
"Yang lebar Bimo buka mulutnya, manja banget sih.. Diah aja sudah bisa makan sendiri". Sambil terus ngomel Suci dengan perhatian dan telaten suapi gua lontong sayur dari baskom.
"Ini sudah lebar sayang, kamu suapi nya dikit-dikit aja dan juga udah 4 suapan cuma lontong doang, enggak kasian kamu sama aku?".
"Maksudnya?". Suci tampak tidak mengerti dan masih terus suapi gua dengan telaten.
"Maksudnya pakai lauknya juga dong, itu yang berenang dalam baskom kan ada daging ayam sama hati".
"Oh iya maaf-maaf enggak kelihatan, ketutupan lontong soalnya. Kamu mau yang mana?".
"Daging aja, aku enggak makan hati".
"Kalau enggak makan kenapa tadi kamu minta dan pesan Bimo?". Suci bertanya sambil mengambil daging dengan garpu.
"Ada alasannya sih aku minta dan pesan itu tadi walau aku enggak doyan". Jawab gua pelan dan tersenyum penuh arti.
Suci auto meletakkan sendok garpu dan menatap gua curiga.
"Jangan-jangan alasannya itu buat sindir aku ya tadi?". Suci menyipitkan matanya dengan ekspresi cemberut yang dia kasih ke gua.
"Jono mana sih? lama banget itu anak, apa mungkin mampir ke acara dangdut an dan lagi nyawer dia sekarang". Gua menghindari tatapan Suci dan melihat ke luar warung.
Rasa sakit seperti di gigit semut langsung gua rasakan di lengan karena Suci melancarkan serangan dengan jurus cubitan.
"Sakit sayang, main cubit aja sih kamu? Aku balas nanti kamu menjerit ke enakan".
"Mana ada cubit ke enakan Bimo, cubit ya sakit".
"Tergantung dong aku cubit kamu di bagian mana". Gua tersenyum nakal melihat bagian bawah Suci.
"Dan aku juga punya benda yang cocok buat cubit itu kamu". Telunjuk gua turun ke bawah tepat ke arah batang.
"Mesum!". Dengan wajah memerah Suci langsung berpaling dari hadapan gua.
"Warung ini kira-kira ada kamar mandinya gak ya?". Pelan gua bicara sendiri memancing menunggu respon dari Suci.
"Emang kenapa, mau ke belakang kamu?". Suci kembali menghadap gua dengan semu yang masih menghiasi wajahnya.
"Iya, yuk temenin udah gak tahan aku pengen masuk sesuatu". Gua memberi Suci kedipan mata penuh arti.
"Aaaaccchh". Gua auto menjerit campur mendesah pelan karena Suci langsung cubit dada gua dan sialnya tepat di salah satu benda kecil bulat yang nempel di sana.
Suci langsung tampak malu campur terkejut karena tindakan spontanitasnya itu.
"Maaf Bimo, sakit ya?". Suci ragu-ragu mau pegang .... Gua.
"Sakit sih enggak tapi rada jadi keras itu dan sedikit gatal, coba kasih air liur kamu siapa tau balik normal".
__ADS_1
"Daripada air liur gimana kalau aku kasih ini aja". Suci langsung mengangkat baskom yang berisi lontong sayur.
Auto gua langsung berdiri dari kursi dengan kedua tangan yang menutupi dada. "Kejam amat neng? Abang kan cuma bercanda".
"Emang laki-laki semuanya gitu ya Bim?". Suci bertanya dan menaruh baskom di meja lagi.
Melihat muka Suci yang serius gua langsung kembali duduk tapi bukan disampingnya lagi tapi di sebrang meja.
"Gitu gimana maksud kamu?". Gua balik nanya sambil minum es jeruk yang dari tadi masih perawan dan belum gua cucup.
"Ya gitu kalau bercanda pasti menjurus ke arah sana".
"Sana mana?". tanya gua masih belum ngeh.
"Ya ke arah sana, ke skinship".
"Kenapa malah bahas kulit kapal sih kamu? Kode ini ya? kamu mau minta naik kapal pesiar sama aku?".
Ekspresi wajah Suci langsung berubah dan melihat gua seperti orang yang sedang tidak percaya atau melihat sesuatu yang mustahil.
"Bim serius kamu kuliah di UGM?". dengan suara dan pandangan mata prihatin Suci tampak seperti sedang mengasihi gua.
"Kenapa emangnya? aku pintar ya?".
"Pintar apa Bimo! Bahasa inggris kamu aja seperti itu, skinship itu bukan kulit kapal".
