
Nafsu ingin berteriak di depan muka mbak Suci semakin kuat gw rasakan dan gw melangkah lebih cepat lagi karena kagak sabar ingin ngeliat muka itu janda setelah berhasil ngerjain gw, tapi semakin gw mendekat semakin gw merasa ada yang aneh di depan sana karena gw liat mbak Suci seperti sedang berdebat dengan seorang pria asing.
Gw berdiri di pinggir jalan sebelum nyebrang karena ada kendaraan yang melintas. Dengan rasa penasaran gw amati lawan bicara mbak Suci.
Seoraang pria yang gw perkirakan berumur sekitar 25 tahun dengan warna kulit sawo matang dan yang paling mencolok dari penampilannya adalah rambut gimbal panjang. Dia memakai kaos oblong putih tanpa legan dan celana jins kusam. Gw geleng-geleng kepala saat liat leher dan tangannya yang udah kagak ada celah karena penuh akan tatto.
Setelah jalanan sepi gw langsung sedikit berlari untuk menyebrang dan menghampiri mbak Suci untuk mencari tau apa yang terjadi.
"Mbak ada apa ini? Temen kamu itu ya?". Gw dari belakang berjalan mendekat dan bertanya.
Mbak Suci tampak sedikit terkejut dengan suara gw dan segera berbalik badan, raut kawatir di wajahnya bisa gw liat dengan jelas.
"Bimo akhirnya kamu kembali juga". Mbak Suci berjalan menjemput dan menarik gw untuk berdiri di depan pria gimbal yang dari tadi tampak tenang tapi serius memandang dan mengamati gw.
Gw yang mau marah karena dia prank tadi untuk sementara gw urungkan.
"Ada apa ini mbak? Siapa dia ini". Gw bertanya sekali lagi sambil ngelirik pria yang berdiri tepat di depan kami.
"Dia tukang parkir Bim". Jawab mbak Suci cepat.
"Kang parkir? terus kasih uanglah mbak kenapa malah debat tadi aku liat dari jauh? Udah terlalu lama kita disini". Gw langsung mengeluh pelan
"Itu dengar apa kata adik loe! Cepat bayar". Pria depan gw menyela dan tersenyum lebar menampakkan giginya yang kuning menjijikkan.
"Bayar apa yang banyar?! sampai kapanpun aku enggak akan bayar, ini itu penipuan dan menyalahi aturan melanggar hukum". Mbak Suci tampak geram mendengar pria gimbal itu bicara.
"Aturan? Aturan apa dan gua melanggar hukum apa? Ini lahan gua dan di belakang itu juga rumah gw, loe parkir disini ya harus bayar. Sebenarnya yang melanggar hukum disini itu loe, mau lari dari tanggung jawab!". Pria itu menjawab sedikit lantang dan berkacak pinggang melotot mengintimidasi.
"Mbak bayar ya bayar ajalah, apa susahnya sih bayar parkir? Toh kita juga parkir di lahan dia juga, jangan menambah masalah yang gak perlu mbak, mentang-mentang abis makan dan punya stamina lebih". Gw berucap menasehati dan sedikit menyindir.
__ADS_1
"Kamu gak ngerti akar masalahnya Bim, orang ini gila dan gak waras".
"Jaga ya bacot loe itu! Siapa yang gila? loe yang gila!". Pria itu semakin melotot dan nunjuk mbak Suci saat dia akan maju segera dengan cepat gw melangkah dan berdiri di depan mbak Suci menghadang.
"Bang sabar bang, mungkin ini salah paham saja.. Mbak saya ini gak biasanya seperti ini mungkin dia lagi demam dan tidak berfikir jernih". Gw berucap sambil waspada yang gw tingkatkan, jangan sampai janda belakang gw ini kena colek.
Pria depan gw kembali mundur satu langkah kebelakang dengan raut wajah yang masih tampak tidak suka dihina mbak Suci gila.
"Kesabaran gua juga ada batasnya! mbak loe yang nyolot duluan. Jika kalian bayar parkir dari tadi dan cepat minggat masalah ini akan selesai, jika kalian gak mau bayar jangan salahkan gua!". Dengan nada suara mengancam dia tersenyum kecil dan meremehkan.
