, nama nya Abimana Pramono". Jawab Jono dengan menyebut nama lengkap gua.


"Oh teman kamu yang ramai dibicarakan warga itu ya Jon?". bokap mbak Putri tampak mengangguk mengerti.


"Hehe, iya paman memang dia baik orangnya baru datang udah perhatian sama warga sini". Jono melirik gua dan tersenyum jahil.


Ini bocah memuji gua tapi saat ini gua berasa jadi satpam berdiri dari tadi kagak disuruh duduk.


"Nak Abimana kok berdiri terus, ayo silahkan duduk.. Jangan terlalu sungkan". Akhirnya kata-kata yang gua tunggu keluar juga dari pak kumis Gatotkaca ini.

__ADS_1


"Terima kasih om, dan panggil saja saya Bimo". Gua segera duduk di sebelah Jono berhadapan dengan bokap mbak Suci dengan meja kaca di tengah-tengah kami.


"Nama panggilan yang bagus sesuai dengan nama aslinya". Pelan dia memuji.


"Terima kasih om". Jawab gua irit karena grogi kagak tau musti bicara apa lagi.


"Oya Jono bagaiman dengan masalah keluarga kamu? Tadi di belakang paman tanya ibu kamu malah diam dan tidak menjawab, jika memang kamu tidak memiliki solusi biar Paman bantu, kebetulan Suci juga pulang". bokap mbak Putri kembali memandang Jono dan berbicara dengan serius.


"Terima kasih paman sebelumnya tapi Masalah saya sudah hampir selesai kok, teman saya ini datang ke sini karena ingin membantu saya". Terang Jono sambil memegang punggung gua dari belakang.


"Oh seperti itu? Ternyata nak Bimo kesini buat bantu Jono". pandangan mata bokap mbak Suci kembali ke gua.


"Iya om Jono dan keluarganya udah saya anggap keluarga saya sendiri". jawab gua pelan.


"Salut om sama kamu nak, masih muda tapi sudah berkerja keras.. pasti pekerjaannya sangat bagus ya? sampai bisa bantu permasalah temannya, kalau boleh tau kerjanya apa?".


Gua auto melihat ke kanan dan ke kiri siapa tau bokap mbak Suci bertanya kepada orang lain tapi itu kagak mungkin karena pandangan mata nya tertuju ke gua.


"Maaf om apa om bertanya sama saya?". gua bertanya memastikan dan langsung di cubit Jono di punggung.


"Jono kamu sudah datang?". Suara wanita lembut datang dari dalam rumah dan di ikuti dengan langkah kaki yang menuju ke arah kami dan dari suaranya itu adalah suara mbak Suci.


"Iya Su.." Jono menjawab dan belum selesai di berucap langsung bengong menatap mbak Suci.


Begitu juga dengan gua yang auto berubah bego saat melihat mbak Suci.


Tidak terkecuali dengan Ayahnya sendiri, pak Siswanto tampak juga terkejut dengan anaknya.


Mbak Suci melihat ayahnya dan Jono secara bergantian tanpa memandang gua sedetik pun, mungkin gua dikira vas bunga yang kagak penting.


"Suci ada apa dengan Kamu?". Yang pertama bertanya tentu saja sang ayah.


"Ada apa? Aku enggak kenapa-napa kok". Jawab mbak Suci kepada bokap nya.


"Enggak apa-apa gimana? dari kamu kecil Ayah enggak pernah liat kamu pakai jilbab kecuali di hari raya, sekarang kok kamu memakainya?".


"Emang gak boleh ya yah, lagi pengen pakai jilbab aja sih aku".

__ADS_1


"Ya boleh enggak ada yang melarang kok, ayah malah suka tapi..


"Tapi apa? Suci enggak cocok ya atau enggak pantas pakai jilbab warna biru?".


"Bukan seperti itu tapi kenapa kamu pakai baju gamis longgar dan menutupi seluruh tubuh kamu seperti itu? sampai kaki dan tangan kamu hampir tidak kelihatan".


Setelah terkejut pak Siswanto langsung menahan senyum melihat penampilan anaknya yang tidak biasa itu.


Begitu juga dengan gua dan Jono yang langsung bersama-sama menutup mulut takut enggak sengaja tawa akan meledak.


Pandangan mbak Suci langsung terarah ke Jono dan melewati tanpa melirik gua lagi.


Jono langsung menunduk mendapat tatapan tajam dari temannya.


"Kamu mau pergi ke pengajian ya? Sampai pakai baju sangat tertutup seperti itu tapi dimana ada pengajian pagi-pagi seperti ini?".


"Suci enggak enggak mau ke pengajian Yah, cuma ingin tampil seperti ini saja". Jawab mbak Suci cuek sambil duduk di samping bokap nya berhadapan dengan gua dan Jono.


"Lha terus mau kemana? Kok pegang kunci mobil kamu?".


"Mau ke Blora kota, semalam Diah pengen boneka beruang dan minta dibelikan.. katanya Jika dia pulang sekolah enggak ada boneka, mau ngambek dia dan gak mau makan".


Mbak Suci menyebut nama Diah dan gua nyakin itu adalah nama putrinya.


"Ibu sama anak sama saja, dulu waktu kecil juga kamu seperti itu". Pak Siswanto tersenyum menggoda anaknya.


"Yang namanya anak kecil wajarlah, benar kan Jon?". mbak Suci bertanya dan memandang Jono.


"Hehe.. iya anak kecil memang harus seperti". Jawab Jono singkat.


Ada apa ya dengan mbak Suci padahal tadi dia mendesah keenakan saat gua ***** kenapa sekarang gua merasa kagak di anggap gini yak? apa dia malu atau marah? Gua diam dan berfikir.


"Kamu enggak mau ganti baju dulu? Apa enggak gerah dan nyaman kamu pakai baju gamis seperti itu?".


"Lebih aman pakai ini yah, di luar kan bahaya banyak orang jahat yang mencari kesempatan dalam kesempitan". Mbak Suci bicara dan melirik gua 1 detik dan setelah itu berpaling lagi.


Fix nyindir gua itu kata-kata, gua akui gua mencari KESEMPITAN tapi kan gua bukan orang jahat.

__ADS_1


__ADS_2