"Skin itu kan kulit dan ship itu kapal, benar kan kulit kapal.. Kalau itu salah berarti bahasa inggris itu bahasa yang menyesatkan.. udahlah mending pakai bahasa ibu Pertiwi aja, kita kan punya ratusan bahasa kenapa repot-repot belajar bahasa asing? kan lebih baik lagi jika kita perkenalan bahasa kita ke dunia".
"Hehehe.. Bimo kamu ngapain? Hehehe.. narsis banget sih kamu, liatnya aja aku malu". Suci tertawa lebar.
"Kata bahasa inggris yang tadi itu bukan menyesatkan tapi memang punya arti berbeda Bimo, ih gemesin banget sih kamu". Suci tampak mau cakar gua karena terlalu gemas.
"Sebenarnya kita ini lagi bahas apa sih? skinship itu apa? Dan apa hubungannya dengan laki-laki, muter-muter terus dari tadi.. langsung ke intinya ngapa". Gua udah mulai kagak sabar, es jeruk di gelas pun udah kagak perawan lagi karena udah abis gua cucup cairannya.
"Skinship itu artinya membentuk ikatan melalui kontak fisik Bimo".
"Oh itu, iya aku mengerti sekarang.. tapi kamu salah enggak semua cowo kek gitu". Jawab gua santai.
"Kalau kamu termasuk yang mana Bim?".Pelan Suci berucap.
"Kalau aku sih tergantung suasana dan mood.. Akan itu tidak se mesum yang kamu pikirkan.. tenang saja jika kamu enggak buka aku enggak bakalan masuk".
"Bimo apa sih! Kamu ya.. Dasar! belajar dari mana kamu kata-kata seperti itu". Suci tampak malu dan bersemu lagi.
"Mana ada belajar, laki-laki bisa dan tau itu karena pengalaman". Jawab gua tanpa berfikir.
"Pengalaman?". ekspresi wajah Suci langsung berubah cemberut memandang gua.
__ADS_1
"Apa mungkin kamu udah sering ngelakuinnya ya Bimo? Ayo ngaku?!". Suci memandang gua galak.
Dan akhirnya gua mengumpat dalam diam karena salah ngomong.
"Ngelakuin apa?". Tanya gua pura-pura bego dulu.
"Ya ngelakuin itu, sepertinya kamu udah pengalaman sekali seperti yang kamu bilang sendiri barusan". Suci semakin curiga.
"Bukannya kebalik ya ini sayang?".
"Kebalik apa?".
"Ya kebalik aja, harusnya kan aku yang tanya kek gitu ke kamu.. dulu pasti udah sering kamu ngelakuin itu sama Sam..
"Bimo kenapa arah pembicaraan kamu ke sana sih?". Suci memotong ucapan gua.
"Kan kamu yang bahas itu dulu dan malah curiga sama aku, pengalaman yang aku maksud itu dari film yang aku lihat.. wajar kan cowo nonton film dewasa?".
"Uwihhh serius banget ini, lagi bahas apa kalian?". Suara dan muka Jono muncul, masuk menghampiri gua dan Suci.
"Lama amat loe Jon! ngapain aja sih?".
"Yang namanya jalan kaki ya lama Bemo, ngomong-ngomong.. Kenapa itu lontong sayur ada di dalam baskom.. lagi mukbang ya loe?".
"Udah kagak usah banyak tanya, loe beli baju dan celana buat gua kan?".
"Beli dong, gua juga sewa kendaraan di luar untuk kita balik ke mobil Suci". Jono tampak membanggakan dirinya sendiri.
"Tumben loe pintar Jon, mana sini baju dan celananya". Gua memuji dan mengulurkan tangan.
"Ni!". Jono memberi gua tas kain yang langsung gua tangkap dan gua buka.
"Ci kenapa kamu cemberut terus dari aku masuk? Bimo buat ulah lagi ya?".
"Enggak kok Jon, cuma lagi kesel". Suci bicara melirik gua.
"Bim loe buat kesel Suci lagi ya?".
"Keknya loe deh Jon yang buat kesel gua!". Gua berdiri dan menatap Jono tajam.
"Kesel apaan? Kan gua baru datang, mau fitnah gua ya loe?". Jono langsung kagak terima.
"Emang kampret ya loe Jon jadi teman". Gua melempar kaos ke muka Jono.
Allahuakbar! Apa sih Bimo!".
"Pura-pura bego loe ya? sengaja ya loe beliin baju gua warna pink? Mana ketat banget itu.. saraf ya loe!".
__ADS_1
"Enggak sengaja Bemo, adanya cuma warna Pink itu".
"Kagak sengaja apaan Jontor, ini!". Gua mengambil celana dari dalam tas kain dan sekali lagi gua lempar ke muka Jono. "Kenapa celana juga warna pink kampret!".