"Bimo aku gak mau bayar! Kita laporkan saja dia ke polisi". Mbak Suci dibelakang punggung gw masih tampak dengan pendiriannya.
"Lapor polisi? Ha ha ha ha, silahlan lapor.. Itu pun jika kalian bisa pergi dari sini".
"Bang sabar bang! Gw yang akan bayar, gw yang akan bayar". Gw pegang mbak Suci dan gw bawa mundur saat pria itu kembali maju.
Gw segera mengambil dompet didalam saku tapi malah langsung dicegah sama mbak Suci dengan cepat.
"Bimo jangan Bim, dia udah keterlaluan netapkan harga untuk parkirnya.. Ini itu pemerasan". Mbak Suci memberi tau gw akar masalahnya yang dari tadi gw cari-cari.
"Ya ampun mbak cuma masalah gini doang kamu ributin, berapa sih harga parkir mobil doang.. tenang biar aku yang bayar". Gw menanggapi dengan santai.
"Ini 2 juta Bim 2 juta, dia minta uang parkir dua juta! Gila kan mana ada biaya parkir seperti itu".
"Hehh..! Berapa mbak? Sepertinya salah dengar aku, 20 ribu ya kamu bilangnya?". Gw rada bego untuk sesaat.
"20 puluh ribu apa? Kalau cuma segitu udah aku kasih dari tadi Bimo dan gak pakai marah-marah, dia minta 2 juta Bim 2 JUTA!". Mbak Suci menekankan nominal uang yang dia katakan.
"2 juta?". Gw yang tadi udah terkejut semakin terkejut lagi saat mendengar mbak Suci tampak serius berucap.
__ADS_1
Pelan gw mengalihkan pandangaannya ke Pria depan gw yang masih melototi kami dengan mata merahnya.
"Kenapa? Gak mampu bayar loe!". Dia langsung nyolot lagi dan wajahnya semakin dibuat semengerikan mungkin, apa dia kira gw akan takut dan gentar apa yak.
"Gini bang bukannya kita gak bisa bayar tapi 2 juta untuk parkir beberapa menit saja itu terlalu sangat tidak masuk akal". Gw akan mencoba nego dulu jika memungkinkan.
"Enggak masuk akal loe bilang?! Dengar ya ini itu lahan depan rumah gua sendiri jadi terserah gua untuk nentuin harga, loe parkir ya harus bisa bayar".
Sialan pantas ini tempat parkir sepi walau di depan rumah makan, yang punya bajingan kek gini.. pantas saja para pelanggan itu pada rela parkir desak-desakan di depan RM. Gw menebak dalam hati.
"Jangan bayar Bim, pokoknya kita harus laporkan dia ke polisi". Mbak Suci berbisik dibelakang gw.
"Bang bisa ditawar gak itu 2 juta". Gw mengidahkan omongan mbak Suci dan fokus ke depan.
"Loe mau nawar? Berani nawar berapa loe!". Tanpa menurunkan nada suaranya dia menjawab dengan cepat.
"Gimana kalau 300 ribu bang? itu sudah banyak untuk sekedar parkir saja".
"Dancok! Ngehina gua loe, gua gak mau tau bayar 2 juta atau jangan salahkan gua kalau kejam".
"Bang?". Gw memanggil dengan tatapan serius, mungkin sudah waktunya hari ini gw untuk buat cacat orang lagi.
"Apa?! Berani loe sama gua!".
"Bang.. bang.. Emang BANGSAT LOE ANJING BABI N.G.E.N.TO.T TOLOL BEGO KEPARAT! LU KIRA GW TAKUT" Gw mengumpat dan mundur cepat beberapa langkah membawa mbak Suci yang bengong kek orang linglung memandang gw setelah mendengar segala macam umpatan yang melucur dari ini bacot.
"Anjing! Gw mampusin loe bayi". Dengan tangan mengepal keras pria itu dengan cepat maju menghampiri gw.
Dibawah langit mendung dan semilir angin dingin cuma ada 2 hal yang bisa buat gw bersemangat yang pertama ada gelut di atas ranjang dan yang kedua adalah gelut adu nyawa, pilihan kedua adalah hal yang paling memungkinkan untuk saat ini.
__ADS_1